Halo!

Jodoh Rajawali Chapter 96

Memuat...

Kian Bu berkata.

"Jangan kau halangi kami menyelamatkan Pangeran Yung Hwa!"

"Twako, aku telah menjadi pengawal, aku harus setia kepada tugasku. Kembalikan Pangeran Yung Hwa dan aku akan membiarkan kalian pergi dengan baik-baik!"

Kata Kang Swi.

"Bandel, kalau begitu terpaksa kita harus menjadi lawan!"

Kian Bu menerjang lagi. Kang Swi menyambut dengan pedangnya yang ditusukkan ke arah lambung Kian Bu sedangkan kakinya menendang ke arah lutut Siluman Kecil itu.

"Huhhh!"

Kian Bu mendengus, tangannya tidak ditarik mundur melainkan langsung menangkis pedang itu! Dan dia pun menyambut tendangan lawan dengan tendangan kakinya.

"Tranggg.... dukkk.... aihhhhh....!"

Kang Swi menjerit dan tubuhnya terlempar ke belakang, terbanting keras dan dia bangkit duduk dengan mata terbelalak sambil memijit-mijit kakinya. Tulang keringnya bertemu dengan kaki Siluman Kecil, bukan main nyerinya, kiut-miut rasanya menusuk-nusuk tulang sumsum, sedangkan pedangnya yang bertemu dengan tangan pendekar itu tadi telah terlempar, entah lenyap kemana.

Tentu saja dia bengong dan hampir tidak percaya bahwa dia dirobohkan dalam segebrakan saja, dan betapa pedangnya ditangkis oleh tangan kosong saja! Akan tetapi, Kian Bu tidak mempedulikannya lagi karena pada saat itu telah muncul Ho-nan Ciu-lo-mo dan Siauw-hong! Di belakang mereka nampak banyak pengawal lagi yang memenuhi tempat itu! Ho-nan Ciu-lo-mo segera mengenal Kian Lee yang berada di atas pundak Kian Bu, maka tahulah dia bahwa istana itu telah kebobolan mata-mata dari Ho-pei, akan tetapi ketika dia melihat Sai-cu Kai-ong, dia terkejut setengah mati. Kiranya orang tua gagah yang memimpin pasukan besar dari kota raja itu pun telah berada di situ dan kini sudah memondong Pangeran Yung Hwa. Dia maklum akan siasat majikannya, maka dia lalu membentak marah,

"Penculik-penculik hina, lepaskan Pangeran Yung Hwa!"

Bentaknya dan bersama beberapa orang pembantu dia sudah menerjang maju. Akan tetapi Kian Bu yang tidak ingin melihat pangeran itu terancam bahaya, sudah memapaki si muka dan rambut merah itu dengan tamparan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya memondong tubuh kakaknya.

"Wuuuttttt....!"

Ciu-lo-mo cepat mengelak dan terkejut melihat sambaran tenaga dahsyat itu. Cepat dia menggerakkan guci araknya menyerang ke arah kepala Kian Bu, sedangkan arak dari guci itu muncrat menyerang ke arah muka Kian Lee yang setengah pingsan.

"Keparat!"

Kian Bu. membentak, dengan gerakan tangannya dia menangkis dan sekaligus membuyarkan percikan arak itu dengan tiupan mulutnya.

"Tranggg!"

Guci arak membalik dan nyaris terlepas dari tangan Ciu-lo-mo saking kerasnya terpental oleh tangkisan itu.

"Hong-ji (Anak Hong)....!"

Terdengar Sai-cu Kai-ong berseru ketika dia melihat Siauw-hong menyerbu ke dalam.

"Suhu....!"

"Apa kau sudah gila? Kau membantu musuh-musuhku?"

Kakek itu membentak lagi sambil merobohkan seorang pengawal yang menyerangnya dengan golok dari samping dengan tendangan kakinya yang panjang dan besar.

"Suhu....!"

Siauw-hong memandang bingung.

"Teecu.... teecu menjadi pengawal dengan baik...."

"Tolol! Yang kau bantu adalah seorang pemberontak!"

"Ahhhhh....!"

Siauw-hong memandang bingung.

"Hayo kau bantu kami keluar dari tempat ini, menyelamatkan Pangeran ini!"

Kakek itu kembali berseru.

"Baik, Suhu!"

Siauw-hong berseru dan kini dia membalik, sekali bergerak dia telah merobohkan dua orang pengawal! Akan tetapi, kini banyak sekali pengawal yang sudah mengepung tempat itu sehingga tidak ada lagi jalan keluar yang terbuka. Para pengawal yang tidak kebagian ruangan berjejal di depan pintu dan jendela, siap dengan senjata di tangan untuk menggantikan kawan-kawan mereka yang roboh. Melihat ini, Kian Bu merasa khawatir. Betapapun lihainya mereka, menghadapi begitu banyak lawan di tempat sempit ini amat berbahaya, pikirnya. Apalagi amat berbahaya bagi kakaknya yang terluka parah.

"Mampuslah!"

Dia membentak dan melancarkan pukulan Hwi-yang Sin-ciang ke arah Ciu-lo-mo. Kakek pemabuk ini terkejut mendengar suara pukulan yang bercicitan suaranya itu. Dia cepat menggerakkan guci araknya dengan sepenuh tenaga untuk menangkis.

"Pyarrrrr....!"

Guci arak itu pecah berantakan araknya muncrat berhamburan dan tubuh si muka dan rambut merah itu roboh terjengkang!

"Siauw-hong, kau tolong panggul kakakku ini, biar aku membuka jalanl"

Tiba-tiba Kian Bu berseru kepada Siauw-hong yang juga masih mengamuk dan melindungi suhunya.

"Baik, Taihiap,"' jawab Siauw-hong dan dia cepat mendekati Kian Bu dan menerima tubuh Kian Lee yang sudah lemas setengah pingsan itu lalu dipondongnya. Melihat ini, Sai-cu Kai-ong merasa girang.

"Hong-ji, kau sudah mengenal pendekar ini?"

Tanyanya sambil bergerak ke sana-sini sambil menggerakkan lengan bajunya yang lebar untuk menghalau senjata-senjata yang datang menyerangnya.

"Tentu saja, Suhu,"

Jawab Siauw-hong sambil meloncat ke kiri untuk membiarkan lewat sebatang tombak yang menusuknya, kemudian tangan kanannya mendorong dan si pemegang tombak itu menjerit dan roboh terjengkang.

"Taihiap ini adalah Siluman Kecil."

"Ahhhhh...."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment