Halo!

Istana Pulau Es Chapter 112

Memuat...
ID
ID
ID

Cui Leng merintih karena luka itu terasa perih dan nyeri.

"Sakit sedikit, Li-hiap. Sekarang aku akan menyedot lukanya. Engkau tidak keberatan bukan?"

Sambil bertanya demikian, Suma Hoat mengangkat muka, memandang dan Cui Leng menunduk sehingga mereka berpandangan dengan muka terpisah tidak jauh. Wajah itu demikian tampan, sepasang mata itu demikian bagus dan bibir itu tersenyum amat ramah sehingga Cui Leng menjadi percaya sepenuhnya. Lenyaplah semua kecurigaan dan keraguan, dan jantungnya berdebar. Dia merasa sesuatu yang amat aneh yang membuat jantungnya berdebar keras. Mengapa wajah pemuda ini sekarang luar biasa tampannya? Mengapa dia merasa amat senang berdekatan dengannya? Ia tersenyum malu-malu dan mengangguk,

"Lakukanlah...."

Seluruh bulu dan rambut di tubuh Cui Leng seperti berdiri ketika ia merasa betapa bibir yang basah hangat itu menempel di kulit dada bagian atas. Jantungnya berdebar makin keras ketika bibir itu menyedot luka di dadanya.

Ia merasakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dialaminya, perasaan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, campur baur penuh rasa senang, gembira, malu, nikmat dan membuat ia ingin menjatuhkan kepalanya di atas pundak pemuda itu. Tubuhnya seperti tak bertulang lagi, lemas dan lenyap seluruh kemauan, adanya hanya rasa cinta kasih yang menggelora terhadap pemuda itu. Suma Hoat meludahkan darah yang disedotnya, kemudian menyedot lagi, meludah lagi. Setelah ia menyedot tiga kali, Cui Leng tak dapat menahan lagi amukan perasaan yang menggelora di hatinya, tubuhnya gemetar dan kedua matanya setengah terpejam, mulutnya agak terbuka, terengah memberl jalan keluar pada hawa yang mendesak dan menyesakkan dadanya yang bergelombang.

Melihat tanda ini, diam-diam Suma Hoat tersenyum.

"Arak obat"

Yang diberikannya tadi sudah bekerja baik. Sebagai seorang yang sudah berpengalaman matang, dia maklum bahwa arak yang sebetulnya adalah obat perangsang itu mempunyai daya melumpuhkan semua pertahanan susila dihati wanita dan tentu saja seperti obat-obat perangsang lain, hanya akan manjur terhadap wanita yang memang sudah mengandung hati tertarik kepadanya. Maka kini perlahan-lahan bibirnya bergeser, bukan lagi luka itu yang dikecupnya, melainkan naik ke leher. Cui Leng merasakan hal ini, dan ia terkejut sekali, namun apa daya, semua kemauannya telah lenyap, bahkan dia merasa dirinya seperti terapung di angkasa, demikian menyenangkan.

Dia hanya dapat mengeluh panjang, napasnya makin terengah dan kini kedua matanya bahkan dipejamkan sama sekali. Tak lama kemudian, ketika pemuda itu merangkul dan menciumi pipi dan bibirnya, dia merintih dan kedua lengannya merangkul leher pemuda itu tanpa disadarinya. Cui Leng telah lupa dan mabok. Perasaannya terhadap pemuda itu hanya bahwa pemuda itu amat baik, amat tampan, amat gagah perkasa dan sepatutnya menjadi jodohnya! Seperti dalam mimpi ia menyerah, menurut dan memenuhi apa saja yang dikehendaki pemuda itu dan satu-satunya. percakapan di antara mereka adalah pertanyaan Si Pemuda.

"Kekasihku, siapakah namamu?"

Pertanyaan yang aneh. Belum juga mengenal nama, sudah menyerahkan segalanya! Namun pada saat itu, Cui Leng yang sudah mabok dan lupa daratan itu tidak merasai keanehan ini dan menjawab lirih,

"Namaku Kim Cui Leng.... dan kau, Koko....?"

"Panggil saja aku Hoat."

"Hoat-ko.... aku cinta padamu...."

Dengan ucapan ini, Cui Leng kehilangan segala-galanya. Ia telah serahkan jiwa raganya kepada seorang pria yang sama sekali tidak diketahui riwayat dan keadaannya! Bahkan namanya pun hanya diketahui dengan sebuah huruf "Hoat"

Saja! Dia seorang gadis yang tidak mempunyai pengalaman sama sekali, masih hijau, dan yang mempermainkannya adalah seorang "Jai-hwa-sian"

Yang pandai merayu, tentu saja Cui Leng benar-benar jatuh! Barulah pada keesokan harinya, ketika sadar dari tidurnya yang nyenyak berbantal lengan dan dada Suma Hoat, Cui Leng menjerit, teringat akan segala yang terjadi dan ia menangis tersedu-sedu. Suma Hoat memeluknya.

"Ah, Leng-moi, kekasihku, dewi pujaan hatiku. Kenapa menangis? Apakah engkau menyesal mempunyai kekasih seperti aku?"

"Tidak....! Tidak....! Aku cinta padamu, Koko, akan tetapi...."

Suma Hoat menciuminya.

"Mengapa menangis?"

"Aku takut! Kalau Suci tahu, celakalah aku. Aku tentu akan dibunuhnya! Ini merupakan pelanggaran kami!"

Suma Hoat tertawa,

"Ha-ha-ha! Mengapa takut kepadanya? Jangankan baru dia, biar seluruh tokoh Siauw-lim-pai datang, jangan takut. Ada aku di sini, Leng-moi. Percayalah, aku tidaklah selemah yang kaukira. Lihat ini!"

Suma Hoat menggerakkan tangan kiri dengan jari terbuka ke arah lantai. Terdengar suara

"plak! Plak!"

Dan Cui Leng memandang lantai dengan mata terbelalak melihat betapa telapak tangan pemuda itu membuat bekas yang amat dalam dan begitu jelas sehingga tampak garis telapak tangannya.

"Eh.... itu.... Tiat-ciang-kang (Telapak Tangan Besi)!"

Serunya kagum.

"Dan lihat ini!"

Kembali tangannya didorongkan ke depan, ke arah guci arak di atas meja dan....

"wuuuuttt!"

Guci arak itu terbang melayang ke arah tangannya, disambut dan pemuda itu menenggak araknya!

"Wah, Koko....! Sin-kangmu hebat bukan main!"

"Nah, masih takutkah engkau? Biar sucimu datang, dia tidak akan dapat mengganggumu, apalagi membunuhmu."

"Akan tetapi, namaku akan ternoda! Koko, bagaimana baiknya....?"

Wajah gadis itu menjadi pucat.

"Karena ketahuan Sucimu? Ha-ha, Leng-moi, kekasihku. Jalan satu-satunya hanyalah mengusahakan agar sucimu mau bermain cinta denganku, mau melayaniku. Dengan demikian, engkau mempunyai teman dan dapat saling menyimpan rahasia!"

"Kau....!"

Tangan Cui Leng menyambar hendak menampar muka Suma Hoat, akan tetapi pemuda itu menangkap tangan itu sambil tertawa-tawa dan betapa pun Cui Leng meronta sambil mengerahkan tenaga, tetap saja dia tidak mampu melepaskan tangannya.

"Leng-moi, jangan begitu. Ingatkah kita melakukan permainan cinta atas dasar suka sama suka, bukan? Tidak ada yang memaksa! Aku adalah, seorang laki-laki yang takkan menolak cinta kasih wanita mana pun. Aku mengusulkan agar sucimu suka bermain cinta denganku semata-mata untuk menolongmu, yaitu agar rahasiamu tetap aman tersimpan. Bagaimana?"

Cui Leng terisak.

"Kau.... kau.... mata keranjang!"

"Ha-ha-ha!"

Suma Hoat tertawa.

"Laki-laki mana di dunia ini yang tidak mata keranjang? Asal diberi kesempatan tidak akan ada laki-laki yang menolak kasih sayang wanita cantik! Dan sucimu juga cantik jelita, sungguhpun tidak sepanas engkau. Bagaimana? Cui Leng memang merasa menyesal dan khawatir. Kalau sampai diketahui sucinya bahwa dia telah menyerahkan kehormatannya kepada pria itu, tentu dia akan celaka dan selama hidupnya takkan merasa aman. Akan tetapi, kalau sucinya juga "terjun"

Dan ikut basah, sama-sama basah seperti dia, tentu saja mereka berdua akan dapat saling menjaga rahasia masing-masing.

"Jadi kau.... kau tidak akan memperisteri aku?"

"Moi-moi? Jangan bodoh! Hubungan kita bukanlah hubungan suami isteri, kita melakukannya karena suka sama suka, bukan? Kita sama-santa menikmatinya, bukan? Tadinya pun aku tidak pernah berjanji untuk mengambilmu sebagai isteri."

"Mengapa?"

Dalam suara Cui Leng terkandung putus harapan.

"Mengapa? Karena aku sudah bersumpah selamanya tidak akan beristeri! Itulah! Sekarang bagaimana, maukah engkau membiarkan aku membujuk sucimu agar keadaannya sama denganmu ataukah harus kutinggalkan engkau begini saja?"

"Tidakf jangan tinggalkan aku. Baiklah, lakukan apa yang kaukehendaki kepada suci kalau.... kalau.... itu merupakan satu-satunya jalan...."

Melihat betapa wajah yang cantik dan biasanya berseri itu kini berkerut tanda susah. Suma Hoat tertawa, merangkul dan memondong Cui Leng.

"Leng-moi, hidup satu kali mengapa berduka dan berkhawatir? Tidak pantas wajahmu yang cantik berduka. Mari kita bergembira!"

Dia membawa Cui Leng lari keluar rumah itu menuju ke sebuah sungai. Tak lama kemudian, kedua orang itu sudah tertawa-tawa, mandi bertelanjang bulat di dalam sungai itu, saling menyirami air, berkejaran penuh kegembiraan, saling mencurahkan cinta kasih secara bebas seperti sepasang angsa. Cui Leng kembali menjadi gembira, lupa sama sekali akan kekhawatirannya tadi, terbuai mabok dalam rayuan Suma Hoat yang amat pandai menguasai hati dan tubuhnya.

"Sumoi....!"

Bentakan Liang Bi mengejutkan Cui Leng dan ia menengok dengan wajah pucat ke arah sumoinya yang sudah berdiri di tepi sungai, sedangkan Suma Hoat malah tersenyum-senyum. Kekagetan Cui Leng tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan rasa kaget yang memukul hati Lian Bi ketika ia mencari sumoinya dan mendapatkan sumoinya sedang mandi bersama pemuda penolong mereka dalam keadaan telanjang bulat seperti itu.

"Ha-ha, kebetulan sekali engkau datang Li-hiap. Marilah ikut bersama kami, di sini segar dan nyaman. Tanggalkan pakaianmu!"

Kata Suma Hoat. Saking bingung dan takutnya melihat sucinya penuh kemarahan, Cui Leng berkata di luar kesadarannya,

"Benar suci! Mari kita mandi bersama Hoat-koko....!"

"Sumoi, engkau murid yang murtad! Tidak malu melakukan perbuatan terkutuk"

Dengan kemarahan meluap Liang Bi mencabut pedangnya.

"Manusia-manusia macam kalian harus kubunuh!"

"Suci....!" "Tenanglah, Leng-moi, biar aku yang menundukkannya!"

Setelah berkata demikian sekali melompat tubuh Suma Hoat yang telanjang bulat melayang ke darat, ke depan Liang Bi.

Selama hidupnya yang dua puluh tahun lamanya, dalam mimpi pun belum pernah Liang Bi melihat seorang laki-laki dewasa telanjang. Kini ada seorang laki-laki, dewasa bertelanjang bulat berdiri di depannya, tentu saja hal ini merupakan pengalaman yang amat hebat, yang membuat seluruh tubuhnya menggigil dan ia hampir pingsan saking malunya. Akan tetapi kemarahannya mengatasi segala perasaan lain. Dengan teriakan ganas ia menerjang dengan pedangnya, membacok laki-laki itu penuh kebencian. Akan tetapi, selain tingkat ilmu kepandaian Suma Hoat sudah amat tinggi, juga menghadapi seorang pria yang telanjang bulat itu membuat Liang Bi merasa ngeri sehingga gerakannya terganggu dan dengan mudah Suma Hoat menghindarkan diri dari serangan pedang yang bertubi-tubi.

"Ah, Nona yang manis, mengapa engkau hendak membunuhku yang tidak berdosa? Sumoimu dan aku sama-sama menikmati cinta kasih dan marilah, engkau ikut pula menikmatinya. Tegakah engkau membunuh aku yang tidak berdosa?"

Sambil mengelak dengan mempergunakan gin-kangnya yang tinggi, Suma Hoat membujuk.

"Manusia hina! Terkutuk! Mampuslah!"

Liang Bi menerjang lagi dengan mata setengah terpejam karena dia tidak tahan menyaksikan tubuh yang telanjang bulat begitu dekat dengannya itu. Kembali Suma Hoat mengelak.

"Aihh, betapa tega hatimu, Nona. Akan tetapi aku tidak tega untuk mencelakaimu. Aku cinta padamu, manis!"

Ucapan merayu ini seperti minyak disiramkan pada api, membuat kemarahan Lian Bi makin berkobar. Kalau pria ini mencinta sumoinya, bagaimana sekarang di depan sumoinya berani mengeluarkan kata-kata mencintanya?

"Keparat biadab!"

Liang Bi memaki makin marah, pedangnya diputar cepat sekali menjadi segulung sinar menyilaukan yang menyambar-nyambar.

"Aduh, cantik dan gagah sekali engkau!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment