Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 130

Memuat...

Saking tegang hatinya, penuh kekhawatiran kalau-kalau wasiat itu terampas pula oleh Hek-giam-lo, Suling Emas sampai lupa untuk melepaskan tangan Lin Lin. Sejak tadi ia masih memegangi tangan itu, sungguhpun kini tidak ia cengkeram seperti tadi. Dengan jantung berdebar Lin Lin melirik ke arah kedua tangannya yang digenggam Suling Emas. Ia tersenyum.

"Panggil dulu namaku.."

"Lin Lin.."

"Sebut aku Moi-moi (Adik).."

"Lin-moi-moi yang baik"

Kata Suling Emas, biarpun mendongkol merasa geli juga karena memang gadis ini adik angkatnya, apa salahnya menyebutnya adik?

"Kau menyebut dinda, aku pun menyebut kanda. Koko yang baik, surat wasiat itu sudah kumusnahkan."

"Kau musnahkan?"

Mereka bertemu pandang, sama-sama menyelidik. Melihat wajah Suling Emas agak berseri membayangkan kegirangan hatinya, legalah hati Lin Lin.

"Sudah kurobek-robek menjadi sekeping-keping kecil lalu kusebarkan ke dalam sungai."

"Betul sudah musnah? Apakah Hek-giam-lo tidak melihatnya?"

Kata Suling Emas agak terburu-buru dan mukanya menjadi merah karena baru sekarang setelah hilang kekhawatirannya, ia teringat bahwa sejak tadi ia menggenggam sepasang tangan yang kecil halus itu.

"Lucu sekali Hek-giam-lo. Dia goblok. Ada beberapa potongan surat wasiat itu ia ambil, akan tetapi apa artinya satu dua huruf pada kepingan-kepingan kecil itu"

Ia mendesak, curiga dan bertanya.

"Dan apa kau jawab?"

"Kukatakan bahwa surat itu dari.. dari kekasihku, hi-hik.."

Kembali terpaksa Suling Emas tersenyum, perbuatan yang jarang atau tak pernah ia lakukan. Semenjak ia terpaksa berpisah dari kekasihnya, Suma Ceng, tersenyum merupakan hal yang sukar dapat dilakukan Suling Emas karena hatinya sudah terluka dan ia selalu memandang penghidupan dari segi yang muram-muram. Akan tetapi entah mengapa, berdekatan dengan Lin Lin, ia sudah beberapa kali tersenyum seakan-akan kelincahan dan kegembiraan gadis ini merupakan cahaya terang yang sinarnya mencapai pojok-pojok hatinya yang gelap.

"Hemmm, anak nakal. Lalu, dia bagaimana? Percayakah?"

"Mula-mula tidak. Ia bertanya siapakah kekasih itu."

"Dan kau jawab..? Tentu.. murid Gan-lopek, ya?"

Suling Emas sendiri merasa heran mengapa mendadak sontak ia melayani kelakar Lin Lin bahkan mengeluarkan godaan ini. Benar-benar ia menjadi seperti kanak-kanak, pikirnya dengan wajah merah.

"Iiiihhhhh.."

Tiba-tiba Lin Lin menggunakan kedua tangannya menangkap lengan tangan Suling Emas dan sepuluh buah jari-jari tangannya mencubiti kulit lengan itu.

"Aduh-aduh.. aduh.."

Suling Emas tertawa dan menjerit-jerit karena memang sakit sekali cubitan-cubitan jari yang berkuku runcing itu. Ia tidak tega tentu saja untuk menggunakan tenaga melawan cubitan karena selain tak patut main-main dibalas sungguh-sungguh, juga ia khawatir kalau-kalau kuku-kuku jari yang terpelihara itu akan rusak oleh perlawanannya.

"Kau menyebalkan. Siapa bilang, hayo, siapa bilang aku punya kekasih murid Gan-lopek si badut tua itu? Memalukan, menggemaskan.."

"Sudah.. sudah, aduh.."

Suling Emas masih tertawa-tawa.

"Lepaskan"

"Hayo bilang dulu siapa yang mengatakan demikian?"

Kegembiraan Suling Emas timbul, maka ia merasa belum cukup menggoda. Sambil tertawa ia berkata,

"Memang sudah sepantasnya Lie Bok Liong yang tampan dan gagah itu menjadi anumu.. ha-ha.. aduhhh"

Cubitan Lin Lin makin keras.

"Anu apa? Hayo bilang, apa yang kau maksudkan dengan anumu..?"

"Aduh, sakit, Lin-moi, lepaskan. Kumaksudkan kekasihmu tentu. Bukankah ia amat mencintamu dan selalu membelamu?"

Mendadak Lin Lin melepaskan tangannya dan.. menangis.

"Eh-eh.. mengapa menangis..?"

Suling Emas benar-benar terkejut dan heran sekali.

"Kau jahat"

Kau mengejekku, kau menjengkelkan, sengaja bikin aku marah"

Kau tidak punya hati, tak berjantung"

"Eh.. oh.. nanti dulu, Lin-moi. Aku sama sekali tidak mengejekmu, aku.. aku hanya main-main. Masa tidak boleh orang main-main? Maafkan aku, Lin-moi, sungguh mati aku tidak bermaksud membikin kau marah dan jengkel. Sudahlah, kau maafkan aku."

Lin Lin mengangkat mukanya yang merah dan basah.

"Betul-betul kau tidak mengejek?"

Tanyanya dan Suling Emas tidak berani main-main lagi karena suara itu mengandung kesungguhan hati yang mengherankan dan mengejutkan. Mengapa gadis yang lincah dan suka berjenaka ini begitu sedih ketika digoda?

"Tidak, aku tidak mengejek, hanya main-main."

"Bagaimana kau bisa menyangka begitu terhadap Lie Bok Liong twako? Apa sebabnya kau mengira dia kekasihku?"

Bingunglah Suling Emas, akan tetapi dengan tenang ia menjawab.

"Lin-moi, sudahlah, aku tadi hanya main-main. Pula, andaikata aku benar timbul persangkaan demikian, bukankah engkau sendiri yang tadi menceritakan betapa Lie Bok Liong hampir saja mengorbankan nyawa demi untuk membelamu? Hanya orang yang mencinta dengan sepenuh jiwa raga dapat membela dengan pengorbanan sehebat dia."

Dengan muka termenung Lin Lin mengangguk-angguk.

"Memang dia amat baik hati, dia.. agaknya memang betul bahwa dia amat mencintaku. Liong-twako seorang berbudi. Tapi.. tapi bukan dia.. aku tidak mencintanya, aku hanya suka kepadanya sebagai seorang kakak atau sahabat.."

"Hemmm, kasihan dia. Sudahlah, Lin-moi, cukup tentang dia. Terang kalau begitu bahwa bukan dia kekasihmu, maafkan aku tadi. Kemudian bagaimana dengan Hek-giam-lo tadi? Ketika dia tanya siapa kekasihmu, bagaimana jawabmu? Apa kau bilang kekasihmu itu ada?"

Suling Emas tak dapat menyembunyikan keheranan yang membayang pada wajahnya ketika melihat betapa gadis itu kini memandangnya sambil tersenyum dengan wajah cerah. Bukan main, Baru saja menangis dan marah-marah, kini sudah tersenyum-senyum. Siapa tidak akan heran kalau melihat udara yang gelap mendung dan hujan tiba-tiba tampak matahari bersinar?

"Tentu saja ada, dan dia percaya"

"Siapa?"

Lin Lin berdebar jantungnya. Ia seorang gadis yang tabah dan jujur, tidak pemalu, akan tetapi pertanyaan ini sekarang amat sukar terjawab. Ia terpaksa menyembunyikan mukanya dengan tunduk, lalu menjawab.

"Suling Emas.."

Suling Emas menjadi begitu kaget sampai ia berdiri kesima tak mampu bergerak atau mengeluarkan kata-kata. Ia masih mengira bahwa Lin Lin gadis nakal itu sengaja menyebut namanya untuk mempermainkannya sebagai pembalasannya tadi. Akan tetapi melihat kepala yang ditundukkan, sikap yang malu-malu dan bersungguh-sungguh itu, makin gelisahlah dia.

"Lin-moi, harap kau jangan main-main yang bukan-bukan.."

Ia masih mencoba untuk melawan kekhawatirannya. Lin Lin mengangkat mukanya. Merah sekali muka itu, terutama sepasang pipinya, seolah-olah ketika menunduk tadi, gadis ini memulas kedua pipinya dengan yanci (pemerah pipi). Tapi kini suaranya terdengar sungguh-sungguh dan penuh tuntutan.

"Mengapa, Koko? Aku tidak main-main"

Bukankah pengakuanku itu benar-benar? Kalau kau sekarang terheran, kaulah yang pura-pura dan main-main. Yang kau lakukan terhadapku di perpustakaan istana itu.."

Suling Emas gelagapan. Tentu saja ia tidak dapat melupakan peristiwa itu, pertemuannya pertama kali dengan Lin Lin, pada suatu malam di lingkungan istana, ketika itu ia berada di dalam gedung perpustakaan, sedang melamunkan kekasihnya, Suma Ceng, ketika tiba-tiba muncul Lin Lin yang di dalam cuaca remang-remang itu bentuk tubuh dan potongan wajahnya mirip benar dengan Suma Ceng. Pada waktu itu, karena hatinya sedang diliputi penuh rindu dendam terhadap kekasihnya, ia seperti orang mimpi, mengira Lin Lin, Suma Ceng, memeluknya, menciumnya. Agaknya Lin Lin tak pernah dapat melupakan peristiwa itu pula, hanya bedanya, kalau ia mengenang peristiwa itu, dengan perasaan jengah dan malu serta merasa bersalah, sebaliknya gadis ini menganggap peristiwa itu sebagai pernyataan cinta kasih Suling Emas terhadap gadis itu.

"Kenapa? Apakah kau mempermainkan aku ketika itu?"

Lin Lin mendesak ketika melihat wajah Suling Emas menjadi pucat. Gadis ini merasa gelisah sekali, khawatir kalau-kalau dugaan hatinya meleset. Ketika itu ia merasa yakin benar bahwa Suling Emas mencintanya.

"Sudahlah, Lin-moi. Apakah kau tidak bisa memaafkan kesalahanku? Lekas kau lanjutkan ceritamu. Bagaimana dengan tongkat pusaka? Di mana tongkat itu sekarang?"

"Dirampas Hek-giam-lo,"

Jawab Lin Lin pendek, masih bersungut-sungut karena ia merasa betapa Suling Emas seperti hendak mengingkari perbuatannya di perpustakaan.

"Lin-moi, sekarang juga kau harus ikut aku. Kalau hal ini tidak lekas kuurus, selamanya kau akan dianggap musuh besar Beng-kauw."

Post a Comment