Asmara Si Pedang Tumpul (Seri ke 02 - Serial Si Pedang Tumpul) Karya : Asmaraman S.
Kho Ping Hoo Garis puncak-puncak gunung di barat itu nampak jelas, seolah ada Tangan Ajaib yang membuat goresan tebal.
Bahkan rimbun daun pohon-pohonan di sekitar puncak nampak, juga lembah dan ngarai, tonjolan bukit dan lekuk jurang.
Makin ke bawah, hutan-hutan itu nampak semakin nyata dan semakin hijau, berbeda dengan yang di dekat puncak, yang berwarna kebiruan dan terkadang disembunyikan di balik tirai awan tipis.
Matahari senja yang mendatangkan kecerahan pada puncak-puncak gunung itu, seolah sang matahari sebelum menghilang di balik sana untuk menunaikan tugas di belahan bumi yang sana, ingin meninggalkan kesan yang indah.
Permainan sinar matahari yahg dipantulkan awan basah di udara melukiskan lengkung pelangi di sebelah utara.
Lengkung setengah lingkaran, mengingatkan kita pada dongeng kuno bahwa lengkung pelangi itu merupakan tangga para bidadari yang hendak turun ke bumi!
Kadang-kadang nampak serombongan burung melintasi langit, bergerak-gerak membentuk garis yang aneh, ada kalanya nampak seperti bentuk seekor naga yang sedang melayang-layang.
Dari barat nampak mahluk terbang yang bukan burung, namun yang terbangnya demikian laju, menuju ke timur, menyongsong kegelapan di timur.
Kalau segala macam burung beterbangan pulang ke sarang mereka setelah sehari penuh bekerja mencari makan, binatang kelelawar itu sebaliknya meninggalkan sarang untuk mulai bekerja!
Mereka bekerja di malam hari dan tidur di siang hari.
Pria muda yang berdiri di lereng itu menghadap ke barat, seperti terpesona, seolah merasa dirinya tenggelam ke dalam suasana yang hening dan indah itu, suasana yang agung dan dalam.
Seluruhnya merupakan kesatuan yang tak terpisahkan bahkan dirinya menjadi sebagian dari pada kebesaran alam itu.
Tidak ada satupun yang kurang, tidak ada pula yang lebih.
Sudah pas, sebuah keadaan sempurna tanpa kemarin tanpa esok.
Semua menuju ke mulut kegelapan yang sudah siap untuk menelan segala yang nampak, kegelapan sang malam.
Pemuda ltu menghela napas panjang dan terdengar suaranya seperti rintihan lirih, bersama helaan napasnya.
"Tuhan Maha Besar........!" dan dipejamkan kedua matanya sejenak dengan hati penuh haru dan rasa syukur kepada Sang Maha Kuasa atas segala kurniah yang telah dirasakannya sampai saat itu.
Kemudian dia teringat bahwa dia harus melanjutkan perjalanan, menuju ke puncak di depan itu, yaitu di Pek-in-kok (Lembah Awan Putih) di pegunungan Ho-lan-san ini.
Sebelum melanjutkan langkahnya, dia menoleh ke timur dan nampaklah sungai Kuning (Huang-ho) yang panjang seperti seekor ular naga.
Nampak pula genteng rumah-rumah pedesaan sepanjang lereng dan kaki bukit, juga samar-samar nampak pula kota Yin-coan di tepi sungai itu.
Kembali, dia menghela napas panjang.
Baru dua tahun lebih dia meninggalkan tempat ini, dan waktu yang hampir seribu hari lamanya itu kini terasa seperti baru kemarin dulu saja.
Betapa cepatnya sang waktu terbang lalu kalau tidak diperhatikan.
Teringat dia akan nasihat mendiang ibunya tentang waktu.
"Waktu lewat dengan cepatnya, hidup adalah waktu yang cepat berlalu, oleh karena itu, isilah waktu yang singkat itu dengan perbuatan yang bermanfaat bagi manusia dan dunia, anakku." Kembali dia menghela napas, lalu melanjutkan mendaki lereng menuju Lembah Awan Putih di depan.
Kalau ada orang melihatnya pada waktu itu, dia tentu akan terkejut dan heran melihat ada orang dapat mendaki lereng sedemikian cepatnya.
Nampaknya dia melangkah biasa saja, namun tubuhnya meluncur cepat ke depan seperti terbang!
Sekali melangkah, tubuhnya meluncur sampai dua tiga meter.
Karena pemuda itu mahir ilmu berlari cepat seperti terbang, sebelum malam tiba dia sudah sampai di tempat yang dituju.
Lembah Awan Putih!
Tempat yang amat dikenalnya, pernah menjadi kampung halamannya selama bertahun-tahun.
Dan kini dia berdiri di depan sebuah pondok yang reyot karena tidak terpelihara.
Pondok itu dikepung tumbuhah-tumbuhan yang lebat, bahkan tumbuh-tumbuhan merayap sampai memenuhi gentengnya.
"Suhu (guru)......," pemuda itu mengeluh, hatinya kecewa karena keadaan pondok itu jelas menunjukkan bahwa gurunya tidak kembali ke pondok itu, bahwa dia tidak akan bertemu gurunya di tempat itu seperti yang diharapkannya semula.
Kini semakin yakin hatinya bahwa kekecewaan menjadi ekor dari keinginan dan harapan.
Hanya dia yang tidak mempunyai keinginan dan harapan apapun, akan bebas dari pada kekecewaan.
Akan tetapi, mungkinkah manusia hidup tanpa keinginan dan harapan?
Dia meninggalkan pondok tanpa mencoba untuk membuka daun pintu yang reyot itu.
Dengan langkah cepat diapun menuju ke utara di mana dahulu jenazah dua orang gurunya yang lain dimakamkan.
Dia ingin melihat kuburan itu sebelum gelap, dan untuk menghormati makam kedua orang gurunya, diperjalanan mendaki bukit tadi dia telah mengumpulkan banyak bunga, terutama mawar.
Dia tidak dapat meniru kebiasaan orang Han yang menghormati makam leluhur dengan upacara sembahyang dan penyuguhan korban berupa masakan-masakan dan makanan.
Ibunya mengajarkan kepadanya bahwa yang wajib dipuja dan disembah hanya Tuhan Yang Maha Esa.
Berkunjung ke makam hanya untuk membuktikan bahwa dia selalu masih teringat akan kebaikan guru-gurunya, masih menghormati mereka yang sudah tiada, dan perasaan sayang itu dinyatakan dengan penaburan bunga dan membersihkan makam, dan doa-doa yang disampaikan adalah doa permohonan kepada Tuhan agar roh dua orang gurunya mendapat pengampunan dari Tuhan Yang Maha Pengampun.
Diapun maklum bahwa sembahyangan di depan makam dengan mengorbankan masakan-masakan itupun mungkin memiliki tujuan yang sama, untuk menyatakan rasa kasih sayang mereka kepada yang mati.
Akan tetapi hal itu dianggapnya berlebihan, karena pada akhirnya mereka yang menyuguhkan makanan itu yang akan menghabiskan makan itu sendiri.
Sungguh merupakan bentuk prihatin yang amat aneh baginya, bertentangan dengan perasaannya, oleh karena itu, dia tidak sanggup menirunya.
Kini dia berdiri di depan dua buah makam itu dan dia terbelalak, wajahnya berubah pucat.
Jelas nampak betapa dua buah makam itu telah dibongkar orang!
Agaknya perbuatan itu belum lama dilakukan orang.
Tanah yang digali itu masih baru.
Dan kedua buah peti mati itupun sudah terbuka!
Dia menghampiri dan menjenguk isi peti.
Tulang-tulang berserakan, akan tetapi yang amat mengejutkan hatinya, kedua peti mati itu hanya berisi tu lang-tulang saja, tidak ada tengkoraknya!
Tengkorak kedua orang gurunya telah lenyap!
"Ya Allah, siapa yang melakukan perbuatan terkutuk ini?
Kejam benar........," Dia berlutut dan menutupkan kembali kedua buah peti itu, akan tetapi tidak menimbunkan tanah kembali karena dia akan mencari dulu dua tengkorak suhunya untuk dikembalikan ke tempat semula, di dalam peti mereka.
Akan tetapi ke mana dia harus mencari?
Malam mulai datang menyelimuti bumi.
Dia teringat bahwa nanti bulan akan muncul dan melihat iangit demikian terang, malam nanti amat cerah.
Dia akan melakukan penyelidikan kalau bulan telah bersinar nanti.
Dengan langkah gontai pemuda itu kembali ke pondok.
Di dalam keremangan cuaca senja, tubuhnya nampak tinggi tegap dan gagah.
Langkahnya gontai, lentur seperti langkah seekor harimau.
Tubuhnya yang tegak dengan bahu yang bidang.
Di punggungnya terikat sebuah buntalan pakaian yang bentuknya agak panjang, memudahkan orang menduga bahwa dalam buntalan itu terdapat pula sebatang pedang dengan sarungnya.
Pakaiannya sederhana sekali, dari kain tebal yang awet berwama biru, sepatu hitam, dan kepalanya tertutup sebuah caping lebar seperti yang biasa dipakai para petani di daerah Sin-kiang.
Kini dia tiba di depan pondok.
Dibukanya pintu itu.
agak sukar karena macet.
Dia mengerahkan sedikit tenaga dan daun pintu itu terbuka.
Cuaca belum gelap benar sehingga di masih dapat melihat keadaan dalam pondok.
Wajahnya cerah.
Ternyata, keadaan dalam pondok itu cukup bersih dan perabot rumah yang dahulu masih lengkap.
Ada bangku, ada meja, bahkan dipan kayu di situ, lima buah banyaknya, masih ada.
Seolah baru ditinggal kemarin saja, dia menghampiri sudut di mana terdapat sebuah meja besar dan ternyata di situ masih terdapat banyak lilin.
Juga alat pembuat api masih ada.
Segera dinyalakannya tiga batang lilin dan ditaruh di atas meja di tengah ruangan.
Kini, cahaya tiga batang lilin besar itu cukup terang, menyinari Wajahnya ketika dia duduk termenung di atas bangku, menghadap lilin di atas meja setelah membersihkan debu dari bangku dan meja dengan sebuah sapu bulu ayam.
Dia seorang laki-laki yang masih muda.
Duapuluh dua atau dua puluh tiga tahun usianya.
Kulit muka, leher dan tangannya gelap, akan tetapi tidak hitam sekali, seperti kulit petani yang setiap hari ditimpa sinar matahari.
Wajahnya tampan dan .gagah.
Dahinya lebar, alisnya hitam tebal berbentuk golok, matanya tidak sipit, lebar bersinar aneh.
Hidungnya tinggi, agak besar, bersama mulutnya yang berbibir tebal membayangkan keteguhan hati.
Dagunya juga berlekuk dan keras.
Muka itu bersih, tidak ditumbuhi jenggot dan kumis karena selalu dicukurnya.
Wajah seorang pemu da yang jantan.
Namanya Sin Wan.
Sin Wan begitu saja, tanpa nama keturunan karena mendiang ayahnya adalah seorang Uighur Kasak bemama Abdullah, dan ibu kandungnya seorang wanita cantik berbangsa Uighur pula, beragama lslam, bernama Jubaedah.
Ayah kandungnya terbunuh oleh seorang datuk sesat bernama Se Jit Kong yang berjuluk Si Tangan Api, seorang Kasak yang sakti dan jahat.
Ketika ayah kandungnya terbunuh, dia masih dalam kandungan ibunya dan untuk menyelamatkan kandungannya itulah ibunya yang cantik jelita, rela diperisteri Si Tangan Api.
Setelah menjadi isteri datuk itu.
Jubaedah disebut Ju Bi Ta.
Agaknya Se Jit Kong yang berdarah campuran itu ingin mengangkat namanya dl dunia kang-ouw, maka dia menggunakan nama bangsa Han.
Se Jit Kong yang ingin menonjolkan kesaktiannya, telah melakukan perbuatan yang berlebihan.
Tidak sa