Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 104

Memuat...

Di atas tambang daripada Suling Emas yang memakai sepatu kulit dengan sol dipasangi baja, Suling Emas dengan sepatunya itu lebih mudah terpeleset, tidak seperti lawannya yang dapat mencengkeram tambang dengan jari-jari kakinya.

"Heh-heh-heh, terjunlah.. terjunlah.. heh-heh"

Tok-sim Lo-tong terkekeh-kekeh dan guncangannya pada tambang itu makin menghebat sehingga agaknya tak lama lagi Suling Emas takkan dapat menahan dirinya.

Namun Suling Emas bukanlah pendekar sembarangan saja. Biarpun usianya belum tua, namun ia seorang yang selain memiliki kesaktian tinggi juga ia cerdik sekali di samping wataknya yang tenang dan waspada. Menghadapi akal lawan ini, ia berlaku tenang dan tidak gentar sedikit pun juga. Dengan ilmu lwee-kangnya ia dapat membuat kedua kakinya seakan-akan lengket pada tambang dan biarpun tubuhnya tergucang-guncang dan miring ke kanan kiri sampai hampir roboh, namun ia sama sekali tidak dapat terjatuh dari atas tambang.

"Tua bangka curang, cukup permainanmu ini"

Tiba-tiba Suling Emas berseru dan tubuhnya melayang ke atas, kedua kakinya terlepas dari tambang. Hampir Sian Eng berteriak karena hal ini benar-benar berbahaya. Betapapun saktinya, Suling Emas tidak dapat terbang, bagaimana begitu sembrono berani melepaskan tambang? Tubuhnya tentu akan turun lagi dan bagaimana kalau ia tidak dapat menginjak tambang lagi?

"Heh-heh-heh, kau cari mampus"

Teriak Tok-sim Lo-tong dengan girang karena ia melihat kesempatan baik. Guncangan pada tambangnya makin hebat, dan ia rasa tentu kali ini Suling Emas tidak akan mampu turun lagi di atas tambang. Akan tetapi mendadak ia berseru keras dan melompat ke belakang, berjungkir balik dan seperti baling-baling ia berloncatan terus ke belakang karena sinar yang terang menyambar-nyambar bagaikan patuk burung garuda, mengarah jalan darah paling penting di tubuhnya. Sekali saja ia terkena totokan ujung suling, tentu ia akan menjadi lumpuh dan akibatnya dialah yang akan jatuh ke bawah.

Karena Tok-sim Lo-tong sibuk mengelak inilah maka tambang tidak terguncang-guncang lagi dan tentu saja hal ini sudah diperhitungkan oleh Suling Emas yang dengan mudahnya dapat turun lagi di atas tambang. Kini dialah yang menyerang, terus mendesak lawan dengan sulingnya sehingga kakek gundul itu berseru-seru marah, akan tetapi terpaksa mundur terus sambil berjungkir balik makin lama mendekati tepi seberang jurang. Mendadak Tok-sim Lo-tong memekik dan tubuhnya melayang tinggi dan cepat, tahu-tahu ia sudah berada di seberang dan kedua tangannya yang kurus itu telah mengangkat sebuah batu karang sebesar kerbau, lalu dilontarkannya batu karang itu ke arah Suling Emas yang masih berada di atas tambang. Serangan hebat dan berbahaya sekali dan sekaligus menyatakan bahwa kakek kurus kering itu benar-benar luar biasa karena dengan mudahnya dapat mengangkat dan melontarkan batu karang yang demikian besarnya.

Namun Suling Emas tidak menjadi gentar atau gugup. Ia merendahkan tubuhnya sampai hampir berjongkok, sulingnya berkelebat dan berhasil menotol dan mendorong batu itu dari bawah. Luncuran batu itu menyeleweng lewat di atas kepalanya, lalu meluncur ke bawah. Sampai lama barulah terdengar suara hiruk-pikuk di sebelah bawah, akan tetapi Suling Emas sama sekali tidak mempedulikannya, tidak melihat sedikit pun ke bawah, melainkan waspada memandang ke arah lawan sambil melangkah maju. Di seberang lain, Sian Eng meramkan mata saking ngerinya, juga Bu Sin merasa ngeri sekali. Mereka melihat betapa batu karang sebesar kerbau itu menimpa batu-batu di bawah dan hancur berkeping-keping. Dapat dibayangkan betapa tubuh manusia akan hancur lebur kalau terjatuh dari tempat setinggi ini.

Tok-sim Lo-tong agaknya menjadi marah dan penasaran sekali. Sambil meringkik aneh ia menubruk ke arah tambang, agaknya bermaksud memutus tambang itu. Suling Emas dapat menduga niat jahat ini, maka sekali melompat ia telah berada di tepi dan sulingnya berkelebat merupakan sinar terang menusuk ubun-ubun kepala Tok-sim Lo-tong. Terpaksa iblis ini tidak melanjutkan niat jahatnya, sebaliknya ia menggulingkan tubuhnya ke belakang. Sambil bergulingan ini, kedua tangannya tiada hentinya bergerak dan batu-batu besar kecil berhamburan menyambar ke arah Suling Emas bagaikan hujan derasnya. Hebat memang iblis itu.

Sukar dikatakan apakah gerakannya bergulingan itu gerakan mengelak ataukah menyerang, sifatnya mengandung kedua-duanya. Ia bergulingan untuk mengelak dari suling lawan, namun ia pun bergulingan sambil menyerang. Serangan yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan karena semua batu itu besar kecil menyambar ke arah jalan-jalan darah di tubuh, bukan sambaran sembarang sambar"

Suling Emas sibuk memutar sulingnya menangkis, malah mengeluarkan kipasnya dan senjata ke dua ini banyak berjasa mengebut runtuh batu-batu kecil. Biarpun serangan itu hebat, namun Suling Emas masih sempat berseru ke sebelah belakangnya.

"Kalian menyeberanglah"

Bu Sin dan Sian Eng mendengar seruan yang nyaring luar biasa ini. Mereka lalu mendekati jembatan tambang.

"Kau menyeberang dulu, Eng-moi, biar aku di belakangmu,"

Kata Bu Sin. Menyeberang tambang seperti itu bukanlah hal yang terlalu sukar bagi Sian Eng. Hanya tempat dan keadaannyalah yang terlalu mengerikan sehingga jantungnya berdebar tegang, wajahnya agak pucat dan rasa takut menyelubungi hatinya. Melihat betapa kedua kaki adiknya agak menggigil, Bu Sin menyentuh pundaknya dan berkata.

"Jangan takut, adikku. Tidak apa-apa, tambangnya begini besar dan kuat, jaraknya tidak jauh, apa sukarnya? Asal kau jangan memandang ke bawah."

Sian Eng mengangguk, lalu melangkah maju ke atas tambang, diikuti kakaknya. Dua orang muda ini melangkah hati-hati sekali, mengembangkan kedua lengan ke kanan kiri untuk mengatur keseimbangan tubuh. Ketika mereka tiba di tengah-tengah "jembatan", mendadak terdengar suara orang tertawa di sebelah belakang mereka. Bu Sin dan Sian Eng kaget, cepat menengok dan alangkah kaget hati mereka melihat dua orang laki-laki memegang golok, datang tertawa-tawa sambil menggerakkan golok hendak membabat tambang yang mereka injak.

"Twako.. tolong.."

Hampir berbareng Bu Sin dan Sian Eng berteriak, akan tetapi hampir putus asa karena pada saat itu Suling Emas masih bertempur seru menghadapi Tok-sim Lo-tong. Dua batang golok yang tajam menyambar ke arah tambang dan agaknya dalam detik-detik berikutnya tubuh Bu Sin dan Sian Eng akan terbanting hancur lebur di dasar jurang kalau saja pada saat itu tidak terjadi hal yang hebat. Suling Emas mendengar teriakan adik-adiknya, cepat menengok dan berseru keras, tangan kirinya yang memegang kipas menyambar ke bawah dan di lain detik,

Dua buah batu kecil telah dilontarkan oleh kipas itu, bagaikan dua butir peluru saja. Menyambarnya dua buah batu kecil itu sama sekali tidak kelihatan saking cepatnya. Tahu-tahu dua orang pemegang golok itu memekik ngeri, mereka terguling roboh dan karena mereka berdiri di tepi jurang, tubuh mereka tak dapat dicegah lagi menggelinding turun dan melayang ke bawah. Hanya terdengar raung mengerikan ketika dua tubuh itu melayang-layang, kemudian sunyi, bahkan terbantingnya tubuh itu ke atas batu-batu runcing di sebelah bawah tidak terdengar sampai ke atas, saking tingginya tempat itu. Sejenak Sian Eng meramkan mata dan tubuhnya bergoyang-goyang. Ia merasa ngeri dan tegang, kedua kakinya menggigil dan hampir pingsan. Untung baginya, Bu Sin lebih tabah hatinya. Pemuda ini cepat melangkah maju dan menangkap lengan adiknya ketika melihat gadis itu bergoyang-goyang dan tidak dapat bergerak maju.

"Eng-moi, bahaya telah lewat, hayo cepat menyeberang"

Katanya sambil mengguncangkan dan mendorong. Sian Eng sadar kembali, mengeluh lirih lalu melangkah kecil menyeberangi tambang yang tinggal beberapa meter jauhnya itu.

Setelah berhasil mencapai tepi penyeberangan luar biasa ini, Bu Sin dan Sian Eng mendapat kenyataan bahwa bukit di seberang sini jauh bedanya dengan bukit di seberang sana. Bukit ini subur, indah dan menyenangkan sekali. Dari atas tampak di lereng gunung itu air sungai bening berkilauan. Itulah Sungai Kan-kiang. Tentu saja mereka hanya dapat memandang tamasya alam ini sepintas lalu saja karena perhatian mereka segera tertuju ke arah Suling Emas yang masih bertempur melawan Tok-sim Lo-tong. Mereka berdua maklum bahwa dengan tingkat kepandaian mereka, membantu Suling Emas berarti malah mengacaukan gerakan-gerakannya, maka mereka hanya memandang dengan kagum dan juga cemas. Kakek tinggi kurus itu ternyata lihai bukan main. Ia menghadapi Suling Emas hanya bertangan kosong saja, akan tetapi ternyata segala sesuatu yang berada di dekatnya merupakan senjatanya.

Batu-batu besar kecil, ranting-ranting dan dahan, kadang-kadang malah pohon-pohon yang cukup besar dicabutnya dan dimainkan sebagai senjata. Memang demikianlah keadaan kedua saudara Tok-sim Lo-tong dan suhengnya, Toat-beng Koai-jin. Mereka berdua ini adalah murid-murid orang sakti, akan tetapi karena sejak kecil hidup di dalam hutan liar, mereka menjadi ganas seperti orang hutan dan cara mereka berkelahi pun kasar dan sederhana. Namun karena gerakan-gerakan mereka berdasarkan ilmu silat tinggi yang luar biasa, maka tentu saja kepandaian mereka hebat. Suling Emas sudah berhasil mendesaknya, namun belum juga dapat merobohkannya. Ada empat kali sulingnya mengenai sasaran, namun kekebalan kakek kurus itu dapat menahan hantaman suling yang kenanya memang tidak tepat benar.

"Bu Sin, Eng-moi, lekas kalian pergi ke sungai itu dan cari perahu. Aku menyusul segera. Kalau aku belum datang dan kalian sudah mendapat perahu, berangkat saja dulu menurutkan aliran sungai. Lekas"

Bu Sin dan adiknya heran melihat sikap Suling Emas yang tergesa-gesa dan seperti gugup itu.

Terang bahwa Suling Emas tidak akan kalah oleh si kakek kurus, mengapa mengusir mereka pergi cepat-cepat? Akan tetapi kelika melihat pandang mata Suling Emas mengerling tajam ke arah belakang mereka, Bu Sin cepat menengok dan bukan main kagetnya ketika ia melihat beberapa orang berlari cepat menuju ke penyeberangan. Bahkan yang terdepan, seorang kakek bertelanjang badan hanya pakai cawat seperti Tok-sim Lo-tong, tubuhnya gemuk berpunuk, telah meloncat ke atas tambang dengan kecepatan dan keringanan tubuh yang mengagumkan sekali. Toat-beng Koai-jin. Tahulah Bu Sin sekarang akan maksud Suling Emas. Tentu saja dengan adanya mereka berdua, Suling Emas menjadi kurang leluasa untuk melawan sekian banyak orang pandai, karena disamping harus menandingi mereka, juga harus melindungi kedua adiknya.

Post a Comment