Mendengar semua itu, kakek ini menarik napas panjang. "Siancai... siancai... siancai... !
Dunia takkan pernah aman, manusia takkan pernah hidup dalam damai selama masih terjadi ke-kerasan- kekerasan. Sudah menjadi penyakit umum bahwa penguasa mempergunakan tangan besi terhadap rakyat, dibantu oleh semua kaki tangannya, dengan seribu satu macam alasan, katanya demi kebaikan kehidupan rakyat. Mengapa para penguasa tidak sadar bahwa rakyat hanya akan menentang karena tidak puas melihat kelaliman mereka? Biasanya, kaisar tidak tahu bagaimana macam para pembantunya yang selalu bertindak sewenang - wenang, memeras dan korup, sama sekali tidak ada ingatan untuk memperbaiki kehidupan rakyat melainkan hanya berlumba untuk mengumpulkan kekayaan bagi dirinya dan keluarganya sendiri saja. Mengapa kaisar sejak dahulu sampai sekarang tidak mau menyadari bahwa dia dikelilingi oleh orang-orang yang sifatnya penjilat ke atas dan menindas ke bawah ? Aihh, kapankah ada kaisar seperti Bu Ong yang akan memerintah dengan adil dan bijaksana ? Seorang kaisar sepatutnya menggunakan tangani besi terhadap bawahannya, terhadap semua kaki tangannya agar semua pejabat menjadi pejabat yang bijaksana dan baik. Bukan mempergunakan tangan besi terhadap rakyat! Salahnya, hampir semua kaisar tidak menya-dari bahwa dia dibantu oleh iblis - iblis yang ko-rup, yang memeras rakyat akan tetapi selalu mem-buat pelaporan yang baik - baik saja kepada kaisar.
Kapankah ada kaisar yang menyelinap di antara rakyat dan menyelidiki sendiri kehidupan rakyat, menyelidiki sendiri cara kerja para pembantunya ? Aih, agaknya untuk itu, Thian harus menciptakan manusia - manusia yang khas."
"Locianpwe benar sekali," kata Kim - suipoa sambil menarik napas panjang. "Sang Bijaksana mengajarkan bahwa sebelum mengatur orang lain, harus lebih dulu dapat mengatur diri sendiri. Se-orang ayah takkan mungkin dapat mendidik anak-anaknya kalau dia sendiri tidak terdidik, karena dia menjadi contoh dari pada anak-anaknya. Seorang pembesar harus mencuci bersih kedua tangannya sendiri terlebih dahulu sebelum dia ingin melihat anak buahnya bersih. Kalau penguasa yang di atas korup, mana mungkin bawahannya jujur dart tidak korup ? Akan tetapi, kalau atasannya bersih, tentu dia akan berani bertindak terhadap bawahannya yang kotor."
Pek-bin-houw menarik napas panjang. "Siancai..., alangkah akan senangnya kalau keadaan pemerintahan dapat seperti itu. Sayang, kaum atas-an hanya menuntut agar bawahannya bersih, dan hal ini sama sekali tidak mungkin selama dia sendiri masih kotor. Bawahan mencontoh atasan, dan pula, atasan yang kotor mana akan ditaati oleh bawahannya ? Sungguh sayang...!"
"Munculnya Raja Kelelawar menandakan bahwa kaum sesat kini bangkit dan menjadi semakin kuat. Kalau hal ini ditambah lagi dengan kela-liman kaisar dan kaki tangannya, sungguh amat mengerikan kalau dibayangkan bagaimana akan jadinya dengan nasib rakyat jelata," kata kakek itu sambil menarik napas panjang penuh penyesalan. Keadaan seperti itu tentu akan memaksa orang-orang seperti dia yang tadinya sudah mengasingkan diri dan hidup tenteram dan penuh damai, akan terpaksa terjun ke dunia ramai.
Kalau kita memperhatikan percakapan mereka, sungguh banyak terdapat pelajaran yang dapat di-ambil berdasarkan kenyataan hidup. Memang tak dapat dipungkiri kebenaran pribahasa yang me-ngatakan bahwa "guru kencing berdiri, murid ken-cing berlari". Kebaikan seorang guru belum tentu dapat ditauladani muridnya dengan mudah, namun keburukan seorang guru akan dapat diikutinya de-ngan amat cepatnya. Guru dalam hal ini dapat di-perluas menjadi orang tua atau juga kepala suatu kelompok atau seorang pemimpin. Betapapun ke-rasnya seorang ayah melarang anaknya berjudi, kalau dia sendiri seorang penjudi, maka dia tidak akan berhasil.
Betapapun kerasnya seorang atas-an melarang bawahannya agar tidak korupsi, kalau dia sendiri tukang korup maka usahanya akan sia-sia. Bawahan selalu condong mencontoh atasan, seperti murid condong mencontoh guru dan anak mencontoh orang tua. Menekan anak, atau murid, atau bawahan untuk meniadi baik, tanpa si orang tua, guru atau atasan lebih dulu membereskan dirinya, tidak akan ada gunanya !
Namun, kekuasaan selalu digandeng oleh kesewenang- wenangan. Orang tua, atau guru, atau pemimpin yang merasa berkuasa, selalu membenarkan dirinya sendiri. Orang tua bilang, berjudi untuk dia tidak apa - apa, akan tetapi tidak boleh untuk anak - anak. Guru mengatakan, tidak sopan sedikit untuk guru tidak mengapa, akan tetapi tidak boleh untuk murid. Atasan bilang, penyalahgunaan wewenang untuk atasan adalah wajar, tapi tidak boleh untuk bawahan ! Seorang kaisar merupakan batang sebuah pohon. Kalau batang itu sehat, ca-bang ranting dan daunnya juga tentu sehat. Akan tetapi kalau batangnya sakit, jangan mengharapkan cabangnya, rantingnya dan daun - daunnya akan tumbuh sehat.
"Locianpwe, belum lama ini kami bertiga telah berjumpa dengan murid keponakan locianpwe." Akhirnya Ho Pek Lian berkata kepada kakek itu setelah percakapan mereka mengenai keadaan negara karena kelaliman kaisar itu mereda.
Kakek itu memandang kepadanya. "Murid ke-ponakan ? Yang mana ?" "Namanya Bu Kek Siang," Pek Lian memberi keterangan.
"Bu Kek Siang ? Ah, dia itu putera Bu - suheng ! Sudah puluhan tahun aku tidak bertemu dengan dia," kata kakek itu, tersenyum dan wajahnya men-jadi berseri. "Di antara murid suhu, Bu
- suhenglah murid yang boleh dibanggakan mendiang suhu." "Memang, beliau adalah seorang pendekar yang amat hebat dan budiman, seorang ahli pengobatan yang dalam menolong manusia tidak memandang bulu, sungguh sayang, seorang pendekar sedemikian hebatnya harus tewas dalam keadaan yang amat menyedihkan," kata pula Pek Lian.
Kakek itu tidak nampak terkejut, hanya nam-pak alisnya yang sudah putih itu berkerut seben-tar. "Kek Siang? Tewas?" Hanya itulah tanyanya dan Pek Lian lalu menceritakan semua peristiwa yang terjadi di rumah keluarga Bu itu. Kakek itu menarik napas panjang mendengar betapa murid keponakannya itu bersama isterinya tewas di waktu mengobati puteri tokoh iblis Tai
- bong - pai, dan yang membuat dia merasa menyesal adalah bahwa kedua orang murid keponakannya itu tewas di ta-ngan murid - murid keponakan lain, yaitu murid-murid dari ji - suhengnya (kakak seperguruan ke dua).
"Hayaaaa...!" Dia mengeluh. "Jadi ji-suheng masih hidup malah mendirikan Perkumpulan Baju Naga. Sungguh luar biasa, sudah tua masih bersemangat! Ji - suheng itu amat lihai, memiliki ilmu silat yang paling hebat di antara kami ber-tiga. Heran, dia bukan orang jahat, kenapa murid- muridnya begitu kejam, tega membunuh Bu Kek Siang yang masih saudara seperguruan ?
Mungkinkah ji-suheng tua-tua telah berobah ?"
Tujuh orang itu tentu saja tidak berani me-nanggapi urusan perguruan orang, apa lagi karena mereka merasa bahwa mereka berada di tingkat yang jauh lebih rendah. Kakek itu menarik napas panjang lagi. "Kedua orang anaknya itu... apakah mereka terluka parah ?"
"Bu Bwee Hong tidak terluka, akan tetapi ka-taknya, Bu Seng Kun, terluka parah. Untunglah bahwa mereka adalah ahli - ahli pengobatan yang pandai sekali sehingga agaknya tidak perlu dikhawatirkan keadaannya, locianpwe," kata Pek Lian.
"Sudahlah, lain hari akan kujenguk mereka. Se-karang mari kutunjukkan kepada kalian di mana kusembunyikan orang-orang Lembah Yang-ce itu."
Kakek itu bangkit dan melangkah dibantu tong-katnya, nampaknya seenaknya saja akan tetapi tujuh orang itu terpaksa harus mengerahkan tenaga Snkang mereka untuk mengikutinya! Bahkan Tiong Li yang masih belum pulih seluruh tenaganya, digandeng oleh dua orang pembantunya dan mereka bertujuh itu harus berlari - larian agar ti-dak sampai tertinggal oleh kakek sakti itu. Ketika mereka tiba di sebuah hutan kecil, kakek itu memasuki hutan dan tak lama kemudian mereka telah tiba di depan sebuah pondok tua. Kakek itu me-mandang ke arah sebuah gerobak yang berhenti tak jauh dari pondok. Kuda penarik gerobak nam-pak sedang makan rumput dengan tenangnya, tak jauh dari gerobak itu. Ketika Pek Lian dan ka-wan - kawannya melihat gerobak itu, mereka terke-jut bukan main. Jantung mereka berdebar tegang dan wajah mereka agak pucat oleh rasa khawatir. Dan gerobak itu bergoyang - goyang mengeluarkan bunyi berkereyotan karena memang gerobak tua. Pada saat itu, Pek Lian menoleh dan saling pandang dengan Tiong Li. Mendadak, keduanya me-nunduk dengan muka merah karena malu dan je-ngah. Kembali mereka dihadapkan dengan keca-bulan yang tidak tahu malu dari kakek dan nenek iblis pemilik gerobak!