Halo!

Asmara Si Pedang Tumpul Chapter 09

Memuat...

Lili bangkit, dari tempat duduknya dan diapun menari dengan gerakan yang berlenggang lenggok seperti ular pula.

Lima orang penari itu tersenyum dan mereka menari-nari mengelilingi Lili, merupakan paduan yang serasi.

Pangeran Ramamurti semakin terpesona dan tiada hentinya mulutnya mengeluarkan suara pujian.

Lili memang suka sekali menari.

Setiap kali melihat tarian, apalagi mendengar suara yang-kim dan suling memainkan lagu yang amat dikenalnya itu, lagu ular, ia tidak dapat menahan dirinya untuk tidak ikut menari!

Para pemain musik dan penari itu sudah tahu akan kesukaan Lili, maka mereka tersenyum dan tiba-tiba peniup suling itu memainkan lagu lain.

Sulingnya melengking-lengking dan mengandung getaran aneh.

Lili juga mengubah gerakan tarinya dan lima orang penari itu kini duduk mengellingi dan bersimpuh, bertepuk tangan mengiringi musik dan tarian.

"Ular......

ular......!!" seru Ramamurti dan Balkan sambil mengangkat kaki tinggi-tinggi ke atas kursi ketika mereka melihat puluhan ular memasuki ruangan itu dari segala penjuru.

"Harap kalian tenang, tidak apa-apa," Cu Sui In sambil tersenyum.

Dua orang tamu itu lupa makan.

Kini mereka terbelalak dengan heran, kagum bercampur khawatir melihat betapa lima orang penari itu sudah bangkit lagi menari di sekeliling Lili dan seperti juga Lili yang memainkan dua ekor ular putih yang nampak ganas, lima orang penari itu menari dengan ular-ular bergantungan di tubuh.

Ini baru benar-benar tari ular, pikir pangeran itu dengan kagum.

Di negerinya juga ada tari ular, ada pula pawang ular.

Akan tetapi biasanya, dalam tarian, ular itu, si penari menggunakan ular-ular yang sudah dijinakkan dan tidak dapat menyerang atau menggigit lagi.

Akan tetapi enam orang penari ini mempermainkan ular-ular liar yang agaknya tadi tertarik dan berdatangan setelah mendengar tiupan suling istimewa itu.

Setelah suara suling mengusir pergi ular-ular itu dan tarian dihentikan, Pangeran Ramamurti dan Balkan bertepuk tangan memuji.

Kemudian, setelah dua orang tamu itu selesai makan, mereka diajak menghadap lagi ke ruangan dalam di mana See-thian Coa-ong masih duduk.

"Nah, sekarang harap ji-wi (kalian berdua) beritahukan maksud kunjungan ji-wi kepada kami," kata Cu Sui In kepada dua orang tamunya, Para pelayan sudah disuruh keluar dari ruangan itu dan disitu hanya ada dua orang tamu itu dan di pihak tuan rumah tiga orang.

Sikap See-thian Coa-Ong masih acuh saja.

Kalau Sui In merasa setuju dan bangga sekali menyambut usul perjodohan antara Lili dan Pangeran Bhutan, ayahnya tidak demikian.

See-thian Coa-ong tidak menolak, akan tetapi jaga tidak gembira dan acun saja, menyerahkan urusan itu kepada puterinya dan kepada Lili sendiri.

"Locianpwe dan Cu-lihiap, kunjungan kami ini bermaksud untuk menyambung persesuaian pendapat di antara kami dan Cu-lihiap ketika lihiap berkunjung ke negeri kami dua bulan yang lalu, yaitu kami datang untuk meminang nona Tang Bwe Li agar menjadi jodoh Pangeran Ramamurti....." "Gila......!

Lancang.....!!" Tiba-tiba Lili meloncat bangun dari kursinya, mukanya merah, matanya mencorong memandang ke arah dua orang tamu itu membuat mereka terkejut.

Lili, hentikan itu!" Cu Sui In membentak, juga marah.

"Sikapnya tidak patut dan memalukan!" "Tapi.......

tapi, suci.....

mereka ini kurang ajar kepadaku!" bantah Lili.

"Engkau yang kurang ajar!

Sudah jamaknya gadis dewasa seperti engkau dilamar orang, dan tidak seperti itu sikap seorang gadis yang menerima lamaran.

Kau diamlah, ini urusan orang-orang tua!" "Tidak suci.

Aku tidak mau!

Aku tidak sudi berjodoh dengan dia!" "Lili, ini sudah keterlaluan!" Cu Sui In juga bangkit dan mukanya berubah merah karena marah dan malu.

"Suci katakan aku keterlaluan?

Suci sendiri sampai sekarang tidak mau menikah dan malah hendak memaksaku menikah, itu baru namanya keterlaluan!

Kenapa tidak suci saja yang berjodoh dengan pangeran ini?" Setelah berkata demikian, Lili mengepal tinju hendak menyerang kedua orang tamu itu, membuat Pangeran Ramamurti menjadi pucat ketakutan.

"Lili, mundur kau!" bentak See-thian Coa-ong dan mendengar bentakan gurunya ini, Lili mengendur, matanya menjadi merah dan basah.

Ia membanting kakinya dan lari keluar dari ruangan itu, ke kamarnya.

Setelah gadis itu pergi, sejenak dalam ruangan itu sunyi.

Sunyi yang menegangkan hati.

Kemudian terdengar Pangeran Ramamurti berkata dalam bahasanya sendiri kepada Balkan.

"Paman, mari kita, pulang saja.

Kalau lamaran kita ditolak, untuk apa kita lama di sini?" Mendengar ini, Sui In cepat berkata.

"Harap ji-wi memaafkan sumoiku.

Ia memang keras hati dan tentu saja ia merasa malu.

Kami harap ji-wi suka bersabar.

Aku yang akan membujuknya.

Sekarang ini kami belum dapat mengambil keputusan mengenai pinangan ji-wi.

Baiklah, nanti bulan depan saja kami akan mengirim berita keputusan kami.

Sekali lagi, harap maafkan." Ucapan itu merupakan permintaan maaf dan juga pengusiran secara halus.

Memang Sui In yang merasa tidak enak sekali oleh sikap Lili tadi, merasa bahwa lebih baik kalau dua orang tamunya itu, pergi saja dulu.

Balkan dan pangeran itu lalu berpamit.

Lebih dulu mereka berpamit kepada See-thian Coa-ong dan kakek ini yang sejak tadi diam saja dan acuh, tiba-tiba bertanya kepada Pangeran Ramamurti, "Engkau ini seorang pangeran, kenapa tidak mencari jodoh seorang puteri bangsawan?

Orang seperti engkau ini bagaimana mungkin kelak dapat mengendalikan seorang isteri seperti Lili?" Dia tertawa bergelak dan seperti biasa, senyum dan tawa kakek ini selalu mengandung ejekan dan memandang rendah orang lain.

Pangeran Ramamurti tidak menjawab.

Dia dan pamannya lalu berpamit kepada Sui In dan meninggalkan puncak Bukit Ular, diikuti pasukan kecil pengawal mereka.

"Berhenti......" Lili yang berdiri di tengah jalan itu mengangkat tangan kanan ke atas, memberi isyarat kepada pasukan berkuda itu untuk berhenti.

Pangeran Ramamurti dan Balkan menahan kendali kuda mereka, demikian pula duabelas orang pengawal mereka.

Melihat bahwa yang menghentikan mereka adalah Lili yang nampak demikian gagah dan cantik, berdiri tegak di tengah jalan, kedua kaki terpentang, tangan kiri di pinggang dan tangan kanan diangkat ke atas, wajah Pangeran Ramamurti yang tadinya murung itu menjadi gembira sekali.

Dia meloncat turun dari atas kudanya, wajahnya yang tampan tersenyum.

"Aih, kiranya nona Lili!

Nona, apakah engkau menghadang di sini untuk mengucapkan selamat jalan kepadaku?" Dalam suaranya terkandung penuh harapan.

"Pangeran Ramamurti, engkau telah menghinaku dan sekarang masih mengharapkan aku untuk mengucapkan selamat jalan kepadamu?

Aku menghadang untuk memberi hajaran kepada kalian yang telah menghinaku!" Melihat sikap gadis itu dan mendengar ucapannya, wajah pangeran itu menjadi pucat dan dia melangkah mundur.

Pamannya, Balkan, sudah melompat turun pula dari atas kudanya dan dia menghadapi gadis itu dengan sikap tenang.

"Maaf, nona Tang Bwe Li, kami sungguh tidak mengerti kenapa nona marah kepada kami?

Kami datang dengan baik-baik dan dengan sikap hormat untuk meminang diri nona.

Bagaimana nona dapat mengatakan bahwa kami telah menghinamu?" "Tidak menghinaku, ya?

Bagus!

Kalian datang melamarku begitu saja, tanpa lebih dulu memberi tahu aku, tidak menyelidiki dulu apakah aku suka atau tidak.

Memangnya aku ini sebuah boneka yang tidak mempunyai pikiran sendiri?

Atau aku ini seekor kuda saja yang boleh kalian tawar dan hendak membeliku dengan kedudukan dan hartamu?

Kalian telah membikin aku malu!" Balkan adalah seorang dari golongan rakyat biasa, akan tetapi karena kakaknya perempuan menjadi isteri raja Bhutan, maka dia merasa dirinya besar dan telah menjadi seorang bangsawan tinggi paman dari Pangeran Ramamurti.

Kini, melihat sikap Lili yang sama sekali tidak memandang sebelah mata kepada keponakannya dan kepadanya, timbullah kemarahannya.

Gadis ini terlalu menghina, pikirnya.

"Nona Tang Bwe Li, ingatlah bahwa yang meminangmu adalah seorang pangeran kerajaan Bhutan!

Biasanya, di Bhutan, kalau pangeran menghendaki seorang wanita, cukup dengan melambaikan tangan saja dan setiap orang wanita akan datang menyerahkan diri dengan bangga, karena mengingat bahwa nona adalah bangsa lain, maka kami mempergunakan cara yang sopan dan lajim, melakukan pinangan dengan resmi.

Bahkan sebelum kami datang meminang, kami telah membicarakannya dengan lihiap Cu Sui In dan ia telah menyetujuinya.

Sepatutnya nona merasa terhormat dan bangga, bukan merasa terhina.

Ini sungguh tidak adil sekali!" Mendapat jawaban seperti ini, kemarahan Lili bagaikan api disiram minyak, makin berkobar.

"Bagus!

Kalian sudah menghinaku, masih menyalahkan aku.

Kalian harus dihajar agar tidak berani muncul lagi ke sini, tidak lagi menyinggung urusan perjodohan!" Balkan juga marah.

Gadis ini terlalu menghina, sepantasnya kalau ditawan dan dibawa ke Bhutan, dipaksa menikah dengan Pangeran Ramamurti!

Dia memberi isyarat kepada pasukan pengawal.

"Tangkap nona yang lancang mulut ini!" Duabelas orang pengawal itu sudah berloncatan turun dari atas kuda dan seperti segerombolan anjing pemburu mengeroyok seekor kelinci, mereka sudah menerjang ke arah Lili dengan tangan terjulur panjang.

Melihat kecantikan gadis itu, mereka bergairah dan seolah berlumba untuk memperebutkan gadis itu, agar mereka dapat lebih dulu menerkam, memeluk dan menangkapnya.

Mereka berlumba untuk dapat meraba tubuh yang padat itu, atau setidaknya bersentuhan lengan.

Akan tetapi, mereka itu bukan seperti segerombolan anjing pemburu memperebutkan seekor kelinci, melainkan segerombolan anjing pemburu bertemu dengan seekor harimau betina yang galak dan kuat!

Lili menyambut mereka dengan terjangan kaki tangannya.

Gerakannya demikian tangkas, cepat dan Kuat sekali sehingga duabelas orang pengawal yang merupakan pengawal pilihan itu terpelanting ke kanan kiri!

Mereka terbanting dan mengaduh-aduh, mengalami patah tulang, babak belur dan benjol-benjol.

Dan bagaikan seekor burung walet, tubuh Lili sudah menyambar ke arah Balka

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment