Halo!

Asmara Si Pedang Tumpul Chapter 17

Memuat...

agi karena mereka telah tewas dengan muka berubah hitam arang!

Melihat ini, sepasang iblis itu terkejut.

Mereka bertahun-tahun melatih diri dengan Touw-kut-ci mempergunakan banyak tengkorak, kini mereka melihat ilmu tusukan jari tangan dari jarak jauh yang teramat dahsyat, jauh lebih dahsyat dibandingkan Touw-kut-ci mereka.

Hal itu saja membuat mereka semakin tunduk, maklum bahwa mereka berhadapan dengan orang sakti yang pantas menjadi pimpinan mereka.

Melihat ini, Bu-tek Kiam-mo bangkit berdiri dari bangkunya dengan alis berkerut.

Dia bukan anak buah si kedok hitam, dan dia datang sebagai utusan Tung-hai- liong, datuk yang kekuasaannya seperti raja saja di lautan timur.

Melihat hukuman yang dijatuhkan kepada dua orang itu, dia merasa penasaran.

"Yang Mulia, apa yang harus saya laporkan kepada majikan saya melihat hukuman ini?

Apakah kalau kelak kami gagal dalam tugas, kamipun akan dihukum mati seperti ini?" Si kedok hitam mengangkat tangan kiri ke atas sebagai isyarat dan nampak bayangan empat orang berkelebat masuk.

Tanpa banyak bicara lagi, empat orang itu menggotong pergi jenazah kedua orang yang mendapat hukuman tadi.

Barulah si kedok hitam menghadapi Bu-tek Kiam-mo.

"Bu-tek Kiam-mo, engkau salah mengerti.

Dua orang ini adalah anak buah kami, dan di antara kami sudah ada peraturan yang tidak bolen dilanggar.

Kalian yang hadir ini lain lagi, bukan anak buah kami melainkan sahabat yang akan diajak bekerja sama.

Tentu saja peraturan yang dikenakan kepada anak buah kami tidak berlaku untuk kalian.

Yang dihukum bukan hanya kegagalan mereka, akan tetapi karena mereka berdua melarikan diri dan meninggalkan seorang rekan yang tewas.

Nah, mengertikah engkau sekarang?" Bu-tek Kiam-mo mengangguk dan duduk kembali.

Tentu saja dia tidak dapat mencampuri urusan dalam antara si kedok hitam dan anak buahnya, seperti juga majikannya yang tidak kalah kejamnya dibandingkan dengan apa yang dilakukan si kedok hitam terhadap anak buahnya tadi.

Setelah mereka duduk, dua orang anak buah si kedok hitam datang menyuguhkan arak dan makanan kecil, lalu mereka meninggalkan ruangan itu pula.

Coa Ok, orang pertama dari Hek I Ngo-liong tak dapat menahan keinginan tahunya dan bertanya "Yang Mulia, tugas apakah yang telah gagal dilakukan tiga orang anak buah paduka itu?" Semua orang mendengarkan penuh perhatian, ingin tahu jawaban orang aneh yang penuh rahasia itu.

(Lanjut ke Jilid 04) Asmara Si Pedang Tumpul (Seri ke 02 - Serial Si Pedang Tumpul) Karya : Asmaraman S.

Kho Ping Hoo "Kami mengirim tiga orang anak buah kami menyusup ke istana Raja Muda Yung Lo untuk membunuhnya.

Akan tetapi, mereka bukan hanya gagal, bahkan seorang yang kami percaya memiliki kemampuan, telah tewas dan dua orang tadi melarikan diri membawa luka-luka." Mendengar ini, Coa Ok yang berwatak sombong itu tersenyum menyeringai.

"Heh, kalau hendak membunuhnya, kenapa harus menyusup ke istana di mana terdapat banyak pengawal?

Serahkan saja kepada kami.

Kami akan menghadang dan raja muda itu keluar dari istana, kami akan sanggup membunuhnya!" Akan tetapi si kedok hitam mengangkat tangan dan menggeleng kepala.

"Tidak selain mereka kini tentu lebih waspada dan melakukan penjagaan juga kami telah mengubah siasat.

Setelah mendengar hasil penyelidikan jaringan mata-mata kami di kota raja selatan, dan setelah menerima pesan dari Pangeran Thian-cu (Anak Langit), siasat kami berubah sama sekali.

Kami tidak lagi menggunakan kekerasan melainkan mengatur siasat yang halus." "Siapakah Pangeran Thian-cu?" tanya Pek-bin Moli.

"Siasat apa yang akan dipergunakan dan apa pula tugas kami?" tanya Coa Ok mewakili semua saudaranya.

"Dan pesan apa yang harus saya sampaikan kepada majikan saya Naga Lautan Timur?" tanya Bu-tek Kiam-mo.

"Tenanglah dan dengarkan penjelasanku.

Juga engkau Bu-tek Kiam-mo, dengarkan baik-baik agar kelak dapat kaulaporkan kepada majikanmu.

Kalian tentu tahu siapa Kaisar Thai-cu yang telah memberontak terhadap Kerajaan Goan (Mongol).

Dia tadinya bernama Chu Goan Ciang dan siapa dia?

Seorang petani!

Bayangkan saja.

Seorang petani busuk menjadi kaisar dan akan memerintah kita!

Bagaimana mungkin kita dapat direndahkan sampai seperti itu?

Tidak!

Kita harus mengenyahkan kekuasaan para petani busuk itu" "Maaf, Yang Mulia," kata Ang-bin Moko.

"Akan tetapi, bagaimana kita akan dapat melakukan hal itu?

Kaisar Thai-cu telah membangun Kerajaan Beng, dan memiliki pasukan besar yang amat kuat.

Bagaimana kita mampu melawan sebuah kerajaan yang memiliki pasukan besar?" Semua orang mengangguk membenarkan pendapat Ang-bin Moko itu.

Merekapun akan pikir-pikir dulu kalau diharuskan melawan pasukan pemerintah yang ratusan ribu jumlahnya.

"Heh..heh, kita tidak begitu bodoh.

Kalau dengan jalan kekerasan tidak mungkin, masih banyak jalan yang lebih halus.

Dan baru saja kami mendapat keterangan dari para penyelidik.

Kalian dengarkan baik-baik siasat yang akan kami atur." Dengan suara yang halus dan jelas, si kedok hitam lalu menggambarkan rencana siasatnya.

Mula-mula dia menceritakan keadaan keluarga kaisar, betapa kaisar telah mengangkat pangeran Yung Lo menjadi raja muda di Peking karena pangeran ini memang ahli dalam mengatur pasukan untuk menahan gelombang serangan orang-orang Mongol yang hendak merebut kembali kekuasaannya di selatan.

"Nah, Raja Muda Yung Lo, walaupun bukan pangeran sulung, bukan pangeran mahkota karena dia lahir dari selir, tentu saja menganggap dirinya sebagai pangeran yang paling gagah, paling cakap untuk kelak menggantikan ayahnya.

Akan tetapi dia harus mengalah terhadap Pangeran Mahkota, putera pertama kaisar dari permaisuri, yaitu Pangeran Chu Hui San yang telah ditetapkan kelak menggantikan ayahnya karena diapun merupakan putera sulung.

Dan di antara kedua pangeran ini seperti terdapat persaingan, dan akan mudah dicetuskan api permusuhan antara Raja Muda Yung Lo dan kakaknya, Pangeran Mahkota Chu Hui San.

Inilah jalan yang kami maksudkan, cara halus yang kalau berhasil, jauh lebih menguntungkan dari pada sekedar penyerbuan dan pertempuran." "Akan tetapi bagaimana caranya, Yang Mulia?

Kami berdua masih belum jelas benar, walaupun sudah mengerti apa yang paduka maksudkan dengan cara yang halus tanpa kekerasan itu," kata Pek-bin Moli.

"Jalan satu-satunya adalah melakukan penyusupan ke dalam istana Pangeran Mahkota.

Kita harus mengobarkan persaingan itu menjadi permusuhan.

Sukar untuk mempengaruhi Raja Muda Yung Lo karena wataknya keras dan dia dapat berbahaya.

Akan tetapi, Pangeran Chu Hui San adalah seorang pangeran yang lemah dan kita akan dapat mempengaruhinya.

Nah, menyusup ke istana Pangeran Mahkota dan mempengaruhinya merupakan satu di antara tugas kita.

Ada pula tugas lain yang tidak kalah pentingnya." "Apakah tugas itu, Yang Mulia?" tanya Ang-bin Moko.

"Kami lebih menyukai tugas yang membutuhkan kekuatan.

Menyusup ke istana dan bermain sandiwara terlalu sukar bagi kami." "Heh..heh, kami juga tidak akan mengutus kalian melakukan penyusupan ke istana, Moko.

Kalian berdua dikenal oleh para tokoh persilatan, dan kalau para tokoh mengetahui kalian menyusup ke istana pangeran Mahkota, tentu kalian akan dicurigai.

Tidak, kalian lebih tepat untuk tugas kedua, yaitu berusaha merebut kedudukan bengcu (pimpinan) yang akan diadakan oleh para datuk persilatan beberapa bulan mendatang di puncak Thai-san.

Kalian harus dapat merebut kedudukan bengcu sehingga dengan mudah kita akan mendapat dukungan dari dunia persilatan kalau saatnya tiba bagi kita untuk bergerak." Sepasang iblis itu saling pandang dan mereka terbelalak.

"Wah, kami sendiripun sejak dulu berkeinginan menjadi bengcu dan kami berlatih keras untuk dapat mengikuti pemilihan bengcu.

Akan tetapi, Yang Mulia, kami tahu bahwa tidaklah mudah untuk menjadi orang yang paling tangguh.

Banyak orang sakti akan mengikuti pemilihan itu, dan mereka memiliki pendukung, sedangkan kami tidak." "Heh..heh, kami dapat mempersiapkan pendukung yang amat banyak.

Kami berdiri di belakang kalian, dan akan kami usahakan sedapatnya agar kalian yang menang.

Selain itu, juga kami akan mengirim pembantu untuk menyusup ke dalam perkumpulan pengemis.

Kalau kita dapat menguasai para kai-pang, mereka dapat menjadi pendukung yang besar jumlahnya dan kuat.

Nah, sekarang sudah ada tiga macam tugas kita.

Pertama, menyusup ke istana Putera Mahkota.

Kedua, mencoba untuk menguasai kai-pang (perkumpulan pengemis), dan ke tiga, berusaha meraih gelar bengcu agar dapat menguasai dunia kangouw.

Untuk yang ke empat, kami sendiri yang akan mengaturnya, yaitu menyambut kedatangan Yang Mulia Pangeran karena beliau sendiri yang akan memimpin kita agar perjuangan ini berhasil baik." "Yang Mulia Pangeran?" Ang-bin Moli berseru heran.

"Siapakah beliau?

Dan siapa pula paduka?

Mengapa paduka selalu menyembunyikan wajah di balik kedok?

Tidak enak rasanya bagi kami tidak mengenal siapa pemimpin kami.

Dan Yang Mulia Pangeran itu, diakah pemimpin kita yang utama?" Si kedok hitam mengangguk-angguk.

"Pertanyaan yang pantas dan memang kalian perlu mengetahui agar tidak ragu-ragu lagi.

Ketahuilah bahwa perjuangan kita ini dipimpin langsung oleh Pangeran Yaluta yang mulia, bijaksana dan memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Beliau yang menjadi pemimpin besar dan selama ini beliau mewakilkan kepada kami.

Karena aku tidak ingin dikenal agar aku dapat bergerak dengan leluasa, maka aku memakai kedok sutera hitam.

Kini, Yang Mulia Pangeran merasa sudah tiba saatnya beliau sendiri yang memimpin langsung, maka beliau akan datang.

Kelak, kalau beliau sudah datang, akan kami perkenalkan kepada kalian semua.

Sekarang, mari kita membagi tugas masing-masing." Si kedok hitam lalu mengatur siasat, membagikan tugas kepada mereka semua dengan teliti sekali.

Melihat cara kerja si kedok hitam, sepasang iblis itu kagum karena siasat itu rapi dan seperti siasat seorang panglima perang saja.

Kepada Bu-tek Kiam-mo, si topeng hitam itu memberi kiriman benda-benda berharga untuk dihadiahkan kepada Tung-hai-liong

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment