Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 102

Memuat...

Kemudian ia menghadap Hek-giam-lo dan berkata lantang.

"Hek-giam-lo, kau seorang Locianpwe yang berilmu tinggi. Tidak seharusnya kau memaksa Nona ini yang tidak mau ikut ke Khitan. Harap kau orang tua suka memandang muka Suhuku dan membebaskannya, biarkan dia pergi bersamaku ke mana ia suka. Kelak kalau aku atau Suhu lewat Khitan, tentu tidak lupa singgah untuk menyampaikan terima kasih dan hormat."

Ucapan Bok Liong ini adalah ucapan gagah seorang tokoh kang-ouw terhadap tokoh kang-ouw lain, dan biasanya orang-orang kang-ouw tunduk akan "sopan sentun"

Kang-ouw seperti ini.

"Bocah gila, melihat muka tolol gurumu, aku mau ampunkan kau. Hayo lekas kau minggat dari sini dan jangan mengganggu urusan kami. Tuan Puteri Yalina akan ikut bersama kami, sama sekali tidak ada sangkut-pautnya denganmu. Pergi"

Berbareng dengan ucapan ini, Hek-giam-lo menggerakkan lengan bajunya yang berubah menjadi sinar hitam menyambar ke arah dada Lie Bok Liong.

Tenaga sakti yang dahsyat merupakan angin yang kuat sekaii menyambar ke depan. Bok Liong sudah siap sedia, cepat ia lompat menghindar ke samping tubuhnya bergoyang-goyang, pinggulnya megal-megol akan tetapi tahu-tahu pedangnya sudah menyelinap di antara sambaran angin, mengirim tusukan balasan ke arah jambung si iblis tengkorak. Diam-diam Hek-giam-lo kaget dan kagum. Seorang muda yang dapat menghindarkan serangannya dan seketika dapat balas menyerang, jarang sekali terdapat di dunia kang-ouw. Maklumlah ia bahwa pemuda murid Gan-lopek ini sudah lumayan kepandaiannya. Tentu saja dengan mudah ia dapat menangkis tusukan pedang itu dengan kibasan lengan bajunya. Ketika pedangnya terkena kibasan ujung lengan baju, hampir saja pedang itu terlepas dari tangannya.

Bok Liong kaget bukan main, namun ia tetap melanjutkan serangannya, kini pedangnya membuat tiga lingkaran lebar yang makin lama makin sempit lalu menjurus ke arah dada lawan. Hebat serangan ini, dan kuat sekali. Namun dengan mudah pula Hek-giam-lo menghindar, lalu dari samping pukulan jarak jauh dengan ujung lengan baju membuat Bok Liong terhuyung-huyung, hampir menabrak seorang anak buah Khitan. Anehnya, orang Khitan ini sama sekali tidak bergerak atau menyerang, dan ini merupakan bukti betapa teguh mereka memegang disiplin. Tanpa perintah kepala mereka, orang-orang Khitan ini tidak berani sembarangan bergerak. Dan mereka memang betul, karena andaikata ada yang bergerak, hal itu berarti membantu Hek-giam-lo tanpa diperintah dan ini berarti pula menghina tokoh besar itu yang mungkin hukumannya adalah maut.

Lin Lin yang melihat perlawanan gigih dari Bok Liong terhadap Hek-giam-lo, menjadi kagum. Tiba-tiba ia lari menerobos memasuki bilik perahu. Juga orang-orang Khitan mendiamkannya saja, apalagi gadis itu adalah "tuan puteri"

Bagi mereka, tanpa ada perintah Hek-giam-lo mereka tidak akan berani mengganggunya sedikit pun juga. Tak lama kemudian Lin Lin sudah berlari keluar lagi, di tangannya memegang tongkat Beng-kauw yang kepalanya dihias permata ya-beng-cu. Kiranya gadis ini memasuki bilik untuk mencari senjata karena pedangnya sudah terampas oleh Hek-giam-lo. Setelah tiba di luar, ia melihat Bok Liong terkurung sinar hitam yang dibuat oleh lengan baju Hek-giam-lo, maka tanpa banyak cakap lagi ia lalu menggerakkan tongkat Beng-kauw mengemplang dari belakang ke arah kepala Hek-giam-lo.

"Werrrrr"

Tongkat itu lewat dekat kepala ketika Hek-giam-lo menghindar, kemudian sekali lompat iblis tengkorak ini sudah tiba dekat Bok Liong. Lengan baju kiri digerakkan melibat pedang Bok Liong, tangan kanan mengirim pukulan dari atas ke bawah yang kalau mengenai kepala Bok Liong tentu akan pecah seketika.

"Hayaaaaa.."

Bok Liong menjatuhkan diri ke belakang dan bergulingan, pukulan itu menyambar lewat dan "brakkk"

Papan perahu terkena pukulan tangan Hek-giam-lo menjadi amblong berlubang besar. Biarpun Bok Liong sudah terhindar daripada bahaya maut, namun pedangnya, pedang pusaka Goat-kong-kiam, kini sudah terampas dan berada di tangan si iblis tengkorak. Hek-giam-lo mengeluarkan suara seperti orang tertawa, tangan kanannya bergerak dan pedang rampasan meluncur ke belakang menangkis tongkat Beng-kauw yang sudah menyambarnya lagi.

"Traaanggggg"

Biarpun pedang itu disambitkan untuk menangkis, namun tenaga sambitannya membuat Lin Lin mengaduh karena telapak tangannya terasa panas dan perih, baiknya tongkatnya tidak terlepas. Pedang itu terbentur dan meluncur seperti anak panah ke arah kaki Bok Liong. Pemuda ini cepat melompat menghindar agar jangan sampai kakinya terbabat pedangnya sendiri.

"Cappp"

Pedang Goat-kong-kiam menancap sampai setengah lebih di atas papan perahu.

"Bocah gila, lekas minggat. Sekali lagi aku tidak memberi ampun"

Kata Hek-giam-lo sambil menggerakkan tangan kiri menyambut tongkat yang kembali telah dipukulkan oleh Lin Lin ke arah kepalanya. Kali ini Hek-giam-lo menerima tongkat itu, menarik lalu mendorong kuat sekali. Lin Lin menjerit dan tubuhnya terlempar.. keluar perahu.

"Byurrrrr.."

Tubuhnya menimpa air yang muncrat tinggi.

"Tolong.. auppp.."

Lin Lin kaget sekali karena tubuhnya kaku, kaki tangannya lumpuh tak dapat digerakkan untuk berenang, maka dengan panik ia minta tolong. Sesosok bayangan melompat ke air. Dia adalah Bok Liong yang cepat menyelam dan menyambar tubuh Lin Lin yang sudah tenggelam itu, kemudian memeluknya dan membawanya berenang ke pinggir perahu. Tongkat Beng-kauw masih berada di tangan gadis itu yang tidak mau melepaskannya. Dengan agak sukar Bok Liong menyambar pinggiran perahu, lalu menaikkan tubuh Lin Lin, yang masih kaku karena tadi terkena totokan lihai Hek-giam-lo. Ia sendiri meloncat ke atas perahu dan kembali mencabut pedangnya.

"Hek-giam-lo, kau bukan lawanku. Sekali lagi, memandang muka Suhu, harap kau suka membebaskan Lin-moi dan aku. Kalau kau mau berkelahi, lawanlah Suhu, baru sebanding. Akan tetapi kalau kau tidak mau membebaskan Lin-moi, terpaksa aku mengadu nyawa denganmu"

"Heh, bocah edan. Nona ini adalah Tuan Puteri kami, dia adalah calon Permaisuri Khitan. Kau ini bocah gila berani jatuh hati kepadanya?"

Marahlah Bok Liong. Ia melompat maju dengan serangan pedangnya. Kali ini Hek-giam-lo melibat ujung pedang lawan dengan lengan bajunya, menggerakkan ke bawah dan.. tubuh Bok Liong terbanting ke atas papan perahu. Setika tubuh Bok Liong amblas sampai sepinggang karena kebetulan sekali ia terbanting pada papan yang telah bolong terkena pukulan Hek-giam-lo tadi. Kasihan pemuda itu, ia berusaha melepaskan diri namun sia-sia karena pinggangnya terjepit sehingga ia seperti seekor tikus masuk perangkap. Namun ia masih memaki-maki,

"Hek-giam-lo, kaubunuhlah aku, tapi bebaskan Lin-moi"

"Tidak dibunuh buat apa?"

Berkata demikian, Hek-giam-lo menghampiri tubuh Bok Liong yang masih terjepit papan perahu. Pemuda ini biarpun sudah tidak berdaya, namun pedangnya masih berada di tangan dan ia dengan sikap menantang siap untuk melakukan serangan terakhir dengan senjatanya sebelum tewas, sedikitpun tidak terbayang rasa takut di wajahnya.

"Hek-giam-lo, jangan bunuh dia"

Tiba-tiba Lin Lin berseru keras. Hek-giam-lo menengok ke arah gadis itu yang kini sudah berdiri dengan muka pucat. Iblis itu mendengus, lalu menggumam,

"Tidak dibunuh buat apa? Dia kurang ajar, berani mencintai Tuan Puteri, harus dibunuh mati untuk menebus dosanya.."

Setelah berkata demikian, Hek-giam-lo melangkah lagi menghampiri Bok Liong.

"Hek-giam-lo, kalau kau membunuhnya, aku tidak sudi ikut ke Khitan"

Kembali Lin Lin berseru.

"Hamba dapat memaksa Paduka"

Karena Hek-giam-lo membacokkan pedangnya dengan sekuat tenaga. Tubuhnya yang terjepit membuat ia tidak dapat menyerang secara baik, hanya asal membacok saja. Hek-giam-lo mendengus dan tahu-tahu pedang itu sudah terlibat oleh ujung lengan baju sebelah kiri, sedangkan tangan kanan iblis itu sudah bergerek mencengkeram ke arah kepala Bok Liong. Pemuda ini hanya dapat memandang dengan mata mendelik dan dengan sikap gagah menanti detangnya maut dengan mata terpentang lebar.

"Hek-giam-lo, kalau kaubunuh dia, aku akan bunuh diri"

Teriak Lin Lin yang sudah kebingungan sekali melihat Bok Liong terancam bahaya maut. Pemuda itu datang untuk menolongnya, tak mungkin sekarang ia diam saja menyaksikan penolongnya terancam kematian yang mengerikan. Cengkeramen ke arah kepala itu mendadak berubah dan kini yang dicengkeram adalah baju pada punggung Bok Liong. Sekali sentak tubuh pemuda itu sudah keluar dari jepitan papan dan sekali mengayun tangan Hek-giam-lo melemparkan tubuh Bok Liong keluar dari perahu dan

"byuuurrrrr.."

Untuk kedua kalinya air muncrat tinggi ketika tertimpa tubuh pemuda itu. Hanya sebentar Bok Liong tenggelam. Segera ia muncul lagi, terengah-engah dan menyemburkan air dari dalam mulutnya. Pedang Goat-kong-kiam masih di tangan kanannya dan dengan mata mendelik marah ia berenang ke arah perahu sambil memaki.

"Hek-giam-lo iblis penakut anak-anak. Kalau kau tidak membebaskan Lin-moi, akan mengadu jiwa denganmu"

Melihat kenekatan pemuda yang keras kepala ini, Lin Lin bingung dan kaget sekali. Cepat ia berlari ke pinggir perahu dan berseru,

"Liong-twako, jangan ke sini lagi. Kau pergilah, sia-sia melawan dia"

"Lin-moi, tidak bisa aku meninggalkan kau tertawan iblis itu. Kalau perlu aku akan mengadu jiwa, apa artinya kematian? Hidup pun tidak akan berguna bagiku kalau kau mengalami bencana"

Penuh semangat pemuda ini menjawab. Jawaban yang sekaligus menyatakan cinta kasihnya terhadap gadis itu. Merah seketika wajah Lin Lin dan sejenak ia terharu. Pemuda ini benar-benar hebat, gagah perkasa dari cinta kasihnya terhadap dirinya sudah cukup teruji. Berkali-kali pemuda ini menolongnya dari bencana tanpa mempedulikan keselamatan dirinya sendiri.

"Jangan, Twako,"

Post a Comment