Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 124

Memuat...
ID
ID
ID

"Badut tolol itu mana berani? Dia datang membawa pergi muridnya, tergesa-gesa dan ketakutan."

"Kau bohong, aku tidak percaya"

Hek-giam-lo hanya mengangkat bahu, lalu membalikkan tubuh meninggalkan Lin Lin ke kepala perahu. Lin Lin menoleh ke sana ke mari, akan tetapi pandang mata para anak buah perahu yang mentertawakannya membuat ia gemas dan dengan marah ia kembali memasuki bilik perahu. Hatinya panas dan ingin ia memberontak dan pergi dari perahu. Akan tetapi ia tidak bodoh. Ilmu baru yang didapatnya belum terlatih masak-masak, pula di atas perahu tidak berani ia sembarangan bergerak. Sekali perahu digulingkan sehingga ia terjatuh ke dalam air, ia takkan dapat melawan pula. Ia harus bersabar dan menanti kesempatan baik.

Dengan makin tekun Lin Lin mulai melatih diri, siang malam ia melatih diri. Bukan main girang hatinya ketika pada setiap gerakan pukulan, terasa ada angin pukulan yang antep dan dahsyat menyambar keluar dari tangannya yang terbuka. Dinding bilik perahu sampai berguncang dan hal inilah yang membuat Hek-giam-lo menjadi curiga sekali dan malam itu, menjelang subuh, mendadak Hek-giam-lo membuka pintu bilik dan menerobos masuk. Baiknya ketika itu Lin Lin sudah melatih jurus yang ke sembilan. Jurus ini dilakukan dengan duduk, merupakan pukulan jarak jauh yang dilakukan sambil duduk.

Pukulan kedua tangan itu merupakan gerakan lingkaran sehingga angin pukulannya memutari tubuhnya dapat menghantam lawan yang berada di manapun juga tanpa mengubah kedudukan tubuh yang duduk. Untuk melatih jurus ini, Lin Lin duduk di atas pembaringannya, maka ketika tiba-tiba pintu biliknya terbuka, ia tidak menjadi gugup, melainkan menghentikan pukulan-pukulannya dan bersikap seperti orang bersamadhi, sikap yang sudah lajim dilakukan oleh ahli-ahli silat tinggi apalagi waktu menjelang subuh adalah waktu terbaik untuk bersamadhi. Melihat "tuan puteri"

Itu duduk bersamadhi, sama sekali tidak bergerak, Hek-giam-lo tidak berani mengganggu.

Akan tetapi getaran-getaran pada dinding bilik sekarang berhenti. Makin curigalah iblis itu. Ia menutup pintu bilik dan melompat keluar, menyelidik di sekeliling perahu, bahkan ia menyelidiki ke darat. Akan tetapi ia tidak menemukan sesuatu. Kecurigaan Hek-giam-lo ini yang mengganggu latihan Lin Lin. Pada keesokan harinya, secara mendadak Hek-giam-lo menghentikan perahu, lalu mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan ke utara melalui darat. Hek-giam-lo sudah timbul curiga, tidak hanya pada diri Lin Lin, melainkan curiga kalau-kalau ada orang pandai yang hendak merampas Lin Lin dan tongkat pusaka Beng-kauw daripadanya. Hal ini mungkin saja, apalagi setelah muncul Gan-lopek yang membawa pergi muridnya dari pantai.

"Aku tidak mau melakukan perjalanan di darat"

Lin Lin membentak marah.

"Lebih enak melalui air, tidak lelah dan dapat tidur nyenyak"

"Tidak bisa, Tuan Puteri. Air sungai ini akan membawa kita ke laut, sedangkan Khitan letaknya bukan di laut. Kita harus mendarat sekarang juga. Jangan khawatir, untuk Paduka, hamba akan menyediakan seekor kuda yang baik."

Tentu saja keberanian yang diajukan oleh Lin Lin ini hanya pura-pura belaka. Sesungguhnya ia ingin melakukan perjalanan dengan perahu agar ia leluasa melatih ilmunya. Dengan perjalanan melalui darat, ia akan kelihatan terus, di bawah pengawasan Hek-giam-lo dan tentu saja tidak akan ada kesempatan untuk berlatih. Namun Lin Lin cukup cerdik untuk membantah terus karena hal ini tentu akan menimbulkan kecurigaan. Selain itu, biarpun ia kini tak mungkin dapat berlatih lagi, namun terbukalah kesempatan baginya untuk melarikan diri, sungguhpun ia takkan sembrono melakukan hal ini kalau tidak mendapatkan kesempatan yang baik.

Kesempatan ini tak pernah ia dapatkan karena Hek-giam-lo selalu mengawalnya sendiri dengan hati-hati dan teliti sekali. Ia diberi seekor kuda pilihan yang baik sedangkan Hek-giam-lo berjalan cepat di belakangnya. Lin Lin cukup maklum bahwa melarikan kudanya itu akan percuma, tidak saja di situ terdapat banyak kuda-kuda yang cepat, akan tetapi juga orang sakti macam Hek-giam-lo tak mungkin dapat ditinggal lari di atas kuda. Untuk nekat melarikan diri dan melawan, akan sia-sia belaka dan akibatnya hanya membuat perlakuan mereka terhadapnya kurang baik. Kini biarpun ia merupakan seorang setengah tawanan, namun mereka, bahkan Hek-giam-lo sendiri, selalu bersikap menghormat. Ia selalu diberi hidangan yang lezat dan selalu diperhatikan keperluannya.

Beberapa pekan kemudian, pada suatu sore, tibalah mereka di perbatasan yang menjadi wilayah bangsa Khitan. Suku bangsa Khitan adalah bangsa perantauan di sebelah utara, sering kali berpindah wilayah sesuai dengan keadaan dan musim. Mereka terkenal sebagai bangsa yang gagah berani dan pandai menunggang kuda, pandai melakukan perang. Hek-giam-lo menghentikan rombongannya dan menyuruh orang-orangnya mendirikan kemah di tempat itu, yaitu di sebuah padang rumput yang luas. Ia sendiri lalu menunggang kuda untuk mengabarkan kepada rajanya tentang kedatangan Puteri Yalina. Pada waktu itu, karena tekun mempelajari bahasa bangsanya, sedikit-sedikit Lin Lin sudah pandai berbahasa Khitan. Memang ada hubungan darah, maka bahasa ini baginya amat mudah dipelajari. Maka ia mengerti akan perintah Hek-giam-lo dan terbukalah kesempatan baik baginya.

Hek-giam-lo pergi meninggaikan rombongan itu. Akan tetapi pada saat Hek-giam-lo pergi, datanglah serombongan wanita cantik yang ternyata adalah dayang-dayang yang serta-merta melayaninya. Mereka ini terdiri dari selosin orang wanita muda yang cantik, mereka datang membawa makanan asing yang enak, membawa pakaian-pakaian indah dan perhiasan untuk Sang Puteri Yalina, calon permaisuri. Memang watak Lin Lin nakal dan ingin sekali ia mencoba pakaian itu. Maka ketika ia didandani, ia menurut saja. Akhirnya ia tertawa sendiri cekikikan ketika melihat bayangannya di cermin. Ternyata ia telah menjadi seorang puteri asing yang pakaiannya aneh beraneka warna, bahkan kepalanya ditutup perhiasan terbuat daripada emas penuh batu permata.

"Pantaskah aku memakai ini?"

Tanyanya dalam bahasa Khitan kepada para dayang yang tertawa-tawa gembira melihat puteri itu cekikikan di depan cermin. Mereka serentak menjatuhkan diri berlutut dan menghujani Lin Lim dengan pelbagai pujian. Lin Lin merasa bangga sekali. Alangkah senangnya menjadi ratu, pikirnya. Dilayani, dihormati, dan menjadi orang terpenting di antara bangsa yang mempunyai laki-laki gagah dan wanita cantik ini.

Akan tetapi ketika ia teringat bahwa ia akan dijadikan permaisuri oleh paman tirinya sendiri, yang bernama Kubakan dan sekarang menjadi Raja Khitan, ia bergidik dan cepat-cepat ia melepaskan pakaian asing itu, mengenakan pakaian sendiri. Ia tidak mempedulikan protes para dayang itu, bahkan lalu meloncat keluar dari perkemahan dengan maksud hendak lari. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika selosin orang dayang yang muda-muda dan cantik itu tiba-tiba mengejar dan mengurungnya dengan pedang di tangan. Mereka ternyata bukanlah dayang biasa, melainkan gadis-gadis yang terlatih baik dan kini mereka membentuk barisan pedang yang mengurung Lin Lin dengan gerakan yang cekatan dan sigap.

"Harap Tuan Puteri jangan pergi meninggalkan perkemahan ini. Hamba semua telah menerima perintah Sri Baginda untuk menjaga Paduka, Lo-ciangkun (Panglima Tua) tadi memesan bahwa kalau perlu hamba semua harus mempergunakan kekerasan mencegah Paduka pergi."

Kata seorang di antara mereka.

"Perempuan rendah, Bukankah aku ini ratumu? Berani kau menghalangi kehendakku?"

Gertak Lin Lin dengan marah.

"Ampun, Tuan Puteri. Paduka adalah calon ratu dan hamba sekalian tentu saja mentaati semua perintah Paduka. Akan tetapi lebih dulu hamba harus mentaati Sri Baginda, kemudian Lo-ciangkun, baru Paduka."

"Kalian berani? Hemmm, agaknya sudah bosan hidup. Majulah"

Tantang Lin Lin, akan tetapi selosin dayang itu tidak bergerak, hanya tetap mengurung.

"Mana hamba berani menyerang Paduka? Hanya kalau Paduka hendak melarikan diri, terpaksa hamba sekalian harus mencegah."

"Oh, begitukah? Nah, aku mau pergi, hendak kulihat kalian bisa berbuat apa"

Sambil berkata demikian Lin Lin meloncat ke kiri menerjang dua orang dayang yang menjaga di situ.

Akan tetapi dengan gerakan cepat sekali mereka menggerakkan pedang, merupakan dinding pedang yang menghalangi perginya. Gerakan mereka jelas membuktikan bahwa dua belas orang dayang ini merupakan tenaga-tenaga terlatih baik dan agaknya mereka betul-betul akan menyerangnya kalau ia bersikeras melarikan diri dari tempat itu. Dan pada saat itu, sudah datang pula para orang Khitan berlari-lari, jumlah mereka lebih dari dua puluh orang. Bangkit kemarahan di hati Lin Lin. Sebetulnya ia tidak mempunyai rasa benci kepada orang-orang Khitan karena setelah ia menjadi tawanan Hek-giam-lo beberapa lamanya, ia mendapat kesan yang amat baik terhadap orang-orang Khitan. Mereka adalah orang-orang yang berani, jujur, dan amat setia. Mereka hanya melakukan perintah atasan mereka dan semua tugas mereka jalankan dengan taruhan nyawa.

"He, dengarlah kalian semua"

Serunya sambil mencabut pedang dengan tangan kanan sedangkan tongkat Beng-kauw berada di tangan kirinya.

"Aku Puteri Yalina amat suka kepada bangsaku, akan tetapi aku benci kepada paman tiriku Kubakan yang menjadi raja lalim dan hendak memperisteri aku, keponakannya sendiri. Aku juga benci kepada Lo-ciangkun Hek-giam-lo yang kejam. Dengarlah, aku bersedia menjadi ratu kalian kalau kedua orang itu sudah tidak ada. Demi arwah ibuku, Puteri Tayami yang gagah perkasa, dan demi arwah kakekku, Raja Kulukan yang bijaksana, aku suka menjadi Ratu Khitan asalkan kedua orang jahat itu sudah tewas. Sekarang, terserah kepada kalian, adakah yang masih hendak menangkap aku? Boleh maju"

Beberapa orang dayang dan beberapa orang penjaga ketika menyaksikan Lin Lin berdiri sambil mengucapkan kata-kata ini penuh wibawa, serta-merta menjatuhkan diri berlutut. Bahkan disebutnya nama-nama mendiang Kulukan dan Tayami membuat beberapa orang dayang menangis.

"Hamba setia kepada Puteri Yalina"

Teriakan-teriakan ini terdengar riuh-rendah. Akan tetapi tidak semua dayang dan tidak semua penjaga berlutut dan menyatakan setianya, bahkan sebagian besar merasa lebih taat kepada Raja Kubakan dan lebih takut kepada Hek-giam-lo. Jumlah mereka yang menentang Lin Lin ini ada dua pertiga bagian dan kini sembilan orang dayang menerjang maju dengan pedang-pedang mereka menyerang Lin Lin.

"Trang-cring-tranggggg.."

Terdengar jerit kesakitan dan pedang-pedang beterbangan ketika Lin Lin menggerakkan pedang dan tongkat Beng-kauw, diputar untuk menangkis disertai pengerahan tenaga sin-kang. Tidak hanya pedang sembilan orang dayang itu runtuh beterbangan, juga sebagian ada yang terguling roboh karena hebatnya tenaga tangkisan Lin Lin, sebagian meloncat mundur dengan muka pucat. Lin Lin sendiri terheran-heran. Bagaimana tangkisannya bisa begitu hebat? Sama sekali ia tidak menduga bahwa semua ini adalah berkat ilmu baru yang didapatkannya, yaitu ilmu dari lembaran-lembaran rahasia di dalam tongkat Beng-kauw.

Namun sembilan orang dayang itu, seperti juga para petugas lain, amat setia kepada tugasnya. Biarpun pedang mereka sudah hilang dan mereka semua maklum bahwa tuan puteri yang mereka harus cegah perginya ini memiliki ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada mereka, mereka tidak mundur dan kini dengan tangan kosong mereka menubruk maju dengan maksud menangkap Lin Lin. Lin Lin tidak tega untuk menggunakan senjata menghadapi mereka, maka ia cepat menyimpan pedangnya yang tadi membuat banyak orang Khitan berlutut karena pedang itu adalah Pedang Besi Kuning yang dahulu menjadi pusaka keramat Kerajaan Khitan, kemudian dengan dorongan tangan kanannya ia menerima serangan para dayang itu.

Post a Comment