Kun Tek membantah.
"Berapakah usiamu? Aku berani bertaruh bahwa aku jauh lebih tua."
"Hemm, kiranya engkau hanya seorang penjudi! Sampai-sampai urusan usia saja kau pertaruhkan."
"Aku tidak pernah berjudi selama hidupku!"
Kun Tek. membantah, mendongkol juga melihat sikap gadis yang ditolongnya ini demikian galak.
"Memang tak mungkin engkau bisa berjudi, engkau masih seperti kanak-kanak. Kutaksir usiamu paling banyak lima belas tahun, jadi aku masih lebih tua dua tahun."
Tentu saja Bi Lan hanya sengaja menggoda karena dongkol hatinya, tidak sungguh-sungguh mengira usia pemuda itu limabelas tahun. Kun Tek balas menggoda.
"Aha, kiranya baru tujuh belas tahun! Masih amat muda, hampir kanak kanak. Aku sendiri sudah berusia sembilanbelas tahun."
Keduanya berdiam kembali dan keadaan menjadi amat sunyi. Suara jengkerik kembali terdengar nyaring diselingi suara katak. Bi Lan tak dapat menahan lagi perasaan tidak enaknya.
"Jadi engkau membantuku hanya karena melihat aku seorang perempuan muda, setengah kanak-kanak, dikeroyok banyak pria?"
"Bukan anak kecil, melainkan masih amat muda akan tetapi sudah amat lihai!"
Kun Tek berkata cepat.
"Baiklah, seorang perempuan muda dan perempuan muda ini mengucapkan terima kasih atas bantuanmu, walaupun sesungguhnya aku sama sekali tidak mengharapkan dan tidak membutuhkan bantuanmu. Nah, selamat tinggal!"
Dengan marah Bi Lan lalu meloncat dan lari dari tempat itu. Ia meloncat ke depan, dan terdengarlah suara keras ketika ia terperosok ke dalam lubang yang besar di tepi jalan itu. Lubang itu penuh dengan tanah lumpur, sehingga tentu saja pakaian dan badannya penuh lumpur dan ia terkejut bukan main.
"Aduhh....!"
Dengan sekali loncatan saja Kun Tek telah berada di tepi lubang dan mengulurkan tangan, memegang pergelangan tangan Bi Lan dan menariknya keluar. Melihat betapa seluruh pakaian Bi Lan kotor dan gadis itu menahan rasa nyeri pada tumitnya yang agaknya terkilir, Kun Tek menjadi khawatir sekali.
"Ah, kenapa tidak hati-hati? Gelap begini mana bisa melihat jalan? Apanya yang sakit? Kakimu? Mungkin terkilir, mana kubetulkan letak ototnya kembali."
Tanpa banyak cakap lagi Kun Tek lalu memegang kaki kiri Bi Lan, mengurut bagian pergelangan kaki dan memang jari-jari tangannya cekatan sekali dan penuh tenaga. Pemuda ini telah mempelajari ilmu pengobatan dari ayahnya, terutama sekali penyambungan tulang dan ilmu pijat otot. Biarpun pijatan-pijatan itu menimbulkan rasa nyeri, Bi Lan hanya menggigit bibir dan merintih lirih sampai akhirnya otot-ototnya pulih kembali dan rasa nyeri itupun menghilang.
"Bagaimana? Sudah enakan?"
Bi Lan hanya mengangguk.
"Wah, pakaianmu kotor semua. Mari kita mencari sumber air bersih di mana kau dapat mencuci tubuhmu dan pakaianmu. Lain kali yang hati-hatilah, di tempat gelap yang tidak dikenal lagi."
Bi Lan bangkit berdiri dibantu oleh Kun Tek yang memegang lengannya.
"Engkau sih!"
Bi Lan mengomel.
"Sikapmu tadi kaku dan tidak bersahabat, menimbulkan rasa dongkol dalam hatiku."
"Tidak bersahabat? Aih, bukankah aku telah membantumu? Maafkanlah, sesungguhnya aku bersikap kaku karena aku ingin bersikap sopan kepadamu...."
Biarpun mendongkol karena pakaian dan tubuhnya kotor penuh lumpur, Bi Lan terheran-heran mendengar pengakuan itu.
"Bersikap sopan?"
Ia mendesak, menuntut penjelasan. Kun Tek menundukkan mukanya, merasa canggung dan malu, lalu mengangkatnya kembali memandang wajah gadis itu dalam keremangan malam.
"Kita baru saja berkenalan, kalau aku bersikap terlalu ramah, bukankah engkau akan menyangka yang bukan-bukan, bahwa aku seorang laki-laki yang ceriwis dan kurang ajar? Aku terus terang saja, aku belum pernah berkawan dengan seorang gadis, dan menurut ibuku, sebagai seorang pemuda aku tidak boleh bersikap.... eh, menjilat terhadap wanita...."
Bi Lan ingin tertawa keras, akan tetapi ditahannya dan ia hanya tersenyum. Pemuda ini sungguh seorang yang berwatak aneh dan jujur!
"Siapa ingin kau menjilat dan bermuka-muka? Aku malah akan benci sekali kalau engkau bermuka-muka dan bermanis di mulut saja."
Cu Kun Tek merasa betapa jantungnya berdebar girang. Gadis ini tidak marah lagi sekarang!
"Adik Bi Lan, mari kita mencari air bersih untuk engkau mencuci tubuhmu dan pakaianmu."
Dia mendahului mencari-cari dan akhirnya mereka menemukan sebatang anak sungai yang cukup bersih. Karena malam itu hanya diterangi bintang-bintang yang remang-remang, Bi Lan tidak terasa canggung atau malu untuk membersihkan tubuhnya, menanggalkan semua pakaiannya yang sudah berlumuran lumpur itu dan berganti dengan bakaian bersih.
Untung pakaiannya yang berada dalam buntalan tidak terkena lumpur. Selama ia membersihkan dirinya, Kun Tek menjauhkan diri sampai tidak dapat melihat gadis itu dalam keremangan malam. Dia membuat api unggun agak jauh dari situ, di bawah sebatang pohon. Tak lama kemudian, Bi Lan datang mendekat dan duduk di dekat api unggun. Rambutnya masih basah, akan tetapi pakaiannya sudah berganti dengan pakaian bersih, sedangkan yang kotor sudah dicucinya, kini dibentangkannya di atas cabang pohon. Mukanya nampak segar kemerahan tertimpa cahaya api unggun dan diam-diam Kun Tek merasa kagum bukan main. Gadis ini memang manis dan gagah perkasa, juga amat sederhana, wajar dan lugu dalam gerak-geriknya.
"Dingin....?"
Tanya Kun Tek, melihat betapa kini gadis itu berusaha mengeringkan rambutnya yang masih basah. Hawa udara malam itu memang agak dingin. Bi Lan mengangguk.
"Tadi memang airnya dingin sekali. Akan tetapi sekarang tidak lagi, hangat dan nyaman dekat api unggun ini."
Mereka berdiam diri agak lama, kadang-kadang saling pandang saja sekilas. Sikap Kun Tek yang canggung dan malu-malu, yang tidak berani menentang pandang mata gadis itu terlalu lama, menularkan perasaan canggung pada hati gadis itu. Biasanya Bi Lan tidak pernah merasa canggung berhadapan dengan siapapun. Ia polos dan wajar. Akan tetapi melihat betapa pemuda tinggi besar yang gagah perkasa ini agaknya malu-malu kepadanya, hal itu membuatnya sadar bahwa ada sesuatu yang tidak wajar dan diapun menjadi malu-malu pula. Ia sendiri merasa heran mengapa ada perasaan ini terhadap pemuda yang baru dikenalnya ini, seolah-olah pemuda ini merupakan suatu keistimewaan. Padahal, apakah bedanya pemuda ini dengan orang-orang lain? Mnngkin karena sikap Kun Tek itulah!
Dan iapun tidak mengerti mengapa seorang pemuda gagah perkasa seperti ini bersikap demikian pemalu dan canggung terhadapnya. Tiba-tiba pendengaran Bi Lan yang amat tajam terlatih itu mendengar sesuatu yang membuatnya menahan senyum. Heran, mengapa iapun menjadi suka merahasiakan hal yang demikian lucunya? Ia telah mendengar bunyi keruyuk dari perut pemuda itu! Biasanya, menghadapi peristiwa lucu seperti ini, ia tentu akan tertawa sejadi-jadinya dan tidak merahasiakan kegelian hatinya. Dan suara keruyuk perut pemuda itu mengingatkannya bahwa iapun sebenarnya sudah lapar sekali, apa lagi karena tadi berkelahi sehingga ia kehabisan tenaga, juga bekas tendangan Bhok Gun pada pinggangnya masih terasa nyeri. Ketika ia membersihkan tubuhnya tadi, ia meraba pinggangnya dan ternyata kulit di bagian itu matang biru dan memar.
"Aih, perutku lapar sekali,"
Katanya sambil menekan senyum di hatinya.
"Kau....?"
Pemuda itu mengangguk.
"Aku juga lapar."
"Dan pinggangku terasa nyeri, tadi kena tendang si jahanam Bhok Gun."
"Bhok Gun? Laki-laki yang lihai itu? Orang apakah dia dan mengapa kau tadi dikeroyok? Siapa pula engkau, adik Bi Lan? Dari perguruan mana dan dari mana hendak ke mana?"
Kini Bi Lan memperoleh kesempatan untuk tetawa, melepas semua kegelian hati tanpa khawatir menyinggung seperti kalau ia mentertawakan keruyuk perut pemuda itu.
"Hi-hi-hik, kau menghujankan pertanyaan seperti itu. Kalau kujawab semua, tentu membuat perutku semakin lapar saja."
"Ohh, aku mempunyai dua buah bakpao yang kubeli siang tadi."
Pemuda itu melepaskan buntalan pakaiannya dan memang dia mempunyai dua buah bakpao yang cukup besar, yang dibungkus dalam kertas putih,
"Sayang bakpao ini sudah dingin, akan tetapi masih baik."
Dia menyerahkan bakpao itu kepada Bi Lan. Tanpa malu-malu lagi Bi Lan mengambil sebuah dan makan dengan lahap. Bakpao itu memang enak, lunak, dan dagingnya gurih. Kun Tek memandang dengan girang melihat betapa gadis itu makan demikian enaknya sehingga dia tidak tega untuk makan bakpao yang ke dua. Setelah bakpao itu habis dimakan Bi Lan, Kun Tek menyerahkan lagi yang ke dua.
"Nih, makanlah ini, nona. Engkau lapar sekali."
Bi Lan memandang bakpao itu dengan mata masih ingin, karena selain bakpao itu enak, juga ia lapar sekali, belum cukup hanya oleh sebuah bakpao tadi. Akan tetapi ia teringat akan berkeruyuknya perut Kun Tek, maka ia menggeleng kepala.
"Tidak, engkau sendiri juga lapar. Makanlah yang itu."
"Aku dapat bertahan sampai besok, adik Bi Lan...."
Bi Lan tertawa dan pemuda itu memandang khawatir. Apa lagi yang ditertawakan, pikirnya.
"Hi-hik, Cu Kun Tek, engkau ini memang orang aneh. Perut lapar berpura-pura lagi, dan bagaimana pula itu caramu memanggil aku. Sebentar adik, sebentar nona. Mengapa susah-susah amat sih? Namaku Bi Lan, panggil saja namaku seperti aku memanggil na-mamu Kun Tek. Kan lebih santai?"
Kun Tek tersenyum dan baru sekali ini Bi Lan melihat senyumnya. Wajah yang gagah itu tidak berapa menyeramkan kalau tersenyum. Memang tampan walaupun kulit muka itu agak gelap kehitaman.
"Maaf, aku memang canggung menghadapi wanita. Belum pernah punya teman wanita sih. Baiklah, aku memanggilmu Bi Lan saja. Nih, kau makan saja ini, Bi Lan. Aku sudah sering kali menahan lapar, kalau sampai besok saja masih kuat."
"Tidak, sedikitnya engkau harus makan sebagian, baru aku mau. Aku malu kalau harus menjadi orang yang pelahap dan tamak. Aku tadi mendengar perutmu berkeruyuk, tak perlu berpura-pura lagi."
Terpaksa Kun Tek mengalah dan membagi bakpao itu menjadi dua. Mereka lalu makan bakpao dan agaknya bukit es yang menghalang di antara mereka kini sudah mencair sehingga mereka dapat bercakap-cakap dengan santai tanpa merasa sungkan-sungkan lagi seperti tadi.
"Bi Lan, sekarang ceritakanlah tentang dirimu, tentang peristiwa pengero-yokan tadi."
"Nanti dulu,"
Bantah Bi Lan, kini merasa nyaman setelah perutnya kemasukan bakpao satu setengah potong dan kehangatan api unggun sungguh nikmat rasanya.
"Aku ingin mendengar lebih dulu tentang kau, terutama sekali tentang ibumu yang menasihatkan bahwa engkau tidak boleh bermuka-muka kepada wanita. Siapakah ayah ibumu dan siapa gurumu?"
Kun Tek menarik napas panjang. Biasanya, dia tidak suka memperkenalkan namanya karena menurut ayahnya, nama besar di dunia kang-ouw itu hanya memancing datangnya banyak musuh dan lawan saja. Karena itulah dalam peristiwa di dusun itupun dia tidak mau memperkenalkan nama. Dan sebagai putera tunggal majikan Lembah Naga Siluman, tentu saja ada sedikit perasaan manja dalam hati Kun Tek, akibat kemanjaan yang diberikan ibunya, dan ada pula sifat sedikit tinggi hati. Akan tetapi dia sendiri merasa heran mengapa kini berhadapan dengan Bi Lan, dia menjadi lembut dan mau saja mengalah.
"Guruku adalah ayah ibuku sendiri,"
Dia mulai bercerita.
"Ayahku bernama Cu Kang Bu dan tinggal di Lembah Naga Siluman di Pegunungan Himalaya. Aku dalam perjalanan merantau dan kebetulan sekali aku melihat peristiwa di dusun itu dan turun tangan membantumu melihat kau dikeroyok demikian banyak orang lihai. Nah, sekarang giliranmu bercerita."