"Akan tetapi tidak melelahkan, Su-ci...."
"Hemm, Sumoi. Dari mana engkau akan mendapatkan uang untuk membeli dua ekor kuda? Kalau bekal uang kita ditambah perhiasan ditukarkan kuda, habis bagaimana kita akan membeli makanan? Sudahlah, jangan rewel...."
Suma Hoat bangkit dari bangkunya, menghampiri pengurus restoran, berbisik-bisik dan mengeluarkan beberapa potong perak dari sakunya, kemudian pergi meninggalkan restoran, diikuti pandang mata dua orang murid perempuan Siauw-lim-pai akan tetapi Suma Hoat sendiri tidak pernah menengok.
"Agaknya engkau salah duga, Suci. Dia bukan orang jahat. Kelihatannya lebih pantas menjadi seorang pendekar, begitu halus gerak-geriknya seperti seorang pelajar, dan wajahnya...."
"Sumoi!"
Sumoinya tersenyum, akan tetapi kedua pipinya merah.
"Suci, kalau tidak salah tahun ini usiamu sudah dua puluh tahun, bukan? Dan aku sudah delapan belas tahun. Kita sudah dewasa dan selama bertahun-tahun kita selalu tekun mempelajari ilmu silat. Salahkah kalau sebagai gadis-gadis dewasa, sekali-kali kita memandang dan memperhatikan seorang pemuda yang menarik hati? Betapapun juga, kelak kita tentu akan bertemu jodoh, Suci...."
"Hush! Sumoi, memalukan sekali bicaramu! Sungguh melanggar susila!"
Gadis baju merah menahan ketawa, menutup mulut dan memandang sucinya dengan mata berseri.
"Suci, maafkan kalau aku membantah. Gadis-gadis dewasa merasa tertarik dan membicarakan seorang pemuda yang gagah dan tampan, mengapa kau katakan melanggar susila? Kalau begitu pendapatmu, tentu akan terjadi makin banyak lagi peristiwa yang menyedihkan seperti dalam dongeng Sam Pek dan Eng Tai! Laki-laki boleh memilih jodoh, apakah kita kaum wanita hanya dijadikan budak belian, diberikan siapa saja di luar kehendak kita untuk menjadi isteri orang? Tidak, Suci. Kuanggap sudah wajar kalau kita pun tertarik kepada pria yang memenuhi selera hati kita dan...."
"Cukup, Sumoi! Agaknya kau tergila-gila kepada dia tadi, ya? Sungguh tak tahu malu!"
"Tergila-gila sih tidak, hanya aku mengatakan bahwa dia itu seorang pemuda yang gagah tampan dan halus gerak-geriknya...."
"Sudahlah. Mari kita pergi! Kalau terdengar orang, sungguh memalukan!"
Si Gadis Baju Biru lalu bangkit berdiri, diikuti sumoinya yang tersenyum-senyum memanggii pelayan,
"Hitung semua berapa!"
Kata Sang Suci dengan suara agak keras karena hatinya mengkal terhadap sumoinya. Dia mengenal sumoinya yang berwatak jenaka, riang dan lincah, akan tetapi memuji-muji seorang pemuda tampan benar-benar hal ini dianggap keterlaluan dan tak tahu malu! Betapa heran hati kedua orang gadis itu ketika dengan membongkok-bongkok Si Pelayan berkata,
"Sudah dibayar, Ji-wi Siocia. Semua hidangan sudah dibayar lunas oleh sahabat Ji-wi tadi.
"Sudah dibayar? Oleh sahabat yang mana?"
Gadis baju biru bertanya. Pelayan itu membungkuk-bungkuk tersenyum.
"Oleh Kongcu tadi yang mengaku sahabat Ji-wi. Dia baik sekali, pembayarannya kelebihan banyak akan tetapi dihadiahkan kepada kami...."
Gadis baju biru mengepal tinju, matanya memancarkan kemarahan, wajahnya agak merah. Akan tetapi sumoinya menyentuh lengannya dari belakang dan berkata,
"Ah, sungguh sahabat kita itu terlalu sungkan. Marilah, Suci, kalau sudah dibayar, sudah saja."
Ia menarik tangan sucinya keluar dari restoran itu.
"Setan! Dia benar-benar kurang ajar dan berani mati!"
Gadis baju biru mengomel setelah mereka keluar dari restoran.
"Aihhh, mengapa Suci marah-marah? Orang telah bersikap baik, mengapa tidak bersyukur dan berterima kasih malah dimaki-maki?"
Sumoinya mencela.
"Sumoi!"
Sucinya membentak marah dan melototkan matanya yang bening.
"Apakah harga diri kehormatanmu hanya semurah harga makanan itu?"
"Eh-eh.... mengapa Suci berkata demikian? Dia membayar makanan secara diam-diam, sedikit pun tidak mengeluarkan ucapan dan perbuatan yang kurang ajar! Bagaimana Suci menyebut-nyebut soal harga diri dan kehormatan?"
Sucinya menghela napas panjang.
"Sumoi, biar usiamu sudah delapan belas tahun, namun engkau selalu terkurung dan tidak ada pengalaman. Engkau tidak tahu betapa bahayanya kaum pria dengan sikap manis mereka. Hati-hatilah Sumoi, kalau engkau tidak membentuk benteng baja di luar hati dan perasaanmu, engkau akan mudah tergelincir oleh licinnya sikap manis pria."
"Suci...." "Sudahlah! Mari kita ke hotel!"
Akan tetapi ketika mereka berdua tiba di hotel, mereka menghadapi keanehan ke dua yang membikin Sang Suci makin mendongkol akan tetapi Sang Sumoi makin girang. Di hotel ini, tidak hanya kamar hotel dibayar oleh "sahabat"
Itu, malah telah tersedia dua ekor kuda besar yang dihadiahkan oleh "sahabat"
Itu kepada mereka! Gadis baju biru hendak marah-marah, akan tetapi sumoinya membisikkan bahwa kalau Sang Suci marah-marah, maka tentu akan menarik perhatian orang dan bukankah hal itu akan lebih memalukan lagi?
"Kita terima dengan wajar dan semua orang akan menganggap hal itu wajar pula, karena apakah anehnya kalau seorang sahabat baik menghadiahkan dua ekor kuda? Pula, bukankah perbuatan-perbuatannya itu kini meyakinkan kita bahwa dia tidak mengandung niat buruk?"
"Hemm... malah makin curiga aku kepadanya, Sumoi."
Seorang pelayan hotel menghampiri mereka dan memberi hormat.
"Ji-wi Siocia, Kongcu sahabat Ji-wi tadi meninggalkan sepucuk surat kepada Ji-wi."
Ia menyerahkan sebuah sampul kepada mereka. Gadis baju biru menerima sampul dengan alis berkerut.
"Wah, sampulnya berbau harum!"
Bisik Sumoi tersenyum dan hal ini menambah kemengkalan hati sucinya yang merobek ujung sampul dengan gerakan kasar lalu mencabut keluar sehelai kertas. Tulisan yang terdapat di kertas itu amat indah, dan hanya merupakan surat yang singkat :
Sebaiknya menunggang kuda agar tidak kemalaman lewat Kwi-hwa-san. Harap Ji-wi Li-hiap berhati-hati kalau sampai di sana, karena di Kwi-hwa-san terdapat gerombolan perampok yang lihai.
Teriring hormatnya
Sahabat Ji-wi.
Gadis baju biru itu merobek-robek surat dan sampul sampai berkeping-keping dan wajahnya menjadi merah.
"Kalau ada perampok, tentu dialah orangnya. Hemm, hendak kulihat saja sampai di mana puncak kekurangajarannya!"
Biarpun berkata demikian, dia tidak menolak ketika sumoinya mengajak dia melanjutkan perjalanan dengan menunggang kuda pemberian Si Pembuat Surat itu. Setelah membeli bekal roti kering, mereka lalu membalapkan kuda keluar kota menuju di mana Puncak Pegunungan Kwi-hwa-san tampak tertutup awan. Kedua orang gadis itu bukanlah gadis-gadis sembarangan. Yang berbaju biru, sang suci, bernama Liang Bi, sedangkan sumoinya bernama Kim Cui Leng, keduanya adalah murid-murid pilihan dari Ketua Siauw-lim-pai di waktu itu, yaitu Kian Ti Hosiang yang amat lihai!
Biarpun baru selama lima tahun mereka digembleng oleh Kian Ti Hosiang, namun ilmu kepandaian kedua orang gadis ini amat lihai maka mereka mendapat kepercayaan Kian Ti Hosiang untuk mewakilinya mengadakan pertemuan dengan wakil-wakil dari perkumpulan Beng-kauw di selatan. Tujuan mereka adalah Tai-liang-san di mana terdapat wakil partai Beng-kauw dan Ta-liang-san terletak di sebelah barat Kwi-hwa-san sehingga perjalanan mereka sudah dekat. Paling lama tiga hari lagi mereka akan tiba di tempat tujuan. Akan tetapi, peristiwa pertemuan dengan Pemuda tampan gagah itu membuat hati Liang Bi merasa tidak enak sungguhpun sumoinya kelihatan gembira dan selalu memuji-muji kebaikan hati pemuda tampan itu. Menjelang senja mereka tiba di Pegunungan Kwi-hwa-san yang kelihatan sunyi sekali.
"Untung kita berkuda sehingga sebelum gelap tiba di sini, Suci. Kita harus berhati-hati,"
Kata Cui Leng yang teringat akan isi surat pemberi kuda.
"Huh, siapa percaya kepada obrolan si pembual itu? Kalau ada perampok, tentu dialah orangnya. Biar dia muncul, akan kubayar lunas kelakuannya terhadap kita!"
Jawab Liang Bi marah.
"Eh, eh....! Kalau engkau hendak membayar lunas, berarti kita harus mengganti uang makanan, hotel dan harga kedua ekor kuda ini. Mana uang kita cukup, Suci?"
Muka Liang Bi menjadi merah. Bukan itu maksudku. Yang kubayar adalah kelancangannya dan kekurangajarannya, kubayar dengan makian, kalau perlu kuhajar dia!"
"Awas, Suci....!"
Cui Leng tiba-tiba berseru dan tangannya menangkap sebatang anak panah yang meluncur ke arah dadanya.
Akan tetapi, tanpa diperingatkan pun, Liang Bi sudah bergerak cepat dan tangan kirinya sudah pula berhasil menangkap sebatang anak panah yang menyambarnya. Tiba-tiba terdengar suara bercuitan nyaring dan belasan batang anak panah menyambar ke arah kuda tunggangan mereka! Dengan anak panah rampasan, kedua orang dara perkasa ini menangkis, akan tetapi tidak urung ada anak panah yang menancap di perut kuda mereka. Keduanya berseru keras dan melompat ke atas, berjungkir-balik dan turun ke atas tanah sambil mencabut pedang. Dua ekor kuda itu roboh dan berkelojotan. Dari depan terdengar sorakan dan muncullah dua puluh orang lebih, berlari-lari ke arah mereka.
"Kau masih tidak percaya, Suci?"
Cui Leng berkata, teringat akan bunyi surat. Namun sucinya menjawab kaku,
"Ini tentu perbuatan Si Laknat itu. Kalau muncul gerombolan perampok ini, tentu dialah kepalanya!"
Akan tetapi setelah gerombolan perampok yang terdiri dari dua puluh delapan orang, ternyata bukan dipimpin pemuda tampan yang dicurigai, melainkan dikepalai oleh dua orang laki-laki tinggi besar yang mukanya penuh brewok dan matanya lebar, bersenjata golok besar di tangan kanan dan sebatang cambuk di tangan kiri. Adapun semua anggauta perampok bersenjata golok besar, di pinggang mereka tampak gulungan tali hitam. Tidak tampak pemuda tampan di antara mereka.
"Ha-ha-ha-ha! Suheng! Sungguh untung anak panah kita tadi tidak melukai mereka. Kiranya mereka adalah dua orang nona yang begini denok, sayang kalau terluka. Hari ini kita mendapat untung besar, kita berdua akan memperoleh seorang satu, ha-ha-ha!"
Perampok ke dua yang bertahi lalat di ujung hidungnya tertawa.
"Kau benar, Sute. Sudah lama kita menjadi duda, dan dua orang nona ini patut menjadi isteri kita. Eh, dua orang nona yang jelita, kalian siapakah dan hendak ke mana? Jangan takut, kami tidak akan mengganggu kalian, bahkan hendak mengangkat kalian menjadi isteri yang tercinta dan hidup mewah di Puncak Kwi-hwa-san,"
Kata perampok ke satu yang matanya merah.
"Keparat yang bosan hidup!"