Halo!

Darah Pendekar Chapter 134

Memuat...

Apakah sesungguhnya upacara hio ini ? Suatu kebiasaan dari Tai - bong - pai yang amat mengeri-kan ! Semacam upacara menghukum musuh dari Tai - bong - pai yang merupakan upacara tradisio-nil. Tadinya dimaksudkan untuk menghormati arwah orang - orang mati dengan memberi korban. Biasanya, dalam sembahyang menghormat arwah orang mati, korban berupa ayam, bebek, babi dan bermacam masakan yang seolah - olah merupakan sebuah pesta yang dihidangkan kepada arwah si mati yang diundang. Akan tetapi, dalam upacara hio itu, yang dikorbankan adalah orang - orang hidup, yaitu musuh-musuh yang tertawan, sebagai hukuman mati bagi musuh dan sebagai hidangan bagi arwah orang mati. Hebatnya, yang bertugas membunuh musuh adalah mayat - mayat yang sengaja dihidupkan untuk keperluan ini! Dan bukan sembarangan orang yang akan mampu memimpin upacara ini. Dia harus memiliki tenaga Sakti Asap Hio dan juga mahir dengan Pukulan Mayat Hidup, ilmu yang paling tinggi dari Tai - bong - pai dan pada waktu itu, hanya tiga orang saja yang me-nguasainya, yaitu ketua Tai - bong - pai Kwa Eng Ki, isterinya, dan Kwa Sun Tek inilah. Kwa Siok Eng sendiri ketika melatih diri dengan ilmu - ilmu ini, karena salah latihan, sampai menderita lumpuh. Tenaga sakti ini, digabungkan dengan ilmu hitam, dapat dipergunakan untuk memanggil roh dan memerintahkan roh memasuki mayat, membuat mayat hidup kembali untuk sementara, untuk membunuh musuh yang dijatuhi hukuman.

Suasana semakin sunyi. Empat orang muda yang menjadi tawanan itu memandang dengan mata terbelalak dan muka pucat. Mereka belum tahu apa yang akan terjadi atas diri mereka, namiun mereka dapat merasakan adanya suasana yang menge-rikan dan ada getaran - getaran aneh yang mem-buat Pek Lian kadang-kadang menggigil. Tidak terdengar sesuatu kecuali lirih-lirih suara Kwa Sun Tek membaca mantera, mulutnya berkemak - kemik ketika dia bersila sambil mengheningkan cipta di dekat api unggun.

Tiba - tiba terjadi keanehan. Masih tidak ada angin bertiup sama sekali, akan tetapi kini api unggun yang bernyala - nyala itu bergoyang - goyang dan asap hio - hio itupun tidak tegak lurus lagi, melainkan menari - nari seperti ada yang meniup-nya, atau seolah - olah ada angin menyambal kare-na kehadiran sesuatu yang baru datang tapi tidak nampak oleh mata.

Melihat ini, para anggauta Tai - bong - pai itu yang duduk bersila, lalu menelungkup dengan ke-dua lengan di atas tanah, di depan kepala, seolah-olah memberi penghormatan kepada "yang baru datang". Sementara itu, Kwa Sun Tek masih terus bersila memejamkan kedua mata dan bibirnya ber-kemak - kemik semakin cepat.

Hampir saja Pek Lian menjerit ketika kebetulan ia memandang ke arah peti - peti mati itu, ia me-lihat empat sosok mayat dalam peti mati itu kini bangkit duduk dari dalam peti mati, kemudian dengan gerakan kaki empat sosok mayat itu keluar peti dan turun di atas tanah lalu menari - nari kaku dekat api unggun! Sungguh merupakan peman-dangan yang amat mengerikan sekali. Mayat- mayat itu melangkah kaku, dengan kedua lengan seperti kejang, pakaian compang - camping dan mengelu-arkan bau busuk ! Ada yang sudah mulai membu-suk. Air kekuningan yang berbau busuk menetes-netes dari tubuh mereka, bahkan ada yang sudah mengeluarkan belatung! Suasana menyeramkan menyelubungi tempat itu.

Tiba - tiba Kwa Sun Tek membuka matanya, memandang ke arah empat sosok mayat hidup dan tersenyum puas. Lalu dia melayangkan pandang matanya ke arah empat orang tawanan, dan me-nyeringai girang melihat keadaan mereka yang dicekam ketakutan. Dengan perlahan dia lalu me-nudingkan telunjuk larinya ke arah Seng Kun, orang yang dia ketahui memiliki ilmu kepandaian paling tinggi akan tetapi berada dalam keadaan sakit, lalu dia berseru, "Bunuh orang itu !"

Empat sosok mayat itu memutar tubuh meman-dang ke arah si kurus, kemudian perlahan - lahan memutar tubuh ke arah yang ditunjuk dan ketika mereka melihat Seng Kun dan agaknya mengerti makna perintah itu, bersicepat mereka berempat itu seperti berlumba dengan langkah- langkah kaku menghampiri Seng Kun. Ketika mereka lewat di dekat Pek Lian, tak tertahankan lagi Pek Lian mun-tah-muntah karena bau busuk itu sungguh membu-atnya merasa muak dan jijik. Melihat ini, Seng Kun sudah siap siaga. Dia sudah merasa betapa sebagian dari tenaganya pulih kembali. Akan tetapi pada saat itu, sebelum dia bergerak, nampak ba-yangan berkelebat dan bayangan putih itu ternyata adalah seorang dara cantik yang muncul dari ke-gelapan malam.

"Koko, jangan !" teriak gadis berpakaian

putih itu dan ia ini bukan lain adalah Kwa Siok Eng. Tanpa membuang waktu lagi Siok Eng lalu duduk bersimpuh di dekat kakaknya, mulutnya berkemak - kemik, Sungguh aneh. Empat sosok mayat itu tiba - tiba berhenti melangkah, bahkan tiba-tiba mereka itu roboh. Kemudian, nampak asap hio dan api kembali bergerak - gerak seperti tadi ketika Kwa Sun Tek memanggil arwah-arwah, agaknya kini arwah - arwah itu pergi meninggalkan tempat itu. Suasana yang menyeramkan dan aneh itupun lenyap bersama dengan datangnya kema-rahan yang membuat muka Kwa Sun Tek yang biasanya pucat itu menjadi kemerahan.

Akan tetapi Siok Eng tidak perduli. Melihat bahwa bahaya mengerikan telah lewat, ia lalu ber-lari ke depan dan menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Seng Kun. Dengan pandang mata me-sra dan lembut, dara itu terdongak memandang wajah penolongnya.

"In-kong, harap sudi memaafkan kesalahan kakakku yang ceroboh dan jahat itu."

Seng Kun memandang wajah cantik itu dan tersenyum halus. "Tidak mengapa, nona Kwa, agaknya ini hanya kesalahpahaman belaka "

Kwa Sun Tek sudah bangkit berdiri. Senjata pacul penggali kuburan itu menggigil di tangan kanannya dan mukanya kembali menjadi pucat seperti muka mayat, matanya mengeluarkan sinar berkilat saking marahnya.

"Siok Eng! Berani kau !" bentaknya dan

dia sudah melompat ke depan, mengepal tinju.

Dara itupun meloncat berdiri dan pada saat itu, Kwa Sun Tek sudah menerjangnya. Siok Eng me-nangkis dan dua tenaga sakti bertemu. Akan teta-pi, baru saja Siok Eng memperoleh bunga hitam berdaun putih, dan ia belum sempat menyempur-nakan ilmunya, maka ketika kedua lengan bertemu, iapun terjengkang dan bergulingan di atas tanah.

"Bocah lancang, berani engkau membela mu-suhku ? Engkau layak dihajar!" bentak Kwa Sun Tek yang agaknya sudah marah sekali. Pemuda kurus itu sudah menerjang maju lagi, mengirim hantaman ke arah Siok Eng yang baru saja bangun dengan pakaian kotor terkena debu.

"Desss !!" Tubuh Kwa Sun Tek terpental

ke belakang dan dia memandang dengan mata ter-belalak. Kiranya yang menangkis pukulannya atau yang menyambut dorongan tangannya dengan do-rongan lain dari depan itu bukan lain adalah pemuda jangkung tampan yang tadinya masih terbe-lenggu. Seng Kun telah dapat melepaskan beleng-gunya dan membantu Siok Eng menangkis pukulan itu dengan pengerahan tenaga sinkang. Tenaga sakti Pai - hud - ciang ternyata berhasil memukul mundur tenaga sakti Asap Hio ! Dan pada saat itu, Pek Lian, Bwee Hong dan A - hai juga sudah ter-bebas dari belenggu dan berdiri dengan sikap me-nantang. Kiranya sebelum menangkis pukulan, Seng Kun juga berhasil membebaskan totokan yang mempengaruhi tubuh adiknya sehingga dengan

35 sinkangnya Bwee Hong mampu mematahkan ikat-an kaki tangannya kemudian gadis ini membebas-kan Pek Lian dan A - hai. Melihat semua tawanan-nya sudah terlepas dan melihat betapa kini tenaga pemuda jangkung itu hebat sekali, Kwa Sun Tek menjadi gentar juga.

Akan tetapi, Kwa Sun Tek mengandalkan anak buahnya. "Serbu dan bunuh mereka!" bentaknya kepada anak buahnya

Akan tetapi Siok Eng juga melangkah ke depan menghadapi anak buah Tai - bong - pai. "Siapa berani maju melawan aku ?"

Tentu saja melihat puteri ketua mereka, semua anak buah atau anggauta Tai - bong - pai menjadi ketakutan dan tidak ada yang berani maju atau bergerak! Mereka takut dan taat kepada Kwa Sun Tek sebagai putera ketua mereka, akan tetapi merekapun takut kalau harus melawan puteri ketua mereka sendiri.

"Siok Eng!" Kwa Sun Tek membentak marah. "Engkau hendak berkhianat dan menghadapi Tai-bong-pai sebagai lawan? Tahu engkau apa hu-kumannya sebagai seorang pengkhianat ? Engkau akan dikorbankan kepada arwah - arwah kalau ku-laporkan kepada ayah dan ibu tentang sikapmu membela musuh Tai - bong - pai ini!"

"Hemm, engkaulah yang akan menjalani hukum-an itu kalau kulaporkan kepada ayah ibu !" Siok Eng juga membentak. "Mereka ini bukan musuhmusuh Tai - bong - pai, sebaliknya malah. Taihiap ini adalah penolongku. Dia telah menyelamatkan aku dengan mengorbankan nyawa ayah bundanya. Kalau engkau membunuhnya, berarti engkau mem-berontak dan berkhianat kepada ibu. Lihat baik-baik, apa yang dimilikinya ini ?" Siok Eng lalu menarik tali kalung yang tergantung di leher Seng Kun dan kini nampaklah benda yang berada di ujung kalung, yang tadinya tersembunyi di balik baju. Sebuah bendera logam dari Tai - bong - pai!

Melihat benda itu, Kwa Sun Tek terkejut sekali. Itulah bendera pusaka yang biasanya hanya dipe-gang dan dimiliki ayah bundanya saja. Kalau pemuda ini memilikinya, berarti bahwa dia telah dianggap sebagai orang yang sederajat dengan ke-tua Tai-bong-pai dan selalu harus dilindungi oleh Tai - bong - pai! Hatinya merasa penasaran dan kecewa sekali, akan tetapi di depan adiknya, dia tidak berani menentang. Kalau dia menentang dan sampai terdengar oleh ayah bundanya, tentu dia tidak akan mampu meloloskan diri. Maka, dengan wajah bersungut - sungut dia lalu menjura kepada Seng Kun dan berkata, "Maafkan kami, karena ti-dak tahu telah berani mengganggu. Tai-bong-pai akan selalu melindungi pemegang bendera pusaka."

"Ah, tidak mengapa. Sebagai kakak nona Siok Eng, bolehkah kami mengenal namamu ?" Akan tetapi pertanyaan Seng Kun ini tidak dijawab kare-na Kwa Sun Tek telah menjura lagi dan pergi dari tempat itu setelah memberi isyarat kepada para anak buahnya yang segera membawa mayat-mayat dan peti-peti itu pergi pula meninggalkan tempat itu entah ke mana.

Setelah mereka pergi, Pek Lian memegang ta-ngan Siok Eng. "Adik yang baik, sungguh menge-rikan sekali ilmu-ilmu dari Tai-bong-pai itu. Dan melihat keadaanmu, sungguh hampir aku tidak percaya bahwa engkau adalah puteri ketua Tai-bong-pai dan adik dari si kurus yang lihai tadi"

Siok Eng menarik napas panjang. "Aku memang menjadi anak bandel dan suka melawan dalam ke-luarga kami, karena aku tidak menyetujui banyak hal dalam Tai - bong - pai. Karena itulah maka ayah tidak menurunkan ilmu-ilmu yang tertinggi sehingga terpaksa aku belajar sendiri sampai terse-sat dan hampir mati karena salah latihan. Setelah demikian, barulah ayah bundaku menolong mem-bimbing. Kakakku itu sebenarnya tidak jahat, menurut ukuran Tai-bong-pai dan dia taat sekali terhadap perkumpulan kami. Memang kadang-ka dang perkumpulan kami keras dalam menghukum musuh - musuh yang merugikan kami. Tapi, ibu

sebenarnya bukan wanita kejam ah, sudahlah.

Semua orang tahu bahwa Tai - bong - pai adalah sebuah perkumpulan sesat dan aku adalah puteri dari ketuanya." Dara itupun menarik napas pan-jang lagi dan kelihatan berduka.

Melihat ini, Pek Lian menyimpangkan perca-kapan dan berkata, "Eh, bagaimana engkau dapat menyelamatkan diri dari lautan itu, adik Eng ?"

Mereka lalu saling menceritakan pengalaman mereka semenjak mereka saling berpisah karena perahu Tai - bong - pai itu pecah terbakar. Ter-nyata Siok Eng dan anak buahnya berhasil menye-lamatkan diri. "Banyak anak buahku yang tewas tenggelam. Setelah kami berhasil mendarat, aku perintahkan mereka pulang memberi laporan kepada ayah ten-tang segala hal, dan aku sendiri lalu mencari ke sepanjang pantai kalau - kalau ada di antara kalian yang selamat. Untung aku dapat mencium bau

Post a Comment