Halo!

Darah Pendekar Chapter 12

Memuat...

Setelah tiba di luar hutan, delapan orang itu berhenti, dengan hati-hati empat orang pemikul keranjang bambu itu menurunkan keranjang dan seorang di antara empat yang lain, yang suaranya nyaring halus mengandung wibawa yang menyeramkan, berkata, "Kita telah sampai di tempat yang dituju. Kalian harus berhati-hati. Suhu bilang bahwa ilmu silat keturunan locianpwe Sin-yok-ong amat lihai. Biarlah kita berhenti di sini dulu, nanti setelah lewat tengah malam kita mengetuk pintu."

Sementara itu, Bu Seng Kun yang memandang penuh perhatian, tidak juga mengenal siapa adanya orang-orang aneh yang berpakaian putih dan bermuka pucat itu. Melihat bahwa agaknya kakek Pek-bin-houw mengenal mereka, maka diapun berbisik lirih bertanya.

"Ah, apa kau tidak dapat menduga, taihiap ? Mereka itu jelas adalah orang-orang dari Kuburan Besar, iblis-iblis dari Tai-bong-pai !"

Kini Seng Kun terkejut sekait dan memandang ke arah rombongan erang yang berhenti agak jauh dari situ dengan penuh perhatian. Tentu saja dia sudah mendengar banyak tentang Tai- bong-pai. Nama Tai-bong-pai muncul pada jaman kakek buyut gurunya, kira-kira seabad yang lalu. Karena agaknya Pek-bin-houw tahu banyak tentang partai ini, maka dia bertanya lagi,

"Paman, benar - benar hebatkah mereka itu ?"

"Mereka mengerikan!" kata Pek - bin - houw lirih. "Akan tetapi kenapa mereka itu datang ke sini ? Padahal, mereka hampir tidak pernah keluar dari sarang mereka, yaitu sebuah kuburan kuno yang amat luasnya, yaitu bekas kuburan para bangsawan di jaman dahulu dan yang letaknya jauh di daerah barat melalui Gurun Go-bi. Kuburan di bawah tanah itu berisi kamar-kamar seperti sebuah istana dengan benteng yang kuat dan luas. Seratus tahun lebih yang lalu, tempat ini dimanfaatkan oleh seorang datuk iblis yang membuat jalan-jalan terowongan antara makam- makam itu dan dijadikan sarang, turun-temurun sampai sekarang."

Seng Kun mengangguk-angguk kagum. "Iblis-iblis Tai-bong- pai ini mudah diketahui karena kemunculan mereka tentu membawa bau dupa dari tubuhnya apa bila mereka berkeringat. Akan tetapi mereka itu jarang sekali keluar sehingga keadaan mereka tidak dikenal orang."

"Paman, mari kita keluar dan kita temui mereka. Mereka tiba di daerah kami, perlu kutanya apa maksud mereka mengunjungi kami di tengah malam begini," kata Seng Kun.

Selagi Pek-bin-houw meragu karena maklum betapa berbahayanya bertemu dengan iblis-iblis atau kawanan Tai-bong- pai itu, tiba-tiba ada anjing menggonggong di dekat mereka. Tentu saja anjing-anjing itu dengan mudah dapat menemukan terapat persembunyian mereka dan kini empat ekor anjing pelacak itu sudah mengurung mereka dan menggonggong dengan ribut sekali.

Melihat keadaan anjing-anjing mereka itu, seorang di antara delapan orang aneh itu sekali menggerakkan kakinya sudah mencelat dan tiba di depan Seng Kun dan Pek-bin-houw yang terpaksa harus keluar dari tempat persembunyian mereka.

"Orang-orang jahat, keluarlah dari tempat per-sembunyian kalian untuk menerima hukuman!" kata orang Tai-bong-pai itu yang ternyata adalah si pemimpin yang bersuara nyaring tadi. Muka orang ini pucat sekali, pakaiannya putih-putih seperti orang dalam keadaan berkabung, dari mori kasar dan berlengan pendek. Rambutnya digelung ke atas dan keadaannya amat sederhana, agaknya disesuaikan dengan keadaan orang berkabung. Di tengah dahinya terdapat sebuah benjolan sebesar kacang yang berwarna merah, membuat wajahnya nampak lebih menyeramkan lagi.

Pek-bin-houw melangkah maju dan memandang kepada orang itu, lalu berkata tenang dan sabar, "Harap saudara jangan sembarangan memaki orang sebagai orang jahat. Sebaliknya kalianlah yang datang di tempat orang di malam buta, sungguh amat mencurigakan."

"Nanti dulu, apakah engkau keturunan dari Raja Tabib Sakti ?" tanya orang itu. Tentu saja Pek-bin-houw menggeleng kepalanya. Bukan, aku "

"Tak perduli engkau siapa, kalau bukan ketu-runan Raja Tabib Sakti, engkau harus mati karena telah melihat kami!" Berkata demikian, orang ber-pakaian putih itu sudah menyerang Pek- bin- houw dengan tamparan kedua tangan dari kanan kiri!

"Plak-plak-plak-plakk ! !" Empat kali Pek-bin-houw diserang dan empat kali dia menangkis dengan pengerahan tenaga, akan tetapi ternyata orang itu kuat sekali dan sama sekali tidak terdorong oleh tangkisan-tangkisannya, bahkan dia sendiri merasa betapa kedua lengannya tergetar hebat ! Bukan main, pikirnya. Kembali dia telah bertemu dengan orang yang amat lihai, yang agaknya memiliki tingkat kepandaian tidak kalah tinggi dari pa-danya. Dan orang berpakaian putih itupun agaknya penasaran karena empat kali serangannya berturut-turut dapat dihindarkan lawan, maka dia mendesak terus dengan pukulan-pukulan yang semakin lama menjadi semakin dahsyat. Pek-bin-houw mengelak, menangkis dan balas menyerang, namun dia segera terdesak oleh lawan yang memiliki gerakan silat yang luar biasa anehnya itu. Terutama sekali bau dupa harum itu membuatnya agak muak dan pening.

Melihat keadaan Pek-bin-houw yang terdesak itu, Bu Seng Kun menjadi tidak tega, marah dan penasaran. "Berhenti!" teriaknya sambil meloncat ke depan. "Tamu dari manakah yang berani kurang aturan mengacau daerah kami ?"

Si muka pucat itu menghentikan serangannya dan memandang kepada Bu Seng Kun. "Apakah engkau keturunan Raja Tabib Sakti ?"

'Benar, aku adalah anggauta keluarga Bu !"

"Maafkan kami !" Orang itu lalu menjura dengan hormatnya kepada Bu Seng Kun. "Karena tidak tahu, kami telah membikin ribut." Dan tujuh orang temannya semua menjura kepada Bu Seng Kun dengan sikap hormat sekali.

Tiba - tiba terdengar seruan kaget dari Pek-bin-houw. Ujung lengan bajunya terkena noda merah seperti terkena darah, padahal dia sama sekali tidak merasa telah terluka dalam perkelahian tadi. Keringatnya yang keluar di lengan telah bercampur darah ! Dengan mata terbelalak dia memandang kepada bekas lawannya. "Kau. kau menggunakan ilmu siluman

apakah ?" tanyanya gagap karena dia teringat akan ilmu-ilmu aneh dari Tai-bong-pai yang pernah didengarnya di dunia kang-ouw.

Si muka pucat itu memandang kepada Pek-bin-houw, sikapnya sama sekali berbeda dengan sikapnya ketika dia menghadapi pemuda she Bu itu.

Terdengar dia mendengus, lalu berkata, "Hemm, ilmu itu belum kukeluarkan semua. Kalau tadi di-lanjutkan, sebentar kemudian engkau akan meng-geletak di sini tanpa darah setetespun di tubuhmu lagi, semua akan keluar membasahi tempat ini."

"Ilmu ...... ilmu penghisap darah. !" Pek-bin-houw berseru kaget dan mukanya menjadi

pucat. Dia memandang kepada lengannya dan melihat betapa di setiap pori-pori lengan yang bajunya disingkapkannya itu nampak butiran-butiran darah keluar bersama keringat. "Berterimakasihlah kepada Bu-kongcu karena kalau tidak ada Bu-kongcu yang menghentikan pertempuran tadi, engkau tentu sudah menjadi mayat tanpa darah. Melihat muka tuan rumah yang kami hormati, biarlah kuberi obat kepadamu."

"Tidak perlu!" kata Bu Seng Kun. "Paman ini adalah tamuku, maka akulah yang wajib menolong-nya." Pemuda ini mengeluarkan sebutir pel merah dan memberikannya kepada Pek-bin- houw. Paman, telanlah pel ini."

Pek-bin-houw menjadi girang, menerima pel itu dan menelannya. Hal ini dilihat oleh delapan orang kawanan Tai-bong- pai itu dengan pandang mata kagum. Mereka agaknya sudah tahu akan kelihaian tuan rumah dalam ilmu pengobatan, maka mereka merasa kagum sekali betapa hanya dengan sebutir pel saja, maka seketika darah yang keluar dari lubang-lubang lengan bersama keringat itu seketika berhenti!

"Siapakah kalian ?" Bu Seng Kun bertanya. "Be-narkah dugaan kami bahwa kalian adalah para anggauta Tai-bong-pai ?"

Delapan orang itu menjura dengan hormat, dan pemimpin mereka yang tadi melawan Pek- bin-houw menjawab, "Tidak keliru dugaan Bu-kongcu. Harap dimaafkan kalau kami mendatangkan keributan, akan tetapi kami perlu sekali untuk menghadap keturunan Raja Tabib Sakti yang kalau tidak salah bernama Bu Kek Siang taihiap dan tinggal di sini."

"Beliau adalah ayahku. Kalau kalian hendak bertemu dengan keluarga kami, mengapa datang malam-malam ?"

"Maaf, kongcu, akan tetapi kami tidak pernah keluar pada siang hari!" Orang itu berkata dan agaknya merasa heran dan penasaran. Teringatlah Seng Kun akan kebiasaan yang luar biasa dari kawanan Tai-bong-pai, yaitu mereka hanya keluar di malam hari saja. Maka, maklum bahwa mereka itu tentu mempunyai urusan penting sekali dan kalau dia berdua dengan Pek-bin-houw saja yang harus melayani delapan orang ini, tentu keadaannya akan berbahaya sekali.

"Kalau begitu, marilah kalian ikut bersamaku menghadap ayah."

Beramai merekapun mengikuti Bu Seng Kun menggotong lagi keranjang bambu itu. Pek-bin- houw berjalan mengikuti mereka dari belakang, diam-diam menduga-duga apa gerangan isi keranjang bambu yang dipikul dengan amat hati-hati oleh empat orang itu. Dia, sudah banyak mendengar akan kekejaman orang-orang aneh dari Tai-bong-pai yang terdiri dari golongan sesat, maka diapun merasa curiga dan menduga bahwa kedatangan mereka ini tentu membawa niat yang kurang baik.

Bu Seng Kun membawa para tamu itu ke pekarangan luar rumah keluarganya. Pemuda ini bersikap hati-hati sekali maka membawa mereka ke pekarangan, tempat terbuka dan kedatangan mereka tentu saja dapat dilihat dengan baik oleh ayah bundanya. Dan memang sesungguhnyalah. Kedatangan rombongan itu sudah dapat dilihat oleh Bu Kek Siang. Pendekar ini telah melihat dan dapat menduga siapa yang datang berkunjung, maka diapun sudah menanti di ruangan tamu yang berada di depan sebelah kanan.

"Ayah, tamu-tamu dari Tai-bong-pai datang berkunjung !" teriak puteranya dari luar. "Persilahkan mereka memasuki ruangan tamu !" jawabnya dari dalam ruangan itu yang

sudah dite-rangi oleh cahaya beberapa batang lilin yang di-nyalakan.

Post a Comment