menyingkir dulu." Agaknya dia merasa menyesal dengan keadaannya sendiri .
Dia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk bangun, tapi rasa sakit segera menyerangnya, sehingga mulutnya mengeluarkan suara erangan .
Si bocah cerdik sekali, dia mengerti apa keinginan orang itu .
Dia segera membantunya agar dapat duduk tegak .
"Ambil golok!" kata orang itu, "Berikan padaku!" Anak itu menuruti permintaannya, ia mengambil golok dan menyodorkannya ke hadapan orang itu .
Orang itu menggunakan goloknya sebagai tongkat dan turun dari pembaringan perlahan-lahan, Bocah itu masih membimbing tangannya .
Untuk sesaat, tubuhnya masih terhuyung-huyung .
"Aku akan keluar sekarang," kata orang itu, "Tak perlu kau bimbing aku terus .
Kalau rombongan penjahat itu datang kembali dan melihat kita bersama .
Kau bisa celaka, kau akan mereka bunuh!" "Maknya! Aku tidak takut! Kalau mereka mau membunuh aku, silahkan! Kita adalah sepasang sahabat yang harus menjunjung kegagahan, pokoknya bagaimana pun aku harus membantu kau!" Orang itu tertawa terbahak-bahak .
Karena tubuhnya masih lemah, dia sampai terbatuk-batuk .
"Kau membicarakan soal kegagahan?" "Kenapa tidak boleh .
Sahabat sejati harus senang dirasakan bersama, menderita dicicipi bersama puIa!" Di kota Yang-ciu banyak tukang cerita yang menceritakan berbagai kisah tentang Sam Kok, Sui Hu Coan, dsbnya, Bocah itu memang keranjingan cerita-cerita itu, karenanya dia dapat mengucapkan kata-kata senang dan menderita dicicipi bersama .
"Kata-kata yang bagus! Aku berkelana di dunia bulim ini sudah dua puluh tahun Iebih, kata-katamu tadi aku juga sudah mendengarnya ribuan kali .
Teman yang mau diajak bersenang-senang di mana-mana pun ada, tapi yang mau diajak menderita bersama, sampai sekarang baru beberapa gelintir yang kutemukan Mari kita berangkat!" Bocah itu terus membimbing tangan orang itu dan mengajaknya keluar dari kamar .
Tiba di ruangan tengah, orang-orang yang melihat mereka jadi terkejut dan menyingkir karena takut .
Terdengar ibu si bocah memanggil-manggil .
"Siau Po, Siau Po, mau kemana kau?" "lbu, aku akan mengantarkan sahabatku ini dulu, sebentar aku kembali lagi!" Mendengar kata-kata si bocah, orang itu tertawa terbahak-bahak .
"Bagus-bagus.. .
sahabat, iya sahabat Aku memang sudah menjadi sahabatmu!" "Jangan kau pergi, nak .
sebaiknya kau bersembunyi saja," kata sang ibu khawatir .
Si bocah hanya tersenyum, bersama sahabat barunya dia meninggalkan Li Cun Goan, rumah pelesiran itu .
Keadaan di luar gang, sunyi senyap .
Tampaknya kawanan penyelundup itu memang sudah pergi, atau mungkinkah mereka sedang mencari bala bantuan" Tiba di sebuah gang kecil, orang itu mendongakkan wajahnya menatap langit, dia memandangi bintang-bintang yang bertaburan .
"Mari kita menuju ke barat!" katanya .
Si bocah menurut .
Mereka berjalan bersama-sama .
Lewat beberapa tombak, di depan tampak sebuah kereta keledai sedang bergerak ke arah mereka .
"Lebih baik kita naik kereta saja," kata orang itu kembali, Kemudian dia berteriak dengan suara lantang, "Pak Kusir! Pak Kusir! Ke sini!" Kusir kereta itu segera menghentikan keIedainya .
Dia terperanjat melihat wajah orang itu yang penuh luka .
Diam-diam timbul kecurigaan dalam hatinya .
Orang itu rupanya segera maklum arti pandangan kusir kereta itu .
Dia segera mengeluarkan uang perak seberat lima tail dan menyodorkannya kepada si kusir kereta .
"Ambillah uang ini!" Pikiran sang kusir bekerja cepat "Masa bodoh urusan lainnya, uang paling penting!" Karena itu, dia segera menganggukkan kepalanya sambil menyambut uang yang disodorkan itu .
Dengan bantuan si bocah, orang itu perlahan-lahan naik ke atas kereta, Kembali dia mengeluarkan uang goanpo yang besar jumlahnya kemudian menyerahkan kepada si bocah .
"Sahabat cilik, aku akan berangkat sekarang .
Uang sekedar ini harap kau simpan baik-baik." Melihat jumlah uang besar itu, si bocah meneguk air liurnya .
Tapi dia teringat kembali kisah cerita yang sering di dengarnya bahwa orang-orang gagah hanya mementingkan persahabatan uang atau harta tidak ada artinya .
Dengan susah payah hari ini dia sudah berhasil menampilkan dirinya sebagai seorang gagah, biar bagaimana usaha itu tidak boleh tandas di tengah jalan hanya karena harta yang tidak seberapa dan sebentar saja sudah habis itu .
Karena itu dia segera menggelengkan kepalanya dan berkata dengan nada tegas .
"Kita membicarakan soal persahabatan sejati .
Kau memberikan uang kepadaku, itu tandanya kau tidak menghargai aku .
Lukamu masih belum sembuh, aku akan mengantar kau lebih jauh sedikit!" Orang itu melengak, kemudian dia menengadahkan kepalanya dan tertawa terbahakbahak .
"Bagus! Bagus!" serunya, "Kau memang sahabat sejati!" ia pun menyimpan uangnya kembali .
Si bocah pun langsung melesat naik ke atas kereta dan duduk di samping orang itu .
"Ke mana tujuan kita, tuan?" tanya si kusir kereta yang sejak tadi diam saja .
"Ke bukit Tek Seng san, di sebelah barat kota!" sahut orang itu .
"Ke Tek Seng san" Tengah malam begini?" tanya si kusir kereta yang menganggap telinganya salah dengar .
"Benar!" sahut orang itu tegas sembari mengetuk-ngetukkan ujung goloknya ke alas kereta .
"Baik-baik,.," kata si kusir yang ketakutan .
Cepat-cepat dia menurunkan tirai, kemudian memecut keledainya sehingga kereta itu langsung melaju ke depan .
Bukit Tek Seng san letaknya di sebelah barat kota Yang-ciu, tepatnya di dusun Pek Gi Hiang, kurang lebih tiga puluh li dari kota .
Di zaman dinasti Lam Song, Song selatan, Jenderal Han Se-Tiong pernah menggempur prajurit Kim habis-habisan, karenanya bukit Tek Seng san jadi terkenal .
Kereta terus bergerak, kurang lebih satu jam kemudian, mereka sudah sampai di kaki bukit .
"Tuan, kita sudah sampai di bukit Tek Seng san!" kata si kusir .
Si brewok melongokkan kepalanya, ia melihat gundukan tanah setinggi tujuh delapan tombak, sebenarnya tidak cocok disebut bukit, tapi gunung-gunungan .
"lnikah Tek Seng san?" tanyanya bimbang .
"Benar tuan," sahut si kusir .
"Ya, ini memang bukit Tek Seng san, ibu dan para cici lainnya sering datang ke bukit ini untuk bersembahyang di kuil Eng Liat hujin, Aku pernah ikut dan bermain-main di situ." "Kalau kau yang mengatakannya, pasti tidak salah lagi!" Mereka segera turun dari kereta, Si bocah mencelat turun terlebih dahulu .
Dia memperhatikan keadaan di sekitar tempat itu yang sunyi senyap dan remang-remang karena hari sudah senja, Diam-diam dia berpikir di dalam hati .
"Tempat ini cocok sekali untuk menyembunyikan diri .
Kawanan penyelundup garam itu pasti tidak akan mencari sampai ke tempat ini." Kusir kereta itu masih merasa khawatir .
Rasanya ingin dia cepat-cepat berlalu dari tempat itu, namun si brewok berkata lagi padanya .
"Tunggu, kau antar dulu bocah ini kembali ke kota!" "Baik, Tuan." "Tidak, Aku akan menemanimu beberapa saat lagi," kata si bocah .
"Besok pagi aku bisa membelikan bakpau untuk mengganjal perut." Si brewok memperhatikan sang bocah lekat-lekat .
"Benarkah kau akan menemaniku?" "Tidak baik sendirian berada di tempat seperti ini, apalagi lukamu masih belum sembuh!" sahut si bocah tegas .
Si brewok tertawa lebar .
Dia menoleh kepada kusir kereta tadi .
"Kau boleh pergi saja!" "Baik, tuan," sahut si kusir kereta yang sejak tadi memang sudah menunggu-nunggu perintah itu .
Si brewok berjalan menuju sebuah batu besar dan duduk di sana .
Kereta keledai itu sudah melaju pergi .
Keadaan di sekitar sunyi senyap .
Tiba-tiba si brewok membentak: "Anak kura-kura berdua yang bersembunyi di balik pohon Liu cepat menggelinding keluar!" Si bocah terkejut setengah mati .
Diam-diam dia berpikir dalam hati, "Benarkah di sini ada orang lain?" hal ini benar-benar di luar dugaannya .
Ternyata dari balik sebatang pohon besar muncul dua sosok bayangan hitam .
Mereka melangkah maju beberapa tindak, tetapi berhenti kembali .
Si bocah tidak dapat melihat jelas wajah kedua orang itu, namun mereka mengenakan sabuk putih di kepala, pertanda bahwa mereka adalah rombongan para penyelundup garam .
Tangan masing-masing mencekal sebatang golok .
Melihat sikap mereka yang hanya maju beberapa langkah, kemudian berhenti lagi, tampaknya hati mereka dilanda kebimbangan .
Si brewok membentak lagi dengan suara yang garang .
"Hei, anak kura-kura! Kalian mengintil aku dari Li Cun Goan, kenapa sekarang malah ragu-ragu mendekatiku" Bukankah kalian memang sengaja datang untuk mengantar jiwa?" Mendengar kata-katanya, diam-diam si bocah membenarkan dalam hati, Tentunya kedua orang itu memang sengaja menguntit sampai di tempat ini, kemudian mereka bisa mendatangkan bala bantuan untuk mengeroyok si brewok .
Tampak kedua orang itu saling berbisik beberapa patah kata, tiba-tiba mereka membalikkan tubuhnya kemudian lari meninggalkan tempat itu .
"Eh!" seru si brewok yang berusaha bangun, maksudnya ingin mengejar kedua orang itu .
Tetapi tiba-tiba dia mengaduh, tentu rasa sakit di lukanya kumat lagi .
Si bocah segera memapah tubuh orang itu .
Diam-diam dia berpikir dalam hati "Gawat, Kereta tadi sudah pergi jauh, sedangkan kita tidak bisa berdiam terus di sini .
Untuk menyingkir sahabatku ini tampaknya tidak kuat berjalan .
Bagaimana kalau kedua orang itu kembali lagi dengan membawa konco-konconya?" Sekonyong-konyong bocah itu menangis meraung-raung .
"Aduh, kenapa kau jadi mati" Tidak! Kau tidak boleh mati!" Suara tangisannya semakin keras .
Kedua anggota penyelundup garam yang baru berjalan tidak seberapa jauh menjadi terhenyak seketika .
Tentu saja mereka mendengar suara tangisan si bocah, serentak mereka membalikkan tubuhnya dan mendengar si bocah meratap dengan sedih .
"Hu.. .
hu.. .
hu... .
Kenapa kau mati begitu saja?" Kedua orang itu saling pandang sejenak .
Yang satu langsung berkata .
"Kau dengar suara tangisan anak laki-laki itu .
Pasti si bangsat itu sudah mati." "Benar! Pasti lukanya terlalu parah sehingga ia tidak dapat menahan diri lagi," sahut yang lainnya .
Keduanya segera menoleh dan dari kejauhan terlihat bayangan tubuh yang menggumpal, Keduanya mengira pasti si anak kecil sedang mendekap tubuh si brewok sambil menangis pilu .