Halo!

Cinta Bernoda Darah Chapter 101

Memuat...

Lin Lin mencabut keluar Pedang Besi Kuning dan menodongkannya ke arah Hek-giam-lo. Melihat ini, para anak buah perahu serta-merta menjatuhkan diri berlutut.

Akan tetapi Hek-giam-lo mendengus aneh dan sekali tubuhnya bergerak, ia telah menyergap maju dan tiba-tiba Lin Lin merasa tubuhnya menjadi kaku dan pedang itu telah terampas oleh Hek-giam-lo. Tengkorak Hitam itu mengeluarkan suara perintah dalam bahasa Khitan dan lima orang yang berlutut di belakang Lin Lin, tiba-tiba melompat dan menerkam gadis itu, menelikung kedua lengannya ke belakang dan mengikatnya dengan sehelai sabuk sutera yang kuat. Di lain saat, ketika mereka melepaskan Lin Lin, gadis itu sudah terbelenggu kedua tangannya di belakang tubuh. Lin Lin terkejut, sama sekali tidak mengira bahwa orang-orang itu, termasuk Hek-giam-lo akan berani melawannya. Akan tetapi ia tidak takut, malah ia lalu memaki-maki.

"Keparat kau, Hek-giam-lo. Awas kau, sesampainya di Khitan, akan kuberi tahu kepada Sri Baginda tentang perlakukanmu yang kurang ajar agar kau mendapat hukuman penggal leher"

Hek-giam-lo mendengus, kemudian memberi perintah dalam bahasa Khitan. Agaknya ia menyuruh pergi para anak buahnya karena mereka itu seorang demi seorang lalu menghilang ke dalam dan ke balik bilik perahu. Kemudian Hek-giam-lo menghadapi Lin Lin yang berdiri dengan tegak walaupun kedua tangannya terbelenggu.

"Yalina, ucapanmu ini mengingatkan aku akan Ibumu. Dahulu Ibumu juga hendak memenggal leherku, malah ia telah menyiram mukaku dengan racun. Kau tahu aku siapa? Nah, tengoklah baik-baik"

Cepat sekali Hek-giam-lo merenggut kedoknya dan.. Lin Lin menjadi pucat, memandang terbelalak pada wajah seorang laki-laki yang bentuknya tampan gagah, akan tetapi wajah itu mengerikan karena.. tidak berkulit lagi. Daging muka itu, atau lebih tepat tulang-tulangnya terbungkus kulit tipis licin, hidung dan bibirnya yang masih bagus bentuknya itu pun menjadi mengerikan dengan kulit tipis berkerut dan putih seakan-akan tidak berdarah. Matanya tidak berbulu lagi, alisnya pun hilang, kepalanya tidak berambut. Benar-benar wajah yang mengerikan, jauh lebih mengerikan daripada wajah Cui-beng-kui.

"Kau.. kau siapa..?"

Dengan suara lirih dan penuh kengerian Lin Lin bertanya. Secepat tadi ketika merenggutkan kedoknya, Hek-giam-lo sudah memasangnya kembali. Kedok tengkorak itu agaknya tidak mengerikan lagi, dibandingkan dengan muka yang bersembunyi di balik kedok.

"Hemmm, kau telah melihat wajahku? Wajah yang dahulunya tampan gagah, karena aku berdosa mencinta Ibumu, aku mendapat perlakuan begini kejam. Ibumu menolak aku, kakaknya sendiri seayah lain ibu, dan dia memilih seorang perajurit biasa menjadi suaminya, yaitu Ayahmu"

Hek-giam-lo diam sejenak, agaknya menahan kemarahannya. Lin Lin teringat akan cerita Kim-lun Seng-jin tentang Puteri Mahkota Khitan yang bernama Tayami, yang menurut Kim-lun Seng-jin adalah ibunya. Teringat ia betapa kakek itu bercerita bahwa Puteri Tayami bersama suaminya, seorang perajurit gagah perkasa dan pilihan, gugur dalam perang melawan musuh karena ada saudara-saudara ibunya yang berkhianat. Mengingat ini, serta-merta naik darah panas ke kepalanya dan mulutnya menyerang dengan ejekan.

"Jadi kaukah orangnya yang berkhianat, bersekutu dengan Kerajaan Sung sehingga bengsaku dipukul hancur di Shan-si, dan ibu serta ayahku gugur?"

Enak saja mulut Lin Lin menyebut "bangsaku"

Dan "ayah ibuku", karena memang ia sudah tidak ragu-ragu lagi. Inilah musuh besarnya yang sesungguhnya, orang yang menjadi biang keladi kematian ayah bundanya yang gugur sebagai pejuang bangsa yang gagah perkasa.

"Heh-heh, kau pandai menduga, ya? Memang betul begitulah. Akan tetapi pembalasanku ini tidak berlebihan, kau sudah melihat mukaku yang disiram air beracun oleh Ibumu."

"Aku tidak percaya. Aku tidak percaya Ibu seganas itu. Kecuali kalau kau melakukan hal yang jahat, untuk membela diri mungkin Ibu terpaksa harus menggunakan racun."

"Hemmm, kau memang pandai menduga, agaknya arwah Ibumu yang berbisik di dalam hatimu. Aku tidak bersalah, dosaku tidak berarti. Ibumu cantik jelita, seperti engkau begini, dan aku dahulu seorang pria yang tampan dan muda, penuh semangat dan nafsu. Aku hanya memasuki kamar Ibumu, hendak mencumbu rayu, sudah sewajarnya antara pria dan wanita. Tapi dia.. dia.. ah, semenjak itu aku benci kepadanya"

Lin Lin dapat membayangkan semua itu, biarpun ia tidak mendapat cerita yang jelas, namun ia dapat menduga apa yang telah terjadi pada masa sebelum ia terlahir di dunia itu (baca ceritaSuling Emas).

"Hek-giam-lo, kalau begitu sikapmu tunduk kepadaku hanya pura-pura. Kau menawanku mau apa?"

Secara tidak terduga, Hek-giam-lo kembali menjura dengan penuh penghormatan.

"Ih, tak perlu membadut dan berpura-pura lagi"

Bentak Lin Lin.

"Tuan Puteri Yalina, hamba tidak berpura-pura. Hamba Hek-giam-lo hanya mentaati perintah Sri Baginda atau kakak hamba sendiri. Paduka harus hamba bawa ke Khitan dan di sana Paduka akan dikaruniai anugerah sebagai permaisuri menjadi ratu di sisi Sri Baginda kakak hamba."

"Apa..?"

Lin Lin menjerit.

"Kalau dia itu kakakmu, dan kau kakak seayah ibuku, berarti kau dan dia itu masih pamanku. Dia paman tua, dia uwakku, masa dia hendak memperisteriku? Gila kau"

"Heh-heh, tidak ada yang gila, Tuan Puteri. Jamak laki-laki beristerikan wanita, muda lagi cantik. Ibu Paduka memang seayah dengan hamba dan Sri Baginda, akan tetapi berlainan ibu, jadi di antara kita sudah bukan apa-apa. Paduka akan menjadi ratu di Khitan, menjadi junjungan di samping Sri Baginda, karena itulah hamba juga menjadi hamba Paduka. Hanya karena Paduka tidak mau suka rela pergi ke Khitan, terpaksa hamba membelenggu Paduka."

"Gila.., Kau dan semua orang Khitan yang gila ataukah aku yang berubah gila? Raja Khitan, kakakmu itu selamanya belum pernah melihat aku, kenapa dia bersikeras hendak menawanku dan mengambilku sebagai permaisuri? Di dunia ini, mana ada peristiwa yang lebih gila daripada ini?"

"Paduka akan menyesal mengeluarkan caci maki seperti itu, Tuan Puteri. Kakak hamba Sri Baginda mengambil keputusan ini berdasarkan kebijaksanaan yang luar biasa. Mengingat bahwa Paduka masih keturunan langsung dari kaisar tua, dan banyak panglima tua yang mengharapkan Paduka duduk menjadi yang dipertuan di Khitan, kebijaksanaan yang paling tepat adalah mengangkat Paduka menjadi permaisuri. Sudahlah, harap Paduka sudi mengaso."

"Tidak. Aku tidak sudi, tidak mau.., Aku tidak sudi pergi ke Khitan"

Pada saat itu, sesosok bayangan hitam berkelebat cepat sekali dan tahu-tahu Lie Bok Liong sudah ada di belakang Lin Lin. Tangan kirinya berusaha merenggut putus sabuk sutera yang mengikat tangan gadis itu, sedangkan tangan kanannya menodongkan pedangnya ke dada Hek-giam-lo"

"Jangan takut, Lin-moi, aku membelamu,"

Bisik pemuda itu sambil mengerahkan tenaga tangan kirinya untuk melepaskan ikatan kedua tangan Lin Lin.

Gadis itu terkejut sekali. Andaikata Suling Emas yang menolongnya pada saat itu, tentu ia akan merasa bahagia dan girang sekali. Akan tetapi Lie Bok Liong? Ia cukup mengenal sahabat ini dan tahu sampai di mana tingkat kepandaiannya. Tidak jauh selisihnya dengan kepandaiannya sendiri. Mana bisa menang menghadapi Hek-giam-lo yang berdiri dengan tegak dan tak bergerak itu? Tidak saja akan sia-sia usaha pertolongan Bok Liong, malah sebaliknya selain ia sendiri tidak akan tertolong, pemuda ini malah akan menghadapi bahaya pula. Para anak buah perahu bermunculan, akan tetapi mereka hanya berdiri tertegun, tidak berani turun tangan sebelum menerima perintah Hek-giam-lo yang tampak tenang-tenang itu.

Agaknya iblis tengkorak ini sengaja membiarkan Bok Liong melepaskan belenggu Lin Lin, buktinya ia diam saja, hanya berdiri bertolak pinggang, seakan-akan ia gentar karena ditodong pedang oleh Lie Bok Liong. Akhirnya terlepas juga ikatan tangan Lin Lin dan pemuda itu segera menarik tubuh Lin Lin supaya berada di belakangnya, sedangkan ia sendiri memasang kuda-kuda, siap menghadapi lawan. Sikapnya gagah sekali dan pemuda yang tegap ini sudah siap sedia mengorbankan nyawanya untuk membela gadis yang telah merampas hatinya. Tiba-tiba Lin Lin teringat akan sesuatu dan wajahnya berseri, timbul harapan di hatinya. Tentu, pikirnya, tentu guru pemuda ini ikut datang, kalau tidak, masa Bok Liong akan seberani ini menghadapi Hek-giam-lo?

"Liong-koko, mana gurumu?"

Bisik Lin Lin penuh harap. Bok Liong tidak menjawab, matanya bergerak-gerak memandang Hek-giam-lo dan para anak buah Khitan yang bermunculan dan mengurungnya di atas perahu yang lebar itu. Perahu mulai bergoyang sedikit karena pergerakan mereka. Ia tidak dapat menjawab karena memang ia datang tidak bersama suhunya. Pemuda ini ketika melihat Lin Lin lenyap secara aneh bersama orang-orang Khitan, merasa khawatir sekali. Hatinya sudah terampas oleh senyum dan sinar mata Lin Lin. Lie Bok Liong pemuda perkasa murid Gan-lopek itu telah jatuh cinta kepada Lin Lin.

Karena itu, tanpa mempedulikan lagi peristiwa yang amat aneh dan menyeramkan yang terjadi di ruangan sembahyang Beng-kauw, ia menyelinap pergi dan secepat kilat ia lari menyusul rombongan orang Khitan. Ia terus membayangi mereka sampai mereka tiba di pinggir sungai dan melihat kekasih hatinya itu dihadapkan Hek-giam-lo dan dirampas pedangnya lalu diikat tangannya, Lie Bok Liong lupa segala, menjadi nekat dan cepat ia bertindak untuk menolong Lin Lin. Tentu saja ia cukup maklum betapa lihainya Hek-giam-lo, akan tetapi untuk membela Lin Lin yang dipuja di dalam hatinya, jangankan hanya menghadapi seorang Hek-giam-lo, biar di situ ada sepuluh orang Hek-giam-lo sekalipun, ia tidak akan mundur selangkah dan siap mengorbankan nyawanya untuk membela Lin Lin. Melihat cara Bok Liong menodongkan pedang dengan tubuh agak bergoyang-goyang, Hek-giam-lo mengeluarkan suara mendengus,

"Huh, orang muda, mana gurumu Gan-lopek si badut gila itu? Suruh dia yang keluar menghadapi aku"

Diam-diam Bok Liong terkejut. Dengan melihat cara ia memasang kuda-kuda saja iblis ini sudah mengenal ilmu silatnya, terang bahwa sekarang ia bertemu lawan yang seimbang gurunya. Akan tetapi ia tidak gentar dan tidak menjawab ucapan Hek-giam-lo, melainkan menjawab pertanyaan Lin Lin tadi.

"Lin-moi, jangan takut. Untuk menolongmu dari para iblis ini, tidak usah Suhu yang maju, cukup dengan aku saja."

Post a Comment