Halo!

Darah Pendekar Chapter 39

Memuat...

"Ah, kiranya sicu adalah murid Chu - taihiap. Sudah lama sekali pinceng tidak berjumpa de- ngan dia. Bagaimana kabarnya ?"

"Suhu dalam keadaan baik saja, akan tetapi per-kumpulan kami di Lembah Yang - ce mengalami pukulan hebat dari pasukan pemerintah."

Tiga orang hwesio itu mengangguk - angguk karena mereka sudah mendengar akan berita buruk itu dari para anak buah Lembah Yang - ce yang mereka bebaskan dari totokan. Mereka lalu berpisah dan kakek sakti bersama tujuh orang pendekar itu menuju ke dusun yang ditunjuk oleh para hwesio Siauw - lim - pai.

***

"Maafkan pertanyaan saya, locianpwe. Akan tetapi setelah menerima budi pertolongan locian-pwe, kami ingin sekali mengenal nama locianpwe yang mulia. Sudikah locianpwe memberitahukan kami ?" Pertanyaan yang diajukan oleh Pek Lian ini melegakan hati enam orang lainnya karena mereka semuapun ingin sekali mendengar lebih banyak dari kakek sakti ini, hanya karena kakek itu lebih sering berdiam diri seperti orang melamun, mereka merasa ragu - ragu dan tidak enak hati untuk bertanya, hanya mengharapkan kakek itu akan memberitahukan sendiri.

Akan tetapi, kini Pek Lian yang mungkin sebagai seorang dara yang lincah lebih berani dalam hal bertanya seperti itu, te-lah mewakili keinginan hati mereka, maka kini mereka semua memandang kepada kakek sakti itu dengan penuh perhatian.

Kakek itu menarik napas panjang. "Hemm, sudah puluhan tahun aku ingin menyembunyikan diri agar namaku tidak disebut - sebut orang. Siapa tahu, gara - gara Raja kelelawar kedua tanganku menjadi kotor, berlepotan dengan urusan dunia. Datuk - datuk sesat, seperti setan - setan yang keluar dari neraka, telah bermunculan. Biarlah aku menceritakan keadaanku, apa lagi karena kalian telah berkenalan dan menjadi sahabat dari keluarga Bu."

Kakek itu mulai bercerita sambil berjalan. Tu-juh orang pendekar mendengarkan dengan penuh perhatian. Gurunya, mendiang Bu - eng Sin - yok-ong atau Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan mem-punyai tiga orang murid. Murid pertama adalah ayah dari Bu Kek Siang dan murid pertama ini me-warisi ilmu pengobatan dan tenaga sinkang yang amat kuat sehingga bagaimanapun juga, dengan kekuatan sinkang itu, dia dapat dikatakan paling unggul di antara tiga orang murid, sesuai de-ngan kedudukannya sebagai murid tertua. Murid ke dua adalah seorang yang berasal dari selatan bernama Ouwyang Kwan Ek, yang mewarisi ilmu pukulan sehingga murid ini memiliki ilmu silat yang amat hebat gerakan - gerakannya. Sedangkan orang ke tiga yang menjadi murid termuda dan yang mewarisi ilmu ginkang adalah kakek bertongkat itu yang bernama Kam Song Ki. Semenjak matinya Raja Tabib Sakti, tiga orang murid ini terpencar dan saling berpisah. Ayah Bu Kek Siang yang bernama Bu Cian itu tinggal di utara. Ouw-yang Kwan Ek yang berasal dari selatan itu kem-bali ke dunia selatan dan tidak pernah terdengar beritanya, sedangkan Kam Song Ki yang memang hidup sendirian saja dan suka merantau, tidak diketahui di mana tempat tinggalnya yang tetap. Tentu saja di samping mewarisi keahlian - keahlian itu, masing - masing juga mewarisi ilmu silat yang tinggi, ilmu pengobatan dan ilmu ginkang serta tenaga sinkang. Hanya saja, masing - masing telah mewarisi keistimewaan yang diberikan oleh guru mereka disesuaikan dengan bakat masing - masing pula.

"Aku suka merantau, dan aku tidak suka ber-urusan dengan dunia, seperti juga halnya dengan twa - suheng almarhum. Bahkan ji - suhengpun bi-asanya tidak pernah mau merisaukan urusan dunia sesuai dengan pesan suhu yang tidak ingin murid-muridnya mengandalkan kepandaian untuk melakukan kekerasan dan bermusuhan dengan orang lain. Maka, sungguh mengherankan sekali kalau kini ji-suheng selain masih hidup, malah juga mendirikan perkumpulan Liong-i-pang (Perkumpulan Jubah Naga) itu, bahkan telah membunuh murid keponakannya sendiri hanya untuk memperebutkan kitab pusaka." Dia menarik napas panjang dengan penuh penyesalan. Mendengar penuturan singkat itu, tujuh orang pendekar ini menjadi kagum. Kakek ini murid seorang yang kesaktiannya terkenal seperti dewa, dan memiliki ilmu kepandaian yang sukar diukur tingginya. Namun sikapnya demikian sederhana, tidak ingin namanya dikenal orang, bahkan tidak ingin mempergunakan kepandaiannya untuk bermusuhan dengan orang lain.

Dengan kagum Tiong Li lalu memberi hormat. "Penuturan Kam-locianpwe membuka mata kami bahwa makin banyak gandumnya, makin menunduklah tangkainya, makin dalam airnya, makin tenang dan diam. Akan tetapi, kalau para locianpwe seperti Kam-locianpwe tidak mempergunakan kepandaian untuk membendung datuk-datuk hitam yang berkepandaian tinggi, tentu akan lebih parah dan celakalah kehidupan rakyat jelata, dilanda oleh kejahatan mereka."

"Itulah yang menyebalkan !"' kata Kam Song Ki sambil menggurat - guratkan ujung tongkatnya di atas tanah di depannya. "Kemunculan iblis-iblis seperti Raja Kelelawar itu mau tidak mau menyeret pula orang-orang tua yang sudah mendekati lubang kubur seperti aku ini untuk ikut pula meramaikan dunia dengan pertentangan-pertentangan antara manusia !" Setelah berkata demikian, kakek itu mempercepat langkahnya sehingga semua orang bergegas mengejarnya dan sikap ini seperti menjadi tanda bahwa dia tidak ingin bicara lagi tentang dirinya.

Ketika akhirnya mereka tiba di dusun itu, hari telah sore dan keadaan dusun yang agak sunyi itu membuat mereka merasa heran. Bahkan beberapa orang kanak-kanak yang tadinya bermain- main di pekarangan rumah, ketika melihat munculnya delapan orang ini, dengan wajah ketakutan mereka melarikan diri memasuki rumah mereka, rumah pondok miskin. Beberapa orang dewasa yang kebetulan berada di luar rumah juga cepat - cepat memasuki rumah dan menutupkan daun pintu rumah mereka. Jelaslah bahwa penduduk di dusun itu dicekam rasa ketakutan melihat orang asing memasuki dusun mereka. Hal ini hanya berarti bahwa tentu telah terjadi sesuatu yang hebat. Mereka terus memasuki dusun itu dan ketika mereka tiba di tengah dusun, tiba - tiba saja bermunculan puluhan orang penduduk dusun itu, kesemuanya pria dan mereka membawa alat - alat senjata seadanya, mengurung dengan sikap mengancam.

Melihat ini, kakek itu tenang - tenang saja, akan tetapi Kwee Tiong Li segera mengangkat tangan ke atas dan berkata dengan suara berwibawa, "Saudara-saudara hendaknya jangan salah menyangka orang ! Kami bukanlah orang-orang jahat dan kami datang untuk mencari teman- teman kami yang kemarin dulu datang ke tempat ini. Jumlah mereka kurang lebih ada limapuluh orang "

Dari para pengepung itu majulah seorang laki-laki berusia lebih dari empatpuluh tahun.

Suaranya agak parau ketika dia berkata, "Mereka semua telah mati! Semua telah mati!"

Tentu saja delapan orang itu terkejut, terutama sekali Tiong Li. "Mati ? Kenapa ? Siapa membunuh mereka dan mengapa ?"

"Malam tadi di sini terjadi pertempuran hebat, antara pasukan pemerintah yang menyergap orang-orang yang agaknya bersembunyi di dusun kami. Kami semua ketakutan, takut terbawa - bawa dan memang ada belasan orang muda di dusun kami yang ikut pula terbunuh karena disangka menyembunyikan mereka. Kami semua bersembunyi ketakutan. Akhirnya, semua orang itu tewas, juga puluhan orang perajurit tewas. Sejak pagi tadi kami penduduk dusun bertugas untuk mengubur semua mayat itu. Mengerikan ! Lebih dari seratus mayat terpaksa dikubur dalam beberapa lubang besar saja, di luar dusun."

MENDENGAR penuturan ini, pucatlah wajah Tiong Li dan Yang-ce Sam-lo. Juga Pek Lian dan dua orang gurunya terkejut sekali. Bagai-manapun juga, yang terbunuh semua sampai terbasmi habis itu adalah para anggauta pemberontak Lembah Yang-ce, jadi masih rekan-rekan mereka sendiri. Pimpinan mereka, Liu Pang, adalah juga pemberontak Lembah Yang - ce yang untuk sementara ini membangun pusat perkumpulan di Puncak Awan Biru. "Siapa lagi kalau bukan Jenderal Beng Tian dan dua orang pengawalnya itu yang memimpin penyerbuan ?" kata Pek Lian dengan gemas.

Kwee Tiong Li mengepal tinjunya, sepasang matanya merah dan mukanya pucat. "Habis sudah

kawan-kawanku. ! Dengan susah payah guruku membimbing mereka, melatih mereka, dan

akhirnya, mereka hancur di bawah pimpinanku! Ahhh" Pemuda itu menutupi muka dengan kedua tangannya, merasa berduka dan menyesal bukan main.

Melihat keadaan ketua mereka ini, Yang-ce Sam-lo menghibur. "Harap kokcu jangan terlalu menyalahkan dan menyesalkan diri sendiri. Semua ini adalah resiko perjuangan menentang kelaliman dan kematian saudara- saudara kita terjadi di luar kemampuan kita untuk mencegahnya," kata seorang di antara mereka. "Seandainya kita berada di sini sekalipun, kalau dikepung oleh pasukan besar yang dipimpin jenderal itu, apa yang akan dapat kita lakukan untuk menyelamatkan kita semua ? Memang, lebih dari limaratus orang anggauta kita gugur sebagai pejuang - pejuang gagah perkasa yang menentang ketidakadilan, akan tetapi pihak tentara pemerintah juga banyak yang tewas di tangan kita. Setidaknya, setiap anggauta kita tentu sedikitnya merobohkan dua orang, sehingga kalau dihitung-hitung, kita masih tidak rugi."

Akan tetapi hiburan-hiburan tiga orang pembantunya itu tidak melenyapkan kedukaan hati Kwee Tiong Li yang kehilangan semua anak buah-nya. Dia memukulkan tinju kanannya ke atas telapak tangan kirinya dengan keras sehingga ter-dengar suara nyaring. "Bagaimanapun juga aku tidak mau berhenti sampai di sini saja ! Aku harus menuntut balas. Harap Sam-lo kembali ke lembah dan menyampaikan laporan kepada suhu. Aku sendiri akan mencari jalan untuk membalas dendam ini !"

Post a Comment