"Siang-mou Sin-ni, ingat. Kini belum waktunya kita mengadu kepandaian untuk menentukan siapa yang lebih unggul. Tunggu nanti tiba saatnya di puncak Thai-san, aku akan mewakili mendiang ibu kandungku. Kita lihat siapa yang lebih kuat."
"Tidak peduli, Kau harus mampus sekarang juga. Kau terlalu menghinaku"
"Hemmm, kau sombong. Dengan apa kau hendak membunuhku? Dengan rambutmu? Ataukah dengan alat khim yang kau curi dari Bu Kek Siansu? Ah, tidak akan ada gunanya, Siang-mou Sin-ni. Lebih baik kau bertapa lagi memperdalam ilmumu, agar kelak di puncak Thai-san kau dapat melayaniku sedikitnya seratus jurus"
"Suling Emas, kaulah yang sombong. Kau kira aku tidak memiliki ilmu untuk membunuhmu? Nah, kau terimalah ini"
Tiba-tiba sekali wanita itu membuka mulutnya dan sinar merah yang panjang kecil bagaikan seekor ular merah menyambar dari dalam mulut itu ke arah Suling Emas. Pendekar ini terkejut juga, tidak mengira bahwa wanita iblis ini memiliki kepandaian seaneh ini yang selamanya belum pernah ia lihat atau dengar. Cepat ia miringkan kepala, tidak berani menyambut benda yang menyambar ke arah mukanya itu. Benda itu menyambar lewat kepalanya, akan tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba pandang matanya berkunang dan napasnya menjadi sesak. Kiranya benda berupa sinar merah itu adalah darah. Darah hidup. Darah yang mempunyai pengaruh hebat sekali, yang membuatnya tiba-tiba menjadi pening. Sebelum Suling Emas dapat mengusir kepeningannya, tiba-tiba angin bertiup dari depan, alat musik khim sudah menghantam ke arah kepalanya dibarengi suara kekeh tertawa yang seram.
"Aiiihhhhh.."
Suling Emas mengumpulkan semangat, menjatuhkan diri ke kiri sehingga sambaran alat khim itu tidak mengenai dirinya, akan tetapi pada saat itu, selagi ia masih nanar, tahu-tahu tubuhnya sudah terlibat oleh rambut yang amat kuat, yang melihat kaki tangan dan lehernya bagaikan puluhan ekor ular yang mengeroyoknya. Suling Emas maklum bahwa nyawanya berada dalam bahaya maut. Cepat ia mengerahkan seluruh sin-kang di tubuhnya dan seketika lenyaplah kepeningan kepalanya. Dengan gerakan menggoyang tubuh sambil mengembangkan tangan kaki. Terdengar Siang-mou Sin-ni memekik penuh kekecewaan melihat calon korbannya dapat terlepas begitu cepatnya. Di lain saat Suling Emas sudah memegang suling dan kipasnya.
"Iblis betina, kiranya kau mempunyai ilmu setan yang jahat. Akan tetapi jangan harap kau dapat mengakali aku lagi. Hayo majulah"
Dengan sikap tenang penuh wibawa Suling Emas berdiri tegak dengan sepasang senjatanya yang amat terkenal itu di kedua tangan, matanya menatap tajam. Siang-mou Sin-ni ragu-ragu, maklum bahwa ilmunya Tok-hiat-hoat-lek masih belum cukup kuat untuk merobohkan Suling Emas, namun ia merasa gembira sekali karena biarpun ilmunya belum matang betul, namun ia tadi sudah hampir dapat mengalahkan Suling Emas. Andaikata ilmunya sudah matang, tentu tidak semudah itu Suling Emas menyadarkan diri dan sudah mampus di tangannya. Ia tertawa dan sekali berkelebat tubuhnya mencelat jauh pergi dari tempat itu. Suara ketawanya masih terdengar jelas seperti suara kuntilanak, disusul kata-katanya mengejek,
"Suling Emas, kau tunggu saja, di puncak Thai-san aku takkan gagal lagi seperti tadi"
Sejenak Suling Emas termenung. Ia teringat betapa dahsyat ilmu yang dipergunakan Siang-mou Sin-ni tadi. Hampir saja ia menjadi korban. Kalau tadi ia tidak lekas-lekas dapat menguasai dirinya dan melenyapkan kepeningannya, tentu ia sudah menjadi korban. Diam-diam ia bergidik.
Ilmu semburan darah segar tadi benar-benar mengerikan dan kelak ia harus berlaku hati-hati sekali apabila berhadapan dengan iblis betina itu. Dengan amat tekun dan rajin Lin Lin menghafalkan ilmu yang tertulis pada tiga belas helai kertas tipis yang ia dapatkan di dalam tongkat pusaka Beng-kauw itu. Memang segala sesuatu sudah menjadi takdir Tuhan. Ketika masih hidup, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan sengaja menciptakan tiga belas jurus ilmu silat sakti ini yang merupakan inti sari daripada isi tiga buah kitab pusaka Sam-po-cin-keng, bahkan dipilih jurus-jurus yang dapat mengatasi isi kitab itu, karena ketika menciptakan ilmu ini, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan memang bermaksud untuk menurunkannya kepada Beng-kauw untuk menghadapi puterinya yang murtad. Dengan demikian, ilmu ini ia tinggalkan untuk Beng-kauw.
Akan tetapi, biarpun sudah lama tongkat pusaka yang dijadikan tempat penyimpanan wasiat ini berada di tangan Liu Mo ketua Beng-kauw yang baru, namun belum pernah dapat ditemukan oleh Liu Mo atau tokoh Beng-kauw yang lain. Sekarang, tanpa disengaja sama sekali, Lin Lin dapat menemukan wasiat ini dan mempelajarinya. Bukankah ini jodoh namanya? Karena ia termasuk seorang anak yang cerdas, Lin Lin segera dapat menghafal wasiat ini di luar kepala, dan ia dapat menduga bahwa ilmu mujijat ini tak boleh sekali-kali diketahui orang lain. Maka setelah ia hafal benar, yaitu selama lima belas hari di atas perahu, ia segera merobek-robek tiga belas helai kertas tipis itu dan menebarkan sobekan-sobekan kecil ke sungai.
"He, apakah itu?"
Bentak Hek-giam-lo dan tubuhnya tahu-tahu sudah berada dekat Lin Lin.
Betapapun juga, iblis hitam ini merasa curiga karena selama setengah bulan ini, Lin Lin tak pernah keluar, juga tidak pernah memperdengarkan protes atau memperlihatkan sikap rewel. Kini tiba-tiba gadis itu keluar dan menebarkan potongan-potongan kertas banyak sekali ke sungai. Akan tetapi ia terlambat mencegah atau memeriksa karena potongan-potongan kertas yang amat kecil-kecil itu sudah melayang-layang ke permukaan sungai, seperti kupu-kupu terbang melayang lalu hinggap di atas air. Hek-giam-lo merasa penasaran, tubuhnya berkelebat dan bagaikan seekor kelelawar besar, tubuhnya melayang ke permukaan air, tangannya menyambar dan dengan gerakan kedua kakinya, tubuh itu membalik kembali ke atas perahu. Beberapa potongan kertas berada di tangannya.
Diam-diam Lin Lin kagum bukan main. Benar-benar sakti Hek-giam-lo ini dan merupakan lawan yang berat sekali. Ia harus berhati-hati dan tidak boleh sembrono, biarpun sudah memiliki hafalan ilmu mujijat yang ia dapatkan dari dalam tongkat pusaka Beng-kauw. Dengan sepasang mata bersinar penuh ejekan ia memandang Hek-giam-lo yang sudah melihat potongan-potongan kertas itu. Lin Lin tadi sudah berlaku hati-hati sekali sehingga kertas yang dirobek-robek itu hanya merupakan potongan sebesar ibu jari. Memang ada satu dua huruf di tiap potongan kertas, akan tetapi apa artinya? Dan untuk dapat mengumpulkan potongan-potongan kertas itu serta memasangnya kembali seperti semula, tak mungkin dapat dilakukan orang.
"Apa ini..?"
Hek-giam-lo meneliti potongan-potongan kertas itu, menoleh ke arah Lin Lin dengan perasaan ingin tahu sekali.
"Kenapa kau tidak mau menduga-duga? Coba terka. Hek-giam-lo, kau yang terkenal sebagai seorang di antara Enam Iblis, sakti dan cerdik, masa tidak bisa menduga apa adanya surat yang kurobek-robek menjadi potongan-potongan kecil itu?"
Suara Lin Lin mengejek dan mempermainkan karena setelah ia menguasai ilmu itu, timbul kembali kejenakaan dan kelincahannya.
"Tuan Puteri, harap jangan main-main. Hamba telah diberi tugas oleh kaisar untuk menjaga Tuan Puteri dan membawa Paduka sampai ke Khitan dengan selamat. Sebagai calon ratu, Tuan Puteri harus hamba jaga teliti dan tidak boleh sekali ada rahasia. Surat apakah, tadi?"
"Kiranya Hek-giam-lo yang terkenal cerdik itu tidak dapat menduga? Hemmm, kalau kau memang amat ingin mengetahui, bolehlah kuberi tahu. Surat yang kurobek-robek tadi adalah surat dari.. kekasihku. Nah, puaskah kau? Jangan kau ingin tahu apa isinya. Rahasia dong"
Lin Lin bersikap nakal dan mempermainkan sehingga diam-diam Hek-giam-lo mendongkol juga.
"Paduka maksudkan surat dari Lie Bok Liong pemuda tolol itu?"
Lin Lin menghela napas panjang dan seketika ia menghampiri pinggir perahu dan pandang matanya mencari-cari ke tepi pantai. Disebutnya nama pemuda itu mengingatkan ia akan penderitaan Bok Liong yang mati-matian membelanya.
"Bukan, bukan dia. Liong-twako adalah seorang yang amat baik, gagah perkasa dan ia amat mencintaku. Akan tetapi bukan dia.."
Mulutnya tidak melanjutkan kata-katanya, akan tetapi hatinya berbisik,
"Bukan dia orang yang merampas hatiku, bukan dia orang yang kucinta.."
"Kau mencari dia?"
Kini suara Hek-giam-lo yang penuh ejekan sehingga Lin Lin terkejut sekali. Selama setengah bulan ia bersembunyi di dalam perahu saja. Bagaimana jadinya dengan Bok Liong? Jangan-jangan pemuda yang nekat itu menyerbu lagi dan dibunuh oleh Hek-giam-lo.
"Di mana dia? Kau apakan Lie Bok Liong twako?"
Bentaknya dengan mata terbuka lebar.
"Paduka cukup cerdik, mengapa tidak menduga sendiri?"
Kini Hek-giam-lo yang mengejeknya. Lin Lin membanting-banting kakinya.
"Hek-giam-lo, aku tahu kau seorang iblis yang tidak segan-segan melakukan segala macam kejahatan di dunia ini, akan tetapi aku pun tahu bahwa kau terlalu sombong untuk bersikap pengecut dan membohong terhadap seorang gadis cilik macam aku. Nah, apakah kau telah membunuh Lie Bok Liong?"
"Orang macam dia, perlu apa aku membunuhnya? Dia sudah mau mampus dan sekarang tentu sudah mampus kalau saja gurunya, pelukis sinting itu tidak datang dan membawanya pergi."
"Apa kau bilang? Empek Gan datang? Tentu kau telah dipukulnya? Mengapa dia tidak membunuhmu?"