Halo!

Darah Pendekar Chapter 16

Memuat...

Dua orang berjubah coklat itu tahu bahwa di antara mereka semua, yang paling lihai adalah Bu Kek Siang dan Bu Seng Kun, maka merekapun langsung saja meloncat ke belakang ayah dan anak yang masih mengerahkan tenaga kepada si sakit itu. Juga nyonya Bu tak dapat meninggalkan tempatnya, karena hal itu akan membahayakan si sakit. Pula, peristiwanya terjadi sedemikian cepat dan tiba - tiba. Tahu - tahu kedua orang berjubah coklat itu telah mengirim serangan kilat ke arah ayah dan anak itu. Kakek berjubah coklat yang pertama sudah menghantamkan tangan kanannya dengan jari-jari tangan terbuka ke arah lambung Bu Kek Siang, sedangkan kakek ke dua dengan kepalan tangan kanannya sudah menghantam ke arah punggung Bu Seng Kun. Kedua pukulan ini datang dengan berbareng dan tepat benar.

"Blaaarrrr. !!'"

Akibatnya hebat! Ayah, anak dan ibu roboh tersungkur ! Dari mulut mereka muncrat darah segar dan seketika mereka itu roboh pingsan. Akan tetapi yang lebih aneh lagi, pada saat pukulan itu tiba, terdengar jeritan nyaring dari mulut gadis yang menelungkup itu, dan beberapa batang jarum yang masih menancap di tubuhnya mencelat se-dangkan bekas - bekas tusukan jarum itu menge-luarkan darah, dan iapun terkulai dan pingsan.

Kwa - toanio marah sekali, mengira bahwa pu-terinya tentu menjadi korban dan tewas. Dengan kemarahan meluap, tokoh Tai - bong - pai ini meng-amuk, dikeroyok oleh empat orang berjubah biru yang agaknya kewalahan juga menghadapi amuk-an ibu yang marah ini. Bwee Hong sudah memu-tar pedangnya, menyerang seorang berjubah coklat akan tetapi ia tidak mampu mencegah ketika seorang berjubah coklat yang lain telah memasuki rumah keluarganya.

Sedangkan menghadapi si jubah coklat itu saja ia sudah merasa amat kewalahan pedangnya tak mampu berbuat banyak karena lawannya itu sedemikian lihainya sehingga lengan orang itu berani menangkis pedangnya tanpa terlu-ka sedikitpun, sebaliknya malah setiap kali terjadi benturan keras, hampir saja pedangnya terlepas dari pegangan karena seluruh lengannya tergetar hebat.

Kwa - toanio yang marah sekali itu mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Kini ditariknya sehelai sabuk putih yang ia gerakkan seperti cambuk dan tangan kirinya kadang-kadang menyambitkan hio-hio yang bernyala. Entah bagaimana hio-hio itu dapat dinyalakan, akan tetapi senjata-senjata rahasia ini memang hebat sekali sehingga para pengeroyoknya yang berjubah biru itu menjadi repot juga karena mereka tidak berani menyambut senjata rahasia itu. Melihat kehebatan nenek ini, si jubah coklat yang mendesak Bwee Hong lalu meloncat dan menyerang Kwa-toanio, sedangkan dua orang berjubah biru kini mengeroyok Bwee Hong yang masih tetap kewalahan. Setelah si jubah coklat maju mengeroyok, repotlah Kwa-toanio dan akhirnya sebuah tendangan kilat dari si jubah coklat mengenai pahanya dan membuatnya terhuyung.

Pada saat itu, kakek berkubah coklat yang tadi memasuki rumah keluarga Bu, muncul sambil berkata, "Sudah kudapatkan, mari kita pergi!" Teman-temannya yang masih bertempur segera meloncat keluar dan para anak buah mereka yang berjubah hijau juga sudah melarikan diri sambil membawa teman-teman yang terluka. Sebentar saja, keadaan di situ menjadi sunyi.

Melihat keadaan pihak keluarga tuan rumah, Kwa- toanio menjadi berduka sekali. Tanpa memperdulikan lagi puterinya yang masih rebah menelungkup tak sadarkan diri, pertama-tama yang ditolongnya adalah nyonya rumah karena ia melihat Bwee Hong berlutut dan merangkul nyonya itu sambil berusaha untuk membuat pernapasan dengan cara meniupkan napasnya sendiri melalui mulut ibunya dengan menutup lubang hidungnya. Bwee Hong tidak menangis, hanya air matanya saja berlinang. Gadis yang juga telah mempelajari ilmu pengobatan ini berusaha untuk bersikap tenang sungguhpun hatinya merasa amat gelisah dan bingung. Hati siapa tidak akan menjadi bingung melihat betapa ayahnya, ibunya, dan kakaknya seluruh keluarganya roboh pingsan dan semuanya menderita luka yang hebat ? Setelah berhasil mengembalikan pernapasan ibunya, walaupun masih amat lemah, gadis itu cepat merebahkan kembali ibunya dan menghampiri ayahnya. Ternyata ayahnya sudah siuman, walaupun keadaannya masih amat payah karena ayahnya juga menderita luka yang amat berat di sebelah dalam tubuhnya.

"Coba periksa kakakmu..., hentikan jalan darah koan- goan-hiat" ayahnya berkata dengan napas terengah. Gadis itu bangkit dan menghampiri kakaknya. Ternyata pemuda itu masih pingsan, akan tetapi setelah memeriksanya, hati Bwee Hong tidak begitu khawatir akan keadaan kakaknya. Biarpun kakaknya juga menerima pukulan hebat, namun agaknya tubuh muda kakaknya itulah yang menyelamatkannya dan mampu melindungi isi dadanya.

MEMANG serangan dua orang berjubah coklat yang mendadak itu telah mendatangkan keanehan-keanehan. Selain ayah dan anak itu yang langsung menerima pukulan dan menderita luka parah, juga hawa sinkang dari kedua orang penyerang yang kuat itu telah mendorong hawa sinkang dari ayah dan anak itu sendiri, membuat kekuatan yang mengalir ke dalam tubuh Siok Eng menjadi berlipat ganda dan tenaga sinkang itu, yang tadinya kurang kuat dan hanya berhenti sampai pada pangkal paha dan bawah pundak, kini dengan serentak mengalir dan menyerbu sehingga dapat bertemu dan ditampung oleh nyonya Bu melalui kedua telapak tangannya yang berada di punggung gadis sakit itu. Seperti aliran listrik yang ditampung dan terlalu besar, maka ibu inipun tidak kuat bertahan dan seperti menerima hantaman dahsyat dari kanan kiri melalui kedua telapak tangannya, membuat ia roboh seketika dan menderita luka yang parah sekali. Akan tetapi, peristiwa ini mendatangkan keuntungan yang besar kepada Siok Eng. Dengan adanya penambahan tenaga sinkang dari luar, dari kedua orang jubah coklat itu, maka semua pembuluh darah dan urat syaraf dapat ditembus, dan semua kebekuan telah dapat mencair. Kalau tadinya ia tak mampu bicara, sekarang tiba-tiba saja ia sudah dapat bicara bahkan ia sudah dapat menggerakkan semua anggauta tubuhnya. Setelah siuman dari pingsannya, gadis ini dapat bergerak dan mengenakan pakaian sendiri. Hanya tubuhnya masih amat lemah dan ia masih belum mampu turun dan berjalan, walaupun sudah dapat bangkit duduk kembali tanpa bantuan orang lain.

Melihat keadaan ini, Kwa-toanio yang sejak muda telah menjadi tokoh sesat dalam dunia hitam, sekali ini meruntuhkan air mata dan menangis sesenggukan. Ia melihat betapa keluarga itu telah berusaha sungguh- sungguh untuk menyelamatkan puterinya, dan akibatnya, puterinya benar-benar sembuh, akan tetapi keluarga itu sendiri menjadi hancur ! Maka tentu saja ia merasa berterima kasih sekali, bukan hanya kepada keluarga Bu, akan tetapi juga kepada Ho Pek Lian dan kedua orang gurunya yang juga mengalami luka-luka dalam pertempuran itu. Biarpun penyerbuan itu dilakukan orang kepada keluarga Bu tanpa ada sangkut-pautnya dengan rombongannya, namun kalau tidak ada bantuan Pek Lian dan kedua orang gurunya, tentu akibatnya akan lebih hebat pula.

Memang akibat penyerbuan itu hebat sekali. Kakek Bu Kek Siang dan isterinya ternyata tidak dapat menahan gempuran hebat itu. Bahkan pada keesokan harinya, nyonya Bu yang jatuh pingsan lagi tidak sadar lagi dan tewas ! Juga Bu Kek Siang sendiri napasnya tinggal satu-satu. Dia lebih banyak menggunakan isyarat tangan dari pada bicara ketika dia minta agar diambilkan sebuah peti hitam kecil yang disimpannya di tempat rahasia bersama kitab-kitab pusaka. Kitab- kitab pusaka itu telah lenyap diambil oleh si jubah coklat, akan tetapi peti itu biarpun sudah dibuka, ternyata tidak dibawa pergi. Isinya sebuah kitab catatan kakek Bu Kek Siang sendiri.

"Terimalah ini" katanya kepada puterinya. "Dan kelak, berdua dengan kakakmu, bacalah" Hanya itulah pesan yang ditinggalkan pendekar ini. Agaknya, kematian isterinya membuat dia se-olah- olah ingin mempercepat perjalanannya me-ninggalkan dunia yang penuh kepalsuan ini.

Tentu saja, kematian ayah bundanya ini meru-pakan pukulan yang amat hebat bagi Seng Kun dan adiknya. Terutama sekali bagi Bwee Hong. Gadis ini berusaha untuk bersikap gagah dan tidak menangis, akan tetapi ternyata usaha ini malah membuat ia menjadi pucat sekali dan air matanya selalu berlinang di kedua matanya dan setiap kali ia ber-kedip, beberapa butir air mata mengalir ke atas kedua pipinya yang pucat.

Rumah keluarga Bu itu kini menjadi rumah duka yang penuh dengan orang sakit. Karena kakaknya masih terluka dan belum dapat turun dari pembaringan, maka Bu Bwee Hong seoranglah yang menjadi wakil keluarga Bu, menghadapi semua itu. Ayah bundanya tewas, kakaknya terluka berat. Untung di situ terdapat Ho Pek Lian yang menghiburnya, menemani dan membantunya. Juga kedua orang guru dari Pek Lian yang dengan penuh rasa kasihan membantu sekuat tenaga. Masih ada lagi nyonya Kwa yang merasa berhutang budi dan berterima kasih sekali kepada keluarga itu. Maka nyonya ini mengerahkan sisa anak buahnya yang hanya luka ringan, yaitu hanya enam orang, untuk membantu segala keperluan untuk mengubur jenazah Bu Kek Siang dan isterinya. Dikubur secara sederhana saja, di belakang rumah di mana terdapat sebuah bukit kecil.

Sebelum kedua peti jenazah diangkat, diadakan upacara sembahyang dan dalam kesempatan inilah baru Bu Bwee Hong dapat menangis terisak-isak seperti anak kecil. Pemandangan waktu itu sungguh amat memilukan hati. Dua peti jenazah itu dijajar-kan dengan satu meja sembahyang di depannya. Tidak ada orang lain yang hadir kecuali mereka yang berada di situ semenjak terjadinya penyerbuan itu. Nyonya Kwa dan delapan anak buahnya, dua di antaranya luka parah. Kwa Siok Eng yang terpaksa dituntun ibunya ketika hendak bersembahyang. Dan juga Bu Seng Kun yang dirangkul dan dipapah oleh adiknya.

Dua orang kakak beradik itu menjatuhkan diri berlutut di depan peti dan menangis. Seng Kun ternyata adalah seorang gagah yang cepat dapat menguasai hatinya. Dia menyusut air matanya dan melihat betapa adiknya menangis seperti tak sadar-kan diri, dia mencengkeram lengan adiknya itu, mengguncangnya dan berkata, "Moi-moi, mana kegagahanmu ? Apakah engkau kira ayah dan ibu akan senang hati mereka melihat engkau cengeng seperti ini ?"

Bwee Hong mengangkat mukanya yang basah air mata, memandang kepada kakaknya sejenak, kemudian menjerit dan merangkul kakaknya, dan pingsan dalam pelukan kakaknya ! Seng Kun merasa jantungnya seperti diremas-remas, akan tetapi dia menahan diri dan dengan adiknya masih dalam rangkulannya, diapun menghadap dua peti jenazah itu.

"Ayah, ibu......, ampunkanlah kelemahan moi-moi, ia masih kanak-kanak dan

Post a Comment