Sai-cu Kai-ong menggerakkan tubuhnya miring dan tangannya menyambar, dapat ditangkis oleh Siluman Kecil yang selanjutnya mengeluarkan ilmunya yang mujijat, yaitu gerakan yang amat cepat seperti berkelebatnya kilat, seperti seekor burung yang beterbangan ke sana-sini dengan kecepatan yang mentakjub-kan. Namun, dia harus mengakui bahwa daya tahan kakek itu pun hebat sekali sehingga setelah dia berkelebatan dan bertanding sampai lima puluh jurus, barulah dia berhasil melubangi ujung lengan baju kakek itu.
"Bukan main....!"
Sai-cu Kai-ong melompat ke belakang dan memeriksa lengan baju-nya yang sudah bolong!
Kalau tidak menghadapinya sendiri tentu dia tidak akan percaya. Biarpun hanya merupakan kekalahan tipis saja, namun ternyata bahwa kakek di depannya ini telah dapat mengalahkannya! Sungguh sukar dipercaya. Tidak mungkin kiranya kalau Gubernur Ho-nan memiliki mata-mata yang seperti itu kepandaiannya, sedangkan orang kepercayaan gubernur itu saja, si Ciu-lo-mo, tingkat kepandaiannya baru setingkat dengan muridnya, Gu Sin-kai. Di lain fihak, Siluman Kecil juga kagum karena kembali dia bertemu dengan seorang yang sakti! Kalau mereka berdua bertanding sungguh-sungguh, dia masih belum dapat memastikan apakah dia akan dapat mengalahkan kakek ini dengan mudah. Maka dia merasa ragu-ragu untuk maju, hanya menanti gerakan lawannya.
"Sabar, tahan dulu! Siapakah engkau dan mengapa engkau mengintai di sini?"
Tanya Sai-cu Kai-ong sambil memandang kakek di depannya itu penuh perhatian. Siluman Kecil menjura dan menjawab,
"Maaf, saya tidak sengaja mencampuri urusan Locianpwe. Saya kebetulan lewat, hanya orang lewat biasa saja.... maaf."
Siluman Kecil menjura lagi dan memutar tubuhnya hendak pergi dari situ.
"Sahabat yang baik, tunggu dulu!"
Sai-cu Kai-ong berseru. Kakek ini sungguh luar biasa, pikirnya, berwatak demikian sederhana dan merendah, kepandaiannya begitu tinggi namun masih menyebut dia "locianpwe".
"Setelah kita bertemu di sini, setelah tanpa disengaja kita saling menguji kepandaian, apakah sahabat menganggap saya terlalu rendah untuk dijadikan kenalan? Saya disebut orang Sai-cu Kai-ong dan saya merasa kagum sekali kepadamu yang memiliki kepandaian hebat. Bolehkan saya mengetahui namamu yang terhormat?"
Siluman Kecil menggeleng kepalanya yang penuh rambut putih menutupi mukanya yang keriputan.
"Saya tidak bernama....saya tidak mempunyai nama...."
Sai-cu Kai-ong tidak merasa heran mendengar ini. Dia maklum bahwa makin tinggi kepandaian orang, makin seganlah dia memperkenalkan namanya. Dia sendiri pun tidak pernah menyebutkan namanya sendiri dan membiarkan orang lain menamakannya. Tidak pernah nama aselinya, yaitu Yu Kong Tek, dikenal orang.
"Sahabat yang baik, biarpun engkau tidak sudi memperkenalkan nama, akan tetapi dengan hormat saya mengundangmu untuk menemani kami. Harap saja engkau orang tua tidak akan menolak undangan kami"
Siluman Kecil sebetulnya tidak suka untuk berkenalan dengan orang banyak. Akan tetapi, mendengar tentang urusan Pangeran Yung Hwa tadi, dia merasa tertarik sekali dan sebetulnya ingin juga dia mengetahui bagaimana perkembangan urusan yang menyangkut diri pangeran itu, maka tanpa banyak cakap dia lalu mengangguk. Sai-cu Kai-ong girang sekali dan dia lalu bersama Siluman Kecil, diiringkan oleh Gu Sin-kai dan Panglima Souw Kee An, kembali ke perkemahan para pasukan di balik bukit, di mana dia menjamu Siluman Kecil dan bercakap-cakap tentang ilmu silat. Makin gembiralah hati Sai-cu Kai-ong mendengar betapa tamunya itu ternyata luas sekali pengetahuannya tentang ilmu silat.
Sebaliknya, Siluman Kecil terkejut ketika mendengar pengakuan tuan rumah bahwa kakek gagah itu ternyata adalah keturunan dari para pendiri Khong-sim Kai-pang dan nenek moyangnya menjadi sahabat-sahabat baik dari keturunan Pendekar Sakti Suling Emas! Siluman Kecil mendengarkan pula penuturan tentang lenyapnya Pangeran Yung Hwa yang tadinya menjadi utusan kaisar, lenyap ketika terjadi keributan di taman bunga istana Gubernur Ho-nan. Yang menceritakan urusan ini adalah Perwira Souw Kee An. Menjelang sore hari itu, penjaga melaporkan bahwa di kejauhan muncul kurang lebih seribu orang perajurit dari Ho-nan dan utusan pasukan itu datang menyampaikan berita bahwa Gubernur Ho-nan telah datang untuk menemui pimpinan pasukan kota raja yang diutus oleh kaisar dan ingin bicara! Mendengar ini, Sai-cu Kai-ong mengangguk-angguk.
"Baik sekali kalau dia datang bicara,"
Katanya di hadapan Siluman Kecil, Souw Kee An, dan Gu Sin-kai.
"Aku pun tidak akan merasa senang kalau harus menggempur Ho-nan dan mengorbankan banyak perajurit dan rakyat yang tidak berdosa."
Kakek gagah ini lalu memerintahkan penjaga untuk membawa utusan pasukan gubernur itu menghadap. Setelah perajurit yang bermuka pucat itu menghadap, Sai-cu Kai-ong berkata,
"Sampaikan kepada Gubernur Kui Cu Kam, bahkan saya akan menantinya di puncak bukit, dan saya mempersilakan dia datang tanpa pasukan, hanya bersama satu orang pengawal saja. Pergilah!"
Perajurit itu pergi dan Sai-cu Kai-ong berkata,
"Sahabat yang baik, kini aku minta kepadamu untuk menemaniku menemui gubernur."
"Baik, Kai-ong,"
Jawab Siluman Kecil.
"saya pun ingin sekali mendengar bagaimana nasib pangeran itu."
Siluman Kecil kini menyebut tuan rumah itu Kai-ong, karena Sai-cu Kai-ong menolak ketika disebutnya locianpwe.
Sedangkan Saicu Kai-ong hanya menyebut Siluman Kecil "sahabat"
Saja karena Siluman Kecil berkeras tidak mau memperkenalkan namanya. Berangkatlah dua orang itu ke puncak bukit. Dan mereka melihat bahwa dari depan, ada dua orang pula yang mendaki puncak bukit kecil itu dan ternyata mereka itu adalah Gubernur Kui Cu Kam sendiri yang dikawal oleh seorang kakek yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, kepalanya botak, mantelnya lebar dan berwarna merah darah, dan mulutnya selalu menyeringai lebar dengan lagaknya yang congkak. Orang ini bukan lain adalah Ban Hwa Sengjin, koksu dari Nepal yang telah bersekutu dengan Gubernur Ho-nan! Setelah empat orang ini saling berjumpa di puncak bukit itu, mereka tidak saling memberi hormat, melainkan saling pandang dengan sinar mata penuh selidik. Akhirnya, Gubernur Ho-nan bertanya,
"Menurut pelaporan Ciu-lo-mo, engkau mengundang kami datang ke sini. Apakah urusannya?"
Dari suaranya, jelas bahwa gubernur ini marah sekali karena sesungguhnya dia datang dengan terpaksa karena khawatir mendengar ancaman itu, bahwa kalau dia tidak datang maka Ho-nan akan diserbu. Menurut para penyeli-diknya, memang ada sepuluh ribu orang perajurit kota raja siap di balik puncak bukit ini! Sai-cu Kai-ong mengangguk dan berkata,
"Gubernur Kui Cu Kam, kami memenuhi peritah kaisar untuk menuntut agar engkau suka membebaskan Pangeran Yung Hwa dan memberi penjelasan akan sikapmu yang tidak layak itu!"
Suara Sai-cu Kai-ong menggeledek dan muka gubernur itu menjadi agak pucat. Akan tetapi, Ban Hwa Seng-jin hanya tersenyum mengejek dan memandang rendah, bahkan dia menggerak-gerakkan kakinya untuk menghilangkan lumpur dari bawah sepatunya pada sebongkah batu karang. Nampak bunga api berpijar ketika bawah sepatunya bertemu dengan batu karang dan ujung batu karang itu pun hancur lebur oleh injakan sepatunya yang dilapis tapal baja! Tentu saja suara tapal baja mengenai batu karang itu nyaring dan mengganggu dan memang inilah yang dimaksudkan oleh Ban Hwa Seng-jin untuk memperlihatkan sikap bahwa dia sama sekali tidak memandang sebelah mata kepada dua orang kakek di depannya itu. Gubernur Kui tersenyum dan matanya yang sipit menyambar penuh kecerdikan.
"Kalau memang manusia she Hok dari Ho-pei itu sudah mengadu ke sana, penjelasan dari kami apalagi artinya? Tentu keadaan yang sebenarnya telah diputarbalikkan oleh orang she Hok Gubernur Hopei itu. Di antara dia dan kami memang sudah lama ada pertikaian mengenai wilayah di perbatasan, dan pertikaian itu meletus ketika dia mengantar Pangeran Yung Hwa sebagai utusan kaisar. Keributan antara dia dan kami serta para pembantu kami kedua fihak tak dapat dicegah lagi. Sudah tentu saja dia memutarbalikkan kenyataan dan mendongeng di kota raja bahwa fihak kami sengaja hendak mencelakakan Pangeran Yung Hwa. Padahal, fihak orang she Hok itulah yang sengaja memancing timbulnya keributan di taman istana kami agar dapat mempergunakan sebagai bahan fitnah."
Sai-cu Kai-ong mengerutkan alisnya. Dia pribadi tentu saja tidak akan berfihak kepada Gubernur Ho-nan ini atau kepada Gubernur Ho-pei, dan dia tidak pula mengatahui apa urusannya antara mereka berdua. Akan tetapi sebagai utusan, dia hanya akan melaksanakan apa yang menjadi tugasnya.
"Gubernur Kui, penjelasanmu tentu akan kami sampaikan kepada Sri Baginda Kaisar. Sekarang, kami harap engkau suka membebaskan Pangeran Yung Hwa agar beliau dapat kembali ke kota raja bersama kami."
Gubernur itu kembali tersenyum, lalu berkata lantang,
"Anggapan bahwa kami menangkap Pangeran Yung Hwa tentu timbul karena fitnah yang dilontarkan oleh Gubernur Ho-pei itu. Padahal, kami hanya melindungi Pangeran Yung Hwa karena kami tahu bahwa fihak Ho-pei tentu berusaha sekuat mungkin untuk dapat membunuh pangeran itu sehingga kemudian kami pula yang akan dituduh sebagai pembunuhnya. Pangeran Yung Hwa kami lindungi dan dalam keadaan selamat. Tentu akan kami bebaskan dan setelah mendengar perjelasan kami ini, maka pengiriman pasukan dari kota raja itu sungguh tidak pada tempatnya dan harap sekarang juga ditarik mundur kembali."
"Hemmm, mudah saja menarik mundur pasukan. Akan tetapi saya hanya akan menarik mundur pasukan kalau sudah melihat Pangeran Yung Hwa dibebaskan dan berada di antara kami."
"Orang tua yang tinggi hati! Kami mendengar bahwa engkau bukanlah seorang panglima, dan menurut Ciu-lo-mo, engkau hanya seorang kang-ouw yang berjuluk Sai-cu Kai-ong."
"Memang benar demikian,"