"Hemmm kalau aku harus melayani ilmumu Pat-hong Sin-ciang, tentu saja aku akan kalah karena aku sudah tua dan sudah puluhan tahun tak pernah berkelahi. Kalau melawan Kim- liong Sin-kun, biarpun aku tidak akan kalah akan tetapi akupun sukar untuk bisa menang. Maka biarlah
aku akan mencoba ilmu kesaktian Raja Kelelawar yang pertama tadi, yaitu Bu-eng Hwee- teng yang kabarnya hebat sekali itu."
Semua orang, terutama sekali Tiong Li dan ka-wan- kawannya, terkejut bukan main mendengar ucapan kakek itu. Bahkan di antara para tokoh sesat yang hadir di situ, ada yang tertawa ce-kikikan.
"Kek-kek-kek ! Tua bangka ini sudah bosan hidup !" Jai-hwa Toat-beng-kwi terkekeh dan mengejek.
"Hi-hik, biar melawankupun takkan menang apa lagi mengadu ginkang melawan ong-ya," kata Pek-pi Siauw-kwi si Maling Cantik.
Kaum sesat adalah orang - orang yang tidak memperdulikan kesopanan dan tidak menghirau-kan peraturan, maka biarpun mereka itu amat ta-kut dan takluk terhadap Bit - bo - ong si Raja Kelelawar, namun tetap saja mereka itu bersikap sembarangan dan tidak memakai aturan. Dan Pek-pi Siauw - kwi si Maling Cantik sudah menyebut-nya ong - ya, sebutan untuk raja, pangeran atau juga biasanya untuk menyebut "raja" di antara mereka. Sebutan yang sifatnya menjilat, bukan penghormatan dan penjilatan mengandung rasa takut.
Memang pilihan kakek itu amat menggelikan di samping mengejutkan. Hanya orang yang miring otaknya sajalah yang untuk mengadu ilmu mela-wan Raja Kelelawar memilih adu ilmu ginkang. Sama saja dengan bunuh diri, seperti ular mencari penggebuk. Seluruh dunia sudah mendengar bahwa di antara sekian banyak ilmunya yang mujijat, il-mu meringankan tubuh inilah justeru yang sangat diandalkan dan dibanggakan oleh mendiang Raja Kelelawar tua dahulu dan ilmu itu telah meng-angkat namanya setinggi langit. Dunia kang - ouw menganggap bahwa sukar dicari orang yang akan mampu menandingi Bu - eng Hwee - teng, ilmu "terbang" dari raja datuk kaum sesat itu. Sebaliknya, ilmunya yang lain, ilmu silatnya dan ilmu sinkangnya, masih dapat ditandingi oleh para tokoh kang-ouw yang sakti. Dan sekarang, kakek itu memilih ilmu yang hebat itu untuk menandinginya. Gilakah kakek ini ? Ataukah memang disengaja untuk menguji kebenaran pengakuan iblis hitam itu bahwa dia benar - benar keturunan mendiang manusia iblis Raja Kelelawar ?
Si iblis itu sendiri juga merasa amat heran dan terkejut. Dia memandang bimbang. Benarkah ka-kek ini ingin menghadapi ilmu ginkangnya yang tak pernah bertemu tanding itu ? Semenjak dia mempelajari ilmu warisan dari Baja Kelelawar, justeru ilmu itulah yang dipelajarinya secara sem- purna karena dia tahu bahwa ilmu ginkang Bu-eng Hwee - teng itu sukar dicari bandingannya di dunia persilatan. Apakah kakek ini sudah putus asa ataukah gila, ataukah justeru orang ini malah merasa yakin akan dapat mengatasi ilmu itu ? Sia-pakah orang ini ? Dia harus waspada karena pilihan yang aneh ini menimbulkan kecurigaan dan mungkin saja mengandung sesuatu di dalamnya. Bagaimanapun juga, dia amat percaya akan kemampuannya sendiri dalam hal ginkang dan selama ini belum pernah ada orang yang mampu menandingi ilmunya. Kakek itu sendiri, seorang kakek sederhana saja, agaknya maklum bahwa lawannya merasa bimbang atau memandang rendah dan semua orang men-tertawakan dirinya, maka diapun tertawa sambil mengangkat muka memandang ke langit.
"Ha - ha - ha - ha ! Kenapa kalian semua heran! mendengar aku ingin menghadapi Bu - eng Hwee-teng, ilmu yang amat tersohor dari mendiang Raja Kelelawar... eh, yang lama itu ?
Dengarlah kalian semua, aku sejak kecil pertama kali mempelajari ilmu silat adalah tentang ginkang ini. Sebelum belajar silat yang lain aku lebih dulu belajar ilmu meringankan tubuh! Ini penting sekali, karena aku dapat berlari cepat dan kalau kalah berkelahi, aku dapat mengandalkan ginkang ini untuk melari-kan diri dan aman ! Ha - ha - ha !"
Semua orang tertawa, mentertawakan kakek pikun yang mereka anggap sudah t;dak waras otak-nya ini. Melihat suasana yang tadinya begitu ter-pengaruh oleh kehadirannya sehingga semua orang nampak serius dan takut kini menjadi hambar oleh suara ketawa mereka karena ulah kakek ini, Raja Kelelawar menjadi marah. Dengan angkuh dia berkata, "Kakek pikun, menghadapi ilmuku Bu-eng Hwee - teng, engkau tidak usah memenangkan, asal dapat melayaninya saja cukuplah sudah. Kalau dapat menandingi saja, engkau boleh membawa pergi tujuh orang itu."
"Heh - heh, benarkah itu ? Heii, dengarlah semua saudara golongan hitam! Pemimpin baru kalian sudah berjanji dan biarpun golongan hitam, janji seorang pemimpin selalu harus dipegang teguh sebagai lambang kekuasaannya, karena hanya anjing rendah sajalah yang menjilat ludahnya sendiri yang sudah dikeluarkan. Terima kasih, marilah kita mulai. Eh, bagaimana aku harus menandingi ginkang Bu - eng Hwee - teng yang amat hebat itu ?"
Dengan suara yang tetap bernada tinggi, iblis berpakaian serba hitamitu berkata, "Ginkang mem-punyai dua manfaat, yaitu untuk berlari cepat dan untuk bergerak cepat dalam perkelahian. Nah, kita pertandingkan keduanya. Pertama - tama, kita berlumba menaruh dua buah batu ini ke atas puncak bukit di depan sana. Siapa yang kembali ke sini lebih dulu, dia menang."
"Batu - batu ini ?" Kakek itu menudingkan tongkatnya kepada dua buah batu sebesar perut kerbau yang berada di dekat tempat itu, di depan kuil. "Wah, tentu berat sekali."
"Orang yang berani menandingi Bu - eng Hwee-teng tentu tidak sukar membawa batu itu!" Tiba-tiba terdengar suara seorang di antara para tokoh kaum sesat itu.
Kakek itu mengangguk - angguk. "Biarlah, biar kucoba tenaga tubuhku yang sudah rapuh ini. Baik, aku setuju. Dan bagaimana dengan pertandingan ke dua ? Ingat, aku tidak menantangmu untuk berkelahi!"
"Tidak perlu berkelahi. Untuk pertandingan ke dua, kita masing-masing memakai sebatang daun pada lubang kancing baju dan kita saling berlumba mengambil daun itu dari tubuh lawan. Siapa yang kalah dulu dia kalah."
"Heh-heh-heh, bagus sekali permainan itu. Aku setuju ! Hayo kita mulai saja sekarang!" kata kakek bertongkat butut itu sambil mengangguk-angguk setuju.
Tanpa banyak cakap lagi iblis hitam itu lalu menghampiri dua buah batu. dan sengaja dia memilih batu yang lebih besar dan sekali kaki kirinya bergerak menendang, batu sebesar perut kerbau itu seperti sebuah bola karet yang ringan saja me-lambung ke atas dan diterima oleh tangan kirinya yang menyangganya di atas pundak kiri. Begitu mudahnya!
"Bersiaplah membawa batumu !" katanya kepada kakek itu di bawah tepuk sorak para tokoh kaum sesat yang memuji kehebatan tenaga si iblis hitam itu, walaupun banyak di antara mereka yang akan sanggup melakukan hal seperti itu.
Kakek itu memandang dengan mata terbelalak, seperti orang terkejut. "Wah, aku yang tua mana sanggup menggunakan tanganku yang sudah lemah ini untuk mengangkat batu sebesar itu
? Biar kuminta tolong tongkatku. Hei, tongkat tua, tolonglah aku sekali ini!" Dan tongkatnya itu lalu ditu-