Halo!

Darah Pendekar Chapter 25

Memuat...

Pek Lian tidak sangsi lagi, mengambil sebutir pel berwarna hitam dan menelannya. Begitu ditelan, terasa olehnya hawa panas sekali dan terasa seolah-olah pel itu hancur dalam pencernaannya dan mengeluarkan hawa panas dan pedas seperti lada. Akan tetapi, rasa dingin yang tadinya sudah membuatnya menggigil itu lenyap ! Dan ketika ia menggerahkan sinkangnya. diputar-putar di sekitar perut dan dada, sudah tidak terasa lagi kenyerian seperti tadi.

"Dia benar! Pel ini manjur bukan main !" so-raknya. "A-hai, berilah mereka masing-masing sebutir, merekapun menjadi korban pukulan itu tadi!" Dan dua orang guru Pek Lian itu menerima masing-masing sebutir pel yang segera mereka telan dan seperti juga Pek Lian, keduanya seketika menjadi sembuh dan sehat kembali! Tentu saja mereka berduapun menjadi girang bukan main.

"Wah, terima kasih, A-hai. Tak kusangka engkau sehebat ini, pandai mengobati! Sekarang apakah engkau mempunyai obat untuk sahabat kami ini ?" Pek Lian menunjuk kepada pemuda kokcu dari Lembah Yang-ce yang terluka lebih parah itu. "Dia juga terkena pukulan- pukulan yang hebat sekali" Pek Lian tidak dapat melanjutkan karena di waktu ia menonton perkelahian itu, ia melihat pemuda ini roboh oleh pukulan gabungan dari dua orang pengawal Jenderal Beng Tian, akan tetapi ia tidak tahu jelas apa macam pukulan itu.

Melihat keraguan dara itu, kokcu dari Lembah Yang-ce lalu berkata dengan suara lemah dan mulut menyeringai menahan nyeri, "Pukulan mereka tidak mengandung hawa beracun, akan tetapi karena amat kuat, mematahkan dua tulang iga dan aku terluka karena tenaga sendiri yang membalik.”

A-hai tidak kelihatan bingung, malah terse-nyum. "Bagus! Itu ada obatnya ! Nah, lebih dulu telan ini untuk membebaskan darah dari keracunan, lalu yang ini untuk menguatkan isi perut yang terguncang oleh pukulan kuat, kemudian ini ditelan untuk mempercepat kembalinya tenaga murni. Adapun tulang patah itu, ah, mudah saja. Aku mempunyai obat param untuk itu." Dia membuka sebuah bungkusan lain yang terisi bubuk kuning yang cukup banyak. "Ini harus dicampur dengan putih telur, lalu diparamkan dan dibalut kuat-kuat. Dalam waktu satu dua hari saja tulang-tulang itu akan tersambung kembali!"

Melihat hasil obat-obat itu pada diri Pek Lian dan dua orang gurunya, kokcu Lembah Yang-ce percaya bahwa agaknya pemuda tinggi besar ini adalah seorang pandai yang menyamar sebagai orang tolol, maka diapun tanpa ragu-ragu lagi lalu menelan obat-obat itu. Dan memang manjurnya bukan main! Dia cepat duduk bersila setelah jalan darahnya pulih kembali dan pernapasannya normal, untuk melakukan siulian dan menghimpun tenaga dan hawa murni. Akan tetapi A-hai yang kebingungan.

"Wah, di tempat seperti ini, di mana mencari telur ?" Dia menoleh ke sana-sini dan akhirnya melihat burung- burung walet beterbangan dengan cepatnya memasuki ruangan itu dan lenyap di sebuah lubang di atas. "Ah, di sana tentu terdapat banyak telur burung. Akan tetapi, bagaimana mencari dan mengambilnya ?"

"Jangan khawatir, aku akan mencari dan meng-ambilnya !" tiba-tiba seorang kakek dari Lembah Yang-ce berkata dan diapun lalu memanjat dinding itu dengan mempergunakan Ilmu Cecak Merayap sehingga kaki tangannya seperti menempel pada dinding ketika perlahan-lahan dia terus merayap ke atas, sampai di lubang di mana burung-burung walet tadi beterbangan. Begitu dia tiba di lubang, dan memasuki lubang gelap itu, burung-burung walet beterbangan keluar dengan mengeluarkan bunyi panik. Kakek itu terus merayap masuk sampai tubuhnya lenyap ke dalam lubang dan hanya nampak kedua kakinya saja. Tak lama kemudian, kakek ini sudah keluar lagi dan meloncat turun sambil membawa dua genggam telur burung!

"Bagus ! Wah, paman sungguh lihai sekali !" A-hai memuji dengan girang ketika dia menerima telur-telur burung itu.

"Ah, apa artinya sedikit kemampuanku itu di-bandingkan dengan kelihaian taihiap ?" Kakek itu merendah dan menjura kepada A-hai dengan penuh kekaguman karena memang hatinya girang dan kagum sekali melihat betapa kokcunya dapat disembuhkan secara demikian mudahnya.

"Apa ? Siapa yang paman sebut taihiap ? Aku ? Wah, jangan bergurau, ah!" A-hai berkata dan dengan hati- hati diapun lalu mencampur putih te-lur-telur itu dengan obat kuning di atas permukaan batu yang sudah ditiupnya sampai bersih betul. Kemudian, dia menaburi iga yang patah itu di atas dada kokcu Lembah Yang-ce setelah tiga orang kakek membantunya dan membuka baju pemuda itu. Dan A-hai tanpa ragu-ragu lagi lalu merobek sabuknya yang panjang untuk membalut dada itu. Melihat ini, diam - diam semua orang kagum sekali. Pemuda ini, biarpun nampak tolol, ternyata selain ahli pengobatan, juga mempunyai budi yang mulia, tanpa ragu-ragu mengorbankan pakaiannya untuk menolong orang. Pandang mata Pek Lian terhadap pemuda ini menjadi semakin kagum dan mesra.

Setelah diberi obat dan dibalut dada itu, kokcu Lembah Yang-ce, orang muda yang berilmu tinggi itu, merasa betul betapa hawa hangat yang aneh masuk dari luar. Tahulah dia bahwa obat itu memang mujarab sekali, maka diapun lalu menjura ke arah A-hai. "Saudara telah melepas budi yang amat besar kepada kami. Mudah-mudahan pada saat lain kami akan berkesempatan untuk membalasnya."

A - hai hanya tersenyum dan balas menjura de-ngan canggung, tidak tahu harus berkata apa. Me-lihat ini, Pek Lian mendekatinya. Kini semua orang telah diobati. Dua orang gurunya, seperti juga kokcu Lembah Yang-ce itu, duduk bersila menghimpun hawa murni untuk menyempurnakan pengobatan itu. Ia sendiri merasa sudah sembuh sama sekali, terdorong oleh rasa girang dan juga bangga. Sungguh aneh mengapa ia berbangga atas kemampuan pemuda tolol ini!

"A-hai, sungguh mati aku merasa kagum dan heran. Baru saja mengenalmu, ternyata engkau memiliki kepandaian mengobati orang dengan hebat ! Siapa sih gurumu dalam ilmu ketabiban ini ?" Ia sengaja bertanya sambil lalu, dan sambil bergurau tersenyum agar jangan sampai mengejutkan pemuda itu.

Akan tetapi, ia menjadi heran ketika melihat pemuda itu tertawa bergelak. "Ha-ha-ha, ketabiban apa lagi ? Aku bukan tabib dan tidak mengenal ilmu ketabiban sama sekali! Aku mendapatkan obat-obat ini dengan keterangan tentang pengobatannya sebagai hadiah karena aku membantu orang mencari kalajengking hijau. Hanya aku yang tahu tempat binatang itu di daerah ini, maka orang itu menjadi girang dan memberi hadiah setelah aku menunjukkan tempatnya kepadanya."

"Orang apa ? Siapa dia ?" tanya Pek Lian, ha-tinya tertarik, bukan kepada orang yang diceritakan itu, melainkan mengharap kalau-kalau keterangan itu sedikitnya akan membuka sedikit tentang pemuda aneh itu.

"Wah, dia orang yang aneh, hebat bukan main dia. Ha-ha, seperti orang gila, dan memang agaknya dia sudah gila. Bayangkan saja, kalajengking hijau itu beracun luar biasa, baru memegang dengan tangan saja dapat meracuni orang. Dan apa yang dilakukan oleh orang itu ? Dia menelannya bulat-bulat! Ha-ha-ha !"

"Ah, tidak salah lagi. Tentu dia seorang iblis-dari Pulau Selaksa Setan ! Apakah orangnya bertubuh gendut, gemuk bulat seperti bola, mata dan kulit tubuhnya kehijau-hijauan ?" tanya seorang di antara tiga kakek tokoh Lembah Yang-ce.

"Benar sekali, ha-ha, dia bundar seperti bola dan kalau berjalan seperti bola menggelinding ke sana-sini. Lucu sekali. Dan memang kulitnya hijau seperti seperti kalajengking-kalajengking itu. Agaknya memang dia terlalu banyak makan kalajengking." Pemuda tolol itu kelihatan begitu gembira, akan tetapi kalau dia bicara dan tertawa dia selalu memandang wajah Pek Lian yang

memandangnya dengan kagum, walaupun dia menjawab ucapan orang lain. "Apakah kalian sudah mengenal orang itu ?" Akhirnya dia bertanya.

"Aihh ! Dia tentu seorang tokoh dari Pulau Selaksa Setan ! Sekarang aku yakin akan hal itu." "Apakah paman sudah mengenal iblis-iblis dari pulau terkutuk itu?" tiba-tiba Pek Lian

bertanya, hatinya tertarik sekali karena selain ia pernah mendengar serba sedikit tentang adanya Ban-kwi-to (Pulau Selaksa Setan), juga ketika kakek dan nenek iblis yang muncul dari dalam gerobak itu mengamuk, kepandaian mereka itu hebat bukan main dan Jenderal Beng Tian sendiri, yang memiliki ilmu kepandaian sangat tinggi, nampak terkejut dan gentar, dan menyebut bahwa kakek dan nenek itu adalah iblis-iblis pulau terkutuk.

Tokoh Lembah Yang-ce itu menarik napas panjang. Setelah para tokoh Lembah Yang-ce itu me-ngenal Pek Lian sebagai puteri Menteri Ho yang; amat terkenal itu, sikap mereka amat menghormat-nya. Kakek inipun menarik napas panjang. "Ho-siocia, kalau dibilang mengenal mereka, saya belum pernah mendapat kesempatan untuk berkenalan dan kalau bisa diminta, mudah-mudahan selamanya saya tidak mengenal mereka." Dia bergidik dan nampak gentar sekali. "Akan tetapi saya mendengar banyak tentang mereka. Mereka berjumlah tujuh orang dan menjadi majikan-majikan Pulau Selaksa Setan itu. Agar nona dan semua saudara ketahui dan bersikap hati- hati kalau tidak kebetulan bertemu muka dengan mereka, biar saya perkenalkan keadaan mereka itu."

Kakek itu lalu memberi gambaran yang jelas tentang Jit-kwi (Tujuh Iblis) itu. Orang pertama yang menjadi tocu (majikan pulau) dari Ban-kwi-to adalah seorang yang tubuhnya pendek kecil, akan tetapi mudah dikenal karena mukanya yang meruncing seperti muka tikus. Karena mukanya seperti tikus inilah maka dia mendapat julukan Te-tok-ci (Tikus Beracun Bumi), selain memiliki kesaktian yang luar biasa, juga wataknya licik dan kejam bukan main. Yang menjadi orang ke dua adalah sutenya, dengan bentuk tubuh yang menjadi kebalikan dari pada orang pertama. Orang ke dua ini bertubuh tinggi besar seperti raksasa yang berjuluk Tiat-siang- kwi (Setan Gajah Besi) dan kabarnya raksasa ini suka makan daging manusia! Orang yang ke tiga dan ke empat adalah sepasang wanita kembar. Mereka berdua ini memiliki keahlian untuk pian- hwa (mengubah diri) dan mereka itu sukar dibedakan satu antara yang lain karena bentuk tubuh dan raut wajah yang serupa benar. Orang-orang di dunia kang-ouw mengenal mereka dengan julukan Jeng-bin Siang-kwi (Sepasang Tblis Bermuka Seribu). Adapun orang yang ke lima adalah orang gendut bundar yang mungkin sekali adalah orang yang mencari kalajengking hijau dan

bertemu dengan taihiap eh, saudara ini. Julukannya adalah Thian-te Tok-ong (Raja Racun Langit Bumi) dan keahliannya tentang racun amat mengerikan. Kemudian orang yang ke enam dan ke tujuh adalah sepasang suami isteri, kakek dan nenek yang pernah kita lihat muncul dari dalam gerobak itu.

"Suami isteri tua bangka itu terkenal cabul dan tak tahu malu, akan tetapi juga lihai bukan main, terutama ilmu pukulan mereka Im-yang Tok-kun. Kita harus berhati-hati kalau bertemu dengan mereka itu. Untung sekali bahwa orang muda perkasa ini memperoleh obat-obatan dari Thian-te Tok-kun sendiri. Kalau tidak, sukarlah mengobati dan kita mungkin akan menjadi penderita cacat, kecuali kalau bisa memperoleh pengobatan dari mendiang Si Tabib Sakti." Kakek itu mengakhiri ceritanya dan kini mengertilah Pek Lian mengapa mereka begitu berterima kasih dan menghormat kepada A-hai yang telah menyelamatkan mereka, terutama kokcu mereka.

Ketika malam berikutnya tiba, keadaan mereka telah baik kembali, tubuh mereka telah sehat dan segar kembali, kecuali Kwee Tiong Li, pemuda yang menjadi kokcu (majikan lembah) Yang-ce itu. Pemuda yang pendiam dan tampan berwibawa ini, bersikap sederhana dan jarang bicara, dan ketika mereka saling memperkenalkan diri, dia hanya memperkenalkan namanya sebagai Kwee Tiong Li. Padahal, pemuda ini yang baru berusia duapuluh dua tahun, adalah murid terkasih dari bengcu (pemimpin rakyat) yang terkenal itu, yaitu Chu Siang Yu, tokoh para patriot Lembah Yang-ce yang ditakuti oleh pasukan pemerintah. Kalau yang lain-lain telah sembuh sama sekali, hanya Kwee Tiong Li saja yang biarpun tubuhnya tidak lagi keracunan berkat obat pemberian A-hai namun tubuhnya masih lemas dan lemah. Dia harus-banyak beristirahat dan bersiulian (bersamadhi) untuk memulihkan tenaganya dan menghimpun hawa murni.

Menjelang tengah malam, barulah A - hai ber--kata, "Sekaranglah tiba saatnya bagi kita untuk, keluar dari sini."

"Keluar ? A-hai, bagaimana kita bisa keluar dari sini ? Kembali melalui jalan ketika kita masuk

?" tanya Pek Lian terkejut dan ngeri mengingat kembali jalan masuk yang amat sukar itu, akan tetapi yang membuat jantungnya berdebar kalau ia teringat betapa dalam keadaan pingsan ia dipondong oleh A-hai melalui perjalanan yang demikian sukarnya.

A-hai tersenyum dan menggeleng kepala. "Ada jalan rahasia di tempat ini dan hanya aku yang tahu, secara kebetulan saja." Diapun lalu mengo-rek - ngorek lantai di sudut ruangan itu dan nam-paklah sebuah tutup besi bundar yang garis te-ngahnya kira - kira setengah meter. Ternyata di bawah tutup besi itu terdapat lubang yang hitam gelap dan kalau saja di situ tidak ada A-hai yang sudah mengenal jalan, tentu mereka akan mempertimbangkan masak - masak lebih dulu sebelum memasuki lubang yang menganga hitam gelap itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment