"Nanti dulu, Suling Emas. Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa aku mempunyai gerakan-gerakan hebat. Bagaimana kau bisa tahu padahal aku tak pernah melakukan pertempuran sejak tadi?"
"Kau tadi dapat menahan pengaruh Kim-kong Sin-im dari suara sulingku, kemudian dengan pukulan jarak jauh yang aneh kau meruntuhkan senjata rahasia."
"Oh, itu?"
Diam-diam Lin Lin kagum. Kelihaian Suling Emas dapat diukur dari sini. Sebelum ia memperlihatkan ilmunya, pendekar sakti ini sudah mengetahuinya hanya melihat hal itu saja. Timbul kegembiraannya hendak mencoba ilmu barunya terhadap pendekar yang menggugah kasih sayang dan kekaguman hatinya ini.
"Suling Emas, sebelum aku memberi tahu dari mana aku mendapatkan ilmu ini, aku hendak mengujinya kepadamu. Harap kau suka meneliti dan memberi petunjuk kepadaku."
Kembali Suling Emas tersenyum. Gadis ini berwatak aneh, akan tetapi jujur dan jenaka. Sudah menjadi watak semua tokoh kang-ouw untuk menyembunyikan rahasia ilmunya, apalagi yang belum dilatih masak-masak, mengeluarkannya saja di depan umum tentu segan karena khawatir kalau-kalau diketahui rahasianya oleh orang lain. Akan tetapi gadis ini selain hendak membuka rahasia malah ingin mengujinya terhadap dirinya dan minta petunjuk. Mengapa gadis ini amat percaya kepadanya, apalagi karena belum tahu bahwa dia adalah Kam Bu Song, dan mengingat betapa dahulu telah terjadi peristiwa "menyeramkan"
Di lingkungan istana, atau lebih tepat di gedung perpustakaan istana ketika ia menyangka gadis ini Suma Ceng dan memeluk dan menciumnya? Karena peristiwa itu pula maka ia sengaja tidak memperkenalkan diri,
Biar gadis ini sendiri yang kelak mendengar dari Kam Bu Sin atau Sian Eng bahwa dia, Suling Emas, laki-laki yang dulu pernah bersikap "kurang ajar"
Kepada gadis itu, adalah kakak angkatnya. Apalagi, kakak angkat bukanlah hubungan yang amat dekat, jauh bedanya dengan saudara tiri yang masih seayah lain ibu seperti halnya dia terhadap Bu Sin dan Sian Eng. Kakak angkat pada hakekatnya adalah orang lain dan bukan apa-apa. Terutama sekali apabila diingat bahwa gadis ini sebetulnya adalah seorang puteri bangsa Khitan, semenjak dahulu musuh utama bangsanya, khususnya Kerajaan Hou-han. Akan tetapi betapapun juga semenjak kecil gadis ini dipelihara ayahnya, dan mengingat betapa gadis ini bercita-cita besar sekali ingin menjadi Ratu Khitan, tidak ada salahnya kalau ia memberi petunjuk agar Lin Lin memiliki kepandaian yang boleh diandalkan, terutama sekali untuk menghadapi Hek-giam-lo yang sakti.
"Silakan kau perlihatkan ilmu itu."
Lin Lin melompat mundur sampai dua meter, berdiri dalam jarak empat meter dari Suling Emas, kemudian merangkap kedua tangan seperti orang menyembah, ditaruh di depan dada kiri, kemudian terus digerakkan ke atas dengan sepasang matanya meram. Lambat-lambat gerakan ini, namun makin lama makin tergetar dan menggigil, kemudian kedua tangan itu mengembang ke atas kepala seperti seorang yang memohon sesuatu daripada Tuhan. Beberapa detik sepasang tangannya menggigil di atas kepala, lalu diturunkannya kembali dan ia membuka matanya. Sikapnya berubah tenang sekali, bibirnya tersenyum, kedua tangannya tidak menggigil lagi.
"Aku sudah siap, Suling Emas."
Suling Emas mengikuti semua gerakan Lin Lin itu dengan mata makin lama makin terbelalak. Merangkap tangan di depan dada itu. Hampir ia tidak percaya.
Gerakan merangkap tangan ke depan dada lalu menggerakkan ke atas kepala dan memohon kepada Thian, itulah gerakan sembahyang dari Beng-kauw. Akan tetapi ia tahu betul bahwa Lin Lin bukanlah seorang penganut Beng-kauw, dan ia pun dapat menduga dari kedua tangan yang menggigil mengandung getaran tenaga dahsyat itu bahwa gerakan gadis itu tadi sama sekali bukan semata-mata gerakan upacara keagamaan, melainkan cara untuk mengerahkan semacam hawa sakti yang hebat dan luar biasa. Hal ini dapat dibuktikan dari sikap gadis itu yang berubah begitu tenang, terlalu tenang, sebagai tanda seorang yang seluruh tubuhnya sudah disaluri tenaga sin-kang (hawa sakti) yang kuat. Ia pun bersikap waspada dan dengan mata penuh selidik ia berkata.
"Nah, kau mulailah menyerang,"
Suaranya lirih karena hatinya berguncang.
"Lihat serangan"
Lin Lin berseru dan ia segera melompat maju dan memutar-mutar tubuhnya bagaikan sebuah gasing. Inilah jurus ke tujuh daripada ilmu yang ia pelajari. Menghadapi Suling Emas yang amat lihai, ia tidak mau mempergunakan jurus-jurus sederhana dan sengaja ia memilih jurus-jurus yang ia anggap paling aneh. Jurus ini memang hebat dan aneh yang menurut catatan rahasia itu disebut sebagai jurus Soan-hong-ci-tian (Angin Puyuh Mengeluarkan Kilat).
Selama tahun-tahun belakangan ini, semenjak ia mendekati Beng-kauw, sudah sering kali Suling Emas menyaksikan jurus-jurus terlihai dari Beng-kauw. Bahkan dengan Kauw Bian Cinjin yang menjadi sahabat baiknya, sering kali ia bertukar pengalaman dan kritik tentang jurus-jurus sakti. Akan tetapi belum pernah ia menyaksikan jurus macam ini. Hal ini tidaklah mengherankan kalau diingat bahwa jurus ini adalah sebuah di antara tiga belas jurus istimewa yang khusus diciptakan oleh mendiang Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, diciptakan khusus untuk menghadapi semua isi tiga kitab pusaka yang dicuri oleh puterinya sendiri. Jadi boleh dibilang tiga belas macam ilmu pukulan sakti ini diciptakan untuk mengatasi seluruh inti sari ilmu kesaktian Beng-kauw yang telah ada. Tidaklah mengherankan apabila hebatnya bukan alang kepalang, sehingga agaknya Suling Emas sendiri tentu akan menemui lawan yang mengejutkannya kalau saja Lin Lin sudah sempurna berlatih.
Namun, biarpun baru beberapa hari Lin Lin berlatih ilmu baru ini, menghadapi serangan pertama ini Suling Emas menjadi terheran-heran. Mula-mula ia tidak terkejut, hanya terheran-heran karena melihat gerakan serangan yang begitu aneh, bahkan menggelikan. Mana ada jurus ilmu silat yang menyerang dengan pembukaan seperti itu? Berputar-putar seperti gasing, bagaimana dapat menyerang dengan baik? Malah boleh dibilang memberi kesempatan kepada lawan untuk menyerang hebat selagi tubuh berputar-putar seperti itu. Akan tetapi tentu saja ia tidak mau mempergunakan kesempatan ini untuk menyerang, karena ia hanya ingin menguji. Ia sendiri tegak menanti sampai gadis itu mendahului menyerang.
Dan serangan itu datang, Bukan main aneh dan hebatnya. Tiba-tiba, dengan tubuh masih berputaran, setelah dekat dengan Suling Emas, tiba-tiba dari putaran itu menyambar keluar dua buah tangan yang bergerak tak tersangka-sangka. Tangan pertama, yang kiri, menghantam ke arah kepala Suling Emas, dan tangan kanan sebagai pukulan ke dua sudah menyambar ke arah dada sebelum pukulan pertama mengenai sasaran. Dua serangan sekaligus yang susul-menyusul dan kecepatannya cukup membahayakan. Suling Emas miringkan kepala menghindarkan diri daripada pukulan pertama dan sengaja ia mengangkat lengannya menangkis ketika pukulan ke dua tiba menyambar dadanya.
"Dukkkkk"
Tubuh Lin Lin terhuyung-huyung seperti melayang-layang, akan tetapi Suling Emas mengeluarkan seruan heran dan kaget ketika kuda-kudanya tergempur oleh pertemuan lengan itu. Kalau saja ia tidak cepat mengerahkan sin-kangnya, tentu ia akan terhuyung juga, biarpun tidak sehebat Lin Lin. Ia cepat meloncat untuk menahan dan menolong Lin Lin, akan tetapi ternyata gadis itu sudah dapat menguasai dirinya kembali dan sama sekali tidak apa-apa.
"Kenapa kau sungguh-sungguh?"
Lin Lin mengomel.
"Wah, hebat sekali, Lin Lin, hebat sekali seranganmu tadi. Mengandung tenaga mujijat. Sayangnya, dengan berputaran seperti itu, sebelum kau memukul, kau dapat diserang lawan lebih dulu dan keadaan berputaran itu tidak menguntungkan."
"Hi-hik, boleh coba. Aku tadi justeru mengharapkan kau menyerang lebih dulu. Suling Emas, di dalam catatan ilmu ini, kelihaian jurus Soan-hong-ci-tian terletak kepada cara berputaran itulah. Dan jangan kira bahwa berputaran seperti itu melemahkan kedudukanku, ih, sama sekali terbalik. Itulah gerakan memancing, malah sengaja begitu biar lawan menyerang lebih dulu. Kehebatan daya serangnya justeru di waktu lawan menyerang, karena lawan memandang rendah dan percaya serangannya akan berhasil. Mau coba?"
Akan tetapi Suling Emas mengerutkan kening, memikir-mikir.
"Soan-hong-ci-tian..? Tak pernah kudengar jurus ini, melihatnya pun baru sekarang.."
"Hi-hik, masa? Suling Emas yang tersohor sakti, pendekar jagoan itu tidak mengenal jurusku? Lucu"
"Lin Lin, dari mana kau memperoleh ini? Siapa yang mengajarmu?"
"Sssttt, nanti dulu. Belum habis kan ujian ini? Kau jaga seranganku berikutnya"
Sambil berkata demikian Lin Lin sudah menerjang lagi mengeluarkan jurus-jurus yang aneh dan lihai. Dari kedua tangannya yang memukul menyambar angin yang amat kuat sehingga Suling Emas tak berani memandang rendah. Makin lama Suling Emas makin tertarik, karena jurus-jurus itu betul-betul belum pernah ia melihatnya.
"Pergunakan pedangmu.."
Katanya gembira.
"Lekas cabut pedangmu dan mainkan menurut jurus-jurusmu.."
Tadinya Lin Lin sudah merasa kecewa sekali karena biarpun ia menerjang dengan hebat, sama sekali ia tidak mampu menyentuh bayangan Suling Emas sehingga ia merasa seperti menyerang bayangannya sendiri dan merasa betapa ilmunya yang baru ini kalau berhadapan dengan lawan sesakti Suling Emas atau Hek-giam-lo, benar-benar tidak ada gunanya. Akan tetapi mendengar perintah Suling Emas ini, ia tidak mau membantah, apalagi dalam suara itu terkandung kegembiraan dan kekaguman. Sinar kuning emas berkeredepan menyilaukan mata ketika Lin Lin mencabut Pedang Besi Kuning dan mainkan pedang pusaka ini menurut jurus-jurus ilmu baru. Tiga belas jurus sudah ia mainkan semua dan pedangnya sama sekali tidak dapat menyentuh ujung baju Suling Emas. Dengan perasaan sebal dan kecewa Lin Lin menghentikan permainannya dan menyimpan pedangnya, membanting kaki dan berkata.
"Sudahlah"
Perlu apa kau permainkan aku? Memang aku tidak becus, dan ilmuku, ilmu picisan"
"Wah, siapa bilang begitu? Lin Lin, kau benar-benar telah mewarisi ilmu yang luar biasa sekali. Sungguh mati, kalau kau sudah melatih ilmu itu dengan sempurna, jarang ada tokoh kang-ouw yang akan mampu menandingimu. Bahkan aku sendiri merasa ragu-ragu apakah aku akan dapat bertahan begitu mudahnya menghadapimu. Ilmu mujijat, Lin Lin, hanya kurang terlatih dan ada bagian-bagian yang kau keliru latih agaknya. Kau tadi minta petunjuk, bukan? Nah, aku akan memberi petunjuk-petunjuk kalau saja kau suka berlatih perlahan-lahan. Aku bersumpah takkan mempelajari ilmu itu, dari manapun datangnya."
"Jangan pura-pura membesarkan hatiku, padahal kau hanya mengejek. Kau begitu baik hubunganmu dengan Beng-kauw, masa pura-pura tidak mengenal ilmu silat yang kutemukan di dalam tongkat pusaka Beng-kauw?"
Ucapan Lin Lin ini sewajarnya saja karena memang ia sungguh-sungguh menganggap bahwa Suling Emas mempermainkan dan mengejeknya yang membuat hatinya mendongkol sekali. Akan tetapi ternyata ucapan ini mengagetkan Suling Emas yang terang-terangan membelalakkan kedua matanya dan memandang kepada gadis itu seakan-akan Lin Lin bukan seorang gadis jelita melainkan seorang siluman yang mengerikan.
Memang bukan main kaget hati Suling Emas mendengar kata-kata ini. Hal ini ada sebabnya. Tadi ketika ia melayani jurus-jurus istimewa anehnya dari Lin Lin, ia selain kaget dan kagum, juga merasa heran mengapa jurus-jurus ini mengandung inti sari ilmu Beng-kauw, akan tetapi lebih tinggi dan seakan-akan mengandung unsur-unsur menekan dan mengatasi inti sari ilmu Beng-kauw. Inilah yang mengagetkan hatinya ketika mendengar bahwa gadis itu mempelajarinya dari surat warisan yang ditemukan di dalam tongkat pusaka Beng-kauw. Otaknya yang cerdik segera dapat menangkap rahasianya. Takkan salah lagi, tentu mendiang Pat-jiu Sin-ong yang menciptakan dan menyembunyikannya di dalam tongkat pusaka Beng-kauw dengan maksud menurunkan atau mewariskannya kepada ketua Beng-kauw.
Adapun ketua Beng-kauw adalah pamannya sendiri, Liu Mo, yang kelihatan tenang-tenang saja ketika tongkat itu dirampas Hek-giam-lo. Andaikata pamannya tahu bahwa di dalam tongkat pusaka itu terdapat surat wasiat mendiang kakeknya yang mengandung pelajaran ilmu kesaktian yang begitu hebat, sudah tentu pamannya itu akan menjadi panik sekali dan tak mungkin menyerahkan tongkat begitu saja kepada Hek-giam-lo, karena sekali ilmu itu dipelajari orang luar, berarti Beng-kauw terancam. Hal ini hanya berarti bahwa pamannya belum tahu akan surat wasiat, berarti pula bahwa surat wasiat itu belum pernah terlihat orang lain dan Lin Lin adalah orang pertama yang mempelajarinya. Lin Lin yang kini mendapat giliran kaget sekali ketika Suling Emas menangkap tangannya dan memegangnya erat-erat.
"Eh-eh, aduuuhhhhh.. hendak kau patahkan lenganku?"
Serunya, agak dibuat-buat manja karena sesungguhnya, seerat-eratnya Suling Emas memegang, tentu saja tidak sampai mematahkan tulang lengannya, apalagi dia memiliki sin-kang yang tidak sembarangan,
"Eh, maaf, eh.. Lin Lin, di mana surat wasiat itu? Di mana sekarang?"
Tanya Suling Emas agak gugup. Siapa orangnya tidak akan gugup? Kalau surat wasiat itu terjatuh ke tangan orang lain seperti Hek-giam-lo, tentu Beng-kauw akan terancam bahaya. Takkan ada orang Beng-kauw yang akan dapat melawan musuh yang memiliki ilmu itu secara mendalam, karena ia tahu bahwa ilmu itu adalah ilmu berinti sari pelajaran Beng-kauw yang agaknya dicipta untuk mengatasi kepandaian orang-orang Beng-kauw.
"Kenapa sih? Kau yang sudah begitu pandai, yang tadi dengan mudah saja menghadapi ilmu ini, apakah kau masih begitu murka ingin mempelajari ilmu ini pula? Ingat, Suling Emas, kau sudah bersumpah tadi takkan mempelajarinya. Bukan aku melarang kau mempelajarinya, hanya.. aku.. aku tidak mau kalau kau melanggar sumpahmu."
"Aku takkan mempelajarinya, Lin Lin. Tapi lekas katakan, di mana adanya wasiat pelajaran itu?"