Kata Kim Hwa Nio-nio dan Hou Seng bergidik, kembali memandang kepada dua orang selirnya, kini pandang matanya mulai mengandung kemarahan dan kebencian.
"Mereka.. mereka nampaknya begitu baik, mencinta dan setia.... dan aku telah memberi segala-galanya, tapi.... tapi mengapa...."
"Tidak aneh, taijin. Musuh taijin banyak sekali dan agaknya mereka itu mampu merobah pendirian dua orang ini. Karena itu, taijin harus berhati-hati dan percayalah, selama ada kami, kami akan selalu melindungi taijin dari ancaman bahaya,"
Kata Sai-cu Lama dengan suaranya yang halus.
Kini dari dua botol itu dituangkan bubuk putih ke dalam arak, lalu dituangkan dengan paksa ke dalam mulut kucing ke dua dan akibatnya, kucing inipun kejang-kejang berkelojotan dan tewas seketika. Percayalah Hou Taijin dan dua mayat dan bangkai kucing itu lalu disingkirkan, dan perjamuan itu dilanjutkan, walaupun Hou Taijin sudah kehilangan seleranya. Demikianlah, peristiwa semalam itu tentu saja sudah diatur oleh komplotan Kim Hwa Nio-nio yang cerdik. Melalui para pelayan, mereka berdua memperoleh keterangan bahwa dua orang selir itu selalu membawa sebotol kecil racun. Racun ini selalu mereka bawa karena mereka ingin membunuh diri dengan cepat kalau sekali waktu mereka itu terjatuh ke tangan musuh-musuh Hou Seng,
Sehingga mereka tidak usah menderita siksaan dan juga tidak ada bahayanya mereka akan membocorkan rahasia suami dan juga majikan mereka itu. Demikian besarnya kesetiaan mereka kepada Hou Seng. Akan tetapi justeru keterangan inilah yang memudahkan Kim Hwa Nio-nio mengatur siasat keji itu. Ketika Hou Seng hendak minum araknya, tentu saja di dalam arak itu tidak ada apa-apanya. Ia sengaja merampasnya untuk membuat suasana menjadi kalut dan memberi kesempatan kepada Sai-cu Lama untuk membunuh dua orang selir itu. Walaupun memiliki kepandaian silat yang lumayan, tentu saja dua orang selir itu sama sekali bukan tandingan Sai-cu Lama dan sama sekali tidak mampu menghindar ketika pukulan maut datang menyambar. Dan dalam kegaduhan ini, dengan mudah Kim Hwa Nio-nio memasukkan bubuk racun ke dalam cawan arak itu. Tentu saja ketika diminumkan kepada kucing, kucing itu tewas seketika.
Dan botol bubuk racun itu benar saja ditemukan dan karena memang benda itu racun, ketika diminumkan kucing ke dua, binatang itupun mati! Kim Hwa Nio-nio dan kawan-kawannya menganggap siasat itu berhasil dengan amat baiknya. Dua orang selir yang mereka anggap saingan yang berbahaya itu, telah dapat mereka singkirkan, dan yang terpenting, Hou Seng agaknya percaya akan pengkhianatan selir-selirnya sehingga dengan demikian, semua kepercayaan pembesar itu tentu akan terjatuh ke tangan mereka! Untuk kemenangan ini, pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka sudah merayakan kemenangan itu dengan sarapan pagi yang mewah. Akan tetapi, kegembiraan mereka itu terganggu oleh datangnya pengawal yang dengan muka pucat menyerahkan pisau dan sampul.
"Kami tidak tahu siapa yang menancapkan pisau itu di pintu gerbang, karena tahu-tahu ketika kami membuka pintu gerbang, pisau itu sudah menancap di daun pintu, membawa sampul itu."
Demikian laporan pengawal itu. Karena surat itu ditujukan kepada Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama, nenek yang dianggap sebagai pimpinan kelompok pembantu Hou Taijin itu, segera membuka sampulnya dan mengeluarkan suratnya yang bertuliskan dengan tinta merah. Ternyata surat itu adalah tantangan untuk pi-bu (mengadu ilmu silat), seperti yang biasa dilakukan di dunia persilatan. Yang menantang adalah Tiong Khi Hwesio yang menantang Sai-cu Lama, dan Sim Houw menantang Kim Hwa Nio-nio. Pada hari itu lewat tengah hari, dua orang penantang itu menunggu di tepi hutan di sebelah utara pintu gerbang kota raja!
"Heemmm.... keparat!"
Kim Hwa Nio-nio memaki dengan muka merah dan melemparkan surat itu kepada Sai-cu Lama. Pendeta ini membacanya dan diapun tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, Tiong Khi Hwesio sudah mengejarku sampai di sini? Ha-ha-ha, dia memang sudah bosan hidup. Dengan Ban-tok-kiam di tangan, dia pasti akan mampus di tanganku sekali ini!"
Sambil tertawa-tawa, Sai-cu Lama menyerahkan surat itu kepada Iblis Mayat Hidup yang duduk di sebelahnya. Sam Kwi membaca surat itu bergantian, kemudian Bhok Gun dan Bi-kwi juga membacanya. Ketika surat itu kembali ke tangan Kim Hwa Nio-nio, Iblis Akhirat, si cebol dari Sam Kwi, yang melihat betapa Kim Hwa Nio-nio tidak gembira, berkata, dan suaranya lantang membuyarkan ketegangan yang timbul oleh surat itu.
"Suci, tak usah takut menghadapi Sim Houw itu. Bukankah Liong-siauw-kiam sudah berada di tanganmu? Dan kamipun akan membantumu."
Kim Hwa Nio-nio mengerutkan alisnya.
"Siapa bilang aku takut menghadapi orang muda itu? Akan tetapi, aku khawatir kalau-kalau surat tantangan ini hanya suatu perangkap belaka untuk memancing harimau keluar dari sarang!"
"Ha-ha-ha!"
Sai-cu Lama tertawa gembira.
"Harimau tetap harimau, di dalam maupun di luar sarang, kita tetap berani dan menang!"
"Apakah engkau akan mengabaikan saja tantangan pi-bu ini, suci?"
Tanya Iblis Akhirat dengan khawatir, karena mengabaikan tantangan pi-bu amat mencemarkan nama seorang datuk persilatan.
"Pinceng pasti datang memenuhi tantangan Tiong Khi Hwesio, ha-ha!"
Sai-cu Lama masih tertawa-tawa memandang rendah lawannya. Dan diapun memiliki alasannya untuk memandang rendah. Bukankah dia dahulu kalah oleh Tiong Khi Hwesio dalam perkelahian yang seimbang dan setelah berjalan lama baru akhirnya dia kalah? Kalau kini dia menggunakan pedang Ban-tok-kiam, dia merasa yakin akan dapat mengalahkan lawannya itu.
"Mengabaikan tantangan pibu tidak mungkin, akan tetapi...."
Kim Hwa Nio-nio masih kelihatan ragu-ragu.
"Kalau kita semua pergi bertujuh, walau andaikata mereka itu membawa teman-teman, kita tidak perlu takut,"
Kata pula Iblis Akhirat membesarkan hati sucinya.
"Aku mengerti akan kekhawatiran subo,"
Tiba-tiba Bhok Gun berkata.
"Dan memang kekhawatiran itu beralasan. Penantang kita adalah musuh-musuh dan bisa saja mereka menggunakan pi-bu ini sebagai pancingan untuk menjebak kita. Akan tetapi, subo, justeru kita harus dapat memanfaatkan keadaan dan mengambil keuntungan dari perangkap yang mereka pasang ini."
"Eh? Maksudmu bagaimana?"
Tanya Kim Hwa Nio-nio kepada muridnya yang cerdik itu.
"Mereka menggunakan muslihat memancing harimau keluar sarang? Baik, kita keluar! Akan tetapi diam-diam aku akan menghubungi Coa-ciangkun agar dikerahkan pasukan sebanyak seratus orang untuk mengepung tempat itu dan begitu lawan berkumpul dan kita hendak dijebak, kita kerahkan pasukan untuk menangkap mereka semua. Dengan demikian berarti perangkap kita menghancurkan perangkap mereka."
Sai-cu Lama mengangguk-angguk.
"Wah, Nio-nio, muridmu ini boleh juga!"
Semua orang menyatakan kagum dan Kim Hwa Nio-nio dapat menerima usul itu. Mereka melanjutkan makan minum sambil menyusun rencana untuk menghadapi pihak lawan yang mengajukan tantangan.
Tempat yang dipilih dalam surat tantangan pi-bu itu memang sunyi sekali. Di luar kota raja sebelah utara terdapat sebuah hutan yang lebat, dan di luar hutan ini terdapat lapangan rumput. Kalau musim semi tiba dan rumput di situ gemuk sekali, banyak penggembala ternak membawa ternaknya ke situ untuk makan rumput. Akan tetapi pada waktu itu, rumput di situ gundul dan kering maka tidak ada seorangpun pengembala mau membawa ternaknya ke tempat itu dan keadaan di situ amat sunyi. Matahari amat cerahnya dan cahayanya yang panas menimpa segala yang nampak di permukaan bumi, memberi kehidupan yang segar. Kita adalah mahluk-mahluk yang sama sekali tidak dapat menikmati berkah yang berlimpahan dalam kehidupan ini. Satu di antara berkah-berkah yang berlimpahan adalah sinar matahari!
Tanpa sinar matahari, kita dan segala sesuatu di permukaan bumi ini akan mati! Sinar matahari menyehatkan, menghidupkan, dan memberi segala yang menjadi kebutuhan mutlak kita. Memberi panas, kehangatan, penerangan, kenikmatan yang tiada habis-habisnya. Namun, hanya sedikit di antara kita dapat menikmatinya. Segala keindahan yang terbentang di depan kita hidup karena sinar matahari. Bahkan pandang mata kita takkan ada artinya tanpa sinar matahari. Sedikit saja di antara kita yang dapat menghirup berkah melimpah ini dengan sepuasnya mereguknya dan menikmatinya. Dan yang sedikit itu pun hanya dapat menikmatinya jarang sekali, di waktu mereka teringat saja. Dan di samping sinar matahari, masih banyak sekali berkah itu, seperti hawa udara, air, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya.
Namun otak ini sudah terlalu penuh dengan persoalan-persoalan, dengan masalah-masalah yang kita buat sendiri sehingga hidup di dunia yang begini indah penuh berkah ini tak terasa lagi sebagai suatu keindahan melainkan berubah menjadi neraka karena kita terbenam ke dalam duka dan sengsara oleh problema-problema buatan kita sendiri itu. Bayangan makin memendek mendekati kaki, tanda bahwa matahari sudah naik semakin tinggi. Tengaharipun terlewat dan tak lama kemudian, tempat yang sunyi itu berubah dengan munculnya beberapa orang di lapangan rumput itu. Yang muncul adalah seorang kakek tua renta yang berjubah pendeta hwesio dan berkepala gundul, bersama seorang laki-laki muda yang berpakaian sederhana. Mereka ini adalah Tiong Khi Hwesio dan Sim Houw, dua orang penantang pi-bu itu!
Belum lama kedua orang penantang ini muncul di lapangan rumput yang luas, nampak bermunculan Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama, diiringkan oleh Sam Kwi, Bhok Gun dan Bi-kwi! Kim Hwa Nio-nio tersenyum mengejek, hatinya girang sekali karena kini nenek itu tidak khawatir akan terjebak pihak musuh. Ada seratus dua puluh orang pasukan sejak pagi tadi bersembunyi di dalam hutan itu, siap untuk menyerbu setiap saat mereka dibutuhkan! Bahkan Coa-ciangkun sendiri, perwira tinggi yang menjadi sekutu Hou Seng Taijin, memimpin pasukan itu. Tidak ada sesuatu yang harus dikhawatirkan. Dan tentang pi-bu itu sendiri, iapun tidak takut. Andaikata kemudian ternyata bahwa ia tidak mampu menandingi orang muda she Sim itu, di sebelahnya masih ada Sam Kwi, Bhok Gun dan Bi-kwi yang tentu tidak akan tinggal diam. Apa lagi ketika melihat bahwa yang muncul hanya dua orang penantang itu, Kim Hwa Nio-nio tersenyum mengejek.
"Ha-ha-ha-ha!"
Sai-cu Lama tertawa bergelak setelah berhadapan dengan Tiong Khi Hwesio.
"Kiranya engkau sampai juga ke sini. Tiong Khi Hwesio, mau apakah engkau jauh-jauh menyusulku dari Tibet, kemudian mengajukan tantangan pi-bu itu?"