Halo!

Darah Pendekar Chapter 135

Memuat...

hio itu dari jauh, kalau tidak "

Mereka bercakap - cakap sambil melanjutkan perjalanan menuju ke sebuah kota terdekat. Kota itu adalah kota Yen - kin yang berada paling dekat dengan pantai di daerah itu. Mereka berlima me-masuki sebuah restoran dan memesan hidangan. Biarpun malam telah agak larut, banyak juga tamu yang makan di situ. Semenjak mereka memasuki kota Yen - kin, sudah terasa suasana panas karena perang- Rakyat sudah berkelompok dan terpisah-pisah, terasa ada ketegangan dan permusuhan. A-gaknya bentrokan dan kerusuhan dapat saja terjadi sewaktu - waktu di kota itu. Banyak toko menutup pintunya dan yang buka memberi harga tinggi kepada barang - barang dagangan mereka. Rakyat sudah bersiap dan mengumpulkan barang-barang untuk sewaktu-waktu dibawa pergi mengungsi. Padahal, perang baru terjadi di daerah barat dan utara, belum melanda daerah itu. Namun, suasana panas sudah terasa, bahkan percakapan - percakap-an di dalam restoran, di antara para tamu yang se-dang makan, juga berkisar sekitar pemberontakan-pemberontakan itu.

"Pemberontak-pemberontak itu telah mere-but sebuah kota lagi!" seorang laki - laki berpa- kaian pedagang bercerita kepada temannya sambil menghadapi hidangan.

Lima orang muda itu saling pandang, akan te-tapi tentu saja A - hai tidak begitu memperhatikan suasana ini. Seng Kun bertukar pandang dengan adiknya. "Hemm, orang she Chu keturunan jende-ral itu agaknya kini memberontak secara terbuka," bisiknya.

"Ihh, koko, jangan memburukkan she-nya. Ingat, kitapun sekarang she Chu juga!" cela Bwee Hong.

Kakaknya menghela napas panjang. "Sayang bahwa kenyataannya demikian. Mudah- mudahan antara kita dan dia, si pemberontak itu, tidak ada hubungan darah kekeluargaan."

"Sayang bahwa kaisar banyak melakukan tin-dakan-tindakan yang mengecewakan hati rakyat. Kalau rakyat merasa tidak senang kepada kaisar, hal ini akan membuat mereka mudah terpancing oleh kaum pemberontak dan keadaan sungguh amat berbahaya," kata pula Bwee Hong.

Pek Lian yang mengikuti percakapan mereka, mengangguk. "Memang benar- Dan agaknya para pemberontak maklum akan hal ini dan memanfaat-kannya."

Tiba-tiba Seng Kun memandang kepada Siok Eng dan bertanya lirih, "Maaf, nona. Apakah Tai-bong-pai juga melibatkan diri dalami kekeruhan negara ini ?"

Dengan keras Siok Eng menggeleng kepala. "Setahuku tidak, in - kong. Tai - bong - pai adalah perkumpulan bebas yang tidak mau melibatkan diri dengan urusan di luar Tai - bong - pai."

"Tapi kakakmu " Setelah meragu sejenak,

Seng Kun melanjutkan, berpikir bahwa terhadap dara ini yang sudah dikenal wataknya, lebih baik dia berterus terang karena dara ini tentu berpihak kepadanya atau kepada yang benar. "Dengar, no-na. Perahu besar pasukan asing yang menyerang perahumu itu, ternyata berlabuh di sini dan agak-nya para pemimpinnya mengadakan pertemuan rahasia dengan kakakmu. Aku merasa curiga se-kali bahwa ada persekutuan rahasia antara kakak-mu dengan orang - orang Mongol itu."

Siok Eng mjengerutkan alisnya. "Ah, kakakku Kwa Sun Tek itu memang sejak dahulu berwatak keras dan aneh, suka memakai jalan kekerasan dan mencari menang sendiri. Entah apa lagi yang hendak dilakukannya sekarang. Biar, aku akan mem-beritahukan ayah agar diselidikinya dan kalau per-lu dicegah perbuatannya yang akan menyeret Tai-bong-pai kepada kehancuran."

Setelah makan sambil bercakap - cakap lirih, mereka lalu mencari penginapan. Tiga orang dara itu tidur sekamar, dan dua orang pemuda itu tidur di lain kamar. Seng Kun mengatakan bahwa dia perlu untuk beristirahat dan menghimpun hawa murni untuk memulihkan seluruh tenaganya yang sudah pulih sebagian besar akan tetapi belum se-penuhnya itu.

Tiga orang dara itu masih belum tidur dan mereka masih bercakap - caikap. Tiba - tiba Siok Eng memberi isyarat agar mereka diam. Dara puteri ketua Tai - bong - pai ini memang paling tinggi ilmunya dibandingkan dengan kawan - kawannya. Diperhatikannya suara di luar pintu dan ia mende-ngar langkah - langkah orang, langkah - langkah dari orang - orang yang berkepandaian ! Kini Pek Lian dan Bwee Hong juga mendengarnya. Ada beberapa orang lewat di depan kamar mereka.

"'Kita harus berhasil menyelamatkannya !" Ka-limat ini terdengar oleh tiga orang gadis itu dan tentu saja mereka menjadi tertarik, terutama sekali Pek Lian dan Bwee Hong yang keduanya sedang melakukan tugas rahasia, yaitu mencari ayah Pek Lian. Karena besarnya hasrat hatinya menyelamat-kan ayahnya, maka mendengar kalimat itu, Pek

Lian menjadi curiga dan tanpa kata - kata ia mem-beri isyarat kepada kawan - kawannya, kemudian iapun keluar dari dalam kamar melalui jendela. Dua orang temannya mengikuti dan bagaikan tiga ekor burung saja, mereka berloncatan naik ke atas wuwungan rumah dan melakukan pengintaian. Mereka melihat empat orang laki - laki yang dari langkah kakinya dapat diketahui berilmu silat tinggi. Empat orang ini keluar dari rumah pengi-napan, dan setelah berjalan keluar kota, merekapun melanjutkan perjalanan dengan ilmju berlari cepat. Tentu saja tiga orang gadis itu tertarik dan mem-bayangi mereka. Tak lama kemudian, di tempat yang sunyi empat orang itu berhenti dan di situ telah berkumpul belasan orang pula. Ketika seorang di antara mereka bicara, Pek Lian menjadi girang dan juga terkejut bukan main.

"Para penyelidik kita mendengar berita bahwa Menteri Ho akan menjalani hukuman mati, dilaku-kan oleh perajurit - perajurit pemerintah, di luar kota Yen - tai, pada besok malam. Kita harus cepat bergerak. Yang penting, kita harus cepat memberi tahu kepada Sin - kauw Song - taihiap. Dia berada di sini."

Mendengar ucapan ini, tentu saja Pek Lian girang sekali. Ia berbisik kepada dua orang ka- wannya. "Mereka ini tentu teman Sin - kauw Song Tek Kwan, seorang di antara Huang - ho Su - hiap, yaitu seorang di antara guru-guruku. Mereka akan berusaha membebaskan ayah. Aku akan mengikuti mereka, aku ingin bertemu dengan guruku."

"Tapi, bagaimana dengan A - hai dan kakakku yang sedang mengobati dirinya di rumah pengi-napan itu ?" tanya Bwee Hong.

"Kalian pulanglah, biar aku sendiri yang pergi," jawab Pek Lian.

"Aih, mana bisa begitu ?" bantah Bwee Hong. "Aku harus menggantikan tugas kakakku." "Biarlah aku yang kembali ke penginapan dan besok akan kuceritakan kepada in - kong

tentang kepergian kalian ini," kata Siok Eng. Dua orang kawannya setuju dan puteri ketua Tai - bong - pai itupun segera meninggalkan tempat itu, kembali ke rumah penginapan.

Sementara itu, Pek Lian dan Bwee Hong segera mengikuti dan membayangi rombongan orang ga-gah yang berangkat meninggalkan tempat perte-muan di luar kota itu. Mereka memasuki hutan, mendaki bukit dan turun di sebuah lembah yang sunyi. Dan mereka itu tiba di tepi sebuah hutan kecil di mana terdapat sebuah pondok bambu se-derhana.

"Song - taihiap ! Kami datang dari Lembah

Yang - ce !" Seorang di antara mereka berkata

ke arah pintu pondok yang tertutup. Kiranya itu merupakan kata - kata sandi untuk saling mengenal di antara para pendekar patriot. Daun pintu terbu-ka dan seorang laki-laki yang usianya menjelang limapuluh tahun, mukanya kecil hidungnya pesek dan muka itu kelihatan seperti muka monyet, keluar sambil membawa lampu gantung.

Melihat kakek ini, Pek Lian merasa terharu se- kali dan iapun meloncat keluar dari tempat sem- bunyinya sambil berseru memanggil, "Song-su- hu ! !"

Semua orang terkejut dan Sin-kauw Song Tek Kwan, orang ke empat dari Huang - ho Su - hiap, juga terkejut dan mengangkat obornya tinggi-ting-gi sambil membalikkan tubuh memandang Pek Lian. Seketika wajahnya berseri gembira ketika dia mengenal wajah muridnya yang tercinta itu.

"Nona Ho Pek Lian !" teriaknya sambil melangkah maju menghampiri.

"Suhu !" Hubungan antara Pek Lian dan keempat orang suhunya memang akrab sekali, se- perti kepada paman sendiri saja. Maka kinipun, dalam keadaan terharu, Pek Lian tidak melakukan banyak peraturan, melainkan lari menghampiri dan memegang tangan gurunya itu, matanya basah dan air mata menitik turun ke atas pipinya- "Song su- hu ah, Tan-suhu dan Liem - suhu " Ia

tidak dapat melanjutkan, lehernya seperti tercekik rasanya teringat akan kematian dua orang guru-nya ketika mereka dikeroyok oleh pasukan peme-rintah.

Sin - kauw ( Monyet Sakti ) Song Tek Kwan mengangguk - angguk. "Aku sudah tahu, aku sudah mendengar akan hal itu. Mereka berdua tewas sebagai pendekar sejati, dan darah mereka hanya menambah mengalirnya darah pendekar di bumi kita, semoga menjadi pupuk bagi tanah air. Sudah-lah, seorang wanita perkasa seperti engkau ini tidak patut kalau meruntuhkan air mata, nona Ho. Sia-pakah kawanmu itu ?" tanya Sin - kauw Song Tek Kwan sambil menunjuk kepada Bwee Hong yang juga muncul mengikuti Pek Lian.

"Ia adalah enci Chu Bwee Hong "

"She Chu ?" Sin - kauw Song Tek Kwan memotong, memandang kaget.

"Jangan khawatir, suhu. Biarpun enci Hong ini she Chu, akan tetapi tidak ada hubungannya sedi-kitpun juga antara ia dan Chu Siang Yu. Dan ia ini adalah pewaris dari Bu - eng Sin - yok - ong."

Post a Comment