Halo!

Kaki Tiga Menjangan Chapter 04

Memuat...

"Mari kita hampiri," kata salah seorangnya, "Taruh kata dia belum mampus, tetapi keadaannya sudah terlalu lemah untuk mengadakan perlawanan .

Kita tebas saja batang lehernya, sekaligus batok kepala si anak celaka itu!" "lde bagus!" sahut rekannya setuju .

Kedua orang itu berjalan ke arah semula dengan mengendap-endap .

Si bocah masih menangis sedih .

Dia memukuli dadanya sendiri sambil membanting-banting kakinya di atas tanah .

"Oh, saudaraku.. .

mengapa kau diam saja" Kalau kawanan penjahat itu sampai balik lagi, bagaimana aku sanggup melawan mereka?" teriak bocah itu sambil meraungraung .

Mendengar kata-kata si bocah, kedua anggota penyelundup garam itu semakin senang hatinya .

Mereka segera mempercepat Iangkahnya .

Kemudian keduanya menerjang ke hadapan si bocah sambil mengayunkan goloknya.. .

Si bocah sepertinya terkejut setengah mati, matanya membelalak lebar .

Dalam waktu yang bersamaan tampaklah sinar lain yang berkelebat lebih cepat lagi .

Tahu-tahu batang leher si penjahat yang pertama sudah terbabat putus, kemudian disusul dengan rekannya yang koyak perutnya sehingga ususnya amburadul keluar .

Saat itu juga si brewok bangkit dan tertawa terbahak-bahak .

Si bocah sebaliknya masih menggerung-gerung sambil berkata .

"Aduh, sahabat-sahabatku, kasihan sekali nasib kalian, Mengapa kepalamu menggelinding" Dan kau.. .

mengapa perutmu terbuka lebar" Mengapa kalian menghadap raja Giam lo-ong" Siapa yang akan menyampaikan kabar baik ini kepada keluarga dan rekan-rekanmu" Celaka?" Berkata sampai di sini, bocah itu tidak dapat menahan kegelian hatinya sehingga tertawa terbahak-bahak .

Si brewok ikut-ikutan tertawa .

"Hai setan cilik, kau memang cerdas sekali .

Kalau kau tadi tidak pura-pura menangis tadi, tentu kedua telur busuk ini tidak akan kembali lagi menyerahkan jiwanya!" "Apa susahnya pura-pura menangis" biasanya kalau emak akan menghajar dengan rotan, cepat-cepat aku menangis sekeras-kerasnya sehingga emak tidak tega menghajar aku keras-keras," kata si bocah .

"Kenapa ibumu suka memukulmu?" "Sebabnya tidak pasti .

Kadang-kadang karena aku mencuri uangnya .

Kadangkadang karena aku mempermainkan bibi Bin dan paman Yu..." Si brewok menarik nafas panjang .

"Kalau kedua mata-mata ini tidak mati, urusannya pasti gawat .

Eh, kenapa ketika menangis tadi kau tidak memanggil aku tuan atau paman, tapi hanya saudara saja?" "Kau kan sahabatku, sudah seharusnya aku memanggilmu saudara! Tuan, apa kau kira dirimu" Kalau kau ingin aku memanggilmu tuan, setanlah yang akan melayanimu!" Si brewok tertawa tergelak-gelak .

"Benar, benar! Eh, sahabat cilik, siapakah namamu?" "Kau menanyakan she dan namaku yang mulia" Aku bernama Siau Po!" "Bagus, Nama besarmu Siau Po, lalu apa she-mu yang mulia?" "She.. .

she mu.. .

yang mulia..." Bocah itu tergagap-gagap, "She Wi." Si brewok tertawa semakin geli, Bocah itu mengatakan she-mu yang muIia, Hal itu membuktikan bahwa dia tidak tahu apa artinya, seperti burung yang membeo saja .

Sebetulnya bocah ini lahir di rumah pelesiran, ibunya bernama Wi Cun Hoa .

Siapa ayahnya, jangan kata dia, bahkan ibunya sendiri mungkin tidak tahu .

Sampai sebesar ini, tidak pernah ada yang menanyakan asal-usulnya, baru hari ini si brewok menanyakannya, Karena bingung, dia pun menggunakan she ibunya sendiri .

Bocah ini tidak pernah belajar membaca menulis .

Dia mengetahui sebutan she dan nama yang mulia dari cerita-cerita kepahlawanan yang sering didengarnya, "Dan.. .

kau sendiri.. .

siapa.. .

nama besarmu dan.. .

she-mu yang mulia?" tanya si bocah kemudian .

Si brewok tersenyum .

"Kau sudah menjadi sahabatku, tidak perlu aku menyembunyikan she dan namaku terhadapmu .

Aku bernama Mau Sip-pat .

Mau dari Mau rumput dan Sip-pat berarti delapan belas." Bocah itu mengeluarkan seruan tertahan dan langsung melonjak bangun .

"Aku.. .

pernah mendengar bahwa pembesar negeri sedang mencarimu .

Mereka ingin.. .

menangkapmu karena dianggap penjahat besar!" "Benar, Apakah kau takut kepadaku?" tanya Mau Sip-pat terus terang .

"Takut" Kenapa aku harus merasa takut" Lagi-pula aku tidak mempunyai harta ataupun uang, Apa sih artinya seorang penjahat" Bukankah Lim Ciong dan Bu Song dari cerita Sui Hu Coan juga orang-orang gagah yang terdiri dari para perampok?" Mau Sip-pat senang sekali mendengar kata-kata Siau Po .

"Kau samakan aku dengan Lim Ciong dan Bu Song, orang-orang gagah yang terkenal itu" Bagus sekali,.," katanya, "Sekarang coba kau beritahu kepadaku, siapa yang mengatakan bahwa ada pembesar negeri yang ingin menangkapku?" "Di dalam kota Yang-ciu penuh dengan selebaran yang mencari Mau Sip-pat .

Dijelaskan pula, barang siapa yang dapat membunuhmu, hadiahnya lima ribu tail, sedangkan bila hanya memberikan informasi tentang di mana dirimu berada, hadiahnya tiga ribu tail, Tapi jumlahnya juga sudah terhitung besar juga, bukan?" Mau Sip-pat memperhatikan Siau Po dengan tajam .

Bibirnya mencibir seperti memandang rendah .

Tiba-tiba saja, timbul pikiran Siau Po .

"Kalau aku mempunyai uang sebesar tiga ribu tail, tentu aku bisa menebus ibuku dari Li Cun Wan .

seandainya ibu tidak bersedia keluar dari tempat hina itu, uang sebanyak itu pun cukup untuk membeli baju bagus dan hidup mewah selama beberapa tahun!" Melihat Siau Po diam saja, pandangan mata Mau Sip-pat semakin tajam dan memperhatikan mimik wajahnya lekat-lekat .

Siau Po dapat merasakan pandangannya yang mengandung kecurigaan Hatinya menjadi kurang senang .

"Kenapa kau mengawasi aku seperti itu" 0h.. .

kau pasti mengira aku akan melaporkan kau ke pembesar negeri agar mendapatkan hadiah besar itu, bukan?" Mau Sip-pat menganggukkan kepalanya .

"Memang benar! jumlah hadiah itu begitu besar dan siapa orangnya di dunia ini yang tidak suka uang?" "Sinting! Menjual sahabat .

Buat apa kita membicarakan kegagahan?" "Lho! itu kan tergantung prinsipmu sendiri!" "Kalau kau memang tidak percaya padaku, mengapa kau memberitahukan nama aslimu, Dandananmu sekarang jauh berbeda dengan selebaran yang tertempel di dalam kota .

Kalau kau sendiri tidak mengatakannya, siapa yang bisa mengenalimu sebagai Mau Sip-pat?" teriak si bocah kurang senang .

"Bukankah kau sendiri yang mengatakan bahwa senang dan menderita harus kita cicipi bersama" Kalau nama saja perlu disembunyikan, bagaimana bisa disebut sebagai sahabat sejati?" Mendengar kata-kata itu, perasaan jengkel dalam hati Siau Po terhapus seketika .

"Kau benar .

Bagiku, jangan kata baru tiga ribu tail, tiga laksa tail pun tidak akan aku menjual sahabatku!" Meskipun mulutnya berkata demikian, tetapi namanya juga anak-anak, ia tetap membayangkan betapa senangnya memiliki uang sebesar tiga ribu tail .

"Baiklah," kata Mau Sip-pat .

"Sekarang kita tidur dulu .

Besok pagi ada dua orang sahabatku lainnya yang akan datang mencari aku .

Kami sudah mengadakan perjanjian untuk bertemu di bukit Tek Seng san .

perjanjian mati, sebelum bertemu siapa pun tidak boleh memisahkan diri!" Siau Po sudah lelah dan mengantuk .

Dia tidak begitu ambil perhatian atas kata-kata Mau Sip-pat .

Begitu menyenderkan tubuhnya pada sebatang pohon, dia langsung tertidur pulas .

Keesokan paginya ketika dia terbangun, Siau Po melihat Mau Sip-pat sedang berdiri menghadap matahari terbit sepasang telapak tangannya merangkap di depan dada dan nafasnya teratur sekali .

Kemungkinan dia sedang melatih diri untuk menyembuhkan luka dalamnya .

Sampai cukup lama Mau Sip-pat melakukan hal itu, Ketika membuka mata, dia melihat Siau Po sedang memandanginya dengan terkesima .

Bibirnya langsung menyunggingkan seutas senyuman .

"Kau sudah bangun?" Siau Po menganggukkan kepalanya .

"Sekarang kau seret dulu mayat kedua orang itu ke balik pohon besar itu, Kemudian asahlah ketiga batang golok itu agar menjadi tajam," kata Mau Sip-pat selanjutnya .

Siau Po mengiakan ia melakukan perintah sahabatnya dengan gesit .

Saat ini dia baru memperhatikan dengan jelas bahwa usia Mau Sip-pat sekitar empat puluhan tahun .

Tubuhnya kekar, tampangnya gagah .

Setelah selesai mengasah golok, Siau Po berkata .

"Aku akan pergi membeli bakpau." "Di mana kau bisa membeli bakpau di tempat seperti ini?" "Tidak jauh di bawah sana ada sebuah kedai makanan .

Mau toako, kau kan mempunyai uang, bolehkah aku pinjam sedikit?" "Kita sudah menjadi saudara satu dengan lainnya .

Milikku adalah milikmu juga .

Mengapa harus menyebut kata-kata pinjam?" Diam-diam Siau Po berpikir dalam hati .

"Dia sudah menganggap aku sebagai sahabat sejatinya, meskipun ada hadiah sebesar tiga ribu tail, tidak boleh aku melaporkan keberadaannya kepada pembesar negeri .

Tapi bagaimana kalau nilainya satu laksa tail, pusing juga mengambil keputusan .

Dia begitu baik kepadaku, Tidak! Aku tidak boleh mengkhianatinya! Karena itu, Siau Po segera menerima uang yang disodorkan Mau Sip-pat sambil bertanya: "Mau toako, apakah aku perlu membelikan obat luka untukmu?" "Tidak usah .

Aku punya," sahut Sip-pat .

"Baiklah, Aku pergi dulu," kata Siau Po .

"Mau toako, kau tidak perlu khawatir seandainya aku sampai tertangkap, meskipun batok kepalaku ini akan dipenggal aku tidak akan mengaku di mana adanya engkau." Mau Sip-pat menganggukkan kepalanya, Dia percaya penuh dengan ucapan Siau Po .

Terdengar Wi Siau Po seperti menggumam seorang diri .

"Mau toako masih mempunyai dua orang sahabat yang akan datang, sebaiknya aku membeli sepoci arak dan beberapa kati daging rebus." Mau Sip-pat senang sekali mendengarnya .

"Bagus sekali, Paling cocok kalau ada arak dan daging, sesudah perut kenyang, berkelahi pun jadi penuh semangat!" "Berkelahi" Mengapa kau harus berkelahi?" tanya Siau Po bingung .

Post a Comment