Halo!

Darah Pendekar Chapter 30

Memuat...

Kwee Tiong Li yang biarpun masih muda akan tetapi telah menjadi kokcu atau ketua lembah, dan sebagai murid seorang yang terkenal sebagai seorang bengcu, pemimpin para pendekar patriot, telah mempunyai pengetahuan luas sekali tentang keadaan di dunia kang - ouw. Maka, ketika dia dalam pengintaiannya itu melihat keadaan para tokoh sesat yang mengadakan pertemuan di situ, sejak tadi dia mengerutkan alisnya dan hatinya merasa terguncang dan gelisah sekali. Bukan gelisah memikirkan nasib dia dan semua kawannya yang pada saat itu berada di dalam kuil sedang di luar kuil berkumpul demikian banyak tokoh sesat yang pandai, melainkan prihatin memikirkan keadaan dunia kalau semua orang jahat itu benar-benar bersatu. Tentu akan terjadi kemelut di dunia persilatan, pikirnya dan teringatlah dia akan penuturan gurunya. Menurut gurunya, di waktu dahulu pada jamannya Raja Kelelawar menjadi datuk atau raja kaum sesat, para pendekar merasa gelisah sekali dan juga berduka mendengar akan kejahatan yang merajalela di dunia tanpa dapat berbuat sesuatu. Sukarlah dicari pendekar yang mampu menandingi Raja Kelelawar ! Hanya ada empat orang saja di dunia pada waktu itu yang mampu menandingi Raja Kelelawar. Mereka berempat itu adalah kedua orang datuk, yaitu Bu-eng Sin - yok - ong datuk selatan dan Sin-kun Bu-tek datuk utara, dan dua orang datuk sesat yaitu Cui - beng Kui - ong pendiri Tai-bong-pai dan Kim-mo Sai - ong pendiri Soa - hu - pai. Akan tetapi, dua orang datuk putih dan dua orang datuk hitam ini sudah terlampau tinggi kedudukan mereka sehingga mereka tidak pernah mencampuri urusan dunia dengan turun tangan sendiri. Atau lebih tepat lagi, dua orang datuk golongan putih itu tidak mau mencampuri urusan dunia ramai sedangkan dua orang datuk golongan hitam tidak mengambil pusing dan tidak mau mencampuri urusan Raja Kelelawar walaupun hal ini bukan berarti mereka tidak berani. Sebaliknya, biarpun merajalela di dunia dengan congkaknya, namun Raja Kelelawar selalu menghindarkan bentrokan dengan pihak empat orang datuk itu. Tentu saja karena empat orang datuk itu tidak mau mencampuri urusannya, Raja Kelelawar malang melintang di dunia kang-ouw dengan leluasa.

Akan tetapi pada suatu hari, Raja Kelelawar melakukan suatu kesalahan besar sekali. Tanpa disengaja dia bentrok dengan seorang pemuda perkasa dan Raja Kelelawar membunuhnya.

Barulah dia menyesal dan terkejut setengah mati ketika mendengar bahwa pemuda itu bukan lain orang adalah putera dari Sin-kun Bu-tek, datuk golongan putih dari utara itu. Sin-kun Bu-tek mendengar akan kematian puteranya, langsung keluar dari tempat pertapaannya, mencari Raja Kelelawar. Setelah keduanya saling jumpa, tidak dapat dicegah lagi terjadilah perkelahian yang amat hebat, sampai berlangsung semalam suntuk dan akhirnya, hanya karena selisih sedikit saja tingkat kepandaian mereka, Raja Kelelawar terluka parah dan beberapa bulan kemudian dia meninggal dunia dalam keadaan sengsara, tanpa ada seorangpun yang menjaganya.

Demikianlah yang didengar oleh Kwee Tiong Li dari suhunya, oleh karena itu, melihat betapa kini ada orang mengundang semua tokoh penjahat dari tiga daerah kekuasaan itu, darat, sungai dan lautan itu berkumpul di situ dan orang itu mengaku sebagai keturunan Raja Kelelawar, tentu saja hati pendekar ini merasa gelisah sekali. Apa lagi peristiwa ini muncul pada saat pemerintah dipimpin oleh seorang kaisar yang lalim seperti Kaisar Cin Si Hong - te !

Sementara itu, keadaan di luar kuil itu menjadi semakin menegangkan. Jai - hwa Toat - beng - kwi dan Pek-pi Siauw-kwi tidak berani membantah ketika Sin - go Mo Kai Ci menegur mereka dan me-lihat betapa si Maling Cantik itu kelihatan jerih kepadanya, Sin - go Mo Kai Ci yang merasa unggul itu menjadi bangga dan diapun tertawa menyeringai lalu berkata, "Maling cilik, apakah engkau ingin mengadu kepada rajamu, si Harimau Hitam Ompong itu ? Ha - ha - ha !" Tentu saja ucapan ini sifatnya amat mengejek. Maling Cantik disebut Maling Cilik, dan San - hek - houw si Harimau Gunung Hitam dinamakan Harimau Hitam Ompong. Biarpun jerih terhadap si gendut pendek itu, namun Pek - pi Siauw - kwi bukanlah orang penakut. Penghinaan itu, yang didengarkan oleh banyak orang, apa lagi penghinaan terhadap pelin-dungnya, si Harimau Gunung, membuat mukanya yang cantik menjadi merah sekali. Ia mengeluarkan suara mendengus, lalu kembali ia melengking nyaring dan tubuhnya berkelebat cepat. Melihat gelagat ini, orang - orang lain sudah surut ke belakang. Wanita cantik itu lalu meloncat cepat dan tangan kanannya menampar ke arah kepala Sin - go Mo Kai Ci si Buaya Sakti. Akan tetapi sambil menyeringai dan memanggul senjata penggadanya yang berat di atas pundak kanan, si Buaya Sakti mengangkat tangan kirinya dan dengan tangan terbuka didorongkan tangan kirinya ke arah tubuh wanita yang sedang menerjangnya dari atas itu.

"Ihhh. !" Maling Cantik menjerit, rambut dan bajunya berkibar tersambar angin pukulan

itu dan ia sendiri terpaksa harus berjungkir balik tiga kali ke samping untuk menghindarkan diri dari pukulan jarak jauh yang amat kuat tadi. Semua orang berseru kagum akan kelihaian tenaga sin-kang dari Buaya Sakti dan kelincahan tubuh Maling Cantik itu. Akan tetapi, segebrakan itu saja sudah cukup untuk dimengerti orang bahwa Maling Cantik akan kalah. Melihat ini, terpaksa Tiat - ciang Ciong Lek dan Jai - hwa Toat - beng - kwi serentak melompat ke depan. Tak mungkin mereka berdiam diri melihat Maling Cantik diancam oleh Buaya Sakti. Boleh jadi mereka berdua kadang-kadang saling gempur sendiri, namun betapapun juga, mereka adalah segolongan, yaitu golongan penjahat daratan. Kini melihat rekannya terancam oleh raja bajak sungai tentu saja mereka tidak tinggal diam. Tiga orang tokoh sesat golongan darat ini sudah siap sedia untuk mengeroyok Buaya Sakti yang masih nampak tenang sambil tersenyum mengejek itu.

"Ciiiittt... cuiitttt... plak-plak-plakk. " Suara ini terdengar secara tiba - tiba di angkasa.

Semua orang terkejut sekali ketika berdongak dan melihat ke angkasa. Seekor kelelawar raksasa hi-tam, dengan panjang sayapnya tidak kurang dari satu setengah meter, beterbangan di atas, berpu-tar-putar di atas kuil!

Semua orang yang hadir, baik yang berada di luar maupun yang bersembunyi di dalam kuil, belum pernah ada yang bertemu dengan Raja Kelelawar. Akan tetapi mereka semua sudah mendengar akan ciri-ciri kebesaran datuk junjungan dunia sesat itu. Menurut keterangan yang mereka peroleh, dahulu Raja Kelelawar selalu berpakaian serba hitam dengan jubah kebesaran yang berwarna hitam pula, jubah hitam yang kabarnya dapat menahan segala macam senjata. Di pinggangnya terselip dua batang pisau panjang yang gagangnya berbentuk kepala kelelawar.

Pisaunya berwarna kuning keemasan dan gagangnya dihias berpuluh permata berlian sehingga di dalam gelap atau terang, gagang itu gemerlapan dan berpijar - pijar. Sepasang pisau panjang itu kabarnya mengandung racun yang tak dapat disembuhkan dengan sembarang obat, kecuali obat dari Kelelawar Hitam itu sendiri atau mungkin juga hanya Si Tabib Sakti sajalah yang tahu akan obat penawarnya. Dan ada kabar pula bahwa ke manapun Raja Kelelawar itu pergi, selalu ada seekor kelelawar raksasa yang mengikutinya dari atas. Tentu saja berita itu ham-pir merupakan dongeng dan mereka hanya percaya setengahnya saja. Akan tetapi, setelah kini muncul kelelawar raksasa itu, semua orang saling pandang dan bergidik, bulu roma mereka serentak meremang dan mulailah mereka menduga - duga dengan harap - harap cemas bahwa pengundang mereka itu benar - benar ada hubungannya dengan mendiang Raja Kelelawar Hitam !

Hati semua tokoh dunia sesat yang berada di situ mengikuti gerakan kelelawar yang beterbangan di atas itu. Bermacam perasaan mengaduk di hati mereka. Ada rasa gembira karena kalau betul-betul ada keturunan Raja Kelelawar yang hebat seperti Raja Kelelawar itu sendiri, maka berarti derajat mereka akan terangkat tinggi dan dunia hitam akan memperoleh kejayaannya lagi. Akan tetapi juga ada semacam rasa takut, karena mereka mendengar bahwa Raja Kelelawar berperangai aneh dan kejamnya tidak lumrah manusia lagi, melainkan seperti setan-setan penjaga neraka!

Sin-go Mo Kai Ci, si Buaya Sakti, raja dari sekalian orang jahat yang beroperasi di sungai - sungai, merasa betapa jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya gemetar. Teringat dia akan penga-lamannya sebulan yang lalu. Dia sedang berperahu di waktu malam, di Sungai Huang-ho. Kemudian, muncul sesosok tubuh manusia yang hanya nampak sebagai bayangan hitam di tepi sungai. Bayangan itu mengeluarkan kata - kata yang terdengar seperti bisikan di dekat telinganya bahwa dia adalah keturunan Raja Kelelawar! Kemudian orang itu melemparkan sesuatu yang ternyata adalah sehelai gulungan surat undangan. Lemparan dilakukan dari tepi sungai dan yang dilemparkan hanya benda yang ringan saja. Akan tetapi surat itu dapat meluncur sedemikian cepatnya, merobek layar perahu dan menempel di tiang perahu! Ke pandaian seperti itu amatlah luar biasa, maka Bua-ya Sakti ini merasa yakin dan diapun datang ke puncak Merak Putih, memenuhi undangan. Dan kini, benar saja ada seekor kelelawar raksasa be-terbangan di tempat itu.

Semua mata mengikuti gerakan kelelawar itu, Biasanya, kelelawar tidak muncul di pagi hari se-telah matahari bersinar terang, karena kabarnya binatang itu tidak dapat melihat di waktu siang. Akan tetapi kelelawar itu beterbangan mengitari tempat itu sambil matanya yang mencorong ditujukan ke bawah, kepada orang-orang yang me-mandang ketakutan itu. Kemudian binatang itu menukik ke bawah dan memasuki kelebatan daun siong yang berdiri di ujung depan kuil, lalu mencengkeram dahan dan bergantung di tempat itu. Dahan itu melengkung bergoyang - goyang saking beratnya kelelawar raksasa itu, telinganya yang panjang bergerak - gerak, juga kepalanya bergerak menoleh ke kanan kiri dan kadang-kadang moncongnya memperdengarkan suara bercicitan nyaring.

Tiba - tiba terdengar auman suara harimau ! Semua orang terkejut mendengar auman nyaring yang tiba - tiba ini, apa lagi karena baru saja hati mereka terguncang penuh kengerian oleh munculnya kele-lawar raksasa. Akan tetapi Sin - go Mo Kai Ci Buaya Sakti lalu tersenyum sendiri. Kenapa dia begitu bodoh ? Dia tahu bahwa itu adalah pertan-da munculnya tokoh saingannya yang berat, yaitu San - hek - houw, raja dunia hitam di darat. Di tidak perlu merasa takut karena dia maklum bahwa tingkat kepandaiannya seimbang dengan tingkat si Harimau Gunung itu. Apa lagi, baru saja dia mematangkan ilmunya dengan jalan bertapa sampai tiga bulan lamanya. Dia berdiri tenang dan meng ambil sikap seenaknya, seolah - olah dia memandang rendah dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Tak lama kemudian semua orang yang sudah menoleh ke arah datangnya suara auman harimau tadi melihat munculnya bayangan seorang pria yang tinggi besar, mendaki puncak menuju ke arah kuil. Di belakang orang tinggi besar ini nampak sepasang harimau kumbang berlari - lari mengikuti, jinak seperti dua ekor anjing saja, padahal dua ekor binatang itu besar dan nampak kuat sekali. Bulunya yang berwarna hitam itu mengkilap karena peluh. Sebentar saja, orang tinggi besar itu telah berada di tengah - tengah halaman kuil. O-rang - orang agak menjauh melihat dua ekor harimau itu yang melangkah tenang di kanan kiri majikannya, sepasang mata mereka mencorong dan kadang - kadang terdengar geraman lirih dari kerongkongan mereka diikuti bibir yang ditarik naik sehingga nampak taring yang meruncing. Dua ekor binatang itu nampak ganas dan buas, juga kuat sekali. San - hek - houw yang usianya kurang lebih limapuluh tahun dan nampak gagah perkasa itu gelangkah mendekati Maling Cantik, Penjahat Ca-bul dan Si Tangan Besi yang tadi sudah siap mengeroyok Buaya Sakti itu. Mereka bertiga kelihatan pucat dan merasa ngeri berhadapan dengan raja kaum penjahat di daratan ini, karena merekapun tahu betapa galaknya raja mereka itu.

Tiba-tiba kakek tinggi besar ini menggerakkan lengan kirinya, cepat sekali gerakannya dan tahu-tahu terdengar suara "plakk!!" dan pipi Maling Cantik telah ditamparnya sampai tubuh wanita itu terhuyung dan hampir terpelanting.

Pek Lian yang mengintai dari dalam, hampir saja berteriak marah menyaksikan kebiadaban si tinggi besar ini, yang tanpa alasan tahu-tahu menampar pipi seorang wanita di depan banyak orang. Sungguh tidak sopan dan keji sekali. Akan tetapi setelah ia teringat bahwa mereka semua itu adalah orang - orang dari dunia hitam yang tidak beradab, maka iapun menahan kemarahannya dan ha-nya mengintai dengan penuh perhatian.

"Kau tadi berkata apa ? Berani engkau bicara yang bukan-bukan tentang beliau ? Apa lagi engkau, sedangkan aku sendiri saja tidak berani melawannya dan semua orang di sini tidak ada yang dapat dibandingkan dengan beliau. Kepandaian kita semua tidak ada sekuku hitamnya.

Post a Comment