Wajah gadis yang biasanya polos dan tidak pemalu itu kini berubah agak merah dan matanya memandang marah.
"Iihh, prasangkamu buruk! Kau kira aku ini wanita macam apa? Aku tidak pernah jatuh cinta dan takkan pernah!"
Kemudian sambungnya lirih,
"Laginya, siapa sih yang bisa jatuh cinta kepada orang macam aku ini?"
Hong Beng merasa betapa jantungnya berdebar tegang. Dengan muka agak pucat kini dia memandang gadis yang berdiri di depannya itu. Sinar matanya seperti hendak menembus dan menjenguk isi hati Bi Lan. Dia merasa betapa kedua kakinya gemetar. Hatinya gentar untuk bicara, akan tetapi ada dorongan kuat sekali yang memaksanya membuka mulut dan suaranya terdengar aneh dan ringan, seperti suara lain datang dari jauh ketika akhirnya dia berkata,
"Bi Lan.... dengarlah aku...."
Bi Lan membelalakkan matanya. Ia melihat wajah pemuda itu menjadi aneh, begitu pucat dan sinar matanya begitu sayu akan tetapi juga ada sinarnya yang tajam penuh selidik, dan yang paling mengherankan hatinya adalah kata-kata itu, dan suaranya yang demikian lembut dan penuh getaran.
"Hong Beng, ada apakah? Sejak tadi aku mendengarkanmu,"
Katanya mengomel karena ia sendiri merasakan sesuatu yang aneh dan membingungkan dari sikap pemuda itu.
"Bi Lan.... tahukah engkau.... bahwa ada seorang yang jatuh cinta kepadamu sejak pertama kali melihatmu?"
Sepasang mata yang jernih itu terbelalak. Bi Lan benar-benar tidak dapat menangkap apa yang dimaksudkan pemuda itu.
"Hong Beng, engkau ini bicara apakah? Jangan main gila kau, siapa yang kau maksudkan itu?"
"Aku....!"
Hong Beng mengaku dan hatinya lega setelah dengan nekat akhirnya dia mampu juga membuat pengakuan yang menggelisahkan dan menegang-kan hatinya itu.
"Aku telah jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu, maka jangan mengira bahwa tidak ada orang yang bisa jatuh cinta padamu."