"Suhu, ternyata di dunia ini demikian banyak-nya orang - orang yang memiliki ilmu silat sedemi-kian tingginya." Dalam suara Pek Lian terkandung kekecewaan karena dara ini melihat betapa ilmunya sendiri masih amatlah dangkalnya.
Dua orang pendekar itu maklum akan perasaan hati murid mereka. Mereka sendiripun setelah secara berturut - turut mengalami pertemuan dengan begitu banyaknya orang pandai, merasa beta-pa kepandaian sendiri masih teramat rendah. Mereka maklum bahwa Pek Lian merasa kecewa seka-li melihat kenyataan yang menghancurkan harga diri itu. Dara itu telah berlatih silat dengan amat tekunnya, bahkan telah belajar dari lima orang guru dan ilmu kepandaiannya bahkan sudah melampaui tingkat masing - masing dari keempat Huang-ho Su- hiap. Gadis itu tentu mengira bahwa ilmu silatnya sudah baik dan tidak sembarang orang akan dapat mengalahkannya. Akan tetapi sungguh merupakan kenyataan yang amat pahit baginya
bahwa begitu ia turun gunung untuk pertama kalinya, bertualang sebagai gadis pendekar kang - ouw setelah keluarganya hancur, ia mengalami kekalahan karena bertemu dengan orang - orang yang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.
Pertama - tama, bertemu dan kalah oleh si ce-bol Pek - lui - kong Tong Ciak. Kemudian pemuda sinting itupun memiliki kepandaian yang luar biasa lihainya. Setelah itu, bertemu dengan keluarga Bu yang sakti, yang rata - rata memiliki kepandaian jauh lebih tinggi dari padanya. Juga orang-orang berjubah naga itu, baru bertemu dengan yang berjubah biru saja ia sudah kalah, belum lagi kalau harus melawan yang berjubah coklat. Kemudian muncul pemuda Lembah Yang - ce ini, jelas pemuda ini memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi di atasnya. Dan orang - orang Tai - bong-pai itupun lebih lihai lagi. Bertemu dengan demikian banyaknya tokoh - tokoh yang hebat, tentu saja dara itu merasa betapa dirinya kecil dan lemah tak berarti!
Perkelahian antara kokcu lembah Sungai Yang-ce dengan dua orang pengawal Jenderal Beng Tian itu menjadi semakin seru, akan tetapi jelaslah kini bahwa pemuda itu terdesak hebat. Kedua pengero-yoknya itu masing-masing tidak memiliki tingkat lebih tinggi darinya, akan tetapi mereka berdua dapat bekerja sama dengan baik sekali. Beberapa kali pemuda itu telah terkena pukulan - pukulan dua orang pengeroyoknya. Kalau saja tenaga sinkang-nya tidak amat kuat, tentu pukulan-pukulan dahsyat itu sudah merobohkannya. Pemuda itu terdesak terus, main mundur sampai akhirnya pertempuran itu tiba di dekat gerobak yang berhenti, di mana Ho Pek Lian dan kedua orang gurunya bersembunyi. Sementara itu, Pek Lian dan dua orang gurunya hampir lupa diri saking asyiknya nonton perkelahian itu, lupa bahwa kalau mereka bertiga itu sampai ketahuan, amat berbahayalah bagi mereka yang memang sedang dicari-cari oleh para peraju-rit karena mereka dicurigai sebagai pembunuh para perwira itu.
Sebuah pukulan menyambar ke arah kepala pemuda dari Lembah Yang-ce itu. Pemuda ini menangkis dan sebuah tendangan ke arah pusarnya dapat dielakkannya. Akan tetapi karena dia terhimpit ke gerobak itu, pukulan yang mengarah lehernya dan sudah dielakkannya masih saja mengenai pun-daknya.
"Dukk!!" Keras sekali pukulan ini, membuat tubuhnya terdorong dan menabrak gerobak sehingga gerobak itu bergoyang - goyang. Sebelum pemuda itu dapat memperbaiki kembali sikapnya, kedua orang lawan itu dengan tenaga gabungan telah dapat menghantamnya lagi.
"Dess !!" Kini tubuh pemuda itu menabrak gerobak dengan keras dan jatuh terlentang ke bawah gerobak. Dari mulutnya keluar darah segar, tanda bahwa dia telah menderita luka dalam yang cukup parah. Akan tetapi dua orang lawannya tidak mau memberi ampun, masih mendesak maju hendak mengirim pukulan susulan yang tentu akan mematikan.
Melihat ini, Ho Pek Lian dan guru - gurunya tidak dapat menahan hatinya lagi. Mereka adalah pendekar - pendekar yang sejak lama digembleng untuk selalu mengulurkan tangan menolong pihak lemah atau pihak yang benar, maka melihat betapa nyawa pemuda Lembah Yang
- ce itu terancam, mereka segera keluar dari balik gerobak itu dan. menyerang dua orang pengawal yang hendak menghabiskan nyawa pemuda Lembah Yang - ce.
"Wuuut! Singgg !!" Pedang di tangan Pek Lian menyambar ke arah leher seorang di
antara dua lawan terdekat untuk menyelamatkan pemuda itu. Akan tetapi pengawal itu gesit sekali, dengan sebuah loncatan menyamping dia dapat menghindarkan diri dari sambaran pedang ke lehernya, bahkan secepat kilat tangannya sudah menyambar dari samping, mengarah ubun - ubun kepala Pek Lian!
Melihat ini, pemuda Lembah Yang-ce terkejut. Dia sendiri sudah terluka parah, akan tetapi me-lihat bahaya mengancam nona yang mencoba me-nyelamatkannya itu, diapun meloncat bangkit dan menangkis pukulan itii. Kembali dia terlempar, akan tetapi pukulan pengawal itu meleset, tidak mengenai kepala Pek Lian, dan sebaliknya menyambar dan mengenai tiang gerobak bagian belakang.
"Krakkkk ....!!" Tiang itu patah dan sebagian atapnya yang belakang ambruk. "Kurang ajar! Anak setan sialan dangkalan! !" Terdengar suara parau menyumpah -
nyumpah dari bawah atap gerobak yang patah dan runtuh itu berbareng dengan suara jeritan serak suara wanita yang juga memaki - maki lebih kotor lagi.
"Anak haram anjing babi monyet!" maki wanita itu.
Semua orang terkejut dan dari bawah atap gerobak yang runtuh itu muncullah sepasang laki-laki dan wanita setengah tua dengan pakaian ke-dodoran setengah telanjang sambil memaki - maki. Keduanya berloncatan keluar sambil membetulkan celana yang kedodoran dan diikat sekenanya saja. Kemudian, tanpa bicara apa - apa lagi pria dan wa-nita ini menggerakkan kedua tangan mereka dengan cepat luar biasa, tanpa pilih bulu, baik Pek Lian dan kedua orang gurunya, juga pihak pera-jurit. Dan terjadilah hal yang mengerikan sekali. Tangan pria dan wanita itu seketika berobah kehijauan dan ketika mereka menggerakkan kedua tangan, angin besar menyambar - nyambar seperti terjadi angin puyuh. Karena gerakan empat buah tangan itu cepatnya sukar diikuti dengan mata, orang sebanyak itu merasa seperti mereka masing-masing menerima pukulan, maka merekapun adu yang mengelak dan ada yang menangkis. Namun akibatnya sama saja. Baik yang mengelak maupun yang menangkis, semua terkena pukulan itu atau bersentuhan dengan tangan itu dan seketika juga mereka merasa tubuh mereka panas seperti terbakar api, kemudian berobah dingin sampai menggigil, panas dan dingin menyerang tubuh mereka seperti orang sakit demam. Pek Lian, dua orang gurunya, juga dua orang pengawal lihai itu, tak terkecuali, semua menggigil dan kepanasan silih berganti. Hanya pemuda Lembah Yang-ce, karena tadi ketika menangkis tubuhnya roboh, terbebas dari hawa beracun yang hebat itu.
Panglima itu, Jenderal Beng Tian, melihat hal ini, berobahlah wajahnya. Dari atas kudanya dia mengirim pukulan dorongan kedua tangannya berganti - ganti. Pria dan wanita itu terdorong mundur oleh hawa pukulan ini dan mereka berteriak kesakitan. Sementara itu, Beng - goanswe sudah berteriak memberi peringatan kepada anak buahnya.
"Semua mundur ! Awas pukulan Im - yang Tok-ciang mereka! Sangat beracun. Mereka adalah iblis - iblis dari Pulau Selaksa Setan !"
Sambil berkata demikian, Jenderal Beng Tian melompat turun dari atas kudanya agar dapat ber-gerak lebih leluasa. Akan tetapi, sepasang laki perempuan itu telah meloncat ke atas gerobak dan dari tangan mereka berhamburan pasir - pasir putih beracun ke arah sepasang panglima dan para perajurit yang hendak mengejar. Panglima itu dan dua orang pengawalnya saja, yang masih menggi-gil, yang dapat menghindarkan dirinya. Para pera-jurit, delapan orang banyaknya, roboh dan menjerit - jerit, bergulingan karena pasir - pasir putih itu mengandung racun yang mendatangkan rasa gatal - gatal dan panas. Gerobak itu telah dilarikan secepatnya, diseret oleh dua ekor kudanya meninggalkan tempat itu.
Hampir saja gerobak itu bertabrakan dengan sebuah kereta yang juga bergerak datang dengan cepat. Akan tetapi ternyata kakek yang mengusiri gerobak, juga seorang laki - laki setengah tua yang mengusiri kereta itu, amat cekatan. Sambil memaki, kakek pengemudi gerobak itu dapat menyim-pangkan gerobaknya ke kiri, demikian pula kereta itupun menyimpang ke kiri sehingga tubrukan dapat dihindarkan. Kereta itu berhenti dan secepat kilat, tiga orang kakek, yaitu kawan-kawan dari kokeu Lembah Yang-ce, berloncatan keluar. Mereka sudah bersiap-siap untuk menghadapi panglima yang lihai itu. Akan tetapi tiba - tiba kedua pengawal dari jenderal itu mengeluh kepanasan oleh racun pukulan suami isteri aneh tadi, maka pertempuran dengan sendirinya berhenti. Tiga orang kakek itu lalu mengangkat pemuda Lembah Yang-ce, juga Pek Lian dan dua orang gurunya ditarik naik memasuki kereta, lalu kereta itu dilarikan secepatnya.
Panglima yang masih gentar menghadapi suami isteri yang tiba - tiba saja muncul dan seolah - olah juga menentangnya itu, apa lagi melihat dua orang pengawalnya sudah terluka, cepat bersuit panjang memberi isyarat kepada pasukannya untuk mengejar dan menghalangi orang-orang yang memberontak itu untuk melarikan diri.
Maklum bahwa tidaklah mudah untuk dapat melarikan kereta itu dari pengejaran pasukan, apa lagi melihat kenyataan yang tidak menguntungkan betapa kokcu Lembah Yang - ce telah terluka parah, bahkan tiga orang pendekar dari Puncak Awan Biru yang dapat diharapkan bantuannya itupun telah menggigil panas dingin, maka tiga orang kakek dari Lembah Yang-ce itu membalapkan kereta sedapat mungkin untuk mencapai hutan di depan.
AKAN TETAPI, ketika kereta tiba di suatu tikungan, tiba- tiba muncul seorang pemuda bertubuh tinggi besar. Pek Lian dan dua orang gurunya yang tidak pingsan seperti kokcu Lembah Yang - ce dan ikut mengintai keluar, mengenal pemuda ini sebagai pemuda tukang sapu di kuil itu.
"A-hai...!" teriak Pek Lian. "Harap berhentikan kereta, mungkin dia mempunyai petunjuk penting!"
Mendengar seruan nona ini, tiga orang kakek Lembah Yang-ce menghentikan kereta itu. Kalau saja bukan Pek Lian yang berseru, tentu mereka tidak akan berhenti karena mereka tidak mengenal pemuda tinggi besar itu, bahkan mencurigainya.
Pemuda itu dengan napas terengah - engah, agaknya ketakutan dan juga gelisah sekali, berkata, "Cepat turun semua ! Di depan sudah ada perajurit - perajurit menjaga. Penunggang - penunggang gerobak itupun sudah dikeroyok dan terjadi pertempuran mengerikan. Lekas turun dan mari ikut bersamaku, aku dapat menyembunyikan kalian!"