"Pantas tadi pukulannya mengandung tenaga panas seperti api. Pernah aku mendengar dari ayah tentang dua ilmu sin-kang amat hebat dari Pulau Es yang disebut Hui-yang Sin-kang yang panas sekali dan Swat-im Sin-kang yang dingin sekali. Sayang aku tidak sempat berkenalan lebih baik dengan dia. Akan tetapi, kenapa dia bersikap begitu aneh dan menyerangku seperti orang gila saja?"
"Karena cemburu."
"Cemburu?"
"Dia mencintaku akan tetapi aku menolaknya. Agaknya dia cemburu melihat cara engkau mengobati pinggangku tadi."
"Ahhhh....!"
Muka pemuda itu menjadi merah. Hening sejenak, dalam suasana yang sunyi menegangkan.
"Kun Tek, aku kembali untuk bertanya kepadamu apakah engkau mengenal orang yang sedang kucari."
"Siapakah dia?"
Tanya Kun Tek, merasa lega bahwa percakapan beralih sehingga suasana menegangkan tadipun terputus.
"Julukannya Suling Naga, Pendekar Suling Naga"
"Suling Naga....?"
Sepasang mata Kun Tek terbelalak.
"Tentu saja aku mengenalnya! Bukankah namanya Sim Houw?"
"Mungkin, aku tidak tahu, hanya julukannya Pendekar Suling Naga. Tahukah engkau di mana dia dan di mana aku dapat bertemu dengannya?"
"Bi Lan, ada urusan apakah engkau mencari Pendekar Suling Naga Sim Houw?"
Kembali Bi Lan mengerutkan alisnya.
"Urusan pribadi. Kalau engkau tahu, katakan saja di mana aku dapat bertemu dengan dia."
"Dia seorang pendekar perantau, Bi Lan, tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Akan tetapi menurut ayah, pendekar itu suka berkelana dan bertapa di sekitar puncak Tai-hang-san."