Halo!

Ilmu Golok Keramat Chapter 01

Memuat...

SUASANA musim rontok.

Tiupannya sang angin diwaktu malam meresap ketulang-tulang, dijalan raya dari kota See-an tampak sangat sepi, seakan-akan orang merasa segan untuk berkeluyuran sekalipun sang rembulan tampak terang benderang, menerangi jagat yang luas.

Sunyi senyap, hanya terdengar sayup-sayup meniupnya sang angin.

Saat itu tibatiba pintu salah satu rumah penginapan terbuka, tampak dengan perlahan-lahan ada berjalan keluar seorang muda.

Sambil menggendong tangannya, pemuda itu telah jalan dijalan raya dengan banyak pikiran ngelamun rupanya, sebab saban-saban ia merandek mengawasi pada sang putri malam, siapa seolah-olah dianggap kawan satu-satunya pada malam yang sunyi itu.

Pemuda itu berperawakan tegap.

hidungnya mancung, matanya bersinar jernih, cakap dan tampan keadaan pemuda itu, hanya sayang ia mengenakan pakaian yang apak tidak terurus suatu tanda bahwa ia bukannya dari golongan mampu.

Meskipun dalam pakaian yang agak mesum, kenyataannya tidak menghilangkan air muka yang gagah dan tampan, perawakannya yang kokoh kekar, Suatu tubuh yang sempurna yang menjadi idaman-idamannya para pemudi.

Selama berjalan dengan sebentar-bentar merandek mengawasi rembulan yang indah terang, sering helaan napasnya, seperti juga ia sedang sangat berduka.

Kini ia sudah berumur dua puluh satu tahun, bekerja pada satu kantor Piauw-kiok (perusahaan mengantar barang).

Sejak kecil ia kerja, yalah dari jaman jadi pesuruh sehingga sekarang-sudah dewasa ia merasakan dirinya tidak ada majunya, meskipun ia banyak tahu segala urusan Piauw-kiok dan kenal banyak orang dan mempunyai banyak sahabat.

Itulah disebabkan ia dikenal hanya satu pemuda biasa saja, tidak kenal ilmu silat.

Dalam perusahaan piauw justru sangat dipentingkan orang yang pandai silat, untuk dijadikan piauwsu (tukang antar barang), untuk melindungi barang-barang yang diantarnya di perjalanan jangan sampai kena diganggu oleh orang jahat.

Disamping pandai silat juga orang yang menjadi piauwsu harus bisa menyesuaikan diri, pandai bicara dan merendah diwaktu perlu dan bengis juga jikalau temponya meminta itu.

Justru pemuda ini tidak ada mempunyai kepandaian yang sempurna itu maka meskipun sudah lama bekerja dalam perusahaan piauw tidak juga ia mendapat kenaikan pangkat dalam penghidupannya.

Inilah ada pandangannya Piauwtao (kepala pengantar barang) saja atas dirinya anak muda itu, sedang yang sebenarnya diam-diam ia sudah mempunyai kepandaian yang boleh ditonjolkan diantara kawan kawannya mungkin juga sesama kawan sekerjanya tidak ada yang tahan menempur anak muda itu.

Justru ia tidak pernah memperlihatkan kepandaiannya itu, maka diantara kawan-kawannya menganggap ia hanya seorang muda biasa saja yang tidak punya kepandaian bu (ilmu silat), bahkan diantaranya ada yang menganggap ia pemuda tolol penakut.

Cara bagaimana ia mendapatkan kepandaian silatnya itu" Itulah adalah kejadian pada lima tahun yang lampau, ia waktu itu baru berumur enam belas tahun.

Kejadian dikota Kilam, ketika pada suatu hari ia sedang jalan melewati sebuah sawah ia menemukan seorang anak kecil perempuan berumur dua belas tahun sedang menangis di pinggir sawah karena boneka mainannya telah kecemplung kedalam sawah yang banyak airnya.

Ia takut turun untuk mengambilnya, maka ia jadi menangis sendirian.

Dilihat dari pakaiannya, sigadis cilik itu mengenakan pakaian yang mewah, ada suatu tanda bahwa ia anak seorang hartawan.

Lantaran pakaiannya yarg bagus itu rupanya yang membuat ia takut nyebur kedalam sawah untuk mengambil bonekanya.

Anak muda itu lalu menghampiri dan menanya.

Hei, adik cilik,kenapa kau menangis sendirian disini" Sambil menyusut air matanya dan masih terisak-isak, tangannya yang mungil menunjuk kesawah di mana bonekanya sedang ngambang disana.

Adik kecil, kau jangan nangis, nanti aku tolong ambilkan untuk kau, kata si pemuda berbareng ia telah membuka sepatunya dan menggulung naik celananya.

Si gadis cilik tidak menjawab, harya ia segera berhenti menangisnya dan mengawasi si anak muda yang ngerobok kedalam sawah untuk mengambilkan barang mainannya Waktu itu keadaan udara sangat dinginnya, angin meniup tidak berhentinya, akan tetapi si pemuda tidak menghiraukan itu semua dan melanjutkan pertolongannya.

Ketika ia sudah naik kembali, ia serahkan boneka itu kepada pemiliknya.

Bukan main girangnya si nona cilik, bukan saja ia berhenti menangis, bahkan tersenyum-senyum memperlihatkan air mukanya yang manis menarik dan sepasang sujennya yang tak dapat dilupakan begitu saja.

Koko, kau baik sekali sudah tolong ambilkan bonekaku.

katanya dengan sikap berterima kasih.

Adik kecil, bonekamu aku sudah tolong ambilkan, harap jangan dilemparkan lagi ketengah sawah, sebab nanti tidak ada yang mau ambilkan, karena aku sudah pergi jauh dari sini.

Anak muda itu ketawa, menyambut senyumannya sinona cilik.

Koko kalau saja Yayaku ada disini tentu dia akan menghaturkan terima kasih., ,, sambung suara nyaring dibelakang mereka, entah sejak kapan ada orang dibelakangnya dua orang itu.

Ketika mereka berpaling dengan kaget, ternyata orang yang menyambung perkataannya sinona cilik ada engkongnya sendiri.

Lekas Sinona memburu dan memeluk pahanya sang engkong menggelendot dengan roman yang aleman sekali.

Ha, ha, ha, bagus kata orang tua tadi sambil mengelus-elus kepalanya sang cucu.

Kau terima budi.

Yayamu yang disuruh membilang terima kasih.

Yaya, kau sombong betul, jawab sang cucu, sambil mencubit pahanya sang engkong Matanya terus mengawaskan padaanak muda didepannya, ia meneruskan berkata.

Yaya, coba lihat itu koko kedinginan, apa kau tega antapkan saja dia dalam keadaan demikian sedang dia sudah memberikan pertolongan kepada Hong Jie.

Sang engkong mengawasi pada anak muda didepannya.

Eh, Yaya, apakah tidak baik Hong Jie ajari dia ilmu bersemedhi, supaya dia bisa tahan dingin dan tidak menggigil seperti sekarang" Sang engkong melengak mendengar kata-kata cucunya.

Hong Jie, kau ada satu anak perempuan mana boleh berlaku demikian" sang engkong berkata sambil mengelus-elus jenggotnya yang panjang.

Si gadis cilik yarg bernama Hong Jie jebikan bibirnya cemberut, hingga sang engkong tidak tahan kalau tidak ketawa.

Kalau Hong Jie tidak boleh menurunkan pelajaran itu, Yaya yang harus mengajarnya baru berarti kita pulang terima kasih, hi hi, hi.

gadis cilik itu cekikikan ketawa.

Lucu sekali lagaknya.

Tadi ia menjebikan bibirnya yang mungil, cemberut seperti yang marah kepada engkongnya, sekarang ia cekikikan ketawa dengan manisnya, teralami sujennya yang membuat sianak muda yang menyaksikannya tak dapat melupakannya.

Sungguh manis sekali anak ini, entah kalau dia sudah jadi besar, tentu luar biasa cantiknya dan murah hati kepada sesamanya demikian diam-diam ia berkata dalam hatinya.

Sementara itu hawa dingin sudah menyerang dengan hebatnya, lamerasakan tubuhnya kesemutan, hampir-hampir ia tidak dapat berdiri tegak.

Hei, bocah kau sebenarnya dari mana dan siapa namamu" tanya engkong si Hong Jie.

Aku aku she Ho dan bernama Tiong Jong adalah.

ia tak dapat meneruskan bicaranya, karena tidak tahan bibirnya bergemetaran, tubuhnya menggigil kedinginan, hingga sigadis cilik yang melihatnya menjadi kaget dan berteriak pada engkongnya.

Hei, Yaya kau jangan biarkan koko mati kedinginan Orang tua itu juga kasihan melihat keadaannya IHo Tiong Jong, sebab ia sampai demikian keadaannya gara gara ngerobok dalam sawah untuk mengambilkan boneka anaknya, maka ia cepat merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil.

Dari mana ia mengeluarkan sebutir pil diberikan kepada Ho Tiong Jong sambil berkata.

Hei, bocah, cepat-cepat kau telan obat ini untuk mengusir hawa dingin dan keadaanmu akan pulih kembali dalam waktu sekejapan saja.

Koko.

kau lekas lekas menelannya.

Hong Jie menimbrung, parasnya menunjuk rasa kuatir, akan tetapi wajahnya tetap ramai dengan senyuman.

Ho Tiong Jong sebenarnya ada satu pemuda yang angkuh adatnya, ia tidak mau gampang gampang menerima budi orang, tapi karena melihat si orang tua dan gadisnya ada demikian sungguh-sungguh kelihatannya memberikan obatnya, maka ia mau juga menerimanya dan terus ditelannya.

Benar saja obat itu manjur sebab ketika sudah berada diperutnya perlahan-lahan ia merasakan ada hawa panas yang mendorong hawa dingin dan tubuhnya lantas tidak begitu kedinginan lagi, akan kemudian sudah kembali normal.

Diam-diam ia merasa kagum akan obatnya si orang tua yang demikian mustajab.

Banyak terima kasih atas pertolorgan lo-pe, sehingga sekarang aku sudah sembuh dari kedinginan- kata Ho Tiong Jong dengan hormat.

Orang tua itu ketawa bergelak-gelak.

Hei.

bocah kau tahu obat yang tadi kukasihkan padamu" Ia ada pil Siauw yang-tan bikinan leluhurku, siapa yang makan pil itu bukan saja khasiatnya untuk menolak hawa dingin akan tetapi juga dapat memberikan tenaga tanpa disadari.

Ho Tiong Jong hanya anggukan kepalanya.

Bocah, kata lagi siorang tua, kalau nama mu Tiong Jong tentu kau ada anak yang ke dua.

Kau sebenarnya anak siapa dan apa kerjanya orang tuamu" Ho Tiong Jong geleng-gelengkan kepalanya.

Aku sebatang kara, tidak kenal engko dan tidak kenal orang tua, dimana mereka berada aku juga tidak tahu, jawabnya.

Orang tua itu setelah melengak sejenak lalu berkata lagi.

Kasihan, kau sudah sebatang kara, sekarang kau bekerja apa" Aku bekerja pada kantor Piauw-kiok.

jawab Ho Tiong Jong singkat.

Anak muda itu tampak kurang puas melayani orang tua itu bicara, karena sikapnya si orang tua agak tawar dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan agaknya seperti terpaksa.

Yaya, menyelak si gadis cilik, koko barusan sudah menelan Siauw yang-tan, pengaruhnya pil ini hanya beberapa hari saja tidak lebih baik ajak dia pulang kerumah untuk diajari ilmu bersemedhi supaya dia tidak kedinginan lagi" Hong Jie, kau terlalu banyak omong, Sang engkong menyesali.

Yaya, kalau kau keberatan, Hong Jie yang mengajari dia.

Hong Jie memotong sang engkong.

Apa barusan kau tidak dengar Yayamu bilang bahwa kau ada orang perempuan, mana boleh berbuat demikian" Tapi Yaya, aku kasihan padanya.

Dia sudah menolong aku, maka sepantasnya kalau aku membalas budinya dengan mengasih apa-apa yang berarti.

Post a Comment