Halo!

Darah Pendekar Chapter 18

Memuat...

Ketika itu, demikian menurut catatan pendekar Bu Kek Siang, Seng Kun baru berusia tiga tahun dan Bwee Hong berusia satu tahun. Mereka lalu ditolong oleh pendekar Bu Kek Siang suami isteri dan diaku sebagai anak-anak mereka sendiri, digembleng dengan ilmu silat dan ilmu pengobatan.

"Koko. "

"Moi-moi !" Dua orang anak itu saling berangkulan dan menangis. Kiranya mereka bukan anak kandung pendekar Bu Kek Siang, melainkan putera-puteri seorang pangeran yang kini entah masih hidup ataukah sudah mati. sedangkan ibu kandung mereka telah lama tewas dalam pengeroyokan pasukan istana. Pendekar yang dianggap ayah itu ternyata malah kakek paman mereka, karena bukankah ibu kandung mereka itu keponakan dari nyonya Bu ? Kenyataan yang mereka baca dalam catatan pendekar Bu Kek Siang itu menimbulkan berbagai macam perasaan. Mereka merasa terharu dengan kenyataan bahwa suami isteri pen-dekar itu biarpun hanya merupakan ayah dan ibu pungut saja, ternyata telah mencurahkan kasih sayang yang amat besar kepada mereka. Dan ternyata bahwa she mereka sendiri bukanlah she Bu melainkan" she Chu !

Akan tetapi, kenyataan itu pun mendatangkan suatu harapan tipis, yaitu untuk dapat bertemu dengan ayah kandung mereka. Bukankah menurut catatan itu, ayah kandung mereka, Pangeran Chu Sin, masih hidup dan hanya ditawan saja oleh para pasukan istana ?

Ho Pek Lian bersama dua orang gurunya, melanjutkan perjalanan mereka yang telah tertunda sampai setengah bulan lebih itu. Pengalaman- pengalaman mereka selama beberapa belas hari ini benar-benar mengejutkan sekali dan membuka mata mereka bahwa di dunia ini terdapat banyak-sekali orang pandai dan bahwa kepandaian mereka sesungguhnya masih amatlah rendah. Pengalaman- pengalaman ini terutama sekali amat mengejutkan hati Pek Lian. Dua orang kakek itu sudah banyak pengalaman, akan tetapi baru sekarang merekapun menghadapi orang- orang yang amat pandai, seolah-olah ada sesuatu terjadi di dunia kang-ouw ini yang membuat orang-orang sakti bermunculan dari tempat pertapaan dan persembunyian mereka.

Kim-suipoa adalah seorang yang belum pernah menikah dan namanya adalah Tan Sun. Semenjak muda dia suka bertualang, oleh karena itu maka dia tidak pernah menikah setelah di masa mudanya pernah gagal bercinta. Kesukaannya, selain ilmu silat, adalah berdagang dan kalau dia sudah memperoleh keuntungan-keuntungan karena tepatnya perhitungannya, maka berbahagialah hatinya. Akan tetapi, dia tidak pernah dapat mengumpulkan har-tanya. Hatinya terlalu perasa dan kedua tangannya terlalu terbuka sehingga semua keimbangan yang didapatnya karena kelihaiannya mainkan suipoa, selalu habis disumbangkan kepada orang lain. Sekarangpim, seluruh hartanya diberikannya kepada Liu Pang untuk memperkuat kedudukan pendekar yang memimpin orang-orang gagah sebagai seorang bengcu itu.

Pek-bin-houw bernama Liem Tat dan dalam usia semuda itu, baru empatpuluh tahun lebih, dia sudah menduda. Isterinya tergila-gila kepada pria lain dan melarikan diri bersama pria itu. Pek- bin-houw Liem Tat tidak mengejar, membiarkannya saja karena dia berpikir bahwa kalau memang isterinya itu, sebagai seorang wanita sudah tidak suka hidup bersama dia, perlu apa dipaksa ?

Lebih baik begitu, lebih baik berpisah dari pada memilih seorang isteri yang tidak mencintanya lagi. Untung bahwa selama pernikahannya itu, dia dan isterinya tidak dikurniai anak. Penyebab utama mengapa isterinya meninggalkannya adalah karena dia suka bertualang, sebagai seorang pendekar kang-ouw tidak memperdulikan keadaan kesejahteraan rumah tangga, bahkan tidak jarang dia bertualang meninggalkan isterinya sampai berbulan-bulan. Ini-lah salahnya kalau orang memperisteri wanita yang tidak sehaluan dengan sang suami. Andaikata isterinya juga seorang kang-ouw, tentu keduanya dapat bertualang bersama-sama.

Dua orang ini yang sekarang menjadi pembatu- pembantu Liu Pang, yaitu bengcu (pemimpin rakyat) yang amat terkenal itu, menjadi terkejut dan terheran ketika melihat munculnya banyak orang sakti selama ini. Mereka lalu mengajak murid mereka untuk cepat- cepat kembali ke Puncak Awan Biru untuk kembali ke sarang mereka dan melapor kepada Liu-twako.

Akan tetapi Pek Lian membantah. "Maaf, suhu. Akan tetapi aku ingin sekali mengetahui bagaimana nasib ayahku. Menurut kabar, ayah akan ditawan di kota Wu-han di Propinsi Hu-peh. Aku ingin sekali menyelidiki ke sana."

Kim-suipoa mengerutkan alisnya. "Sungguh berbahaya sekali bagimu, nona. Engkau telah di kenal dan tentu sekarang mereka sudah bersiap-siap. Apa lagi setelah terjadi serangan kita yang ternyata gagal itu, tentu pemerintah telah menganggap engkau seorang buronan yang akan dikejar-kejar."

"Dan untuk menyelidiki keadaan Ho-taijin, sebaiknya kalau diserahkan kepada pendapat dan siasat Liu-twako yang dapat mengirim penyelidik-penyelidik rahasia, tentu hasilnya akan lebih baik dari pada kalau kita sendiri yang menyelidiki sambil sembunyi- sembunyi," Pek-bin-houw menyam- bung. Akan tetapi gadis itu mengerutkan alisnya. "Suhu sendiri tentu akan kecewa kalau melihat muridnya menjadi seorang anak yang tidak memperdulikan keadaan ayah yang tertawan, dan takut menghadapi bahaya demi menolong ayahnya. Suhu, aku ingin mencari keterangan tentang ayah," Gadis itu berkata lagi dan teringat akan ayahnya yang menderita, matanya menjadi basah.

"Nona, kami sama sekali tidak berkeberatan dan memang sepantasnya kalau Ho-taijin dibebaskan dari cengkeraman kaisar lalim. Akan tetapi apa daya kita kalau beliau sendiri tidak mau dibebaskan ? Apakah yang akan kita lakukan kalau kita pergi ke Wu-han ?"

"Aku hanya ingin mendengar bagaimana kea-daannya." "Baiklah," akhirnya Kim-suipoa Tan Sun mengangguk.

"Bagaimanapun juga, untuk pulang ke Puncak Awan Biru, kita dapat mengambil jalan melewati Wu-han. Mari kita pergi agar sebelum terlampau gelap kita sudah bisa tiba di kota Ki-han di sebelah selatan Wu-han."

Mereka melakukan perjalanan cepat dan pada sore hari itu tibalah mereka di kota Ki-han, sebuah kota yang cukup besar dan ramai. Selagi mereka berjalan di jalan raya untuk mencari sebuah rumah penginapan, mereka melihat betapa di jalan raya itu banyak terdapat perajurit- perajurit pemerintah hilir-mudik dan Suasana nampak sibuk sekali. Melihat ini, Pek Lian lalu berjalan di belakang kedua orang gurunya untuk menyembunyikan mukanya dan mereka mengambil jalan di tepi jalan raya itu agar jangan bertemu dengan komandan-koman-dan pasukan.

Akan tetapi, dara ini tidak mengenal betul watak para perajurit yang sedang mengadakan suatu gerakan di sebuah tempat. Mereka ini bukan hanya merupakan kelompok orang-orang yang sudah biasa dengan kekerasan dan juga yang selalu merasa memiliki kekuasaan atas rakyat jelata sehingga sering sekali melakukan tindakan dan sikap sewenang-wenang, juga mereka yang bertugas dan agak lama berjauhan dari wanita itu selalu mempergunakan kesempatan untuk bersikap kurang ajar terhadap wanita-wanita yang dijumpainya di mana saja. Apa lagi kalau wanita itu secantik Ho Pek Lian! Para perajurit yang berkeliaran di kota Ki-han itu adalah pasukan yang baru saja kembali dari tugas mereka untuk menumpas gerombolan, yaitu mereka yang tidak mentaati pemerintah, gerombolan di sepanjang Sungai Yang-ce yang terkenal itu.

Biarpun Pek Lian telah mengambil jalan di pinggir namun kemudaan dan kecantikannya tidak lolos dari pandang mata seorang perajurit mabok yang kebetulan lewat di dekatnya. Apa lagi karena siang-siang para wanita kota itu sudah menyembunyikan diri di dalam rumah ketika pasukan tiba, sehingga di jalan raya itu tidak nampak wanita muda, maka kehadiran Pek Lian amatlah menyolok.

"Heh, nona manis, hendak ke mana ?" perajurit mabok itu berkata sambil menyeringai dan tangannya terjulur ke depan untuk meraih dada! Tentu saja Pek Lian mengelak dan menjadi marah.

"Manusia tak sopan!" desisnya akan tetapi ia tidak melayani perajurit itu dan mengharap pera-jurit itu akan lewat begitu saja. Akan tetapi dugaannya keliru karena tiba-tiba perajurit itu membalik dan menubruk pinggangnya yang ramping.

Tentu saja Pek Lian yang sedang berduka memikirkan keadaan ayahnya itu menjadi jengkel se-kali, apa lagi karena setelah ayahnya ditawan oleh pasukan kerajaan, ia membenci setiap orang pera-jurit kerajaan, maka tanpa ampun lagi ia menggerakkan kaki tangannya dan perajurit itu roboh ter-jungkal di atas jalan. Ketika menerima hantaman yang amat keras itu, perajurit mabok ini berteriak keras, akan tetapi setelah roboh terbanting, dia tidak mampu berteriak lagi.

Tentu saja peristiwa itu menimbulkan kegemparan. Para perajurit yang sedang berkeliaran itu, cepat berlari mendatangi dan melihat betapa seorang di antara kawan mereka dihantam roboh oleh seorang dara cantik, tentu saja mereka langsung saja maju mengeroyok! Pek Lian cepat melawan dan tentu saja dua orang gurunya juga tidak tinggal diam dan membantu murid mereka itu. Tentu saja banyak perajurit yang roboh malang-melintang ketika tiga orang ini mengamuk.

Akan tetapi makin banyak perajurit berdatangan. Melihat ini, karena khawatir kalau-kalau para peiwira tinggi yang lihai datang, Kim-suipoa lalu berteriak kepada Pek-bin-houw dan Pek Lian untuk mengikutinya melarikan diri dan menghilang ke dalam kegelapan malam.

Tentu saja para perajurit mengejar sambil berteriak- teriak. Kim-suipoa terus berlari, diikuti oleh Pek-bin-houw dan Pek Lian. Mereka lari ke tepi kota dan melihat sebuah rumah di tempat yang sunyi dan gelap, mereka segera menghampirinya. Rumah itu gelap di luar maupun di dalamnya, maka mereka lalu mendorong daun pintu depan. Daun pintu terbuka dan di dalamnya gelap sekali. Kebetulan, pikir mereka. Agaknya rumah kosong. Mereka lalu melangkah masuk dan menutupkan kembali daun pintunya. Dari jauh mereka mendengar derap kaki orang-orang yang berlari-larian, yaitu kaki para perajurit yang mengejar dan mencari-cari mereka. Agaknya mereka itu tidak mencurigai rumah ini, buktinya tidak ada perajurit yang menuju ke rumah itu.

Keadaan kamar yang gelap pekat itu membuat mereka tidak berani bergerak. Setelah suara kaki di jalan raya itu tidak terdengar, lagi, terdengar Kim-suipoa berbisik, "Mereka sudah pergi.

Tempat ini agaknya kosong, sebaiknya kalau kita bermalam di sini saja." "Sebaiknya begitu, akan tetapi kegelapan ini..." kata Pek-bin-houw.

"Aku membawa batu pembuat api !" kata Pek Lian. "Kalau saja ada lilin di sini."

"Kamar ini tentu ada mejanya, barang kali ada lilin atau lampu" kata Kim-suipoa. Mereka melangkah untuk meraba-raba mencari meja.

"Ihh... !" Pek Lian menahan jeritnya. "Ehh... !" Kim - suipoa juga berseru.

"Apa yang terinjak ini?" Pek-bin-houw juga berseru. Mereka merasa menginjak sesuatu yang lunak.

Karena tidak dapat menyentuh meja, dan ingin melihat apa yang mereka injak itu, Pek Lian lalu memukul batu apinya. Terdengar bunyi "crek! crek!" dan setiap ada api berpijar, nampak sinar terang.

Tiba - tiba Pek Lian menjerit ketika ia melihat ke depan pada saat bunga api berpijar. Ia melihat sepasang mata melotot dari seorang pria berpakaian perwira kerajaan yang duduk di atas kursi ! Saking kagetnya, ia menjerit dan batu api itu terlepas, jatuh. Ia berjongkok dan dengan tangan menggigil karena merasa ngeri, ia hendak mencari bata apinya. Akan tetapi, untuk kedua kalinya ia menjerit karena tangannya meraba - raba sesuatu yang ternyata adalah muka orang!

"Ihhh...!"

"Ada apa, nona ?"

"Ada. ada orang duduk kursi dan rebah di lantai"

Kim-suipoa meraba-raba dan diapun dapat meraba orang-orang yang malang-melintang di atas lantai. "Ah, ada beberapa orang dan mereka agaknya telah mati. Ini batumu" katanya dan cepat mereka mencetuskan batu api sehingga terpancar sinar. Setelah mencetuskan beberapa kali, mereka dapat melihat tempat minyak dan lampu. Cepat mereka lalu menyalakan api dan betapa ngeri hati mereka melihat bahwa ada sedikitnya enam orang perwira kerajaan yang tewas malang- melintang di atas lantai, sedangkan seorang perwira yang telah mati duduk di atas kursi dengan mata melotot dan lidah terjulur keluar.

Post a Comment