Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 108

Memuat...

Tiba-tiba Sian Eng menggerakkan tangannya dan dua buah batu karang melayang ke arah muka dan dada iblis itu. Kiranya gadis ini sudah dapat menenangkan hatinya dan dengan nekat lalu meraih dua buah batu di dekatnya, kemudian menyambitkannya dan ketika iblis itu sedang bicara. Hek-giam-lo miringkan kepalanya sehingga batu pertama lewat di pinggir kepala, adapun batu ke dua ia terima begitu saja dengan dadanya.

"Brakkk"

Batu itu pecah berantakan"

"Gadis lancang, sekali kau tertolong oleh Suling Emas, jangan harap kali ini akan dapat lolos lagi. Hemmm, bagus, biar kau menjadi umpan pancingan untuk Suling Emas. Ha-ha-ha"

Ketika melihat iblis itu dengan langkah lebar menghampiri Sian Eng yang berada di belakangnya, Bu Sin segera berkata, nadanya penuh ejekan,

"Hek-giam-lo, seorang tokoh besar seperti engkau ini, sungguh tak tahu malu melayani seorang wanita seperti adikku. Kalau memang kau gagah, mari kita mencari tempat lapang dan kita bertanding secara laki-laki"

"Heh-heh, orang muda sombong. Majulah terus, di depan ada tempat luas, boleh kau buktikan betapa kesombonganmu tidak ada isinya"

Memang bukan maksud Bu Sin untuk menyombong. Ia tadi sengaja mengeluarkan ucapan itu untuk mencegah si iblis mengganggu Sian Eng karena ia maklum bahwa kalau hal ini terjadi, sukarlah baginya untuk melindingi adiknya terhadap iblis yang luar blasa lihainya itu. Dengan begini, setidaknya Sian Eng untuk sementara akan bebas daripada ancaman dan ia boleh mencari waktu panjang untuk memikirkan akal bagaimana harus melawan iblis ini.

"Marilah, Moi-moi, kau bergeraklah di depanku, sini.."

Sian Eng sudah menjadi putus asa menyaksikan kehebatan si ibils yang menerima sambitannya begitu saja dengan dada, membuat batu itu hancur. Dengan muka pucat ia lalu menyelinap ke depan Bu Sin dan kakak beradik yang sudah tak berdaya lari seperti dua ekor tikus masuk jebakan ini merangkak maju melalui terowongan yang sempit. Di belakang mereka, tanpa mengeluarkan suara lagi, Hek-giam-lo melangkah dengan gerakan perlahan, lalu merangkak di bagian yang sempit itu di belakang Bu Sin.

Benar saja seperti yang dikatakan Hek-giam-lo, tak lama kemudian terowongan sempit itu berubah menjadi lebar dan beberapa puluh meter kemudian tibalah mereka di sebuah ruangan di bawah tanah yang luas. Selain luas, juga di situ tidak gelap. Agaknya sinar matahari, entah bagaimana, dapat menembus ke tempat itu. Sejenak timbul akal dalam benak Bu Sin untuk menyerang si iblis secara tiba-tiba dengan membalik dan menggunakan obor sebagai senjata, akan tetapi jiwa satria di hatinya mencegahnya. Serangan seperti itu amat rendah, apalagi kalau dipikir usaha ini belum tentu akan berhasil terhadap lawan yang sakti ini. Dengan tenang ia lalu mendorong adiknya perlahan, menyuruhnya menjauh ke pinggir, kemudian ia membalikkan tubuhnya menghadapi Hek-giam-lo.

"Nah, Hek-giam-lo,"

Katanya dengan tenang sambil memadamkan obornya, akan tetapi masih memegangi gagang obor.

"terus terang saja, kami berdua telah lancang memasuki tempatmu ini. Sekarang kau telah berada di sini, apa yang hendak kau lakukan terhadap kami?"

"Orang-orang muda lancang, Katakan apa maksud kalian datang ke sini?"

"Adikku ini mengenal tanah kuburan di atas dan menceritakan bahwa dia pernah kau culik dan kau bawa ke sini. Karena itu aku merasa tertarik dan hendak menyaksikan dengan mata sendiri tempat rahasia ini."

"Hanya itu?"

Hek-giam-lo mendesak.

"Tentu saja kalau kami melihat tongkat pusaka Beng-kauw di tempat ini, akan kami curi kembali dan kami bawa dan kembalikan kepada Beng-kauw."

Jawab Bu Sin sejujurnya.

"Hemmm, tidak ada orang luar yang masuk ke sini dapat kembali hidup-hidup. Kalian berani masuk ke sini, bahkan berani mencoba untuk merampas tongkat Beng-kauw? Hu-huh, tak tahu diri. Biar pun kalian adik-adik tiri Suling Emas, apa dikira aku takut? Huh-huh, hendak kulihat apakah Suling Emas berani masuk ke sini. Ha-ha-ha, kalian merupakan umpan-umpan yang baik, biar dia datang hendak kulihat"

"Sombong, Aku pun tidak takut padamu, iblis busuk. Tak usah kakak kami, aku pun sanggup menghadapimu"

Sambil berkata demikian, Bu Sin menggerakkan bekas obor dan menusukkan benda ini ke arah kedok tengkorak itu.

"Huh, bocah bosan hidup"

Si iblis menggerakkan obornya pula, menangkis dengan gerakan perlahan.

"Dukkk"

Gagang obor di tangan Bu Sin hancur dan terlepas dari tangan pemuda itu, sedangkan gagang obor di tangan Hek-giam-lo yang tadinya menangkis itu terus bergerak mengemplang kepala Bu Sin. Gerakan ini biarpun dilakukan dengan perlahan, namun cepat dan tak terduga sama sekali sehingga tahu-tahu kepala pemuda itu sudah kena pukul.

"Prakkk"

Kini gagang obor di tangan Hek-giam-lo itu yang menjadi patah-patah ketika beradu dengan kepala Bu Sin. Hek-giam-lo mengeluarkan suara mendengus marah.

"Bocah sombong, keras juga kepalamu"

Katanya sambil melemparkan sisa gagang obor di tangannya.

Tentu saja iblis itu tidak tahu bahwa Bu Sin telah menerima warisan ilmu kesaktian yang dilatihnya di bawah air terjun yang menimpa kepalanya sehingga bagian kepalanya ini boleh dibilang menjadi sumber daripada tenaga mujijat yang dimilikinya akibat latihan aneh itu. Hek-giam-lo tidak tahu bahwa ilmu pemuda ini jauh lebih rendah kalau dibandingkan dengan kepandaiannya, tidak tahu bahwa Bu Sin tidak sempat mengelakkan serangan tadi dan mengira bahwa pemuda itu sengaja menerima pukulan untuk mendemonstrasikan kepandaiannya. Karena mengira bahwa pemuda ini yang ia tahu adalah adik tiri Suling Emas memiliki kesaktian seperti Suling Emas, Hek-giam-lo tidak mau main-main lagi. Senjatanya yang menyeramkan itu sudah ia angkat ke atas kepala.

"singgg"

Sian Eng mencabut pedangnya, berdiri tegak di depan iblis itu dengan pedang di depan dada, sikapnya gagah, sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut.

"Iblis sombong, aku pun berani melawan kejahatanmu"

"Eng-moi, mundur. Dia bukan musuhmu"

Kata Bu Sin yang khawatir melihat adiknya menjadi nekat.

"Aku tahu, Koko, akan tetapi dia pun bukan musuhmu. Kalau kita berdua mati melawannya, aku ingin mati dulu dari padamu."

Diam-diam jantung Bu Sin seperti tertusuk mendengar ini. Ia maklum bahwa adiknya merasa ngeri kalau sampai melihat dia mati terlebih dulu, meninggalkannya seorang diri menghadapi lawan yang demikian sakti dan ganas mengerikan.

"Jangan khawatir, Moi-moi. Kita berdua dapat melawan iblis ini"

Katanya dan mencabut pedangnya.

"Akan tetapi biarkan aku menghadapinya lebih dulu dan kau keluarlah agar dapat memanggil kalau Song-koko lewat di atas"

Mendengar ini, Sian Eng menjadi girang dan timbul pula harapannya. Tadinya gadis ini telah putus harapan karena maklum bahwa kakaknya takkan menang menghadapi iblis itu. Satu-satunya orang yang boleh diharapkam dapat menolong mereka hanyalah kakaknya Suling Emas. Dan siapa tahu kalau-kalau Suling Emas sudah benar-benar menyusul dan sampai di atas sana.

"Sin-ko, kau pertahankan dia, biar aku naik menanti Song-koko"

Ia cepat meloncat untuk berlari keluar melalui terowongan itu. Akan tetapi tiba-tiba ia jatuh tergulihg ketika Hek-giam-lo mengerakkan lengan baju ke arahnya sambil mendengus.

"Huh, kau takkan dapat pergi ke mana-mana"

"Setan, berani kau mengganggu adikku?"

Bu Sin sudah memerjang maju dengan pedangnya. Ia mengerahkan tenaga saktinya karena maklum bahwa kali ini ia menghadapi lawan yang luar biasa lihainya.

"Tranggg"

Pedang di tangan Bu Sin terpental dan saking kerasnya Bu Sin memegang pedang, tubuhnya sampai ikut terpental dua meter jauhnya. Telapak tangan kanannya serasa terkupas kulitnya, perih dan panas. Sian Eng membentak marah sambil menusukkan pedangnya. Akan tetapi sekali tangan kiri Hek-giam-lo bergerak, pedang itu sudah terpukul patah, menjadi tiga potong, terpukul oleh ujung lengan baju hitam. Selagi Sian Eng terhuyung-huyung, jari tangan Hek-giam-lo sudah menotoknya, membuat gadis itu roboh terguling tak dapat berkutik lagi.

"Ibils keparat"

Bentak lagi Bu Sin yang menerjang dengan nekat. Ia mengambil keputusan untuk mengadu nyawa sebelum iblis itu dapat mengganggunya atau mengganggu adiknya. Ilmu yang ia warisi dari kakek sakti hanyalah ilmu untuk menghimpun tenaga sakti, akan tetapi ilmu pedangnya sendiri masih jauh lebih rendah kalau dibandingkan dengan ilmu kepandaian Hek-giam-lo yang terkenal sebagai seorang di antara Enam Iblis Dunia.

Ketika tadi memukul kepala Bu Sin yang mengakibatkan gagang obornya patah, Hek-giam-lo mengira bahwa pemuda itu sakti. Akan tetapi setelah menangkis pedang yang membuat pemuda itu terlempar, Hek-giam-lo tahu bahwa lawannya ini merupakan lawan lunak yang mempunyai tenaga aneh terutama di bagian kepalanya. Hatinya menjadi besar dan ia memandang rendah lagi. Untung bagi Bu Sin dan Sian Eng bahwa si iblis ini tidak menghendaki mereka mati, kalau tidak, sudah pasti keselamatan nyawa mereka tidak akan dapat tertolong lagi. Menghadapi terjangan Bu Sin kali ini, si iblis tidak menangkis dengan senjatanya yang aneh, melainkan dengan ujung lengan baju kiri seperti ketika ia menghadapi Sian Eng tadi. Ujung lengan baju ini memapaki pedang dan seperti seekor ular hidup ujung lengan itu seketika menggulung dan membelit pedang.

"Aihhhhh"

Bu Sin mengerahkan tenaga sakti sekuatnya dan..

"brettttt"

Putuslah ujung lengan baju hitam itu. Hek-giam-lo mengeluarkan suara menggereng seperti harimau terluka, senjatanya berkelebat mengancam leher Bu Sin. Pemuda ini cepat mengangkat pedang menangkis.

Post a Comment