Halo!

Darah Pendekar Chapter 17

Memuat...

menghadapi semua ini. ah, ayah dan ibu, aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Ayah dan ibu

tewas dalam tangan saudara seperguruan sendiri, apa yang harus kulakukan ? Apa yang harus kulakukan ??" Pemuda itu mengeluh karena hatinya sungguh merasa bingung sekali. Ayahnya selalu mendidik putera-puterinya agar menjauhi kekerasan, agar mengusir segala perasaan dendam. Dan kini mereka tertimpa musibah yang demikian hebat, dan yang menyebabkan adalah keluarga seperguruan sendiri! Karena hendak memperebutkan kitab peninggalan kakek guru mereka.

Ho Pek Lian yang teringat akan keadaan ayahnya sendiri, segera maju dan mengambil Bwe Hong dari rangkulan kakaknya, untuk dipondongnya dan dibawanya ke pinggir, lalu dirawatnya sehingga Bwee Hong siuman kembali dan kedua orang gadis ini saling berangkulan sambil menangis Melihat keadaan kakak beradik itu, nyonya Kwa dan puterinya juga merasa terharu sekali.

"Twako Bu Seng Kun, akulah yang menyebabkan kematian ayah ibumu, maka kaubunuhlah aku untuk menghapuskan penasaran itu !" Tiba-tiba terdengar suara halus dan kiranya Siok Eng yang mengeluarkan kata-kata itu dari tempat duduknya di sudut.

Seng Kun menoleh ke arah gadis itu yang memandang kepadanya dengan mata merah menahan tangis. Dia tersenyum pahit lalu menarik napas panjang. "Nona Kwa, ayah dan ibuku telah mati-matian berusaha menyelamatkanmu, setelah mereka berhasil, engkau minta aku membunuhmu ! Apakah berarti engkau menyuruh aku berkhianat dan murtad kepada mereka ?" "Ohhh ...... !" Siok Eng terkejut dan menangis, dirangkul oleh ibunya. Kemudian, setelah Kim-suipoa dan Pek-bin-houw membantu Seng Kun yang masih belum dapat berjalan itu, mengangkatnya dan membawanya ke pinggir, nyonya Kwa membawa puterinya untuk bersembahyang di depan sepasang peti mati itu. Mereka menangis sesenggukan ketika mengangkat hio dan terdengar suara Kwa - toanio yang bicara dengan lantang diseling isak tangis,

"Bu - taihiap berdua semenjak puluhan tahun kami tinggal di dalam kuburan. Kematian bukan apa-apa bagi kami. Kuburan adalah tempat tinggal kami. Mayat- mayat adalah sahabat- sahabat kami, dan selama hidup kami berkabung. Entah sudah berapa banyak orang yang kami bunuh. Akan tetapi, taihiap sungguh kematian yang taihiap berdua alami ini membuat hati kami penasaran!! Kami akan membalas kebaikan ini, kami harus menuntut balas atas kematian ji-wi dan mulai saat ini kami menganggap keluarga taihiap sebagai keluarga kami sendiri." Dan nenek itu menangis bersama puterinya.

Pemakaman dilakukan secara sederhana sekali dan setelah pemakaman selesai, Pek Lian dan kedua orang gurunya masih tinggal di situ selama seming-gu lagi, membantu Bwee Hong yang masih harus mengobati kakaknya dan juga mengobati Siok Eng. Setelah lewat seminggu, barulah Pek Lian dan kedua orang gurunya berpamit.

Bwee Hong merangkulnya. "Pek Lian, benarkah engkau hendak meninggalkan aku yang kesepian ini ?" Gadis itu mengeluh. Setelah menjadi sahabat baik, keduanya tidak menyebut enci adik lagi, karena memang keduanya sebaya berusia delapan belas tahun. "Apakah engkau tidak bisa memperpanjang beberapa hari lagi?"

"Bwee Hong, aku juga sayang sekali kepadamu dan aku ingin dapat terus berdekatan dengan seorang sahabat seperti engkau. Akan tetapi, sudah terlalu lama kami bertiga meninggalkan kawan-kawan kami, dan engkau tentu tidak lupa akan keadaan ayahku" Sampai di sini, suara Pek Lian menjadi gemetar mengandung duka.

"Ah, sahabatku yang baik. Aku ikut menyesal dengan keadaanmu yang tidak lebih baik dari pada keadaanku. Kalau saja kami dapat membantu , sayang kakakku masih belum sembuh"

"Terima kasih, engkau baik sekali. Akan tetapi bantuan apakah yang dapat diberikan orang kepada kami ? Yang memusuhi kami bukan orang biasa melainkan pemerintah !"

Bu Seng Kun kini sudah dapat turun dari pembaringan dan dapat berjalan, walaupun masih lemah dan perlu beristirahat agar bekas- bekas luka dalam tubuhnya dapat sembuh sama sekali. Diapun memandang kepada kedua orang guru Pek Lian, dan berkata, "Bantuan sam-wi sungguh tak ternilai besarnya bagi keluarga kami, dan entah kapan kami kakak beradik akan sanggup untuk membalasnya. Semoga Thian Yang Maha Esa sajalah yang akan membalas sam-wi dengan berkah yang melimpah-limpah."

"Ah, Bu-taihiap terlalu sungkan," kata Kim- suipoa. "Bantuan apa yang dapat diberikan oleh kami orang-orang lemah ini ?"

"Selain itu, sudah menjadi kewajiban kita para pendekar untuk saling bantu, bukan ?" kata pula Pek- bin-houw. Mereka bertiga lalu pamit dan meninggalkan tempat itu, diantar oleh kakak ber-adik itu sampai ke pintu depan dan mereka berdua melambaikan tangan sampai tiga orang tamu itu lenyap di sebuah tikungan.

Dua hari kemudian, setelah dua orang anak bu-ahnya yang terluka itu sembuh, Kwa-toanio juga minta diri. Sambil memegang lengan kedua orang muda itu, Kwa- toanio berkata dengan mata basah dengan air mata, "Anakku sembuh adalah berkat keluarga Bu. Sampai mati, aku dan anakku tidak akan melupakan budi kalian. Aku akan membawa Siok Eng pulang untuk dirawat sampai sembuh, Kami belum dapat memikirkan bagaimana untuk membalas budi kalian. Untuk sementara ini, harap kalian suka menerima bendera keramat dari kami ini untuk disimpan.

Bendera ini adalah pusaka Tai-bong-pai, pemegangnya akan dihormati seperti kepada ketua Tai- bong-pai sendiri."

Bwee Hong menerima bendera itu, bendera kecil yang terbuat dari pada anyaman kawat baja lembut yang bersulamkan benang emas dengan lukisan sebuah kuburan dengan huruf Tai Bong Pai.

"Sayang sekali bahwa kami belum berhasil menyembuhkan sama sekali penyakit yang diderita oleh Kwa-siocia," kata Seng Kuil dengan suara menyesal. "Padahal, sudah hampir sembuh. Kalau ia dilanjutkan dengan pengobatan yang menggunakan sinkang dari golongan kami, tentu akan dapat disembuhkan secara cepat sekali. Sayang, aku masih terluka sehingga tidak mampu melakukannya, sedangkan adikku, hanya mempelajari tusuk jarum dan pengobatan saja, akan tetapi sinkang-nya belum sekuat itu untuk dapat mengobati. Kalau saja ji-susiok tidak memusuhi kami, sekali dia turun tangan tentu puterimu akan dapat disembuhkan dengan seketika, bibi Kwa."

Setelah berkali-kali menghaturkan terima ka-sih, ibu dan anak itu lalu pergi pada malam hari. Karena belum mampu berjalan sendiri, Siok Eng masih dipikul dalam keranjang bambu seperti ketika ia datang. Ibu dan anak itu berangkat di malam gelap, diiringkan oleh delapan orang anak buah yang seram-seram itu.

Setelah semua tamunya pergi, barulah kakak beradik itu merasa betapa sunyinya rumah mereka. Barulah terasa oleh mereka benar-benar bahwa mereka telah kehilangan ayah bunda mereka. Maka, tak tertahankan lagi, Bwee Hong menangis. Seng Kun juga termenung dengan hati terasa kosong dan kesepian. Akan tetapi untuk menghibur adiknya, dia cepat berkata, "Sudahlah, adikku. Dari pada membiarkan diri hanyut dalam kesedihan, apakah tidak lebih baik kalau kita membaca buku catatan peninggalan ayah itu ?"

Ucapan ini mengingatkan Bwee Hong. Selama ini, mereka berdua belum sempat membaca buku catatan itu karena di situ terdapat banyak tamu dan Bwee Hong juga sibuk merawat kakaknya dan Siok Eng. Kini, teringat akan pesan ayah mereka, Bwee Hong segera memasuki kamar dan membawa keluar peti hitam itu. Mereka duduk berdampingan agar dapat membaca isi kitab itu bersama-sama, Ternyata pada halaman pertama terdapat tulisan ayah mereka yang ditujukan kepada mereka berdua !

Seng Kun dan Bwee Hong tersayang,

Surat dan catatan ini memang kupersiapkan untuk kalian, pada saat terakhir kita berpisah, akan kuserahkan kepada kalian. Sekarang, kuatkanlah hati kalian untuk menghadapi kenyataan, pahit maupun manis, kenyataan tentang diri kalian yang sesungguhnya. Nah, bacalah catatanku ini."

Ayah angkat kalian, Bu Kek Siang

"Ayah angkat. ? Apa maksud ayah ? Bwee Hong berseru dengan kaget sekali membaca

sebutan itu.

Kakaknya lebih tenang. "Marilah kita baca catatan ini selanjutnya, adikku."

Mereka berdua dengan tidak sabar lalu membaca catatan itu. Dan keduanya terkejut bukan main Mula-mula mereka memang tidak mengerti ketika catatan itu bercerita tentang keadaan seorang pangeran. Pangeran itu bernama Chu Sin, seorang pangeran yang berjiwa pemberontak karena dia tidak suka melihat kehidupan istana yang penuh dengan kepalsuan dan korupsi. Dia menentang keluarga kaisar, keluarga ayahnya sendiri dan karena dia dimusuhi, dia lalu meninggalkan istana dan merantau di luar istana. Akan tetapi, karena dia dianggap sebagai pemberontak yang berbahaya dan mungkin akan menghimpun kekuatan dari rakyat untuk menentang istana, maka dia lalu dikejar-kejar sebagai buronan. Dalam perantauan-nya ini, Pangeran Chu Sin bertemu dengan seorang gadis kang-ouw, yaitu keponakan dari nyonya Bu Kek Siang sendiri, seorang gadis she Sim. Mereka saling mencinta dan akhirnya menjadi suami isteri.

Pangeran Chu Sin dan isterinya tinggal mengasingkan diri di gunung sampai mereka mempunyai dua orang anak. Akan tetapi pada suatu hari, datanglah pasukan pemerintah yang telah mengetahui di mana adanya Pangeran Chu Sin. Rumah itu diserbu. Isteri Chu Sin, sebagai seorang wanita kang-ouw, melakukan perlawanan gigih dan akhirnya tewas. Pangeran Chu Sin sendiri tertawan oleh pasukan dan dibawa pergi ke kota raja.

Pada akhir catatan itu, barulah Seng Kun dan Bwee Hong dengan kaget membaca bahwa putera sang pangeran itu bukan lain adalah mereka sendiri!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment