Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 107

Memuat...

Hanya sebentar saja Tan Lian lumpuh lengannya. Totokan itu agaknya oleh Suling Emas sengaja dilakukan perlahan, hanya untuk membuat gadis itu tak berdaya beberapa menit agar ia dapat melarikan diri. Gadis itu berdiri termenung. Ia maklum bahwa kalau Suling Emas tadi menghendaki, ia sudah roboh binasa, dan maklum pulalah ia bahwa agaknya Suling Emas sengaja tadi membiarkan pundaknya terbacok. Tak terasa lagi mukanya berubah merah dan ia memandang sedikit darah yang berada di mata pedangnya.

"Ayah, cukupkah darah ini..?"

Bisiknya dan dua butir air mata mengalir turun yang cepat diusapnya.

"Dia sudah terluka"

"Hayo kejar, dia sudah terluka"

Demikian teriakan para pengejar dan karena tidak ingin orang lain mengetahui keadaannya, Tan Lian terpaksa ikut pula mengejar, seakan-akan terseret oleh gelombang para pengejar itu yang dipanaskan oleh It-gan Kai-ong, Tok-sim Lo-tong dan Toat-beng Koai-jin juga sudah ikut mengejar. Para pengejar itu, didahului oleh It-gan Kai-ong, kini mulai melepas senjata gelap dari belakang. Bagaikan hujan berbagai macam jarum, piauw atau pelor baja berhamburan menyambar ke arah Suling Emas.

Mendengar suara angin senjata-senjata rahasia ini, terpakta Suling Emas membalikkan tubuh dan memutar suling, juga mengibaskan kipasnya. Ia maklum bahwa senjata-senjata rahasia yang dilepaskan oleh orang-orang sakti itu tak boleh dipandang ringan. Di antara senjata-senjata gelap itu yang terdiri daripada senjata-senjata rahasia kecil, yang paling menyolok adalah "senjata rahasia"

Yang dipergunakan sepasang saudara liar, yaitu Tok-sim Lo-tong dan Toat-beng Koai-jin kerena mereka ini melontarkan batu-batu besar. Karena maklum akan bahayanya serangan senjata rahasia yang datang bagaikan hujan dan dilepas oleh orang-orang pandai, Suling Emas tidak berani memandang ringan, tidak berani hanya mengandalkan kelincahan untuk mengelak. Terpaksa ia menghadapi senjata-senjata rahasia itu dengan kelitan, tangkisan suling dan kebutan kipasnya. Akan tetapi untuk melakukan hal ini, berarti ia berhenti berlari dan sebentar saja para pengejarnya sudah dapat menyusul dan kembali ia dihujani serangan.

Masih untung baginya, agaknya para pengejar yang kesemuanya menaruh dendam dan ingin berebut menyerangnya itu membuat penyerangan mereka kacau balau, yang satu malah menjadi penghalang gerakan yang lain. Dengan adanya penyerangan yang kacau-balau ini, Suling Emas masih dapat menyelamatkan dirinya dengan menangkis dan berloncatan, kemudian setelah melihat lowongan, ia melarikan diri lagi. Para musuhnya melakukan pengejaran sambil berteriak-teriak. Tidak terlepas dari pandang mata Suling Emas betapa gadis baju hijau puteri Pendekar Pedang Terbang Hui-kiam-eng Tan Hui yang tadi menyerang dan melukai kulit pundaknya, kini hanya menggerak-gerakkan pedang tanpa ikut menyerangnya, hanya memandang dengan sinar mata ragu-ragu dan bingung. Hal ini membuat hatinya lega, sedikitnya ia telah memuaskan hati seorang musuh.

Ia amat mengagumi gin-kang gadis itu, karena biarpun ilmu pedang gadis baju hijau itu tidak amat berbahaya baginya, namun dengan gin-kang seperti itu, pedang di tangan si gadis menjadi ampuh juga, luar biasa cepat gerakannya. Heran ia memikirkan apakah yang terjadi antara ibu kandungnya dan Pendekar Pedang Terbang itu? Apa pula yang terjadi antara ibunya dengan sekian banyaknya tokoh kang-ouw? Tadi ia mendengar tuduhan-tuduhan yang amat buruk terhadap ibunya. Mengacau markas besar perkumpulan silat yang besar-besar, mencuri kitab pusaka, mempermainkan pria-pria tampan? Benar-benar ia tidak mengerti dan hal-hal yang didengarnya itu membuat hatinya serasa ditusuk-tusuk pedang beracun. Dengan hati perih Suling Emas terus melarikan diri, diam-diam menyesali nasibnya yang amat buruk.

Kita tinggalkan dulu Suling Emas yang dikejar-kejar seperti orang buronan oleh dua puluh orang lebih tokoh-tokoh kang-ouw yang sakti. Mari kita ikuti perjalanan Bu Sin dan Sian Eng yang oleh Suling Emas disuruh melanjutkan perjalanan lebih dulu menurutkan aliran Sungai Kan-kiang. Sepekan sudah mereka melakukan perjalanan dan selama itu mereka makin menjadi gelisah karena Suling Emas belum juga menyusul mereka.

"Sin-ko, mengapa Bu Song koko belum juga menyusul? Bagaimana kalau dia celaka? Lebih baik kita kembali menengok.."

"Ah, Song-ko seorang sakti, dia akan selamat, Moi-moi"

Jawab Bu Sin dengan kening berkerut karena ia sendiri pun merasa gelisah.

"Betapapun juga, dia sudah menyuruh kita berjalan lebih dulu, tak boleh kita tidak mentaati perintahnya."

"Kalau begitu, kita berhenti saja untuk menunggu kedatangannya"

"Jangan, Moi-moi, kita harus berjalan terus. Lihat, dari tempat tinggi ini tampak sungai membelok ke kanan, melalui lereng bukit itu. Akan lebih cepat kalau kita memotong jalan melalui puncak bukit di sana. Sebelum malam tiba kurasa kita akan dapat sampai di kaki gunung seberang sana. Kalau sudah sampai di sana, biar nanti aku yang mencari perahu agar tidak melelahkan, sambil menanti Song-twako menyusul."

Sian Eng tidak berani membantah lagi. Memang dari tempat mereka berdiri, tampak dari tempat tinggi ini Sungai Kan-kiang membelok ke kanan dan mengitari puncak bukit. Kalau melakukan perjalanan memotong bukit itu melalui puncaknya, tentu perjalanan menjadi lebih cepat. Tentu saja hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kepandaian, karena bagi orang biasa, biarpun jarak lebih dekat, akan tetapi mendaki puncak merupakan pekerjaan yang sukar dan memakan waktu lebih lama. Kakak beradik itu lari mempergunakan ilmu lari cepat, melintas dan mendaki puncak. Matahari telah mulai condong ke arah barat ketika mereka menuruni puncak bukit itu. Tiba-tiba Sian Eng berhenti dan memandang ke bawah, mukanya berubah pucat.

"Sin-ko, itulah tempatnya..?"

Bu Sin berhenti, kaget melihat muka adiknya berubah, lalu ia menoleh ke arah yang ditunjuk.

"Tempat apa, Eng-moi?"

"Itu.. kuburan tua itu.. di sanalah tempat aku diculik si iblis Hek-giam-lo dahulu.."

Tak salah lagi, aku ingat betul tempatnya juga berada di lereng seperti itu.."

"Hemmm, kalau begitu tempat itu mungkin menjadi sarang iblis Hek-giam-lo. Eng-moi kita ke sana. Bukankah kakak kita hendak mengejar Hek-giam-lo untuk merampas tongkat pusaka Beng-kauw? Kita harus membantunya"

"Tapi.."

"Eng-moi, takutkah kau?"

"Iblis itu lihai sekali, Sin-ko."

"Aku tahu, akan tetapi kita tidak perlu takut. Selain Song-twako berada di belakang kita, juga kita bukanlah orang-orang tiada guna yang tidak mampu bekerja apa-apa. Kita hanya menyelidiki tempat itu, adikku. Sungguh mengecewakan kalau kita sebagai anak-anak ayah yang berjiwa gagah perkasa, harus menyerahkan segala tugas berbahaya kepada Song-twako. Apakah kita akan tinggal peluk tangan saja sebagai orang-orang yang tidak mempunyai nyali?"

"Sin-ko, aku lupa bahwa kau telah mewarisi ilmu kesaktian dari kakek sakti seperti yang kau ceritakan itu. Dan aku pun bukan seorang gadis lemah. Kau betul, mari kita ke sana, aku masih ingat betul tempatnya"

Berlarilah kedua orang kakak beradik itu menuruni puncak dan tak lama kemudian sampailah mereka di sebuah kuburan kuno yang penuh dengan batu-batu bongpai (pusara) berukir. Setelah mencari-cari beberapa lamanya, akhirnya Sian Eng berhenti di depan sebuah bongpai besar yang terhias beberapa buah arca-arca sebesar manusia, arca-arca dari sastrawan-sastrawan terkenal di masa dahulu.

"Di situlah.."

Bisiknya sambil menudingkan telunjuknya yang agak gemetar ke arah lantai depan makam.

"Di situ terdapat sebuah pintu batu rahasia yang menembus ke terowongan di bawah tanah pekuburan ini."

"Kau tidak melihat orang lain dahulu ketika kau dibawa masuk?"

Tanya Bu Sin. Adiknya menggelengkan kepala.

"Kalau begitu, mari kita selidiki ke sana. Siapa tahu tongkat pusaka itu disembunyikan di tempat ini. Besar kemungkinan si iblis tidak berada di sini, dan mudah-mudahan saja begitu bisa mengambil tongkatnya kalau benda keramat itu ia sembunyikan di sini. Aku akan girang sekali kalau dapat membantu Song-twako."

Sian Eng mengangguk setuju dan mereka menghampiri lantai depan makam. Setelah menyelidiki tempat itu, benar saja mereka melihat ada batu lantai yang merupakan pintu penutup, besarnya kurang lebih satu meter persegi. Ketika mereka mencoba untuk mengungkitnya, ternyata batu itu dapat terbuka dan di bawahnya terdapatlah lobang. Tampak pula anak tangga dari batu. Dengan tabah Bu Sin lalu melangkah masuk, diikuti adiknya. Akan tetapi pemuda ini berhenti dan ragu-ragu setelah berjalan beberapa langkah, karena keadaan terowongan itu gelap bukan main.

"Kenapa berhenti?"

Tanya Sian Eng.

"Gelap sekali, kita harus membuat obor dulu. Mundur, Moi-moi, kita keluar dulu mencari obor."

Mereka mundur dan keluar kembali. Bu Sin segera mencari bahan, kulit pohon yang dapat terbakar lama, membuat obor, menyalakannya dan kembali mereka memasuki terowongan itu. Bu Sin berjalan di depan, obor di tangan, sedangkan Sian Eng berjalan di belakangnya, mereka tidak dapat berjalan cepat. Tanah yang mereka injak agak basah dan licin, juga makin lama terowongan itu makin rendah, hampir kepala Bu Sin tertumbuk batu karang di atas kalau ia tidak membungkuk. Setelah bergerak melalui beberapa tikungan, Sian Eng berbisik.

"Seingatku dahulu terdapat ruangan yang lebar seperti kamar.."

Mereka maju terus mata dan hidung terasa pedas oleh asap obor. Terowongan di sebelah depan menyempit dan Bu Sin yang berada di depan sudah mulai berjongkok dan merayap.

"Agak terang di sini.."

Katanya, gembira karena benar saja, keadaan mulai terang, tidak segelap tadi.

"Entah dari mana datangnya sinat terang ini.."

Akan tetapi Sian Eng tidak menjawab dan gadis itu mengeluarkan suara ah-uh-ah-uh tidak jelas. Kiranya Sian Eng tahu dari mana datangnya sinar terang itu karena ia merasa seperti ada sesuatu di belakangnya dan ketika ia menengok.. hampir Sian Eng menjerit dan pingsan. Demikian kaget dan ngerinya sehingga jeritannya hanya keluar sebagai suara ah-uh-ah-uh saja, mukanya pucat matanya terbelalak memandang Hek-giam-lo yang sudah berdiri di belakang mereka. Hek-giam-lo si iblis muka tengkorak berpakaian hitam, berdiri dengan tangan kanan memegang obor dan tangan kiri memegang senjatanya yang mengerikan, kiranya obor di tangannya itulah yang membuat terowongan itu menjadi terang.

"Eng-moi kau kenapa..?"

Bu Sin bertanya ketika mendengar suara aneh adiknya. Ia menoleh dan alangkah herannya ketika ia melihat wajah adiknya pucat, tubuhnya gemetar dan matanya terbelalak menengok ke belakang. Ia cepat menoleh dan.. dapat dibayangkan betapa terkejut hatinya ketika ia melihat apa yang menyebabkan adiknya takut.

"Hek-giam-lo.."

Katanya dan pemuda ini membesarkan suaranya, mengusir rasa takut.

"Kalau kau memang menjadi tuan rumah tempat ini, mengapa menyambut kedatangan kami dari belakang?"

Iblis bertopeng tengkorak itu mendengus.

"Hemmm, maju terus atau.. hemmm, kurobek-robek badan kalian di sini juga"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment