Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 118

Memuat...

Suling Emas menghajar terus sampai pangeran itu babak-belur, mukanya berdarah dan bengkak-bengkak.

"Tahan. kau berani memukuli suamiku seperti ini? Laki-laki kejam. Kau boleh bunuh dia melalui mayatku"

Tiba-tiba Suma Ceng yang sudah menurunkan anaknya dari pondongan dan telah memungut pedang suaminya, menerjang maju bagaikan seekor harimau betina. Pedangnya menusuk ke arah dada Suling Emas.

"Ceng Ceng.."

Suling Emas terbelalak heran dan kaget.

"Ceppp"

Ujung pedang itu menusuk dadanya. Untung ia dapat mengatasi heran dan kagetnya lalu cepat mengerahkan tenaga sehingga pedang yang sudah menancap itu tidak maju terus, menancap dan meleset ke atas sehingga pedang itu menancap dan menembus daging dan kulit dada dan pundak, akan tetapi tidak memasuki rongga dada. Karena pengerahan sin-kang dari Suling Emas hebat dan kuat sekali, Suma Ceng merasakan telapak tangannya panas dan lumpuh sehingga pedang itu dilepasnya dan masih menancap pada dada Suling Emas.

"Berani kau hendak membunuh suamiku? Ahhh.. dia suamiku, ayah anak-anakku, aku akan membelanya dengan nyawa"

Suma Ceng berseru lagi dan kembali menerjang dengan pukulan-pukulan dahsyat.

"Ceng Ceng.., aahhhhh.."

Dengan jantung serasa ditarik-tarik Suling Emas berkelebat dan lenyap dari tempat itu. Suma Ceng menubruk suaminya, merangkul dan menangis. Pangeran Kiang yang mukanya bengkak-bengkak itu tersenyum.

"Isteriku.. akhirnya aku mendapat bukti nyata, kau memang mencinta aku seorang. Ha-ha-ha, tidak sia-sia pengorbananku, tidak sia-sia pembelaanku.., kau isteriku yang setia.. maafkan semua tuduhanku tadi."

"Diamlah.. diamlah.. kau terluka. Tentu saja aku isterimu dan setia kepadamu.."

Suma Ceng mengusap air matanya dan mengerling ke arah perginya Suling Emas, hatinya mengeluh penuh rasa nelangsa. Memang sebaiknya begini, pikirnya. Hanya itulah jalan satu-satunya untuk mengusir Suling Emas, untuk mencegah suaminya cemburu dan mungkin sekali untuk mengobati hati kekasihnya yang terluka. Kalau melihat dia bersedia bersetia dan mencinta suaminya, mungkin Suling Emas akan lebih mudah untuk melupakannya. Dengan muka pucat ia lalu membantu suaminya meninggalkan taman, sedangkan anak-anaknya segera dipondong oleh pelayan-pelayan yang datang dengan muka ketakutan.

Adapun Suling Emas melarikan diri dengan pengerahan tenaga sekuatnya sehingga tubuhnya tak tampak, hanya bayangannya saja berkelebatan dan dalam waktu sebentar saja ia sudah keluar dari kota raja, terus ia berlari seperti orang gila, masuk keluar hutan. Menjelang tengah hari, setelah berlari-larian berjam-jam lamanya, akhirnya ia menjatuhkan dirinya di bawah sebatang pohon besar dalam sebuah hutan. Ia jatuh tertelungkup di atas rumput, tak bergerak, kedua tangannya menutupi mukanya. Hanya terdengar ia mengeluh dan mengerang perlahan seperti orang menderita nyeri yang amat sangat. Darah masih membasahi bajunya, darah yang keluar dari luka di dada dan pundaknya. Pedang yang tadi menancap kini tidak tampak lagi. Luka-luka inikah yang membuat dia mengerang? Tak mungkin.

Luka itu hanyalah luka daging dan kulit belaka, dan bagi seorang pendekar sakti seperti Suling Emas, luka macam itu tidaklah ada artinya. Namun luka yang berada di dalam rongga dadanya, luka pada hatinya itulah yang amat sakit rasanya. Jantungnya serasa perih seperti disayat-sayat. Ceng Ceng tidak cinta lagi padanya. Ceng Ceng mencinta suaminya, dan bahkan membenci dia yang dibuktikan dengan tusukan pedang tadi. Suling Emas mengeluh dan ketika ia bergerak dan bangun duduk di atas tanah berumput, wajahnya nampak pucat bukan main. Warna bulat kuning pada bajunya yang hitam, yaitu bagian dada, telah menjadi merah karena darahnya. Paduan warna hitam baju dan merah darah itu membuat mukanya kelihatan lebih pucat lagi. Agaknya peristiwa yang hanya beberapa jam lamanya itu membuat kerut-merut di antara kedua matanya makin mendalam, dan membuat sinar sepasang matanya menjadi redup sayu.

Tanpa disadarinya, tangannya meraih ke pinggang dan di lain saat ia telah meniup sulingnya. Suara yang keluar dari sulingnya melengking tinggi, mengalun panjang dan menyuarakan lagu sedih yang penuh kepiluan hati. Bagi orang yang mendengar suara suling ini, tentu akan menyatakan bahwa suara itu memilukan dan menyedihkan. Namun sesungguhnya Suling Emas telah mempergunakan ilmunya Kim-kong Sin-im yang belum lama ini ia latih bersama Bu Kek Siansu. Dengan ilmu ini, perlahan-lahan kesedihannya lenyap dan setelah suara suling berhenti, wajahnya tidak sepucat tadi. Namun ia masih duduk melamun dan sengaja mempergunakan kesempatan ini untuk mengolah semua peristiwa yang menimpa dirinya, seperti biasa ia hendak memetik buah bermanfaat, menarik pelajaran dari setiap pengalaman hidupnya. Kini pikirannya dapat bekerja baik, tidak lagi diselimuti perasaan hati yang pilu dan sayu.

Suma Ceng telah mencinta suaminya dan membencinya. Hal ini sama artinya dengan kematian kekasihnya itu. Bukan orangnya yang mati, melainkan cinta kasih terhadap dirinya. Tidak ada lagi manusia yang boleh diharapkan di dunia ini. Ibu kandungnya telah meninggal, juga Ceng Ceng telah mati. Mengapa ia harus merasa berduka? Mengapa hatinya begini sakit? Mengapa ia membenci Pangeran Kiang? Suling Emas mengumpulkan ingatannya dan terngiang kembali di telinganya segala petuah, pelajaran dan nasihat yang pernah ia dengar dari mendiang gurunya, Kimmo Taisu, dan si kakek sakti Bu Kek Siansu. Suling Emas termenung. Dia manusia biasa. Tentu saja cintanya termasuk golongan kedua itulah. Ia mencinta Ceng Ceng karena wanita itu jelita, karena halusan budinya, karena keramahannya, karena kecocokan hatinya dan karena.. agaknya lebih daripada itu karena dahulu membalas cintanya.

Sekarang wanita itu sudah menjadi isteri orang lain, sudah mengalihkan cinta kasihnya kepada suaminya itu, mengapa ia harus bersikeras melanjutkan cinta kasihnya? Bukankah itu akan sia-sia belaka? Menyiksa diri sendiri dan menyiksa Ceng Ceng, merusak pula hati Pangeran Kiang? Ia harus melupakan Ceng Ceng. Tapi anak laki-laki itu, putera sulung Suma Ceng adalah anaknya. Kembali Suling Emas merenung, gelisah dan bingung. Tentu saja mudah baginya, menggunakan kepandaiannya, untuk merampas bocah itu. Akan tetapi apa artinya? Apa gunanya? Bocah itu belum tentu berbahagia bersamanya dan Ceng Ceng tentu akan hancur hatinya. Pangeran Kiang yang agaknya tidak menduga akan hal itu tentu akan sakit hati kepadanya. Ah, akibatnya hanya merugikan semua pihak.

"Aku harus melupakan dia, Harus"

Mengapa aku begini lemah? Heeee, Bu Song, apakah kau bukan laki-laki?"

Tiba-tiba Suling Emas melompat bangun, tertawa bergelak. Suara ketawa ini bergema di dalam hutan, mengagetkan burung-burung. Kemudian pendekar ini mainkan sulingnya sedemikian cepatnya sehingga terdengar angin menderu-deru dan yang tampak hanyalah sinar bergulung-gulung yang kadang-kadang mengeluarkan kilatan cahaya kuning emas. Ketika beberapa menit kemudian pendekar ini berkelebat pergi dari situ, keadaan sunyi di situ, yang tampak hanyalah rumput yang kini penuh dengan daun-daun pohon yang telah menjadi gundul, rontok semua daunnya karena sambaran hawa pukulan yang berkelebatan dari suling emas tadi.

Bu Sin dan adiknya, Sian Eng, tak dapat berkutik di atas tanah lembab dalam ruangan bawah tanah. Mereka tiada hentinya berusaha untuk membebaskan diri dari pada totokan, namun totokan, Hek-giam-lo ternyata dari aliran lain dan amat luar biasa sehingga biarpun Bu Sin sudah mengerahkan tenaga saktinya, tetap saja ia tidak mampu membebaskan diri. Apalagi Sian Eng yang tingkat tenaganya jauh lebih lemah. Setelah berusaha dengan sia-sia selama beberapa jam, akhirnya mereka menerima nasib. Satu-satunya harapan mereka adalah kakak mereka, Bu Song atau Suling Emas. Hanya Suling Emas yang akan dapat menolong mereka.

Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar ruangan dalam tanah itu, disusul suara langkah orang berlari-lari. Langkah ini sebetulnya ringan sekali dan andaikata Bu Sin dan Sian Eng tidak sedang rebah miring dengan telinga menempel pada tanah, kiranya jejak kaki ini takkan terdengar mereka. Sian Eng menjadi girang sekali dan hampir saja ia berteriak memanggil nama kakaknya, karena siapa lagi orang yang memasuki tempat ini selain Suling Emas yang hendak menolong mereka? Akan tetapi segera ditahan niatnya berteriak memanggil demi dilihatnya wajah Bu Sin yang kelihatan kaget dan gelisah. Apalagi pada saat itu terdengar suara yang parau menyakitkan telinga.

"Sin-ni, tak boleh kau mendahului aku, ho-ho-hah"

"Kai-ong gembel menjemukan"

Balas suara seorang wanita yang nyaring.

Bu Sin dan Sian Eng tentu saja menjadi amat kaget karena mengenal suara ini. Suara It-gan Kai-ong dan Siang-mou Sin-ni. Dua orang iblis yang sama jahatnya atau mungkin lebih mengerikan daripada Hek-giam-lo sendiri. Gema suara mereka belum lenyap, akan tetapi bayangan hitam yang bertubuh ramping telah berkelebat ke dalam ruangan itu, dikejar oleh bayangan kakek bertongkat yang agak bongkok. Dalam sekejap mata dua bayangan ini lenyap sudah memasuki terowongan, agaknya mereka itu sedang berlomba mencari sesuatu. Selenyapnya dua bayangan orang sakti itu, berkelebat bayangan ke tiga dan ternyata orang ini adalah Suma Boan. Sejenak pemuda bangsawan ini mencari-cari dengan pandang matanya, ketika melihat Bu Sin dan Sian Eng rebah di bawah, ia terkejut sekali.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment