Halo!

Ilmu Golok Keramat Chapter 02

Memuat...

Sang engkong kewalahan dengan cucunya yang bawel.

Meskipun usianya masih kecil, ternyata tadi cilik ini pintar dan sering bikin orang tuanya kewalahan kalau berdebat dengannya.

Ya sudah, aku nanti ajarkan dia ilmu yang berani, sebagai tanda terima kasihnya kau, anak bawel Sang engkong berkata sambil ketawa.

Sigadis cilik monyongkan mulutnya yang mungil tapi diam diam dalam hatinya merasa sangat girang engkongnya meluluskan keinginannya.

Ia lalu menghampiri Ho Tiong Jong kepada siapa ia berkata.

Koko, mari ikut kami pulang, Disana kau akan diacari ilmu yang membikin tubuhmu sehat segar, tidak takut dingin lagi.

Terima kasih, dik, kau baik sekali lapi.

Tapi apa" Jangan pakai tapi, kalau kau mau mengangkat nama sebagai laki-laki harus mempunyai ilmu yang berarti.

Kalau kau lepaskan kesempatan ini.

kau akan menyesal selama-lamanya, Ho Tiong Jong tundukkan kepalanya.

Sebenarnya ia hendak menolak undangannya sang adik kecil itu, karena melihat sikap si orang tua yang tidak mencocokan hatinya.

Akan tetapi, mendengar kata kata si gadis cilik yang belakangan, membikin semangatnya terbangun.

Matanya mengawasi sejenak kepada si orang tua didepannya, seakan-akan ia hendak menilai apakah benar orang tua ini ada mempunyai ilmu yang akan mengangkat nadanya dikemudian hari" Kau jangan ragu-ragu, asal otakmu encer dan cepat menyangkok apa yang dipelajari oleh Yayaku.

aku tanggung kau akan ternama.

Ilmu.

ilmunya.

sampai disini si gadis melirik pada engkongnya yang terus menyaksikan tingkah lakunya sedang membujuk si anak muda, Hampir berbisik suaranya ia meneruskan.

llmu tenaga dalamnya dan golok keramatnya tanpa tandingan didunia ini.

Ho Tiong Jong kaget dibuatnya.

Matanya membelalak mengawasi Hong Jie yang lucu dan jenaka segala gerak-geriknya.

Mengingat kebaikannya si gadis cilik yang dengan sungguh sungguh memperhatikan dirinya, maka ia mau juga datang ke rumahnya si orang tua.

dimana sejak hari itu ia telah di ajari ilmu mengatur pernapasan.

Sehari lewat sehari ia bersemedi, merasa bahwa kemajuan apa-apa tidak dirasakan olehnya selain badannya dirasakan lebih segar dan enteng.

Pada suatu hari ketika ia sedang menjalankan latihannya, engkongnya Hong Jie datang diluar tahunya.

Orang tua itu mengawasi lama juga, akhirnya berkata pada dirinya sendiri.

Ah, tak diragukan lagi memang bocah ini bagus sekali tulang bakatnya.

Kalau dia dapat meyakinkan dengan mahir ilmu goloknya, pasti dikalangan kangouw sukar ia mencari tandingannya Kemudian ia berdehem, hingga Ho Tiong Jong yang sedang bersemedhi membuka matanya.

Ketika ia bergerak hendak bangun memberi hormat dicegah oleh si orang tua itu yang berkata.

Bocah, bakatmu aku lihat bagus sekali.

Aku mau menurunkan padamu ilmu golok delapan belas jurus yang lihay sekali.

Ilmu golok itu asalnya dari Siauw-lim-si bukan ciptaanku sendiri.

Asal kau sudah mahir dengan delapan belas jurus ini, jikalau bertempur, belum habis kau menjalankan delapan-belas jurus ilmu golokmu itu pasti musuhmu sudah ngacir.

kalau tidak kena dipukul rubuh tanpa ampun, bagaimana, apa kau suka belajar ilmu ini " Ho Tiong Jong sangat girang hatinya, tapi ia tidak utarakan itu jawabannya.

Terima kasih atas perhatian lope katanya.

Kalau lope suka menurunkan ilmu itu kepadaku bagaimana aku tidak menjadi girang " Budi mana tentu aku tak dapat melupakannya.

Sambil mengurut-urut jenggotnya orang tua itu tertawa.

Mulai hari itu Ho Tiong Jong telah di gembleng dalam pelajaran ilmu golok keramat atau Butek sin-to (ilmu golok tanpa tandingan).

Berkat otaknya yang encer, kemauan hati yang keras, membuat dalam sedikit tempo saja Ho Tiong Jong telah mendapat kemajuan yang pesat sekali.

Dua belas jurus ilmu golok dari jumlah delapan belas jurus telah ia apal betul, hingga orang tua itu melihatnya merasa sangat girang dan kagum akan kemajuannya bocah yang tidak dikenal siapa orang tuanya itu.

Tapi entah sifatnya memang begitu, atau ia ada sedikit memandang rendah kepada sebocah yang tidak ketahuan asal-usulnya, si-orang tua selama waktu-waktu menurunkan pelajarannya telah menunjuk sikap yang dingin terhadap Ho Tiong Jong, hingga pemuda ini merasa tidak enak hati.

Demikian, pada suatu hari Ho Tiong Jong panggil oleh orang tua itu dan berkata kepadanya.

Tiong Jong.

sekarang kau boleh pulang.

Kau teruskan latihanmu selama setahun yang mendatang, jikalau kau sudah memahirkan ilmu mengentengkan tubuh sampai bisa melompati loteng beberapa tingkat, kau boleh bilik kembali kesini dan aku akan terima kau menjadi muridku.

Itu enam jurus lagi dari ilmu golokmu yang belum kau dapati, akan kuturunkan semuanya kepadamu.

Nah, sekarang kau boleh berangkat pulang.

Ho Tiang Jong yang mendengar bicaranya orang tua menjadi kesima.

ia berdiri terpaku mengawasi si orang tua, sebab ia tidak menyangka sekali dirinya dipanggil buat terima pesenan tadi yang tidak enak didengarnya.

Ia menganggap seakan-akan si orang tua itu mengusir pada dirinya.

Sebenarnya ia sudah mulai betah dalam rumahnya si orang tua, selainnya harihari ia menerima pelajaran ilmu golok dari orang tua itu, diwaktu waktu yang senggang Hong Jie suka menemani padanya.

Kelakuannya gadis cilik itu yang lucu jenaka membuat ia tidak merasa bahwa dirinya hidup dalam dunia ini ada sebatang kara.

Sering Hong Jie membawakan makanan apa apa kepadanya dan ngobrol kebarat ketimur dengan gembira.

Bukan saja ia tidak merasa kesepian, malah semangatnya terbangun untuk meyakinkan ilmunya dengan sungguh-sungguh untuk menjadi satu pendekar.

Semua itu ada anjurannya si dara cilik yang manis menarik hati.

Tapi sekarang ia disuruh berlalu dengan tiba-tiba seolah-olah ia di usir oleh Yayanya si gadis.

Hatinya yang tinggi, angkuh dan tidak mudah dihina orang, mengangap si orang tua sudah tidak senang akan dirinya.

Maka dalam gusarnya, ia sudah meninggalkan rumah itu tanpa pamit dari orang tua yang baik hari itu, dan juga dari si dara cilik yang melepas budi kepadanya.

Ia tidak balik kembali dalam tempo setahun seperti dipesan si orang tua.

Kini setelah sang waktu lewat lima tahun, tiba-tiba perasaan menyesal telah mengaduk dalam otaknya.

Dibawahnya sinarnya rembulau yang terang, ia termenungmenung memikirkan pada kejadian lima tahun yang lampau.

Dipikir dalam-dalam lamerasa dirinya betul-betul tidak tahu diri, tidak punya perasaan terima kasih kepada si orang tua yang menurunkan pelajaran dua belas jurus ilmu golok keramat kepadanya dan melupakan Hong Jie yang lucu menarik.

Semakin diingat ia semakin terkenang kepada dua orang itu, lebih lebih terhadap si dara cilik dengan sujennya yang menyolok pada saat ia ketawa tidak bisa dilupakan olehnya.

Entah Hong Jie sekarang ini tentu ia sudah besar dan menjadi seorang gadis cantik menarik dan membuat tiap pemuda terpesona karenanya.

Selama lima tahun itu tidak putusnya Ho Tiong Jong berlatih ilmu golok keramatnya hingga tidak heran kalau untuk dua belas jurus itu ilmunya sudah apal benar.

ia pikir sekarang ia sudah mahir dalam ilmu itu, sekalipun belum pernah dijajal karena tidak ada musuhnya, sebaiknya ia membeli sebilah Golok baja untuk digantung dipinggangnya, dengan mana dirinya tidak akan dipandang tolol penakut lagi.

Pada malam itu, selagi ia melamun enak enaknya mengenangkan pada jaman lima tahun yang lampau, tiba-tiba ia dikagetkan oleh munculnya seorang muda dengan dandanan seperti satu pelajar.

Pemuda itu cakap sekali, mukanya putih dan bibirnya merah, gigi putih matanya jeli ditawungi oleh alis yang melengkung indah sekali, hingga Ho Tiong Jong yang melihatnya dibikin terpesona menyaksikan seorang muda yang demikian cakapnya.

Ketika pemuda itu lewat didepannya, tiba-tiba hentikan tindakannya dan tertawa kepadanya.

Ho Tiong Jong jawab ini dengan anggukkan kepalanya.

Sahabat, tiba-tiba pemuda pelajar itu berkata, langit dan laut sama-sama biru warna nya, aku tidak akan menanya apa yang lampau, hanya ingin mengetahui apa maksudmu menggadangi sang rembulan" Suaranya itu kedengaran sangat merdu, terasa berkumandang dalam telinganya.

Ho Tiong Jong gelisah, karena ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan katakatanya pemuda pelajar tadi.

Melihat Ho Tiong Jong membisu, pemuda pelajar itu telah perdengarkan pula suranya yang merdu.

Menurut pandanganku, kau adalah seorang yang alim.

Aku sebenarnya baru pulang dari luar kota dan menikmati bulan yang cemerlang ini.

Kalau melihat tanah seperti bertaburan perak karena sorotnya sang dewi malam, aku merasa seperti hidup bukannya di dunia yang penuh manusia Ho Tiong Jong hanya anggukkan kepalanya, ia tidak tahu apa yang ia harus jawab akan kata-katanya pemuda pelajar itu.

Aku bernama Seng Giok Cin, kata pula si pemuda pelajar, sudilah kau memperkenalkan namamu juga" Belum pertanyaan ini dijawab, pemuda pelajar itu melihat pakaiannya Ho Tiong Jong yang cumpang camping, membikin ia kerutkan alisnya yaag lentik sejenak lalu menyambung perkataannya.

Ya, geloranya sang ombak.

selalu menimbulkan rupa rupa perasaan dalam sanubari kita.

Rupanya aku bawel dan telah membingungkan pikiranmu bukan" Ya maafkan aku, Seng Siang kong.

Aku karena tidak bersekolah, maka sudah tidak mengerti dengan kata-katamu barusan itu, apa yang seberarnya kau ada maksudkan" Demikian Ho Tiong Jong paksakan berkata dan pura-pura batuk-batuk.

Hei, kau berada disini ada urusan apa" tanya si pemuda jengkel.

Aku" Aku bekerja dalam perusahaan mengantar barang.

Celaka dua belas, aku sudah capai menggoyang lidah, jawabannya hanya secara tolol ini.

Setelah berludah, pemuda pelajar itu mengangkat kakinya berlalu, tapi belum ia berjalan jauh tiba-tiba memalingkan kepalanya dan berkata.

ia kau ini memang berbadan tegap Ho Tiong Jong bengong mendengar kata-katanya si pemuda pelajar yang ia tidak dapat menangkap sama sekali tujuan atau maksudnya.

ia sebenarnya ingin bersahabat, tapi melihat pakaiannya yang mewah dan kata-katanya yang sukar dimengerti dari pemuda pelajar itu, membikin ia tidak berani bicara hal persahabatan.

Post a Comment