Maya cepat mengelak karena kembali ada sinar kilat menyambar ke arah lehernya.
"Singggg! Wuuuusssshhhh!"
Diam-diam Yan Hwa terkejut dan juga kagum sekali. Kini tahulah dia bahwa Maya benar-benar amat hebat kepandaiannya, ilmu pedangnya aneh dan dalam hal gin-kang. Maya bahkan melampaui tingkatnya! Seperti juga Ji Kun, dia terheran-heran mengapa bocah yang dahulu ikut bersama Panglima Khu Tek San itu kini telah menjadi seorang yang begini lihai. Tentu Menteri Kam Liong, kakak subonya yang kabarnya lebih lihai dari subonya itu yang menjadi gurunya.
"Maya, engkau, pun hebat! Agak berkurang ketidakpercayaanku. Akan tetapi aku belum kalah!"
Kata Yan Hwa yang sudah menyerang lagi dengan hebat, agaknya dia hendak menguras semua kepandaiannya untuk mencapai kemenangan.
Maya maklum bahwa untuk menundukkan orang seperti Yan Hwa ini harus mengalahkannya, maka ia lalu mengeluarkan suara melengking keras dan tiba-tiba tubuhnya berkelebatan sedemikian cepatnya sehingga Yan Hwa mengeluarkan seruan kaget dan pandang matanya berkunang-kunang. Cepat Yan Hwa memutar pedang pusakanya sehingga tubuhnya terlindung dan terkurung oleh benteng sinar kilat. Menghadapi pertahanan seperti ini, Maya tak berdaya. Jalan satu-satunya hanya memancing agar pedangnya melekat, pikirnya. Maka ia mengurangi kecepatannya dan menahan serangannya. Melihat bahwa gerakan Maya tidak secepat tadi, Yan Hwa juga berhenti melindungi tubuh dan ia mendapat kesempatan untuk menyerang lagi dengan tusukan kilat ke dada Maya.
"Bagus!"
Maya memuji, pedangnya menangkis dari samping.
"Trakk! Pedangnya menempel dan tersedot oleh Li-mo-kiam, dan melihat kini lawan berani mengadu pedang sehingga tertempel oleh pedang pusakanya, Yang Hwa menjadi girang sekali dan melanjutkan pedangnya isang sudah membikin tak berdaya pedang lawan itu untuk menusuk ke perut. Kesempatan ini yang dipergunakan Maya. Ia melepaskan pedangnya, membanting diri ke kiri dan sebelum tubuhnya menyentuh tanah ia mengirim pukulan sin-kang ke arah lengan tangan Yan Hwa yang memegang pedang.
"Aiiihhh...."
Yan Hwa memekik, pedangnya yang menempel pedang lawan terlepas, tangannya lumpuh dan tubuhnya menggigil kedinginan, rasa dingin yang terus menjalar ke dalamdadanya. Ia maklum bahwa dia telah terkena pukulan sin-kang yang amat kuat dan berbahaya, maka tanpa mempedulikan sesuatu ia lalu duduk bersila dan mengatur napas. Maya telah melompat dan sekaligus menyambar dua buah pedang yang saling menempel itu.
Dengan tenaga sin-kang ia melepaskan pedangnya yang tersedot dan menempel pada Li-mo-kiam, menyarungkan pedangnya dan mengamat-amati pedang Yan Hwa dengan penuh kengerian. Yan Hwa membuka matanya, lega bahwa lukanya tidak hebat. Kalau dadanya yang terkena pukulan seperti itu, agaknya dia akan tewas. Dan tahulah dia bahwa kalau Maya menghendaki dan menggunakan pukulan-pukulan dahsyat dan sakti seperti itu, tak mungkin dia dapat melawan sampai ratusan jurus. Kini dia percaya penuh. Jangankan baru dia atau suhengnya, bahkan mendiang suhunya atau subonya sekalipun agaknya belum tentu mampu menandingi ilmu kepandaian Maya yang demikian hebatnya. Maya menghampirinya dan menyerahkan pedang pusakanya. Yan Hwa menarik napas panjang, menerima dan menyimpan pedangnya dan berdiri dengan muka tunduk.
"Maafkan aku, kini aku percaya sepenuhnya. Suheng dan aku bukanlah tandinganmu."
Mendengar ucapan yang bernada kecewa itu Maya berkata,
"Tidak perlu penasaran, Yan Hwa. Ketahuilah bahwa aku adalah penghuni Istana Pulau Es, pewaris ilmu Suhu Bu Kek Siansu."
Terbelalak mata Yan Hwa memandang dan dalam pandang mata itu kini terkandung kekaguman dan sikap takluk.
"Aahhhh, sungguh aku tidak tahu diri. Maya, biarlah mulai saat ini aku menjadi pembantumu."
Maya tersenyum girang dan maju merangkul pundak Yan Hwa. Tiba-tiba mereka berdua menoleh ketika mendengar suara keluhan. Ketika memandang ke arah para perwira, mereka itu mengeluh dan menggosok-gosok mata mereka seolah-olah mata mereka sakit dan memang mata mereka terasa pedih dan gatal karena setelah pertandingan berhenti, mata mereka masih terus seperti melihat sinar kilat menyambar-nyambar menimbulkan rasa pedih dan nyeri. Maya menghela napas,
"Yan Hwa, hati-hatilah engkau menggunakan pedangmu. Pedangmu itu di samping pedang Ji Kun, adalah pusaka-pusaka yang ampuhnya menggila dan kalau kurang hati-hati atau salah mempergunakannya dapat menimbulkan malapetaka hebat."
Yan Hwa mengangguk dan dia lalu menceritakan riwayat kedua pusaka Sepasang Pedang Iblis itu. Mendengar penuturan ini, Maya bergidik ngeri dan diam-diam ia amat khawatir akan nasib Yan Hwa dan Ji Kun yang mewarisi sepasang pedang pusaka seperti itu. Namun karena maklum akan keangkuhan mereka, dia tidak mau berkata apa-apa, baik terhadap Yan Hwa maupun terhadap Ji Kun kelak.
Para perwira dan perajurit menjadi makin kagum terhadap Maya, juga menjadi girang karena pasukan mereka bertambah seorang perwira wanita yang luar biasa lihainya sehingga tentu saja hal ini membesarkan hati karena berarti kuatnya pasukan mereka. Pasukan Maut terus bergerak ke selatan dengan hati-hati karena mereka telah mendekati batas-batas daerah yang dikuasai oleh Kerajaan Sung dan Yucen. Ketika mendengar pelaporan dari para penyelidik depan bahwa ada berita di depan, kurang lebih tiga puluh li dari situ terdapat sebuah barisan besar yang belum diketahui barisan kerajaan mana, Maya lalu menghentikan pasukannya dan menugaskan kepada Ok Yan Hwa dan Cia Kim Seng untuk pergi melakukan penyelidikan. Berangkatlah Cia Kim Seng si bekas penggembala dan Ok Yan Hwa menunggang kuda melakukan penyelidikan ke depan.
"Cia-huciang, karena engkau lebih mengenal daerah ini, biarlah engkau yang menjadi penunjuk jalan, aku ikut di belakangmu,"
Kata Yan Hwa di tengah jalan. Cia Kim Seng memandang dengan wajah berseri. Biarpun dalam ilmu silat, wanita ini amat angkuh dan keras hati tidak mau kalah, akan tetapi dalam hal lain cukup jujur dan berwatak gagah, maka ia menjawab,
"Baiklah, akan tetapi tentang keselamatanku di jalan, aku sepenuhnya mengandalkan perlindunganmu."
"Jangan khawatir, Cia-huciangkun aku akan selalu menjaga."
Mereka membalapkan kuda dan setelah melakukan perjalanan belasan li jauhnya, mereka tiba di padang rumput. Dari depan nampak mengebul debu tebal dan tinggi. Mereka menahan kuda dan Cia Kim Seng mengerutkan alisnya yang tebal sambil memandang ke depan penuh perhatian. Tak salah lagi, di sana terdapat barisan besar yang sedang berperang. Entah barisan mana yang agaknya sedang mengundurkan diri ke sini itu. Tiba-tiba Yan Hwa berseru keras,
"Awas belakangmu!"
Cia Kim Seng membalikkan kuda dan pada saat itu terdengar gonggongan anjing yang riuh-rendah. Ketika mereka memandang, banyak sekali serigala keluar dari padang rumput. Demikian banyaknya sehingga kuda yang ditunggangi dua orang itu meringkik-ringkik ketakutan.
"Kita lari....!"
Cia Kim Seng berteriak.
"Jangan! Percuma, kuda-kuda kita akan dapat disusulnya. Tunggu!"
Yan Hwa berseru karena ia melihat penglihatan yang amat aneh. Di antara serigala-serigala itu, merangkak paling depan, tampak seorang laki-laki berkepala gundul, hanya memakai celana hitam sebatas betis yang sudah robek-robek ujungnya. Laki-laki ini merangkak seperti serigala, dan mulutnya mengeluarkan bunyi menggonggong dan agaknya dia memimpin barisan serigala itu!
"Pergunakan cambuk melindungi diri, Cia-hu-ciang! Aku akan menangkap manusia serigala itu. Tentu dia pemimpinnya!"
Setelah berkata demikian, Yan Hwa meloncat dari atas kudanya dan langsung menerkam Si Kepala Gundul. Manusia serigala itu tiba-tiba meloncat berdiri, tertawa-tawa dan menyambut datangnya tubuh Yan Hwa dengan kedua tangan mencengkeram dan mulut dibuka lebar untuk menggigit! Yan Hwa merasa ngeri, akan tetapi dia sama sekali tidak menjadi takut dan gugup. Sambutan serangan ini dapat ia elakkan dan kakinya terayun menendang dari samping.
"Desss!"
Tendangan kaki Yan Hwa tepat mengenai lambung laki-laki aneh itu, akan tetapi ternyata dia memiliki tubuh yang kebal dan kuat sehingga ketika tubuhnya terguling, dia sudah bangkit lagi dan mengeluarkan suara menggonggong keras.
Mendengar suara ini, enam ekor serigala menerjang maju, akan tetapi dengan mudah Yan Hwa menggerakkan kedua kakinya, menendangi binatang-binatang itu sehingga terlempar jauh. Melihat betapa Cia Kim Seng dikeroyok banyak serigala sehingga repot mengayun pecut ke kanan kiri tubuh kudanya yang meringkik-ringkik ketakutan dan keadaannya benar terancam bahaya, Yan Hwa maklum kalau dia tidak cepat bertindak, mereka akan terancam bahaya maut dan dia merasa enggan untuk menggunakan pedang pusakanya membunuh binatang-binatang itu! Maka ia lalu miringkan tubuh ketika laki-lakl gundul itu menerjangnya, dari samplng ia mengirim totokan yang tepat mengenai jalan darah di pundak yang telanjang. Laki-laki itu mengaduh dan Yan Hwa sudah mencengkeram tengkuknya.
"Cepat perintahkan anjing-anjingmu mundur, kalau tidak kupatahkan batang lehermu!"
Ia mengancam dan jari-jari tangannya yang halus itu mencengkeram tengkuk seperti sepasang jepitan baja!
"Aduhhh...., ampun.... lepaskan aku....!"
"Lekas perintahkan anjing-anjing itu mundur atau kau mampus!"
Tiba-tiba laki-laki gundul itu mengeluarkan suara menyalak-nyalak seperti seekor anjing ketakutan dan.... serigala-serigala itu lalu menyalak-nyalak dan mundur teratur meninggalkan Cia Kim Seng! Dengan muka berkeringat Kim Seng melompat turun dari kudanya.
"Bunuh saja manusia serigala itu!"
Katanya marah.
"Ampun....!"
Si Laki-laki gundul berkata.
"Aku mau mengampuni kau, akan tetapi engkau harus siap sewaktu-waktu membantu pasukan kami kalau kami butuhkan!"
Bentak Yan Hwa.
"Baik...., baik...., aku berjanji....!"
Yan Hwa melepaskan cengkeramannya dan sambil mengeluh laki-laki itu mengelus-elus tengkuknya dan memandang dengan gentar.
"Ceritakan siapa kau?"
"Aku bernama Theng Kok, keluargaku habis karena korban perang, dan aku.... sejak kecil bermain-main dengan serigala-serigala di sini, aku pandai menguasai mereka...."
"Hemm, Theng Kok. Kalau kelak kau suka membantu kami, kau akan kami beri hadiah besar, akan tetapi kalau kau tidak mau, lihat ini!"
Yan Hwa mengayun tangannya ke arah sepotong batu dan hancurlah batu itu. Muka Theng Kok menjadi pucat dan ia mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul.
"Aku menurut.... menurut....!"
Yan Hwa lalu menangkap kembali kudanya dan melanjutkan perjalanan bersama Cia Kim Seng. Debu yang tampak di depan mengebul makin tinggi. Mereka membalapkan kuda ke arah debu mengebul itu dan tak lama kemudian tampaklah oleh mereka pasukan Mancu yang bergerak mengundurkan diri. Terjadilah hal yang amat aneh dan mengherankan hati Ok Yan Hwa ketika mereka berdua bertemu dengan pasukan Mancu yang berada paling belakang. Pasukan yang dipimpin oleh seorang perwira Mancu itu begitu bertemu dengan Cia Kim Seng serta-merta menjatuhkan diri berlutut, dan Sang Perwira berkata,