Halo!

Darah Pendekar Chapter 38

Memuat...

Kakek sakti itupun tidak lama memandang kepada gerobak yang bergoyang - goyang itu, lalu dia melangkah memasuki pondok diikuti oleh tujuh orang pendekar. Akan tetapi, begitu masuk pondok kakek bertongkat itu berseru perlahan, "Siancai... ke mana mereka ?"

Tiong Li dan tiga orang Yang - ce Sam - lo me-mandang kepada kakek itu dengan sinar mata pe-nuh pertanyaan. Hati mereka berempat menjadi tegang dan khawatir sekali. Kalau para anak buah mereka itu bertemu musuh dalam keadaan tertotok, tentu tidak akan ada seorangpun di antara mereka yang dapat lolos dan selamat. Akan tetapi, kalau bertemu musuh dan dibunuh, lalu ke mana perginya mayat - mayat mereka ? Apakah mereka ditemukan oleh pasukan pemerintah yang menawan mereka semua ? Akan tetapi, pasukan pemerintah biasanya tidak bersikap demikian lunaknya dan tentu langsung membunuh orang - orang Lembah Yang - ce, walaupun pada saat itu pemerintah membutuhkan banyak tenaga orang - orang hukuman untuk membangun tembok besar.

"Ah, siapa lagi kalau bukan perbuatan dua orang itu ?" tiba - tiba kakek itu berkata dan dia- pun sudah berjalan keluar dari dalam pondok, diikuti oleh tujuh orang itu, menghampiri gerobak yang masih bergoyang - goyang. Kakek itu tidak berani lancang menuduh orang, akan tetapi karena di tempat itu tidak terdapat lain orang kecuali pemilik gerobak yang berada di dalam kendaraan itu, diapun menghampiri untuk bertanya.

"Sobat - sobat pemilik gerobak, keluarlah, aku ingin bertanya!" kakek itu berkata dengan suara yang bernada halus. Tujuh orang pendekar itu me-mandang dengan khawatir. Tidak ada jawaban, bahkan gerobak itu makin keras guncangannya dan kini terdengar suara cekikikan genit diiringi suara ketawa parau. Jelas suara laki - laki dan wanita ! Kakek sakti itu mengangkat alisnya dan kembali dia bertanya.

"Maaf, sobat - sobat yang berada di dalam gero-bak. Apakah ada yang melihat orang - orang yang tadinya mengaso di dalam pondok itu ? Ke ma_ kah perginya mereka ? Apa yang telah terjadi de-ngan mereka ?" Pertanyaan ini diajukan oleh ka-kek sakti karena dia maklum bahwa menurut per-hitungannya, pada saat itulah orang-orang Lem-bah Yang - ce itu baru akan dapat pulih dari totok-annya. Jadi tidak mungkin kalau dapat terbebas sebelumnya. Akan tetapi tidak terdengar jawaban dari dalam gerobak dan sendau - gurau di dalam gerobak itu malah lebih seru dan ramai!

"Locianpwe, yang berada di dalam adalah dua orang tokoh terakhir dari Ban - kui - to (Pulau Selaksa Setan)..." tiba - tiba Kim - suipoa membisiki kakek sakti itu. Kakek itu mengerutkan alisnya.

Akan tetapi sebelum kakek itu menjawab atau melakukan sesuatu, tiba - tiba terdengar suara ke-ras dan gerobak itu bergoyang - goyang keras, lalu terdengar suara gedebugan seperti orang berkelahi disusul maki - makian dan tiba - tiba daun pintu gerobak itu jebol dan terlepas dari kaitannya, disu-sul terlemparnya sesosok tubuh setengah telanjang seorang kakek yang begitu terlempar dari atas ge-robak lalu berjungkir balik dan bangkit berdiri te-rus lari.

"Mau lari ke mana kau!" terdengar bentakan dan dari dalam gerobak meloncat seorang nenek yang pakaiannya juga tidak karu - karuan, agaknya dikenakan secara tergesa - gesa dan celananya ma-sih kedodoran. Nenek ini tidak memperdulikan semua orang yang berada di situ, langsung saja mengejar kakek tadi sambil memaki - maki ! Sekejap mata saja sepasang iblis itu telah lenyap. Tentu saja melihat ini, Ho Pek Lian menundukkan mukanya dan merasa jengah sekali. Sepasang iblis tua bangka itu benar - benar keterlaluan sekali !

Tujuh orang pendekar itu tadi hanya memandang dengan bengong, tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan kakek sakti hanya menggeleng kepala menyaksikan kelakuan sepasang iblis itu.

"Siancai, kiranya Ban - kui - to sampai sekarang masih dihuni iblis - iblis seperti itu. Kalau mereka itu sudah berkeliaran di tempat ramai, hal itupun menjadi tanda - tanda bahwa dunia akan menjadi semakin tidak aman. Ahhh, mana mungkin orang dapat menikmati keheningan lagi melihat munculnya orang - orang seperti Raja Kelelawar dan penghuni Pulau Selaksa Setan itu ?"

Mereka mendekati gerobak dan longak - longok mengintai ke dalam. Akan tetapi tidak nampak ada seorangpun manusia di situ, kecuali benda-benda aneh yang mereka duga tentulah barang-barang berbahaya milik sepasang iblis itu. Mereka tidak mengganggu milik orang, melainkan menanti di dalam hutan itu sampai kembalinya sepasang iblis yang tadi lari berkejaran seperti gila itu. Akan tetapi sampai lama sekali, belum juga nampak ada tanda-tandanya nenek dan kakek itu kembali.

Tak lama kemudian, dari dalam hutan mereka melihat banyak orang lewat dan mereka mengenal tokoh - tokoh sesat yang tadi hadir dalam pertemu-an mereka menghadap pimpinan baru mereka, si Raja Kelelawar. Mereka tetap tinggal di dalam hutan dan tidak memperlihatkan diri. Akan tetapi ketika tiba-tiba terdapat serombongan orang menyusup keluar dari balik semak - semak belukar di dalam hutan, tidak jauh dari tempat mereka berada, tujuh orang pendekar itu terkejut dan diam-diam merekapun mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan sambil memandang kepada rombongan orang itu. Mereka itu tadi tidak nampak hadir dalam pertemuan para tokoh sesat. Mereka berjumlah delapan orang dengan pakaian sutera hitam. Kesemuanya adalah wanita yang sudah setengah tua, antara empatpuluh sampai empatpu-luh lima tahun usianya. Rata - rata bersikap gagah dan gerakannya gesit, dan selain pakaian sutera hitam yang ringkas, juga di sanggul rambut mereka terhias tusuk konde dari batu giok. Selagi Pek Lian dan kawan-kawannya memperhatikan, tiba-tiba dari lain jurusan muncul pula rombongan empat orang pria yang memakai seragam putih-putih. Di punggung masing - masing terdapat sepasang pedang panjang dan sikap mereka juga gagah sekali, sedangkan usia mereka kurang lebih empatpuluh tahun. Rombongan empat orang seragam putih inipun tadi tidak kelihatan di antara kaum sesat yang berkumpul di depan pondok di atas bukit. Maka merekapun menduga bahwa agaknya, selain para tokoh sesat yang hadir, kiranya banyak juga terdapat tamu tak diundang yang secara diam - diam berdatangan ke tempat itu secara sembunyi-sembunyi. Ketika kedua rombongan, yaitu delapan orang wanita berpakaian hitam - hitam dan empat orang pria berpakaian putih - putih itu berpapasan di dalam hutan, kedua pihak nampak kaget.

"Ah, mereka berempat itu adalah pendekar-pen-dekar Thian - kiam - pang ( Perkumpulan Pedang Langit) yang terkenal itu!" bisik Kwee Tiong Li. Sebagai ketua Lembah Yang - ce, tentu saja dia sudah banyak mengenal atau mendengar tentang perkumpulan - perkumpulan pendekar lainnya.

"Perkumpulan macam apakah itu ?" Pek Lian berbisik, ingin tahu.

"Itu adalah perkumpulan pendekar pedang yang terkenal gagah perkasa. Kalau di daerah untuk daerah utara, nama Thian - kiam - pang amat ter-kenal, ilmu pedang mereka hebat."

Kini muncul pula rombongan para tosu Bu-tong - pai, terdiri dari lima orang tosu. Kedua rombongan terdahulu segera menyingkir, pergi ke jurusan - jurusan yang berlainan. Juga para tosu Bu - tong - pai itu menyingkir. Mereka adalah tokoh - tokoh dari dunia putih, akan tetapi karena mereka semua datang ke daerah itu sebagai pengintai dan tidak saling berhubungan, maka mereka-pun saling menghindar, tidak ingin berjumpa karena kalau mereka berkumpul, berarti mereka tidak dapat bergerak secara sembunyi - sembunyi lagi.

Kakek itu makin tertarik dan diapun melangkah keluar dari hutan kecil itu, diikuti oleh Tiong Li, Pek Lian dan teman - teman mereka. Dan ter-nyata banyak bermunculan rombongan - rombongan dan tokoh - tokoh persilatan dari kaum bersih atau dari mereka yang tidak memasukkan dirinya ke dalam kaum bersih maupun kaum sesat, yang ingin berdiri bebas. Melihat betapa banyak orang itu baru mereka ketahui sekarang kehadirannya, diam - diam Ho Pek Lian merasa kagum dan dapat menduga bahwa mereka itu adalah orang - orang yang berkepandaian hebat.

"Siancai... !" Kakek ahli ginkang yang sakti itu berkata setelah melihat betapa banyaknya para pendekar bermunculan setelah pertemuan para tokoh sesat itu bubar, "Agaknya kemunculan keturunan Raja Kelelawar benar-benar membuat dunia persilatan menjadi geger!

Bukankah demikian, sobat yang berada di balik semak - semak itu ?" Kalimat terakhir ini ditujukan ke arah semak - semak yang berada di sebelah kiri, beberapa meter jauhnya dari tempat mereka berdiri. Tentu saja tujuh orang pendekar yang mendengar kalimat ini menjadi terheran - heran kemudian terkejut ketika tiba-tiba melihat tiga orang hwesio muncul dari balik semak-semak itu sambil (mengangkat kedua tangan memberi hormat dengan wajah mereka yang alim dan ramah.

"Omitohud..., lo-sicu sungguh bermata tajam bukan main !" seorang di antara mereka memuji. Melihat seorang di antara tiga hwesio berusia kurang lebih enampuluh tahun ini, yang dahinya terhias bekas luka memanjang, Pek-bin-houw Liem Tat cepat maju memberi hormat.

"Ah, kiranya Ta Beng losuhu yang berada di sini. Tidak kami kira bahwa para tokoh Siauw- lim - pai juga hadir di tempat ini! Terimalah hormat saya, losuhu."

Hwesio itu sejenak memandang wajah Pek-bin- houw yang putih, mengingat-ingat, lalu menepuk

dahinya dan balas menjura. "Omitohud... bukankah Si Harimau Putih yang berada di sini

? Bagaimana kabarnya, sicu ? Pinceng mendengar berita bahwa sicu dan kawan- kawan mengadakan gerakan di Lembah Yang-ce sekarang, meninggalkan Huang-ho. Benarkah ?"

Pek - bin - houw Liem Tat lalu memperkenalkan hwesio itu kepada teman - temannya. Hwesio itu berjuluk Ta Beng Hwesio, seorang tokoh Siauw-lim - pai, merupakan tokoh ke dua dalam urutan tingkat di Siauw - lim - pai, seorang hwesio yang berilmu tinggi.

"Sicu tentu mencari para pendekar Lembah Yang - ce, bukan ?" Tiba - tiba hwesio itu bertanya. "Karena itulah pinceng bertiga sengaja menanti di sini." Lalu Ta Beng Hwesio menceritakan bahwa dia dan dua orang sutenya itulah yang membebas-kan totokan para anak buah Lembah Yang - ce itu. "Pinceng melihat munculnya kakek dan nenek iblis dari Ban - kui - to, maka pinceng merasa khawatir melihat mereka itu dalam keadaan tertotok. Kami membebaskan mereka dan menyarankan agar mereka menjauhi tempat itu dan menanti cu - wi (an-da sekalian) sebagai pimpinan mereka di dalam dusun di sebelah utara sana." Mendengar keterangan ini, bukan main girang-nya hati Kwee Tiong Li dan tiga orang pembantu-nya. Cepat dia maju dan memberi hormat. "Sung-guh besar budi pertolongan losuhu terhadap kawan-kawan kami. Saya menghaturkan banyak terima kasih." Ketika hwesio itu mendengar bahwa pemuda yang perkasa ini adalah ketua muda dari Lembah Yang - ce, murid dari pendekar Chu Siang Yu, wajahnya berseri girang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment