sukkan ke arah batu yang sebuah lagi dan "crokkk !" seperti sumpit menusuk ta-hu saja, tongkat itu amblas memasuki batu itu dan ketika diangkatnya, maka kini kakek itu memanggul tongkat yang ujungnya sudah menusuk batu! Tentu saja semua orang melongo menyaksikan ini dan diam - diam si iblis hitam juga terkejut. Kiranya kakek ini memiliki tenaga dalam yang demikian kuatnya sehingga disalurkan melalui tongkat, dapat membuat tongkat itu menusuk batu seperti menusuk benda lunak saja. Karena tidak mau kalah membuat kesan, diapun mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya, lalu tiba - tiba saja batu yang disangga tangan kiri itu dilontarkannya ke atas dan ketika batu itu meluncur turun ke arah kepalanya, iblis hitam ini menggunakan tangan kiri yang jari - jarinya diluruskan dan dibuka.
"Crokkk!" Tangan itu amblas memasuki batu sampai dekat siku ! Tentu saja semua orang ber-sorak memuji. Kalau kakek itu menusuk batu dengan tongkat, sekarang si iblis hitam yang menjadi pemimpin mereka itu menusuk batu dengan tangan Degitu saja seolah - olah tangan itu telah berobah menjadi golok tajam runcing dan batu itu berobah lunak sekali!
"Kakek yang nekat, mari kita mulai. Ingat, kita berlumba meletakkan batu ini di puncak bukit sana itu, lalu kembali ke sini. Kuhitung sampai tiga. Satu... dua... tiga!" Dau orang hanya melihat dua bayangan berkelebat dan tahu-tahu dua orang itu lenyap dari tempat mereka berdiri seperti dua setan yang menghilang saja! Tentu saja semua orang terkejut dan melihat betapa orang - orang yang memiliki kepandaian tertinggi di antara mereka seperti si Buaya Sakti dan si Ha-rimau Gunung memandang ke satu arah, mereka-pun ikut-ikut memandang dan dapat dibayang-kan betapa kagum rasa hati mereka melihat di titik hitam "terbang" menuju ke puncak bukit di depan !
Kehebatan ilmu ginkang dari Raja Kelelawar telah menjadi semacam dongeng, karena Raja Ke-lelawar telah meninggal dunia puluhan tahun yang lalu. Dan sekarang muncul seorang keturunan yang menguasai semua ilmu - ilmunya, termasuk ilmu ginkang luar biasa itu. Memang jarang ada orang yang sanggup menandingi ginkang dari Raja Kelelawar, karena kalau para ahli yang lain hanya mengandalkan kemampuan tubuh latihan dan kekuatan dalam, Raja Kelelawar mempunyai rahasia-rahasia yang tidak diketahui orang lain. Ada alat-alat rahasia yang dipakainya, yang membantunya dapat berlari seperti terbang dan bergerak amat lincahnya. Alat - alat rahasia itu sebagian tersem-bunyi di dalam jubahnya, dan juga di sepatunya yang membuat kakinya seperti menginjak pegas yang dapat membuatnya memantul.
Iblis berpakaian hitam itu dapat menduga akan kelihaian kakek yang menantangnya maka diapun mengerahkan seluruh kemampuannya sehingga tubuhnya bagaikan terbang saja. Dia terkejut melihat betapa kadang - kadang ada bayangan berkelebat di dekatnya, dan tahulah dia bahwa kakek itu benar - benar amat luar biasa, dapat menyamai kecepatan gerakannya. Dan dia menjadi semakin penasaran dan terheran - heran ketika dia meletakkan batu besar itu di puncak bukit, diapun melihat batu yang tadi dibawa oleh kakek itu telah berada di situ ! Maka diapun tidak mau menengok lagi ke sana - sini, melainkan "tancap gas" dan ngebut, secepat mungkin dia terbang menuruni puncak bukit! Ketika dia tiba di situ, terdengar sorak-sorai dan tepuk tangan para "anak buahnya" menyambutnya. Baja Kelelawar menjadi girang sekali dan merasa menang, akan tetapi dia mendengar suara terkekeh dan ternyata kakek itupun sudah berada di situ, agaknya bersamaan waktunya dengan dia ! Jantung Baja Kelelawar terasa berdebar dan perutnya panas. Dia merasa ditantang benar-benar ! Jelaslah bahwa biarpun kakek ini tidak dapat dikatakan menang atau mendahuluinya, akan tetapi setidaknya dapat menyamainya !
"Bagus, sekarang pertandingan ke dua kita mu-lai," katanya dengan suaranya yang melengking tinggi. "Pertandingan pertama masih belum dapat menentukan siapa menang siapa kalah !" Berkata demikian, sekali menggerakkan tubuhnya, si iblis hitam telah lenyap dari situ dan sebelum semua orang hilang Kagetnya, tubuhnya sudah melayang turun dari atas pohon dan tangannya membawa dua tangkai daun. Dia memberikan setangkai kepada kakek, itu dan memasukkan yang setangkai lagi ke lubang kancing bajunya.
Kakek itupun sambil tersenyum dan terkekeh memasukkan tangkai daun ke lubang kancingnya, lalu menghadapi Raja Kelelawar sambil berkata, "Bu - eng Hwee - teng memang hebat bukan main ! Akan tetapi hendaknya diingat bahwa kita tidak sedang berkelahi, melainkan mempergunakan kecepatan gerakan untuk saling merampas daun, Maka, kita berdua cukup mengerti banwa tidak dipergunakan pukulan dan tangkisan dalam lumba ini, melainkan hanya usaha merampas daun dan pengelakan untuk menyelamatkan daun, jadi sepenuhnya menggunakan kecepatan gerakan. Begitu, bukan ?"
Si iblis hitam mengangguk. "Begitulah, dan mari kita mulai!" Berkata demikian, tiba-tiba iblis hitam sudah menggerakkan tangannya, cepat sekali, menyambar ke arah dada kakek itu.
"Eeiiiittt, luput !" Si kakek sudah mengelak de-ngan kecepatan yang tak terduga-duga sehingga tubuhnya seperti menghilang saja. Selanjutnya, semua orang melihat betapa tubuh dua orang itu benar - benar lenyap bentuknya, yang nampak ha-nya bayangan berkelebatan sedemikian cepatnya sehingga sukar untuk dapat diikuti dengan pandang mata! Bahkan para tokoh kaum sesat yang sudah tinggi ilmunya menjadi pening dan silau mpnyaksikan gerakan dua tubuh itu dan kadang-kadang bayangan itu seperti menjadi satu, kadang-kadang saling kejar akan tetapi tidak dapat dibe-dakan siapa yang dikejar dan siapa yang mengejar. Bukan main hebatnya permainan kejar - kejaran saling memperebutkan daun ini sehingga seperempat jam lewat sudah, dan semua orang memandang dengan penuh ketegangan. Dua orang yang sedang berlumba itu sendiripun menjadi kagum bukan main karena sampai sekian lamanya, belum juga mereka mampu merampas daun. Iblis sakti itu mengeluarkan suara melengking nyaring karena penasaran.
Sungguh di luar dugaannya bahwa dia akan bertemu dengan seorang kakek yang mampu menandinginya! Dan kakek ini keluar pada saat dia memperkenalkan diri kepada dunia lagi!
Tiba - tiba kakek itu mengeluarkan seruan kaget karena kini tangan yang mencengkeram ke arah daun itu membalik ke arah lehernya dengan totokan maut! Akan tetapi, kakek ini memang sudah bersiap-siap, maklum akan curang dan kotornya watak seorang dari dunia hitam. Cenat dia mengelak dan pada saat itu, daun di lubang kancingnya telah kena dirampas! Si iblis hitam meloncat ke belakang dan mengangkat tinggi-tinggi daun itu di atas kepalanya.
"Hemm, daunmu telah dapat kuambil!" katanya dan semua tokoh sesat bersorak menyambut kemenangan ini. Akan tetapi tanpa dilihat siapa-pun, kakek itu membuka tangannya dan melihat sebuah kancing hitam di telapak tangan kakek itu. Raja Kelelawar terbelalak. Itulah kancingnya, kancing jubahnya! Kalau kancing jubahnya saja dapat diambil kakek itu, apa lagi daunnya. Senga- ja kakek itu tidak mau mengambilnya dan sengaja kakek itu mengalah! Iblis hitam itu adalah seorang yang tingkatnya sudah tinggi sekali, maka diapun maklum bahwa lawan telah mengalah dan memberi muka terang kepadanya. Hal ini berarti bahwa biarpun kakek itu lihai dan mampu meng-atasinya, namun kakek itu tidak berniat buruk dari hanya ingin menyelamatkan tujuh orang itu saja Maka diapun lalu membuang daun itu dan berka-ta, suaranya melengking nyaring.
"Sudahlah ! Betapapun juga, ilmu kepandaian mu hebat dan sudah lebih dari cukup untuk membiarkan engkau membawa pergi tujuh orang itu !" Semua tokoh sesat merasa heran karena tadinya mereka mengira bahwa Raja Kelelawar tentu akan membunuh kakek itu bersama tujuh orang lainnya Akan tetapi tidak ada seorangpun di antara mereka yang berani membantah.
Kakek itupun membungkuk - bungkuk dan tertawa. "Ahh, ternyata Raja Kelelawar seperti hidup kembali! Kebesarannya sungguh hebat, sesuai dengan perbuatannya dan kegagahannya. Terima kasih, sobat!" Kakek itupun menghampiri Pek Lian dan teman - temannya, lalu berkata.
"Orang telah bersikap lunak kepada kita, tidak lekas pergi mau tunggu apa lagi ?"
Tujuh orang itu tidak menjawab hanya melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Ketika kakek itu hendak pergi juga, tiba-tiba Raja Kelelawar bertanya, suaranya melengking, membuat Pek Lian dan kawan - kawannya terkejut dan merekapun menghentikan langkah dan menengok, siap menghadapi segala kemungkinan. Hal macam apa saja dapat dilakukan oleh orang - orang dari dunia hitam!
Akan tetapi, ternyata Raja Kelelawar itu hanya bertanya kepada kakek itu dengan suara mengandung geram, "Kakek, siapakah engkau sebenarnya ?"
Kakek itu mencoret - coret tanah dengan ujung tongkat bututnya dan menarik napas panjang ber-ulang - ulang sebelum menjawab. "Aihh, belasan tahun hidup aman tenteram penuh damai di puncak gunung, siapa kira hari ini terpaksa terjun ke dalam kekeruhan dunia. Dan tidak nyana sama sekali bahwa mendiang Raja Kelelawar benar-benar telah mempunyai seorang pewaris sepertimu ini. Sungguh mengagumkan. Terus terang saja, selama hidupku, baru sekali ini aku mengalami bertemu tanding yang membuatku kewalahan dalam ilmu ginkang. Padahal, aku mengira bahwa aku telah mewarisi semua kemampuan mendiang guruku yang terkenal, dengan julukan Bu - eng Sin - yok-ong (Si Raja Tabib Sakti Tanpa Bayangan)." Kakek itu menarik napas panjang lagi dan memandang kagum kepada iblis berpakaian hitam itu.
Semua orang terkejut mendengar ucapan kakek itu. Nama Si Raja Tabib Sakti amat terkenal, seperti tokoh dongeng yang sama terkenalnya dengan nama Raja Kelelawar, di jaman dahulu.
Juga Pek Lian dan kawan-kawannya memandang heran. Mereka teringat akan keluarga Bu, keturunan dari Raja Tabib Sakti pula, keturunan murid pertama manusia sakti itu. Juga mereka pernah bertemu dengan murid - murid ketua iblis berambut riap-riapan yang jubahnya bergambar naga, sebagai keturunan murid ke dua si Raja Tabib Sakti. Jadi inikah murid, ke tiga Raja Tabib Sakti yang dikabarkan mewarisi ginkang dari manusia sakti itu ? Pantas ginkangnya demikian hebatnya !
Timbul dalam hati Ho Pek Lian untuk mence-ritakan semua yang telah dialaminya di rumah ke-luarga Bu, tentang perebutan kitab pusaka pening-galan Raja Tabib Sakti, maka iapun melanjutkan langkahnya diikuti oleh kawan-kawannya mening-galkan tempat itu.
"Heh - heh - heh, selamat tinggal, Raja Kelelawar, atau engkau hendak mempergunakan julukan lain ?" kata kakek itu kepada si iblis hitam.
"Tidak ! Aku tetap memakai nama Bit - bo - ong si Baja Kelelawar untuk melanjutkan nama besar dari nenek moyangku dan mempersatukan semua sahabat di dunia kang - ouw dan liok - lim."
"Bagus, Raja Kelelawar, selamat tinggal dan sampai jumpa pula."
'Selamat jalan, dan dalam perjumpaan lain kali, bagaimanapun juga aku tidak akan melepaskan engkau begitu saja!" kata si Raja Kelelawar dengan sikap angkuh untuk meyakinkan hati para pengikutnya bahwa dia "lebih unggul" dari pada kakek itu, walaupun di dalam hatinya dia mengakui bahwa ginkangnya masih setingkat kalah oleh kakek itu.
Setelah kakek itu pergi pula mengikuti rom-bongan Pek Lian, si Raja Kelelawar lalu melanjut- kan pertemuannya dengan para tokoh sesat. Dengan suaranya yang melengking tinggi dan penuh wibawa dia lalu berkata kepada dua di antara Sam - ok yang hadir, yaitu Sin - go Mo Kai Ci dan San - hek - houw, "Kalian berdua telah datang dan menyambutku. Itu bagus sekali dan biarlah kalian menjadi pembantu - pembantuku di bidang masing-masing. Akan tetapi mengapa Tung - hai - tiauw tidak muncul di sini ?"
Setelah berkata demikian, iblis hitam itu me-mandang ke sekeliling, seolah - olah hendak mencari orang pertama dari Sam - ok itu di sekitar tempat itu. Suasana menjadi tegang dan semua orang memandang kepada iblis itu dengan rasa takut, khawatir kalau - kalau raja mereka itu marah.
Akhirnya San - hek - houw memberanikan diri menjawab, "Ong - ya, kami semua tidak tahu mengapa dia tidak muncul, mungkin saja terhalang sesuatu."
"Selidiki tentang dia!" kata raja datuk sesat itu. "Kalau dia memang sengaja tidak memenuhi panggilanku, kalian berdua bunuh dia dan bawa kepalanya di depanku ! Akan tetapi kalau memang terhalang sesuatu, bantu dia, kemudian ajak dia bersama - sama menghadap padaku."