oli sudah dapat saling memberi isyarat.
Dua-orang ini memang kompak sekali, bukan saja mereka berdua berasal dari saudara seperguruan, akan tetapi mereka juga sama-sama merangkai ilmu-ilmu silat, dan lebih dari itu, hubungan mereka juga sebagai kekasih atau suami isteri.
Setelah saling pandang memberi isyarat, kedua orang itu lalu mengerahkan tenaga sakti sehingga kedua tangan mereka, dari ujung jari sampai sebatas siku, berubah warnanya menjadi kehijauan.
Itulah tandanya bahwa mereka telah mengerahkan tenaga dari ilmu Toat-beng Tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa).
"Yang Mulia, waspadalah, kami akan menggunakan Toat-beng Tok-ciang," teriak Ang-bin Mo-ko.
Bagaimanapun juga, diapun tahu bahwa orang berkedok ini memiliki banyak sekali anak buah yang tentu sudah siap di tempat itu.
Kalau dia dan Pek-bin Moli kesalahan tangan sampai membunuh orang ini, tentu keadaan akan menjadi runyam dan mereka berdua dalam bahaya.
Walaupun mereka tidak takut, akan tetapi menguntungkan bagi mereka, bahkan hanya merepotkan saja.
Itulah sebabnya maka Ang-bin Mo-ko sengaja meneriakkan peringatan ini, hal yang biasanya tak pernah dia lakukan.
Biasanya, kalau dia hendak membunuh atau menyerang orang, dia melakukannya dengan tiba-tiba dan tanpa memberi peringatan sama sekali.
Maklum bahwa ilmu pukulan kedua orang itu memang berbahaya sekali, si kedok hitam juga tidak bersikap lengah atau memandang rendah.
Dia berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, kokoh kuat seperti pagoda besi, kedua lutut ditekuk sehingga membentuk siku-siku, kedua lengannya disilangkan di depan dada, dengan jari tangan terbuka, akan tetapi kalau jari-jari tangan yang lain agak melengkung, kedua jari telunjuknya lurus menunjuk ke atas dan kedua jari tangan itu berubah warna, kini menjadi hitam seperti arang!
Melihat ini, kembali sepasang iblis itu saling pandang dan merekapun teringat akan adanya semacam ilmu yang amat berbahaya, yang disebut It-kok-ci (Jari Racun Tunggal) yang kabarnya merupakan ilmu yang amat hebat dan pernah dikuasai oleh seorang saja, yaitu keluarga Wan-yen yang menjadi orang kepercayaan kaisar-kaisar Mongol.
Akan tetapi, mereka tahu bahwa pemilik ilmu itu sudah tewas dalam pertempuran ketika Kerajaan Mongol jatuh.
Apakah orang ini telah mewarisi ilmu itu?" "Ang-bin Moko dan Pek-bin Moli, aku telah siap!" kata si kedok hitam.
Sepasang iblis itu lalu mengerahkan tenaga dan menggerakkan tangan mereka, memukul dari jarak jauh ke arah lawan.
Terdengar bunyi bercuitan seperti beberapa ekor tikus yang terjepit atau ketakutan, mencicit dan makin lama semakin tinggi melengking.
Dari kedua tangan mereka menyambar hawa pukulan yang amat kuat, menyambar ke arah jalan darah di tubuh lawan.
Itulah Toat-beng Tok-ciang yang dapat membunuh orang dari jarak jauh dengan mudah.
Seperti ada sinar yang tidak nampak meluncur ke arah tubuh si kedok hitam.
Akan tetapi, orang ini dengan tenang, tanpa mengubah kedudukan kedua kakinya, juga menggerakkan kedua tangannya, dan menuding dengan gerakan menotok ke udara di depannya.
Terdengar bunyi mendesir keluar dari jari-jari telunjuk yang hitam itu dan ada hawa menyambar keluar mengeluarkan uap pitam!
Tenaga yang keluar dari kedua telunjuk ini seperti perisai menangkis hawa pukulan Toat-beng Tok-ciang sehingga pukulan jarak jauh itu terpental kembali.
Tentu saja Ang-bin Moko dan Pek-bin Moli terkejut dan merasa penasaran bukan main.
Selama memiliki ilmu baru itu, belum pernah mereka gagal mempergunakannya.
Dari puluhan orang yang pernah mereka hadapi, baru seorang pemuda saja yang mampu mengelak dan menangkis Toat-beng Tok-ciang, yaitu Sin Wan murid Sam-sian.
Akan tetapi pemuda itupun hanya mengelak dan menangkis dengan pukulan yang mengeluarkan uap putih, bukannya langsung menyambut dengan totokan jarak jauh seperti yang dilakukan si kedok hitam ini.
Mereka mengerahkan tenaga dan melanjutkan serangan mereka, berbareng akan tetapi berpencar, mereka menyerang dari kanan kiri.
Si kedok-hitam tetap mempergunakan totokan jarak jauh satu tangan yang mengeluarkan uap hitam, dan sampai lima jurus lamanya, kedua iblis itu sama sekali tidak pernah mampu mengenai sasaran dengan pukulan jarak jauh mereka, apa lagi merobohkan!
Ang-bin Moko memberi isyarat kepada Pek-bin Moli dan kini keduanya berlompatan menerjang lawan dengan ilmu mereka yang kedua, yaitu Touw-kut-ci (Jari Penembus Tulang), ilmu totokan yang amat keji karena dilatihnyapun menggunakan banyak tengkorak manusia.
Celakalah lawan yang terkena totokan jari tangan mereka.
Jari tangan mereka dapat menembus tulang dan sekali mengenai kepala, jari-jari tangan itu akan menembus otak.
Kini, sepasang iblis itu menyerang dengan Touw-kut-ci, keduanya mendesak dan mencari kesempatan untuk mencengkeram ke arah muka lawan.
dan merenggut lepas kedok sutera hitam.
Akan tetapi, si kedok hitam memang bukan orang sembarangan.
Sebelum menantang sepasang iblis itu, tentu saja dia telah melakukan penyelidikan terlebih dahulu tentang kemampuan sepasang iblis itu.
Dia tahu pula akan kedahsyatan Touw-kut-ci, dan dia memang sudah siap siaga menghadapi ilmu dari sepasang iblis itu.
Karena itulah maka tadi dia sengaja menantang selama sepuluh jurus, karena kalau lebih lama dari itu, terpaksa dia harus menggunakan tangan maut untuk mencapai kemenangan.
Kalau hanya sepuluh jurus, dia yakin akan mampu mempertahankan diri.
Sepasang iblis itu menjadi terkejut bukan main ketika melihat betapa tubuh si kedok hitam itu berpusing seperti gasing dan dari putaran itu keluar angin menyambar-nyambar.
Tubuh itu tidak nampak hanya bayangan hitam berpusing amat cepatnya.
Karena ini, terpaksa serangan Touw-kut-ci tidak dapat diarahkan ke sasaran yang tepat, hanya ngawur saja asal mengenal tubuh lawan.
Namun, betapa sukarnya mengenai tubuh yang berpusing itu karena dari situ terasa ada angin pukulan yang amat kuat menyambar-nyambar, bahkan dapat menyeret mereka seperti pusaran angin puyuh.
Mereka berdua berusaha sekuatnya untuk memasukkan totokan dan mengenai tubuh lawan.
Satu kali saja mengenai lawan, tentu jari mereka akan meninggalkan bekas dan berarti mereka menang.
Akan tetapi, pada jurus ke lima ketika sepasang iblis itu menjadi lebih nekat untuk mencapai kemenangan pada jurus terakhir sehingga mereka menubruk ke depan menerobos putaran angin, tiba-tiba tubuh mereka terdorong dan terhuyung ke belakang oleh tangkisan lengan yang amat kuat mengenai lengan mereka dari samping.
Mula-mula Pek-bin Moli yang terdorong ke belakang, disusul Ang-bin Moko yang terhuyung.
Putaran bayangan hitam itu berhenti dan si kedok hitam sudah berdiri tegak di depan mereka.
Sepuluh jurus telah lewat dan mereka berdua harus mengakui bahwa selama itu, jangankan merobohkan si kedok hitam, menyentuh tubuhnyapun mereka tidak mampu.
Diam-diam mereka terkejut dan menduga-duga siapa sebenarnya si kedok hitam yang amat lihai ini.
"Bagus, bagus, kalian memang lihai sekali dan pantas menjadi pembantu utama kami," kata si kedok hitam.
"Dalam sepuluh jurus, biarpun kalian tidak mampu mengalahkan kami akan tetapi kamipun sama sekali tidak sempat untuk balas menyerang.
Untuk menyatakan kegembiraan hati kami, kami menghadiahkan benda ini kepada kalian, kalau kalian menerimanya, berarti kalian sanggup untuk membantu kami dengan setia." Si kedok hitam mengeluarkan dua butir mutiara hitam yang besar dan indah dari saku bajunya dan memberikan dua butir benda berharga itu kepada Ang-bin Moko dan Pek-bin Moli dengan dilemparkannya kepada mereka.
Sepasang iblis itu menangkap mutiara itu dan wajah mereka berseri.
Mereka mengenal benda berharga dan kagum akan keroyalan si kedok hitam.
"Kami telah mengaku kalah, mulai hari ini kami berdua siap melaksanakan semua perintah Yang Mulia," kata Ang-bin Moko sambil menyimpan mutiara hitam itu.
"Hamba senang sekali dapat menghambakan diri kepada Yang Mulia, dengan harapan kelak kalau usaha Yang Mulia berhasil, tidak akan melupakan hamba," kata pula Pek-bin Moli dengan senang.
"Tentu saja, kami tidaK pernah melupakan jasa seorang pembantu, juga tidak pernah membiarkan begitu saja mereka yang telah merugikan kami.
Nah, silakan kalian duduk karena kita akan membicarakan urusan pekerjaan yang amat penting.
Akan tetapi sebelum itu, ingin kami bicara dengan orang yang telah mengecewakan hati kami dan amat merugikan gerakan perjuangan kami." Ang-bin Moko dan Pek-bin Moli mengambil tempat duduk, dan mendengar ucapan itu, dua orang yang datang lebih dahulu dan yang menderita luka di paha dan punggung, segera bangkit dari bangku dan menghampiri orang berkedok hitam, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kakinya dalam jarak empat meter lebih.
"Hemm, kalian dua orang tolol, kalian bukan saja gagal melaksanakan tugas penting, akan tetapi juga bersikap pengecut, meninggalkan kawan sehingga tewas dan kalian melarikan diri.
Begitukah sikap orang-orang yang telah menjadi pembantu dan anak buah kami?" "Ampun, Yang Mulia.
Kami..." tidak kuat menghadapi pengeroyokan banyak pengawal"...." kata seorang di antara mereka yang luka pahanya.
"Kami sudah berusaha sekuat tenaga dan gagal, mohon paduka mengampuni kami," kata orang kedua yang terluka punggungnya.
Sepasang mata di balik kedok itu berkilat.
"Enak saja kalian minta ampun.
Kalian telah bertindak ceroboh sehingga menggagalkan tugas, bahkan membahayakan kedudukan kita semua dengan pelarian kalian ini.
Kalian tidak patut berada di sini dan tidak pantas menjadi angguta perjuangan kita.
Kalau kalian berhasil dalam tugas, selalu kami memberi hadiah besar, sekarang kalian gagal, bahkan melarikan diri, tahukah kalian apa hukumannya?" Dengan tubuh gemetar dua orang itu membentur-benturkan dahi di lantai sambil minta ampun.
Akan tetapi, si kedok hitam itu menggerakkan kedua tangannya, telunjuknya berubah hitam arang dan ditudingkan ke arah kedua orang itu.
Seperti ada sinar hitam mencuat dari kedua jari telunjuk itu, menyambar ke depan, ke arah kepala dua orang itu.
Mereka terjengkang, tanpa mengeluarkan suara l