Halo!

Darah Pendekar Chapter 24

Memuat...

Pek Lian melihat betapa pemuda itu ketakutan. Hal ini merupakan tanda bahwa pemuda itu justeru berada dalam keadaan normal dan tidak sedang kumat. Maka diapun lalu turun dengan menahan rasa dingin tubuhnya, diturut oleh dua orang gurunya.

"Dia dapat dipercaya. Mari cepat!" katanya kepada tiga orang kakek Lembah Yang - ce yang tentu saja tidak ragu - ragu lagi, karena keadaan amat mendesak. Pemuda tinggi besar itu melihat Pek Lian menggigil, lalu memegang tangan gadis itu.

"Pek Lian, engkau sakit ? Ihhhh . . . ! Tanganmu seperti salju!" Dan digandengnya dara itu, dibawanya lari dengan hati-hati. Pek Lian menurut saja karena memang iapun merasa pening dan larinya terhuyung. Kim - suipoa dan Pek - bin-houw saling bantu dengan bergandeng tangan, lalu dibantu oleh dua orang kakek. Kakek ke tiga me-mondong tubuh kokcu Lembah Yang - ce.

Pemuda yang menggandeng Pek Lian itu memasuki sebuah kuil kuno yang rusak di tepi hutan, lalu menuju ke bagian belakang. Tiba-tiba Pek Lian mengeluh, dan tubuhnya menjadi panas sekali, kepalanya pening dan matanya berkunang - ku-nang. Hampir berbareng dengan kedua orang suhunya, iapun terpelanting. Untung A - hai cepat menyambar dan memondongnya. "Ah, celaka Pek Lian! Pek Lian ! Ah, badannya panas sekali ... ah, jangan-jangan ia mati !"

Tiga orang kakek Lembah Yang-ce itu terheran-heran melihat sikap pemuda ini. Mereka ma- sing - masing kini memondong seorang. Akan tetapi karena agaknya keselamatan mereka berada di tangan pemuda itu, merekapun hanya mengikuti saja ketika pemuda itu berjalan terus. Di kamar belakang yang amat kotor, penuh dengan rumput tinggi, pemuda itu membuka tutup sumur bekas tempat pembuangan kotoran dari kamar mandi dan kakus! Begitu tutup sumur dibuka, bau busuk menyerang hidung mereka. Akan tetapi, pemuda itu memberi isyarat agar mereka semua mengikutinya memasuki lubang sumur kotor itu! Ada tangga di situ dan dengan susah payah,

yang sehat membawa dan menarik yang sakit melalui tangga sampai ke tengah - tengah sumur. Kakek Lembah Yang-ce yang turun terakhir, tidak lupa menutupkan papan penutup sumur kembali.

Sebelum mereka tiba di dasar lubang kotoran itu, tangganya sudah habis dan di lambung sumur terdapat sebuah lubang sebesar perut kerbau. Kini terpaksa yang sakit tidak dipondong lagi, melainkan dibantu memasuki lubang seorang demi seorang. Kokcu Lembah Yang - ce sudah siuman, dan dengan gerakan lemah sekali diapun merangkak, dibantu oleh seorang kakek. Tentu saja perjalanan ini amat sukar karena empat orang dari mereka terluka dan keracunan, walaupun yang amat parah hanya kokcu Lembah Yang-ce itu saja. Lubang sebesar perut kerbau itu ternyata amat panjang, gelap dan licin karena becek dan basah.

Pemuda yang menjadi penunjuk jalan itu berkali - kali terpeleset dan kepalanya terbentur dinding tanah. Pek Lian yang berada di belakangnya dan digandengnya, berkali kali harus menjaga agar jangan sampai pemuda ini lecet atau mengeluarkan darah. Bergidik ngeri ia kalau membayangkan betapa di tempat seperti itu, penyakit pemuda itu kambuh. Bisa berabe benar- benar ! Maka iapun mengajak bicara pemuda itu, biarpun kepalanya pening dan tubuhnya masih kadang - kadang dingin kadang- kadang panas.

"Hati - hati, A - hai, jalannya licin. Awas jangan jatuh dan lihat atas, kepalamu bisa terbentur batu '"

Akhirnya A - hai tertawa. "Pek Lian, engkau sendiri yang payah dan sakit, masih memperingatkan aku. Jaga baik - baik dirimu sendiri."

Melihat sikap Pek Lian ini, empat orang tokoh Lembah Yang - ce juga merasa heran.

Memang lucu sekali, pikir mereka. Pemuda tinggi besar itu dalam keadaan sehat dan menjadi petunjuk jalan, sedangkan gadis itu terluka pukulan sakti akan tetapi kenapa justeru gad's itu yang terus-menerus memperingatkan pemuda itu agar berha ti - hati ? Akan tetapi tentu saja Kim - suipoa dan Pek - bin - houw tidak merasa heran, bahkan merekapun diam - diam menyetujui sikap Pek Lian itu, karena mereka tahu babwa kalau sampai pemuda itu terbentur dan jatuh lalu terluka, akibatnya mereka tidak berani membayangkan. Kalau pemuda itu kumat, wah, tentu akan mengerikan sekali dan bukan mustahil kalau mereka semua mati konyol di tangan pemuda itu ! Setelah merangkak - rangkak secara susah pa-yah lebih dari satu jam lamanya, tibalah di suatu tempat dataran lapang yang dikelilingi tembok-tembok kuno yang tebal, merupakan ruangan yang panjang dengan dinding tembok dan atasnya dari batu.

"Tempat apakah ini, A - hai ?" tanya Pek Lian. "Ruangan ini berada di bawah tembok benteng kota Ki - han," jawab pemuda itu sambil menyalakan sebatang lilin yang terdapat di tepi tembok. "Aku menemukannya beberapa hari yang lalu secara kebetulan saja. Aku mengejar seekor kelinci yang memasuki lubang sumur itu dan akupun bisa sampai ke tempat ini. Dari sini ada terowongan yang menembus keluar, ke parit - parit di luar benteng. Malam nanti kita dapat melarikan diri melalui terowongan itu."

Empat orang tokoh Lembah Yang-ce, ketika merangkak- rangkak di belakang tadi, sudah diberi tahu dengan bisikan-bisikan oleh Kim-suipoa dan Pek-bin-houw tentang diri pemuda ini yang sama sekali tidak dapat ditanyai riwayatnya. Karena itu, merekapun diam saja dan membiarkan Pe Lian saja yang bicara, karena agaknya pemuda itu kenal baik dengan Pek Lian. Mendengar keterangan tentang tempat ini, mereka menjadi lega. Untuk sementara, agaknya para perajurit tidak akan dapat menemukan mereka dan diam-diam merekapun berterima kasih kepada pemuda yang dipanggil dengan nama A-hai itu. Tanpa adanya pemuda itu, dalam keadaan luka-luka, sukarlah bagi mereka untuk dapat diselamatkan oleh tiga orang kakek Lembah Yang-ce.

A-hai lalu memanjat dinding yang kasar itu untuk menaruh lilin di dalam sebuah lubang. Se- telah dia meletakkan lilin itu di dalam lubang, maka ruangan itu menjadi lebih terang. Akan tetapi ketika dia turun, sebuah batu tembok terlepas, ka-kinya terpeleset dan diapun jatuh terduduk. Pek Lian dan dua orang gurunya terkejut dan memandang dengan mata terbelalak dan muka berobah. Akan tetapi mereka menarik napas lega ketika-melihat pemuda itu hanya menyeringai kemalu- maluan dan bangkit kembali.

Bagaimana pemuda yang setolol ini dapat berubah menjadi demikian luar biasa lihainya ? Demikian Pek Lian berpikir sambil memandang penuh keheranan. Apakah benar-benar dalam keadaan sadar selemah ini ? Akan tetapi kenapa ketika diajarnya membelah kayu dengan tangan kosong, pemuda ini dapat melakukannya sedemikan mudahnya ? Apakah semua ini hanya permainan sandiwara belaka ?

Keheranan hati Pek Lian bertambah ketika pemuda itu kini mengeluarkan berbagai macam bungkusan dari dalam saku bajunya. Kiranya dia tadi menyalakan lilin dan menaruhnya di atas memang ada maksudnya, yaitu agar dia memperoleh cukup penerangan untuk mengeluarkan obat-obatan dari dalam saku bajunya. Sambil membuka-buka bungkusan bermacam - macam itu ia menunjuk kepada obat - obatan yang berupa bubuk berbagai warna dan butiran-butiran besar kecil sambil berkata, "Ini obat untuk luka akibat senjata beracun, dan ini dapat menyedot racun yang mengeram di dalam tubuh, dan pel kecil ini dapat diminum untuk membebaskan darah dari keracunan, dan yang besar ini untuk membersihkan isi perut. Bubuk putih ini kalau disedot dapat menawarkan racun yang tersedot orang melalui asap beracun, dan yang ini kalau ditelan dapat mempercepat kembalinya tenaga murni."

Semua orang memandang bengong. Kiranya pemuda ketolol-tololan ini adalah seorang ahli pengobatan, terutama sekali pengobatan tentang orang keracunan ! Bukan keracunan biasa, melainkan akibat dari serangan- serangan pukulan sakti yang beracun. Biasanya, ilmu pengobatan seperti ini hanya dimiliki oleh ahli-ahli silat tingkat tinggi atau orang - orang yang memang ahli dalam menggunakan segala macam serangan beracun itu. Akan tetapi Pek Lian yang cerdik itu tidak memberi komentar apa-apa. Dara ini menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada A-hai. akan tetapi iapun maklum akan keadaan pemuda ini yang seolah-olah berada di antara dua dunia atau dua kesadaran, yang kadang-kadang membuatnya nampak ketolol-tololan. Maka, melihat obat- obat itu, iapun lalu berkata dengan suara yang sungguh-sungguh,

"A-hai, aku menjadi korban pukulan yang men-datangkan panas dingin, pukulan beracun yang di-lakukan oleh iblis- iblis bertangan hijau."

"Ah ! Itu tentu pukulan kalajengking hijau !" seru A-hai dan nampak gembira. "Kebetulan sekali, inilah dia obatnya. Lekas telan sebutir dan engkau akan sembuh, Pek Lian!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment