Pek Lian dan Bwee Hong yang berhasil melo-loskan diri itu juga mendengar akan pelaksanaan
hukuman mati dari Menteri Ho dan dibasminya semua pendekar. Mereka belum jauh meninggalkan tempat itu dan mereka bertemu dengan seorang pendekar yang buntung lengannya dan dari pen-dekar inilah mereka mendengar berita itu. Tentu saja Pek Lian menjadi berduka dan terkejut sekali. Ia menangis sepanjang perjalanan ketika ia dibujuk untuk kembali ke Yen-kin, di mana menunggu Seng Kun, A - hai dan Siok Eng.
Ketika Siok Eng dan Seng Kun mendengar be-rita buruk itu, mereka ikut merasa berduka dan penasaran sekali. A - hai yang ikut mendengarkan hanya mengerutkan alisnya, bukan karena berita itu, melainkan karena terharu dan kasihan melihat Pek Lian menangis demikian sedihnya.
"Sudahlah, enci Lian," kata Siok Eng dengan tenang. Dara ini hidup di antara kaum sesat dan sudah banyak mengalami hal-hal mengerikan, ma-ka jaranglah ada hal yang dapat membuat darah-nya yang dingin menjadi terharu. "Kematian bukan apa - apa bagi seorang gagah."
Pek Lian menyusut air matanya dan memandang kepada gadis Tai - bong - pai itu. "Aku tidak me-nangisi kematian ayah, melainkan menangis karena menyesal mengapa aku sebagai anaknya tidak mampu menyelamatkan ayah di depan hidungku sendiri."
Tiba - tiba Siok Eng kelihatan marah dan me-ngepal tinjunya. "Hemm, kakakku yang keparat itu! Siapa kira dia melanggar pantangan Tai-bong - pai dan membiarkan dirinya menjadi kaki tangan pemerintah ! Aku akan melaporkan hal ini kepada ayah dan dia pasti akan menerima hukum-annya !"
Bwee Hong mengerutkan alisnya. "Aku merasa heran sekali mengapa sri baginda kaisar melanggar janji sendiri dan menjatuhkan hukuman mati juga kepada Menteri Ho."
Seng Kun sejak tadi termenung saja tidak me-ngeluarkan kata - kata, akan tetapi diam - diam diapun merasa heran seperti adiknya. Akan tetapi dia tetap tidak dapat percaya bahwa pelaksanaan hukuman terhadap Menteri Ho itu adalah atas pe-rintah kaisar. Bukankah kaisar telah mengutus dia untuk mencari dan menyelamatkan Menteri Ho yang diculik orang ? Tidak mungkin kalau kaisar memberi perintah lain untuk menghukum mati menteri itu. Tentu ada hal - hal yang tidak beres dalam urusan ini. Apa lagi melihat munculnya Kwa Sun Tek, pemuda Tai - bong - pai itu yang kemarinnya telah mengadakan pertemuan di dekat pantai dengan pasukan kapal asing. Diam - diam dia merasa curiga sekali dan ingin menyelidiki apa yang sesungguhnya terjadi di balik peristiwa hu-kuman aneh itu.
"Aku harus melihat kuburan ayah dan bersem- bahyang di sana. Harus !!" tangis Pek Lian. "Akan tetapi, hal itu tentu sangat berbahaya,
enci!" cela Siok Eng. "Siapa tahu pasukan meng-adakan penjagaan dan pengintaian dan akan turun tangan terhadap siapa saja yang berani datang bersembahyang."
"Aku tidak perduli! Kalau ada yang menggang-guku, aku akan mengamuk dan biarlah aku mati di kuburan ayahku !" Kembali gadis itu menangis. Teman - temannya segera menghiburnya.
"Baik, malam nanti kita bersama pergi ke ku-buran. Aku pun ingin sekali tahu apa yang sebe-tulnya telah terjadi," kata Seng Kun. "Kesehatan-ku telah pulih, tenagaku telah kembali, aku akan dapat membantumu sekarang, nona."
Mereka menanti sampai siang terganti senja. "Kuharap saudara A - hai tinggal saja di losmen ini, menanti kami pulang," Seng Kun berkata ke-pada pemuda sinting itu.
A - hai menggeleng kepala keras - keras. "Aku tidak suka ditinggal, aku mau ikut! Nona Bwee Hong,' Pek Lian, biarkan aku ikut!"
Memang aneh pemuda sinting ini. Dia lupa segala, akan tetapi nama Pek Lian dan Bwee Hong dia tidak pernah lupa!
"Tapi kita melakukan perjalanan yang berbahaya sekali!" Siok Eng mencegah karena khawatir ka-lau - kalau terjadi sesuatu dan pemuda sinting ini tidak dapat menjaga diri, kecuali kalau sedang ku-mat. Akan tetapi siapa tahu kapan kumatnya ?
"Biarpun berbahaya aku tidak takut. Biarlah kalian berempat tidak usah memikirkan aku, tidak perlu menjagaku. Apapun yang terjadi kepada diriku, aku tanggung sendiri dan tidak akan menya-lahkan kalian."
Tentu saja empat orang pendekar itu tidak dapat membantah lagi. Bagaimanapun juga, mereka semua maklum bahwa kalau pemuda ini sedang kambuh, tidak ada seorangpun di antara mereka yang akan mampu menandingi kelihaiannya. A-hai gembira sekali ketika diperbolehkan dan malam itu berangkatlah mereka meninggalkan losmen dengan cepat menuju ke lembah bukit di mana terjadi per-tempuran pada siang hari tadi.
Baru saja mereka keluar dari pintu gerbang kota, serombongan orang yang berpakaian ringkas dan bersikap gesit mendahului mereka. Orang-orang itu lalu menoleh dan menghentikan langkah mere-ka, seorang di antara mereka menyapa lirih, "Ka-lian dari gunung mana ?"
Tentu saja Seng Kun dan teman - temannya termangu - mangu mendengar pertanyaan ini. Mereka tahu bahwa pertanyaan itu merupakan sema-cam kata sandi untuk mengenal lawan atau kawan, akan tetapi karena mereka sama sekali tidak tahu arti kata sandi itu, merekapun hanya memandang bengong. Akan tetapi A-hai segera menjawab dengan nada suara lucu, tanda bahwa pemuda ini
sedang bergembira dan dalam keadaan sehat, "Ma-af, kami bukan dari gunung !"
Serombongan orang itu memandang dengan pe-nuh kecurigaan, akan tetapi karena cuaca hanya remang - remang, mereka tidak dapat melihat ba-nyak. Seng Kun dan teman - temannya juga tidak banyak cakap dan melanjutkan perjalanan dengan cepat. Di tengah perjalanan A - hai mengomel.
"Heran sekali, kenapa tiba - tiba bertanya apa-kah kita datang dari gunung ? Eh, nona - nona, apakah orang macam aku ini kelihatan kampungan dan seperti orang gunung ?" A - hai menunjuk hi-dungnya sendiri. Melihat sikap ini, tiga orang dara itu tertawa dan sejenak Pek Lian dapat melupakan kesedihannya.
"Engkau sepantasnya datang dari alam rahasia, A-hai !" kata Siok Eng menggoda.
Ketika mereka tiba di kaki bukit, di tepi hutan kecil nampak beberapa orang laki - laki berdiri di tepi jalan. Ketika mereka lewat, orang - orang itu menyapa mereka dengan pertanyaan yang sama, "Kalian dari gunung mana ?"
Kembali rombongan Seng Kun tak dapat men-jawab dan melihat betapa rombongan yang mereka sapa itu tidak dapat menjawab, merekapun cepat pergi. A - hai menggaruk - garuk kepalanya. "Du-hai betapa banyaknya orang gila di dunia ini!"
Kembali kawan - kawannya tersenyum melihat sikap A-hai ini. Dia sendiri kalau sedang kumat kaya orang gila tanpa disadarinya sendiri, kini me-ngatakan orang lain gila.
"Agaknya ada sesuatu yang tidak wajar. Kita harus berhati - hati," kata Seng Kun kep
***[All2Txt: Unregistered Filter ONLY Convert Part Of File! Read Help To Know How To Register.]***
aenjadi marah dan tanpa banyak cakap lagi mereka berempat lalu menerjang ke depan dan mengamuk. Biarpun para pengeroyok itu berjum-lah puluhan orang, akan tetapi ternyata mereka itu merasa kewalahan menandingi amukan empat orang pendekar muda yang lihai itu. Hanya A - hai yang tidak ikut berkelahi. Pemuda ini hanya berdiri bingung dan berulang - ulang menegur dan men-cela, menyuruh mereka jangan berkelahi. Tentu saja pemuda ini akan celaka dan terluka kalau saja Bwee Hong dan Pek Lian tidak selalu melindungi-nya. Dua orang dara ini mengamuk tidak jauh dari tempat A - hai berdiri dan setiap kali ada penge-royok berani mendekati dan menyerang A - hai, tentu mereka robohkan dengan tamparan atau ten-dangan.
'Tahan, jangan berkelahi!" Tiba - tiba terde-ngar seruan orang yang penuh wibawa dan semua pengeroyok menahan senjata dan mundur. Seorang laki-laki yang gagah perkasa, sikapnya tenang namun berwibawa, berpakaian sederhana seperti petani, mukanya agak kurus dan tubuhnya jang-kung, muncul menghadapi lima orang muda itu. Ketika melihat laki - laki gagah perkasa yang usia-nya antara tigapuluh lima sampai empatpuluh ta-hun ini, Pek Lian berteriak girang.
"Suhu !!"
"Nona Ho, tak kusangka akan dapat bertemu denganmu di sini!" kata laki - laki gagah itu yang bukan lain adalah Liu Pang atau lebih terkenal dengan sebutan Liu - twako atau Liu - bengcu. "Mari kita menjauhi tempat ini dan bicara di tem-pat aman."
Tanpa membantah Pek Lian lalu mengajak kawan - kawannya pergi bersama mereka, menghi-lang di dalam kegelapan sebuah hutan tak jauh dari lembah. Kiranya di tengah hutan ini telah didirikan sebuah pondok darurat dan Liu Pang mengajak lima orang muda itu masuk ke dalam pondok di mana dinyalakan sebuah lampu gantung.
Pek Lian memperkenalkan gurunya kepada te-man - temannya. "Inilah guruku."
Seng Kun, Bwee Hong, dan Siok Eng, juga A-hai memberi hormat kepada laki - laki gagah per-kasa itu dan A - hai berkata lantang, "Pantas saja nona Pek Lian gagah perkasa, kiranya gurunya juga seorang yang amat gagah!" Mendengar ini, Liu Pang hanya tersenyum. Pemuda itu kelihatan begitu gagah, akan tetapi kejujurannya itu berbau ketololan!
"Sudah lama kami mendengar nama besar Liu-bengcu !" kata Seng Kun.
"Nona Ho, siapakah teman - temanmu ini ? Se-muda ini sudah memiliki kepandaian demikian he-batnya sehingga para pendekar kewalahan dibuat-nya." Pendekar yang kini menjadi pimpinan rakyat itu memang selalu menyebut nona Ho kepada mu-ridnya, hal ini tentu saja karena Pek Lian adalah puteri seorang menteri yang berkedudukan tinggi.
"Suhu, twako dan enci ini adalah Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong, keduanya adalah keturunan dan ahli waris dari Bu - eng Sin-yok-ong! Dan adik ini adalah Kwa Siok Eng, puteri ketua Tai-
bong - pai! Sedangkan twako ini adalah eh,
namanya dikenal sebagai A - hai saja. Dia sendiri lupa akan asal - usulnya, akan tetapi kalau dia sedang kesetanan, tidak ada seorangpun di dunia ini yang akan dapat melawannya !"
"Wah, wah, jangan begitu Pek Lian. Apakah aku kadang - kadang kemasukan setan ?" A - hai memprotes, menimbulkan senyum mereka.
"Siancai , tak kusangka akan dapat bertemu dengan orang - orang muda yang ternyata adalah
keturunan tokoh - tokoh besar yang amat hebat! Sungguh merupakan kegembiraan besar sekali. Sa-yang kami sedang dalam keadaan prihatin sehing-ga tidak dapat menyambut sepatutnya kepada cu-wi (anda sekalian). Nona Ho, bagaimana engkau dapat muncul di sini bersama sahabat