Halo!

Istana Pulau Es Chapter 106

Memuat...
ID
ID
ID

"Pangeran....!"

Lenyaplah sikap Cia Kim Seng yang biasanya sederhana, kini tampak dia penuh wibawa ketika bertanya,

"Siapa yang memimpin barisan ini?"

"Panglima Durbana, Pangeran!"

Jawab perwira itu penuh hormat.

"Mengapa mundur ke selatan dan kini mundur lagi ke timur? Apa yang terjadi?"

"Ketika kami hendak bergerak ke pantai timur, kami bertemu dengan barisan besar Yucen sehingga kami terpukul mundur ke selatan. Kemarin kami bertemu dengan barisan besar Kerajaan Sung dan setelah bertempur sehari semalam, terpaksa kami mundur...."

"Memalukan! Apakah pasukan-pasukan kita sudah demikian lemahnya sehingga bisanya hanya mundur dan lari saja? Panggil Panglima Durbana menghadap!"

"Baik, Pangeran!"

Perwira itu lalu meloncat ke atas kudanya dan membalap ke depan. Ok Yan Hwa memandang "rekannya"

Itu penuh takjub.

"Jadi kau.... kau.... seorang Pangeran Mancu....?"

Cia Kim Seng menggerakkan tubuh menjura dengan membungkuk setengah badan sambil berkata,

"Benar, Ok-lihuciang. Aku adalah Pangeran Bharigan yang sengaja menyamar untuk melakukan penyelidikan sendiri ke arah timur. Tidak ada waktu untuk bicara panjang, kelak tentu kujelaskan semua kepada Maya-ciangkun. Seorang panglima datang berkuda. Dia segera melompat turun dari kudanya dan berlutut dengan sebelah kaki di depan Pangeran Bharigan.

"Lekas katakan mengapa engkau mundur menghadapi pasukan Sung!"

Pangeran itu menegur dengan suara marah.

"Maaf, Pangeran. Terpaksa hamba menarik mundur barisan karena pihak musuh terlalu kuat, apalagi dipimpin oleh Jenderal Besar Suma Kiat dan pembantupembantunya yang berkepandaian tinggi."

Pangeran Bharigan mengelus dagunya, kemudian menoleh kepada Yan Hwa.

"Ok-li-huciang. Harap kau suka segera memberi laporan kepada Maya-li-ciangkun mengenai keadaan kami yang memerlukan bantuan segera."

"Baik, Cia.... eh, Pangeran Bharigan, Ok Yan Hwa meloncat ke atas kudanya dan membalap meninggalkan tempat itu, Ketika tiba di perkemahan Pasukan Maut, dengan singkat namun jelas dia menceritakan kepada Maya dan para perwira lain tentang keadaan barisan Mancu, tentang pihak musuh barisan Sung yang dipimpin Suma Kiat, dan tentang diri Cia Kim Seng yang ternyata adalah Pangeran Bharigan dari Kerajaan Mancu. Mendengar penuturan itu, Maya menjadi terheran-heran, juga kaget dan girang. Musuh besarnya, Suma Kiat, berada di depan!

"Bagus! Kita akan berpesta menghancurkan barisan Sung! Sungguh tidak kusangka bahwa penggembala domba itu ternyata seorang Pangeran Mancu!"

Pada saat Maya mempersiapkan pasukannya untuk membantu pasukan Mancu menggempur bala tentara Sung yang dipimpin oleh Jenderal Suma Kiat, tiba-tiba datang sebuah pasukan kecil, terdiri dari lima puluh orang. Maya menjadi girang ketika mendapat kenyataan bahwa pasukan kecil itu ternyata adalah pasukan yang dipimpin Can Ji Kun yang kembali dari timur setelah memenuhi tugasnya melapor kepada Panglima Laut Bu Gi Hoat yang memberontak terhadap Kerajaan Sung.Hati Maya menjadi tegang dan memandang penuh perhatian kepada Ok Yan Hwa dan Can Ji Kun, suheng dan sumoi yang bertemu di tempat itu dan kini berdiri berhadapan saling pandang itu.

"Hemm...., kiranya engkau di sini?"

Terdengar Can Ji Kun menegur, pandang matanya tidak pernah melepaskan wajah sumoinya.

"Kalau engkau cukup berharga menjadi pembantu di sini, mengapa aku tidak?"

Ok Yan Hwa menjawab pula, suaranya mengandung ejekan dan tantangan, namun sinar matanya yang bersinar dan kedua pipi yang kemerahan itu tak dapat menyembunyikan rasa rindu dan senangnya berhadapan dengan pemuda tampan itu. Dua orang ini aneh, pikir Maya. Untung bahwa saat itu mereka sedang, sibuk menghadapi serbuan ke tempat musuh maka segala urusan pribadi dapat dikesampingkan. Maya lalu berkata,

"Ji Kun dan Yan Hwa, kalian adalah murid-murid tersayang dari Bibi Mutiara Hitam! Suma Kiat adalah musuh besar kita karena dialah yang menjadi biang keladinya sehingga Menteri Kam Liong, uwa guru kalian, tewas secara menyedihkan. Semenjak dahulu, keturunan Suma selalu melakukan kejahatan, dan kini tiba saatnya bagi kita untuk membersihkan dunia dari keturunan jahat itu. Ji Kun, engkau memimpin pasukan sayap kiri, dan Yan Hwa memimpin pasukan sayap kanan. Biar aku sendiri yang akan menghadapinya langsung dari depan bersama pasukan-pasukan Mancu. Kalian berdua jangan ikut menerjang maju karena tugas kalian hanya menjaga kalau Si Keparat itu melarikan diri. Kalian harus mencegahnya lolos dan begitu bertemu dengan dia, lepaskan panah api sebagai isyarat."

Kedua orang suheng dan sumoi itu mengangguk.

"Jangan khawatir, Si Tua Bangka, keparat Suma Kiat itu tentu akan tewas di tanganku!"

Kata Ji Kun sambil meraba gagang pedangnya.

"Belum tentu! Agaknya akulah yang akan berhasil menembuskan pedangku di jantungnya!"

Yan Hwa tidak mau kalah. Maya tersenyum.

"Kita sama lihat sajalah. Hanya, sebagai atasan kalian, aku tidak akan memberi ampun kalau sampai kalian memberi kesempatan kepadanya untuk lolos."

Setelah melepas pandang mata penuh wibawa dengan sinar tajam seperti menembus dada mereka, Maya lalu tersenyum dan berkata,

"Ji Kun, engkau baru datang, beristirahatlah. Aku akan mengatur barisan dan menjelang senja nanti kita berangkat."

Ji Kun mengangguk dan membalikkan tubuh menghadapi Yan Hwa.

Post a Comment