Tanya Bi Lan dengan suara halus dan manis. Kun Tek yang sedang berjongkok dan sibuk itu menoleh dan mengangkat mukanya. Dengan girang dan diam-diam mentertawakan pemuda itu, Bi Lan melihat betapa sepasang mata pemuda itu kini kehilangan sinar yang dingin dan acuh itu. Sinar mata itu kini penuh semangat memandang kepadanya, penuh kekaguman. Dan memang Kun Tek terpesona. Karena Bi Lan datang dari arah timur, maka sinar matahari pagi nampak di belakang gadis itu, seperti cahaya keemasan mengantar dara manis itu, membuat ia nampak gilang-gemilang seperti seorang dewi pagi turun dari kahyangan menyeberang ke bumi melalui cahaya matahari!
"Kau.... kenapa, Kun Tek?"
Bi Lan menegur, menahan tawanya dan hanya tersenyum manis melihat betapa pemuda itu berjongkok seperti patung memandang kepadanya, tangan kanan memegang pisau berlumur darah, tangan kiri memegang sepotong tulang.
"Mau diapakan tulang itu?"
"Apa....? Tu.... tulang....?"
Kun Tek tergagap dan baru dia melihat bahwa dia masih memegang tulang dan baru ia sadar bahwa dia melongo seperti orang bodoh, terlongong seperti orang bengong.
"Eh, ini.... aku sudah selesai menguliti kijang dan sedang menyayati dagingnya.Kau.... kau nampak...."
"
Ya....?"
Senyum itu semakin manis.
"Nampak bagaimana....?"
"Anu.... nampak....segar sekali!"
Bi Lan tertawa renyah dan menghampiri pemuda itu. Pesona itu membuyar dan Kun Tek menyerahkan potongan-potongan daging kepada Bi Lan.
"Cukupkah sebegini? Kalau cukup, lainnya akan kubuat dendeng."
"Cukup, kita berdua menghabiskan daging sebeginipun sudah akan kenyang sekali,"
Jawab Bi Lan.
Kun Tek sudah menyalakan lagi api unggun dan sudah menyiapkan semua keperluan masak seperti panci, bumbu-bumbunya dan dia lalu membawa kulit, tulang-tulang dan sebagian daging yang akan dibuatnya dendeng, lalu pergi agak menjauh. Tak lama kemudian, setelah keduanya bekerja tanpa bicara, merekapun menghadapi masakan daging kijang yang dibuat oleh Bi Lan. Sejak kecil, Bi Lan yang melayani gurunya memang sudah biasa memasak, bahkan biasa masak bahan-bahan yang sederhana menjadi masakan yang cukup enak. Dengan bumbu seadanya, ia telah membuat dua macam masakan saja, yaitu daging panggang dan masakan yang ada kuahnya. Dan karena mereka berdua merasa lapar sekali, ditambah suasana yang amat menyenangkan hati, keduanya makan dengan lahap. Apalagi Kun Tek. Dia makan dengan lahap dan kelihatan nikmat sekali.
"Lunak sekali masakanmu, Bi Lan. Daging kuah ini gurih dan sedap, dan panggang dagingnya juga enak. Kau memang pandai memasak!"
Puji Kun Tek sambil meggerogoti daging panggang. Bi Lan tersenyum.
"Terima kasih atas pujianmu, Kun Tek. Bagaimana dengan wanita khayalmu itu, Kun Tek?"
"Wanita khayal....? Apa.... apa makudmu, Bi Lan?"
Kun Tek benar terkejut mendengar pertanyaan yang tak diduga-duganya itu.
"Wanita khayalmu yang tanpa cacat itu, Apakah diapun pandai masak?"
Bi Lan menatap tajam wajah Kun Tek yang kulitnya menjadi semakin gelap ketika dia teringat akan makna pertanyaan itu.
"Tentu saja.... tentu saja seorang wanita harus pandai masak, kalau tidak, ia tidak lengkap menjadi seorang wanita, bukankah begitu?"
Kun Tek dibesarkan di daerah barat di mana kaum wanita bertugas di dapur, tidak seperti suku bangsa di selatan yang kedudukannya terbalik, yaitu kaum prianya yang biasa memasak di dapur sedangkan para wa-nitanya biasa pula memikul air dan bekerja di sawah. Mereka selesai makan dan ketika Bi Lan hendak mencuci tangannya, ia mengeluh. Ketika bangkit dari duduk di atas tanah itu, gerakan ini mendatangkan rasa nyeri yang menusuk pada pinggangnya.
"Aduhhh...."
Kun Tek terkejut dan cepat menghampiri.
"Kau kenapa, Bi Lan?"
Melihat gadis itu menekan-nekan pinggangnya yang kiri, dia bertanya,
"Apakah pinggang yang kena tendang lawan itu masih terasa nyeri Bi Lan mengangguk dan menyeringai kesakitan.
"Nyeri sekali kalau aku memutar pinggang, seperti tertusuk rasanya."
"Wah, jangan-jangan ada yang terkilir di situ. Kalau terkilir harus cepat-cepat dibetulkan letak otot-ototnya, Bi Lan, kalau tidak bisa membengkak dan semakin berbahaya."
Bi Lan menatap wajah pemuda itu dengan sinar mata tajam.
"Kau mau mengobati pinggangku? Malam tadi engkau mengobati kakiku yang terkilir, engkau tentu ahli membetulkan otot yang terkilir."
Kun Tek tersenyum dan mengangguk.
"Aku pernah mempelajarinya dari ayah. Kalau engkau mau, tentu saja aku suka sekali mencoba untuk memeriksa dan membetulkan letak otot yang terkilir.
"Tentu saja aku mau, kenapa kau bertanya lagi. Siapa orangnya diobati sampai sembuh tidak mau?"
"Tapi.... untuk memeriksa dan membetulkan bagian yang terkilir, aku harus melihatnya, menyentuhnya dan membetulkannya dengan pijatan-pijatan dan urutan-urutan, aku harus.... menangani bagian pinggangmu yang terkilir itu."
Diam-diam Bi Lan tertawa dalam hatinya.
"Kalau begitu mengapa? Nah, kau lakukanlah cepat agar nyerinya segera hilang."
Tanpa ragu-ragu lagi Bi Lan lalu agak menurunkan celananya di bagian kanan dan menarik ke atas bajunya bagian itu juga sehingga nampaklah kulit pinggangnya yang putih mulus, ke bawah sampai di lekuk pinggul dan ke atas sampai pada permulaan bukit dada. Biarpun jantung berdebar seperti diguncang-guncang keras,
Kun Tek menekan perasaannya dan dengan sikap biasa seolah-olah dia hanya akan mengobati lengan atau kaki saja, dia mulai memeriksa bagian pinggang itu dengan jari-jari tangannya yang terlatih. Setelah memijit sana mengelus sini, tak lama kemudian dia dapat meraba dan menentukan bahwa memang ada otot yang terkilir, akan tetapi tidak berapa parah dan mungkin rasa nyeri itu hanya karena memar saking keras dan kuatnya tendangan. Akan tetapi, cukup lama baginya meraba-raba itu sehingga mukanya penuh keringat, dan terasa jelas oleh Bi Lan betapa jari-jari tangan itu gemetar dan panas dingin! Bi Lan menahan senyumnya, senyum kemenangan melihat betapa pemuda itu kini mulai mengobati pinggangnya dengan tekanan dan pijatan jari-jari tangannya yang gemetar dan ketika ia menoleh, ia melihat betapa pemuda itu telah memejamkan kedua matanya!
"Aduhh.... jangan kuat-kuat.... di situ nyeri....!"
Bi Lan sengaja merintih, lalu bertanya dengan nada suara heran,
"Kun Tek, kenapa engkau memejamkan kedua matamu?"
Pertanyaan yang tiba-tiba itu mengejutkan Kun Tek dan dia cepat membuka matanya, akan tetapi ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata gadis itu, yang seolah-olah sinarnya menusuk dan menjenguk ke dalam jantungnya, dia cepat memejamkan kembali kedua matanya.
"Ah, aku sudah terbiasa, ketika belajar dulu. Dengan memejamkan kedua mata, jari-jari tanganku lebih peka...."
"Tapi ketika engkau mengobati kakiku yang terkilir, matamu tidak kau pejamkan! Jangan-jangan engkau memejamkan matamu agar tidak melihat pinggangku!"
"Ah, kenapa?"
Bantah Kun Tek tanpa membuka matanya. Bi Lan tertawa dalam hatinya.
"Siapa tahu, pinggangku buruk."
"Pinggangmu bagus sekali!"
"Kulitnya kasar dan hitam."
"Tidak, halus dan putih mulus."
"Mungkin bau keringatku tidak enak sehingga kau muak."
"Bau keringatmu sedap, Bi Lan."
Hampir Bi Lan tak mampu menahan ketawanya dan ia cepat menutup mulutnya dengan tangan. Ia telah menjalankan siasat seperti yang pernah didengarnya dari sucinya, si ahli pemikat laki-laki itu dan ternyata baru sebegitu saja, ia sudah merasa dapat menguasai Kun Tek! Memang pinggangnya masih terasa agak sakit, akan tetapi tidaklah begitu nyeri dan sebetulnya tidak perlu disembuhkan dengan pijat. Tadi ia hanya berpura-pura saja untuk memancing Kun Tek dan ternyata siasatnya itu berhasil baik. Ia berhasil membuat pemuda ini berpeluh dan gemetar, bahkan lalu memuji-mujinya.