Halo!

Darah Pendekar Chapter 41

Memuat...

Mendengar ini, Tiong Li menjadi sadar. Semua anak buahnya, berikut tiga orang pembantunya yang setia, telah gugur. Hanya tinggal dia seorang diri. Kalau dia gugur pula, lalu siapa yang akan membalas semua ini.? Siapa yang akan melanjutkan perjuangan, membantu para pendekar lain, membantu gurunya ? Dia tidak boleh sekedar menurutkan perasaan hati duka dan marah. Akan tetapi, bagaimana dia dapat meloloskan diri dari kepungan begini banyak musuh ?

Sambil memutar, pedang mengamuk, Tiong Li mencari jalan keluar, namun, sia - sia belaka. Seorang lawan dirobohkan, dua orang menggantikannya. Dua orang dirobohkan, empat orang yang maju. Pedangnya sudah berlumur darah, pakaiannya juga berlepotan darah, darah lawan dan darahnya sendiri. Tubuhnya sudah lelah sekali dan agaknya gerakannya itu hanya dikendalikan oleh semangatnya yang berkobar - kobar. Seolah - olah kesehatannya yang baru berkembang baik dan belum pulih benar itu kini menjadi sembuh sama sekali dengan adanya pertempuran mati - matian ini.

Sementara itu kakek Kam Song Ki melihat kesukaran yang dialami pemuda itu. Dia sendiri masih dikepung ketat, bahkan kini Jenderal Beng Tian dan dua orang pengawalnya meneriakkan perintah agar para perwira juga ikut mengepung kakek yang luar biasa lihainya itu. Kakek Kam masih memondong tubuh Pek Lian dan tubuhnya berkelebatan ke sana-sini dan tahu-tahu dia sudah mendekati Tiong Li. Caranya amat menggiriskan hati para pengeroyoknya karena tubuhnya itu berloncatan atau lebih tepat lagi "beterbangan" melayang-layang, meloncat di antara pundak dan kepala para pengeroyok, kadang - kadang menginjak pundak dan kepala, bahkan menginjak ujung senjata, ba-gaikan seekor burung walet saja tubuh itu kini tahu - tahu sudah mendekati Tiong Li dan menyam-bar tangan pemuda itu.

"Pegang erat-erat tanganku dan ikuti gerakan ku. Kau menurut saja, jangan melawan!

Dengarkan petunjuk- petunjukku baik-baik. Kalau perlu pejamkan mata, jangan bergerak menurut kemauan sendiri, tapi turuti aku dengan membuta, Ini pelajaran ilmu langkah ajaib yang dapat melolos-kan dirimu dari kepungan!"

"Baik... locianpwe !" Tiong Li menjawab.

Maka mulailah pemuda itu menurutkan tenaga tarikan, betotan, maupun dorongan tangan kakek itu, mengatur langkahnya sesuai dengan tenaga kakek itu, ke kiri, kanan, ke depan, ke samping, ke belakang, kadang - kadang meloncat rendah dan meloncat tinggi, cepat sekali gerakan itu dan amat aneh, akan tetapi hebatnya, gerakan - gerakan itu membuat dia terbebas dari semua serangan dan kepungan tanpa mengelak satu demi satu seperti yang dilakukannya sendiri tadi. Dia tidak tahu bahwa dia telah dibawa oleh kakek sakti itu mela-kukan Ilmu Ban-seng- po Lian-hoan (Langkah Selaksa Bintang Berantai). Langkah-langkah ini menurut garis-garis perbintangan dan langkahlangkahnya teratur sedemikian rupa, penuh rahasia sehingga seolah- olah semua gerakan itu telah mendahului datangnya hujan serangan. Melihat ini, seorang di antara pengawal atau sute dari Jenderal Beng Tian menjadi marah sekali! Sambil berseru keras dia menyerang dahsyat ke arah kepala Tiong Li. Pemuda ini terkejut, maklum bahwa dia tidak akan mungkin dapat menyelamatkan diri, akan tetapi dia memejamkan matanya dan dengan membuta dia menurutkan tenaga kakek yang me-ngendalikannya. Dia menggeliat dan meloncat ke depan malah! Tentu saja hatinya terasa ngeri sekali. Dipukul demikian dahsyat mengapa malah meloncat ke depan ? Akan tetapi sungguh aneh, karena dia meloncat ke depan ini, dia malah terhindar dari pukulan dahsyat yang ternyata telah datang kecuali tentu saja ke depan, karena si pemukul sama sekali tidak pernah menduga bahwa orang yang dipukul itu malah melangkah maju! Inilah hebatnya Ban - seng - po Lian - hoan itu. Ilmu ini memungkinkan segala gerakan kaki dan tubuh dalam menghadapi pengeroyokan lawan lawannya yang tangguh.

"Plak ! Plakk !" tangan kakek itu menampar dan dua orang pengawal itu terhuyung ke belakang dengan muka pucat ketika mereka menangkis.

"Pemberontak hina !" Terdengar Jenderal Beng Tian membentak dan pedang panjangnya menyambar. Tiong Li sudah berhasil merampas sebatang tombak yang dibetotnya dari tangan seorang pera-jurit yang menyerangnya dan menggunakan tom bak itu untuk menangkis pedang yang menyambar ke arah kakek Kam.

"Trakkkk..... !" Tombak itu patah menjadi dua dan Tiong Li merasakan tangannya sampai ke pangkal lengannya seperti lumpuh ! Dia terke-jut setengah mati, akan tetapi pada saat itu, Jen- deral Beng Tian juga terhuyung ke belakang kare-na ketika pedangnya bertemu dengan tombak di tangan pemuda itu, secepat kilat kakek Kam telah berhasil mendorong punggungnya dan dia merasa betapa hawa yang dingin sekali menyusup ke dalam tubuhnya, membuat dia terhuyung dan cepat - cepat jenderal ini yang tidak mau menderita luka parah segera mengatur pernapasan seperti yang dilaku-kan oleh dua orang sutenya pula. Melihat betapa tiga orang tertangguh itu menghentikan penye-rangan, kakek Kam melihat kesempatan yang baik sekali.

"Kwee - sicu, cepat rampas kuda !"

Tiong Li yang sejak tadi secara membuta sudah menurut perintah kakek ini, sekarang membuka mata dan melihat seorang perwira menunggang ku-da tak jauh dari situ, diapun meloncat mendekati. Perwira itu menyambutnya dengan bacokan golok, akan tetapi Tiong Li mengelak ke kiri dan me-nyambar lengan perwira itu, menariknya keraskeras ke bawah. Pada saat tubuh perwira itu ter-pelanting ke bawah, Tiong Li meloncat ke atas punggung kuda! Dan pada saat itu pula, seorang lain telah terlempar dari atas punggung kudanya, tak jauh di sebelah depan Tiong Li, dan tubuh Pek Lian melayang ke atas punggung kuda.

"Naiki kuda itu dan larilah kalian I" terdengar kakek Kam berseru. Akan tetapi karena Pek Lian menderita luka-luka dan merasa lelah sekali, dara ini tidak dapat mengatur tubuhnya dan ia hinggap di atas kuda itu dalam keadaan terbalik! Akan tetapi sebelum ia terpelanting jatuh, tubuhnya sudah disambar lagi oleh kakek Kam yang tadi merobohkan empat orang perajurit, lalu kakek itupun mem-balapkan kuda, diikuti oleh Tiong Li. "Hayo, jangan tidur, anak nakal!" Kakek itu mengguncang-guncang tubuh Pek Lian. "Engkau seorang gadis gagah perkasa, masa baru begini saja sudah turun semangat ? Bangunlah, dan naiki kuda ini, larikan secepatnya, aku melindungi dari belakang !" Kembali dia mengguncang. "Mengertikah kau ?"

Mendengar kata - kata ini dan karena guncangan- guncangan itu, apa lagi ketika tengkuknya di-totok dua kali oleh jari si kakek sakti, Pek Lian membuka matanya lebar - lebar. "Aku mengerti, locianpwe." Dan tahu- tahu kakek itu sudah meloncat ke atas, meninggalkan Pek Lian, berjungkir balik dan membiarkan Tiong Li lewat, lalu dia sendiri menghadang para pengejar!

"Kejar ! Tangkap ! Bunuh mereka !" Terdengar teriakan para perwira dan tiba - tiba mereka itu melepaskan anak panah!

Hujan anak panah itu tiba - tiba runtuh semua ketika ditahan oleh bayangan kakek Kam yang ber-kelebatan ke kanan kiri, atas bawah. Demikian ce-patnya, gerakan kakek ini sehingga dia mampu membendung dan meruntuhkan semua anak panah yang meluncur itu dengan kebutan - kebutan kedua ujung lengan bajunya dan pemutaran tongkatnya. Bahkan ada beberapa batang anak panah yang mengenai tubuhnya, hanya merobek dan melubangi kain bajunya saja, namun tidak dapat melukai kulit tubuhnya.

Ketika barisan pengejar tiba dekat, kakek itu menggerakkan kedua tangannya dan anak panah yang belasan batang banyaknya meluncur ke depan, ke arah kaki kuda dan barisan terdepan terguling, membawa para penunggangnya terlempar dan jatuh tersungkur, ditabrak oleh teman - teman dari belakang. Tentu saja keadaan menjadi kacau - balau dan terdengar teriakan- teriakan mengaduh dan sumpah - serapah. Sebagian besar meloncat turun dan menyerbu. Kakek Kam sudah mengamuk lagi dengan tongkat bututnya dan siapapun yang dekat dengannya tentu roboh terguling. Akan tetapi Jenderal Beng Tian dan dua orang pengawalnya, dibantu oleb para perwira, telah mengurungnya la-gi. Sekali ini jenderal itu yang dapat menduga bah-wa dia berhadapan dengan seorang sakti, memben-tak marah.

"Kakek pemberontak jabat! Siapakah engkau ?" Mendengar bentakan panglima mereka, para pe-ngeroyok itu menahan senjata mereka dan semua mata memandang kakek itu di bawah sinar obor-obor yang cepat menerangi tempat itu, dipegang oleh para perajurit.

“Siancai. tai-ciangkun yang gagah perkasa. aku bukanlah pemberontak. Namaku Kam

Song Ki."

Jenderal Beng Tian adalah seorang panglima yang berilmu tinggi dan sudah banyak pengalaman, sudah banyak mengenal hampir semua tokoh persi-latan, akan tetapi dia tidak mengenal nama ini. Hal itu tidaklah mengherankan mengingat bahwa kakek ini biarpun merupakan murid ke tiga dari Raja Tabib Sakti, namun dia selalu mengasingkan diri dan selama puluhan tahun tidak pernah me-nonjolkan diri di dunia kang - ouw sehingga nama-nya tidak dikenal orang.

"Orang tua she Kam, apakah engkau pura - pura tidak tahu bahwa orang-orang muda yang kaubela itu adalah pimpinan pemberontak - pemberontak besar dari Lembah Yang-ce ?"

"Siancai. sayang sekali aku tidak tahu tentang berontak-memberontak. Setahuku kalau

ada yang memberontak tentu ada sebabnya dan hanya yang tertindas sajalah yang akan memberontak, bu-kan ? Setahuku, mereka adalah orang-orang yang baik dan melihat orang baik- baik dikeroyok, tentu saja aku membela mereka."

"Engkau hendak melawan pasukan pemerintah ? Berarti engkau berani memberontak terhadap pemerintah !"

Kakek itu tertawa. "Tai - ciangkun, kalau tidak salah ciangkun adalah Jenderal Beng Tian yang terkenal itu. Tentu saja orang seperti engkau ini akan bersetia sampai mati kepada pemerintah, tidak perduli bagaimana keadaannya, karena engkau mempertahankan kedudukanmu, kehormatan dan kemuliaan sebagai jenderal besar ! Akan tetapi, aku hanyalah seorang rakyat biasa saja, dan orang macam aku ini hanya mempertahankan hidup, asal dapat makan setiap hari dan dapat menutupi tubuh dengan pakaian saja sudah cukuplah. Aku tidak ingin memberontak, akan tetapi kalau melihat kesewenang - wenangan, tentu saja aku tidak dapat tinggal diam saja."

"Kesewenang - wenangan yang bagaimana maksudmu ?" jenderal itu membentak. "Nona Ho Pek Lian kehilangan keluarganya. Seluruh keluarga ayahnya ditangkap, padahal, siapakah yang tidak tahu bahwa Menteri Kebudayaan Ho Ki Liong adalah seorang menteri yang amat baik ? Dan semua teman dari Kwee Tiong Li itu telah dibasmi oleh pasukan pemerintah!

Apakah namanya itu kalau bukan sewenang - wenang ? Ka-rena itulah aku membela mereka, bukan karena berontak - memberontak!"

Mendengar bahwa gadis yang tadi dikeroyok adalah puteri Menteri Ho, jenderal itu terkejut bu-kan main. Biarpun Menteri Ho dianggap pembe-rontak oleh pemerintah dan menteri beserta selu-ruh keluarganya itu ditangkap, namun diam-diam jenderal yang gagah perkasa ini merasa kagum bu-kan main terhadap Menteri Ho. Tentu saja, seba-gai seorang jenderal dia tidak mampu berbuat se-suatu kecuali merasa menyesal akan nasib menteri yang dia tahu amat setia dan baik itu. Kini, men-dengar bahwa gadis yang gagah perkasa tadi ada-lah puteri Menteri Ho, dia menjadi semakin kagum dan lenyaplah napsunya untuk menangkap atau membunuh gadis itu. Tugasnya hanyalah menum-pas para pemberontak di Lembah Yang - ce dan tugas itu telah diselesaikannya dengan baik. Semua pemberontak telah berhasil ditumpasnya walaupun dia harus kehilangan banyak sekali perajurit. Akan tetapi, sebagai seorrmg panglima, tentu, saja dia tidak boleh memperlihatkan sikap kagum terhadap orang yang dianggap pemberontak, maka diapun berteriak, "Tangkap orang tua ini!"

Dua orang pengawal yang juga menjadi sutenya adalah orang - orang yang amat setia terhadap jen-deral itu, akan tetapi merekapun sudah mengenal baik suheng mereka. Mereka itu, dengan pandang mata saja, sudah maklum akan isi hati suheng mereka yang di dalam hati tidak ingin menangkap atau membunuh kakek ini, maka mereka berduapun bergerak lambat, membiarkan para perwira dan perajurit yang maju mengeroyok. Di lain pihak, kakek Kam juga merasa heran mengapa panglima dan dua orang pembantunya yang amat lihai itu tidak turun tangan melainkan membiarkan anak buahnya yang maju mengeroyoknya. Maka diapun cepat menggerakkan tubuhnya dan dengan mudah saja dia meloloskan diri dari kepungan, terus melarikan diri, sengaja tidak berlari cepat agar para pe-rajurit itu dapat terus mengejarnya. Dia mengambil jalan ke kanan, berlawanan dengan jalan yang diambil oleh dua ekor kuda yang melarikan Tiong Li dan Pek Lian tadi. Dia terus main kucing - kucing-an dan untuk menyembunyikan perasaan hati yang sesungguhnya, biarpun dia dapat menduga bahwa kakek Kam yang tidak berlari sekuatnya itu sengaja memancing ke arah lain, Jenderal Beng Tian terus mendesak pasukannya untuk mengejar kakek itu sampai pagi!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment