Gadis baju hijau itu membentak marah.
"Engkau sudah membasmi keluargaku dan kau masih berani memaki ayahku?"
Kini kedua mata gadis itu menjadi basah.
"Ahhhhh.... kiranya Nona adalah puteri dari Kim Bouw Sin?"
Kao Liang menarik napas panjang dan mengangguk-angguk, lalu meraba-raba jenggotnya.
"Pantas....! Pantas engkau marah-marah dan membenci kami sekeluarga. Akan tetapi agaknya karena engkau tidak tahu akan duduknya persoalan yang sebenar-nya, Nona. Kulihat engkau seorang yang berkepandaian tinggi, tentu berwatak gagah dan dapat mempertimbangkan keadaan. Baik kau dengar penuturanku mengapa keluarga ayahmu sampai terhukum semua. Semua itu adalah gara-gara perbuatan mendiang ayahmu."
Bekas Jenderal Kao Liang lalu bercerita tentang peristiwa yang terjadi lima enam tahun yang lalu. Ketika itu, Kao Liang masih menjadi seorang panglima besar, seorang jenderal gagah perkasa yang amat ditakuti oleh para pemberontak dan musuh-musuh negara yang berada di luar tapal batas. Jenderal Kao Liang bermarkas besar di utara karena pada waktu itu, musuh yang paling ditakuti adalah suku-suku liar dari utara, di luar tembok besar.
Yang menjadi pembantunya, bahkan menjadi wakil panglima di utara itu adalah Kim Bouw Sin, seorang panglima yang lebih muda dan yang pandai pula, dipercaya sebagai wakil oleh Jenderal Kao. Akan tetapi, seperti banyak di antara para pembesar, Panglima Kim Bouw Sin dapat dibujuk oleh dua orang pangeran yang merencanakan pemberontakan, yaitu Pangeran Liong Bin Ong dan Pangeran Liong Khi Ong. Panglima Kim Bouw Sin dijanjikan kedudukan tertinggi oleh dua orang pangeran yang memberontak itu sehingga dia tertarik dan memberontaklah panglima ini, berusaha menguasai bala tentara yang berada di bawah kekuasannya di utara (baca cerita Sepasang Rajawali). Usahanya itu ternyata gagal sama sekali, dan tentu saja sebagai seorang pemberontak, dia seke1uarganya dijatuhi hukuman mati.
"Demikianlah,"
Jenderal Kao Liang mengakhiri penuturannya secara singkat itu.
"Keluargamu terbasmi karena gara-gara pengkhianatan ayahmu terhadap kerajaan, Nona. Tidak ada permusuhan pribadi antara kami dan ayahmu. Ayahmu terkena bujukan Pangeran Liong Khi Ong dan Pangeran Liong Bin Ong. Dua orang pangeran khianat itulah yang menjadi biang keladi pemberontakan dan penyelewengan ayahmu."
"Orang she Kao! Kalau engkau tidak berhenti memaki ayahku, terpaksa aku akan menghan-curkan mulutmu!"
Tiba-tiba pemuda berkulit putih dan bermata kebiruan itu melangkah maju dan mengepal tinju mengancam Kao Liang. Dua orang putera bekas jenderal itu cepat maju untuk melawan. Kian Bu melerai dan menyuruh kedua fihak mundur. Kao Liang kini memandang pemuda asing itu dengan alis berkerut.
"Orang asing, apakah maksudmu?"
Tanyanya.
"Hemmm, Kao Liang, engkau tadi memaki ayahku. Pangeran Liong Bin Ong adalah ayah kandungku. Ibuku adalah seorang puteri Mongol yang berdarah orang kulit putih. Dengarlah, orang she Kao. Kami, aku dan Sumoiku ini menyadari akan kesalahan orang-orang tua kami yang melakukan pemberontakan terhadap kerajaan, maka kami tidak akan mengulang kesalahan mereka. Akan tetapi, sebagai anak-anak yang berbakti, kami harus membalaskan kematian keluarga kami itu kepada yang bersangkutan! Karena hancurnya keluarga Kim-sumoi ini adalah karena engkau, maka Sumoi hendak membalaskan dendam keluarganya kepadamu!"
Mendengar bahwa pemuda asing ini adalah putera mendiang pemberontak Liong Bin Ong, semua orang tercengang.
"Ahhh.... sungguh aneh dan luar biasa. Mengapa anak-anak mereka juga dapat menjadi saudara-saudara seperguruan?"
Kao Liang berseru heran.
"Kao Liang, dalih apa pun yang kau kemukakan, tetap saja kuanggap bahwa engkau menjadi biang keladi terbasminya keluargaku, oleh karena itu aku harus membalas kepadamu!"
Gadis baju hijau itu berseru.
"Aku Kim Cui Yan bersumpah takkan mau sudah sebelum musuh besar keluargaku dapat terbasmi pula!"
Sepasang matanya memandang penuh kebencian kepada Kao Liang dan dua orang puteranya itu yang sudah siap lagi untuk menghadapi terjangan wanita yang menjadi berbahaya karena sakit hati itu.
"Dan mengingat bahwa engkau dahulu pun merupakan musuh dari mendiang ayahku, maka aku akan selalu membantu Sumoi menghadapi engkau dan keluargamu, orang she Kao!"
Si pemuda asing berseru.
"Aku Liong Tek Hwi juga sudah bersumpah akan membasmi musuh-musuh orang tuaku!"
Melihat kedua fihak sudah mau bergerak saling serang lagi, Kian Bu cepat melangkah maju dan membentak.
"Cukup! Selagi aku berada di sini, aku tidak akan membiarkan pertempuran lagi. Aku tidak membantu siapapun juga, akan tetapi aku akan menghadapi siapa saja yang hendak memamerkan kepandaian!"
Bentaknya keras dan sikapnya menyeramkan sehingga Kim Cui Yan dan Liong Tek Hwi yang berkepandaian tinggi itu menjadi gentar. Mereka bukan penakut, akan tetapi mereka merasa segan untuk melanggar larangan Siluman Kecil yang selain hebat kepandaiannya, juga pernah menolong mereka. Juga, nama Siluman Kecil sudah cukup membuat mereka tunduk dan mengalah. Kim Cu Yan menjura kepada Kian Bu.
"Baiklah, Taihiap. Memandang muka Taihaip dan nama Siluman Kecil, biarlah kami mengalah dan tidak akan menggunakan kekerasan di depan Taihiap."
Lalu dia menoleh kepada bekas jenderal itu.
"Akan tetapi, orang-orang she Kao, ingatlah bahwa selama aku Kim Cui Yan masih hidup, jiwa kalian selalu akan dibayangi oleh pembalasanku! Liong suheng, mari kita pergi!"
Dua orang itu lalu melangkah pergi diikuti oleh lima orang anak buahnya, berjalan cepat tanpa menoleh lagi. Jenderal Kao Liang mengelus jenggotnya dan berkata seperti kepada diri sendiri namun cukup jelas terdengar oleh orang lain yang berada di situ.
"Aihhh...., kekerasan...., kekerasan...., dalam bentuk apa pun juga, tentu mendatangkan kekerasan yang lain lagi, sebab akibat, balas-membalas tiada berkeputusan seperti lingkaran setan. Betapa menyedihkan....!"
"Aduhhhhh....!"
Kian Bu dan tiga orang ayah dan anak itu terkejut dan cepat menengok ke arah datangnya suara itu.
Kian Bu melihat Siauw Hong terlempar dan roboh terbanting, pingsan! Sedangkan Kang Swi lari pergi dari bawah pohon sambil menangis terisak-isak, sebentar saja lenyap di antara pohon-pohon. Kian Bu terkejut dan heran. Bukankah tadi Siauw Hong memondong tubuh Kang Swi yang terluka parah itu ke bawah pohon dan mengobatinya? Apa yang terjadi? Mengapa kini Siauw Hong terpukul sampai pingsan dan mengapa pula pemuda tampan yang kaya raya itu melarikan diri sambil menangis terisak-isak seperti itu? Kian Bu cepat meloncat dan berlutut memeriksa Siauw Hong. Tidak terluka parah dan dengan beberapa kali pijatan di kedua pundaknya dan tengkuknya, pemuda remaja itu telah siuman kembali. Begitu siuman, Siauw Hong bangkit duduk, matanya memandang ke kanan kiri mencari-cari.
"Kau mencari siapa?"
Kian Bu bertanya.
"Dia.... mana dia...."
Siauw Hong bertanya.
"Kang Swi? Dia telah lari dan anehnya, dia lari sambil menangis seperti anak kecil. Siauw Hong, apakah yang telah terjadi?"
Kian Bu bertanya.
Tiba-tiba wajah pemuda itu menjadi merah sekali dan dia menundukkan mukanya. Terbayanglah semua yang telah terjadi tadi. Biarpun dia merasa malu dan sungkan, akan tetapi demi untuk menyelamatkan Kang Swi yang ternyata adalah seorang dara remaja itu, terpaksa dia menempelkan telapak tangannya di dada itu, dada yang putih dan tangannya diapit-apit sepasang bukit indah, menyalurkan sinkangnya dan perlahan-lahan memulihkan keadaan rongga dada yang terluka akibat guncangan pukulan tadi. Selagi dia melakukan pengobatan, tiba-tiba saja Kang Swi membuka matanya. Dara itu menahan jeritnya lalu menghantam ke arah muka Siauw Hong. Pemuda ini terkejut, miringkan kepalanya sehingga hantaman itu meleset dan mengenai lehernya. Dia terlempar dan pingsan.
"Apa yang telah terjadi, Siauw Hong?"
Tanya pula Kian Bu mendesak ketika dilihatnya pemuda itu menunduk saja tanpa menjawab. Siauw Hong menggeleng kepala,
"Tidak apa-apa.... tidak apa....,dia memang orang aneh...."
Jawabnya. Tentu saja Siauw Hong merasa sungkan sekali untuk mencerita-kan apa yang telah terjadi. Pula terdapat perasaan aneh di dalam hatinya terhadap Kang Swi. Kalau Kang Swi ternyata seorang dara yang menyamar tentu berarti dia tidak ingin diketahui orang bahwa dia seorang gadis. Nah, biarlah tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia! Sementara itu, bekas Jenderal Kao Liang dan dua orang puteranya yang tidak mau mencampuri urusan mereka, kini menghampiri Kian Bu dan orang tua gagah itu menura sambil berkata,
"Kami telah menerima bantuan Sicu yang amat berharga. Kalau tidak ada Sicu, kiranya kami sudah terbunuh oleh wanita puteri pemberontak itu. Dan saya merasa seperti pernah mengenal wajah Sicu. Kami juga sudah mendengar akan nama besar Siluman Kecil, akan tetapi, bolehkah kami mengetahui nama Sicu?"
Pada saat itu, Kian Bu masih memandang kepada Siauw Hong dengan pandang mata penuh selidik. Dia mengerti bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang aneh antara Kang Swi dan Siauw Hong, dan dia ingin tahu apa adanya peristiwa itu. Melihat pandang mata Kian Bu kepadanya Siauw Hong juga maklum bahwa dia tidak mungkin dapat menyembunyikan rahasia kalau didesak oleh Siluman Kecil, maka mendengar pertanyaan bekas jenderal itu, untuk mengalihkan perhatian dan mengubah percakapan, dia cepat menjawab,
"Nama Taihiap ini adalah Suma...."
"Siauw Hong!"
Kian Bu berseru sehingga Siauw Hong menjadi kaget dan tidak melanjutkan kata-katanya. Akan tetapi, sebutan she Suma itu sudahlah cukup bagi Kao Liang dan dua orang puteranya. Bekas jenderal itu melangkah maju, menatap wajah Kian Bu dengan sinar mata tajam dan di baliknya terkandung kemarahan yang mengherankan hati Kian Bu.
"Jadi engkau adalah putera keluarga Pulau Es?"
Bentak bekas jenderal itu. Dengan pandang mata masih terheran-heran, Kian Bu mengangguk karena tidak perlu lagi untuk menyembunyikan diri setelah she-nya diketahui orang.
"Keparat!"
Tiba-tiba saja jenderal itu bersama dua orang puteranya telah maju menyerang kalang-kabut!
"Ehhh....! Lhohhh....! Bagaimana pula ini....?"
Siauw Hong kebingungan dan berteriak-teriak. Akan tetapi tiga orang itu tetap saja menyerang terus sungguhpun orang yang diserangnya itu terus mengelak dengan mudah. Melihat ini, Siauw Hong hendak menyerbu dan membantu Kian Bu, akan tetapi Kian Bu melarangnya.