Kata Tiong Ki Hwesio.
"Pihak lawan amat kuat. Kalian tentu sudah tahu betapa lihainya Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nio-nio. Dan ditambah lagi dengan Sam Kwi, maka kekuatan di pihak mereka sama sekali tidak boleh dipandang ringan. Itu semua masih ditambah lagi dengan pasukan pemerintah. Kalau sampai pasukan pemerintah dikerahkan, mana mungkin kita melawan pemerintah? Kita bisa dicap sebagai pemberontak dan akan berhadapan dengan balatentara pemerintah. Kita harus memakai akal dan membagi-bagi tugas. Aku akan memancing keluar mereka dari dalam sarang sehingga kita tidak mudah terkepung."
Empat orang muda itu serentak tunduk terhadap kakek ini yang kelihatan demikian tegas dan mantap dalam semua rencananya. Akan tetapi di tengah-tengah percakapan mereka, Bi Lan yang selalu ingin tahu dengan jelas memotong percakapan itu dan bertanya,
"Maafkan dulu, locianpwe. Kini di antara kita telah terdapat suatu persekutuan untuk melawan musuh dan terus terang saja, kami orang-orang muda tunduk dan dapat menerima semua akal dan rencana locianpwe. Locianpwe telah mengenal kami semua, akan tetapi kami sebaliknya belum tahu benar siapa sesungguhnya locianpwe ini. Bukankah sudah waktunya bagi kami untuk mengenal siapa sebenarnya diri locianpwe?"
Mendengar ucapan gadis itu, tiga orang muda itu mengangguk-angguk membenarkan. Memang mereka semua juga sudah menduga-duga siapa sesungguhnya kakek ini, akan tetapi mereka tidak seberani Bi Lan untuk menanyakannya. Mendengar ucapan gadis itu, Tiong Khi Hwesio tertawa.
"Ha-ha-ha, sejak jaman dahulu, kaum wanita lebih teliti dan lebih ingin tahu. Akan tetapi memang sebaik-nya demikianlah, karena kerja sama harus didasari saling percaya yang sepenuhnya. Bi Lan, kalau engkau ini murid dari nenek Wan Ceng, engkau harus menyebut aku susiok (paman guru) karena antara kami ada pertalian persaudaraan. Namun, sudah puluhan tahun aku memisahkan diri ke barat sehingga antara kami tidak ada hubungan lagi."
"Ah, kalau begitu, mungkin saya dapat menebak siapa adanya locianpwe ini!"
Hong Beng berseru dengan sepasang mata bersinar gembira. Murid ini di waktu senggang banyak mendengar cerita dari gurunya tentang keluarga para pendekar Pulau Es, maka mendengar bahwa antara nenek Wan Ceng dan hwesio itu terdapat pertalian persaudaraan, diapun dapat menduga siapa orangnya.
"Benarkah kau dapat menebaknya siapa, Hong Beng?"
Kun Tek bertanya, ikut gembira.
"Omitohud, agaknya murid keluarga Pulau Es banyak mendengar tentang diri pinceng. Cobalah, barangkali tebakanmu tepat, orang muda."
Hwesio itupun membujuknya.
"Sebelumnya harap locianpwe sudi memaafkan saya, akan tetapi bukankah locianpwe, seperti juga nenek Wan Ceng, masih terhitung keluarga Pulau Es pula?"
Hwesio itu mengangguk sambil tersenyum.
"Boleh dibilang begitulah, walaupun sebagai keluarga luar."
"Kalau begitu, agaknya tidak keliru lagi bahwa locianpwe dahulu di waktu muda adalah pendekar yang berjuluk Si Jari Maut dan bernama Wan Tek Hoat. yang kemudian menikah dengan seorang puteri dari Bhutan dan...."
"Cukuplah, anak baik. Tak pinceng sangkal, memang dahulu pinceng bernama Wan Tek Hoat, akan tetapi kini pinceng adalah Tiong Khi Hwesio, tidak punya apa-apa lagi, sudah habis semua yang pernah pinceng miliki. Nah, tentu sekarang engkau lebih percaya kepadaku, bukan?"
Tanyanya kepada Bi Lan. Gadis itu menundukkan mukanya yang menjadi agak kemerahan.
"Sejak tadipun aku sudah percaya kepada locianpwe, hanya ingin tahu saja. Kiranya locianpwe.... eh, susiok malah masih saudara dari subo."
"Nah, sekarang kalian semua perhatikan dengan baik-baik. Kita harus mengatur siasat yang sudah direncanakan baik-baik. Ketahuilah bahwa sebelum menghubungi kalian, pinceng sudah bertemu dengan keluarga Pulau Es yang kini telah berada di kota raja, yaitu Kao Cin Liong dan isterinya, juga Suma Ceng Liong dan isterinya."
Mendengar ini, empat orang muda itu menjadi girang dan mereka mendengarkan siasat yang direncanakan oleh kakek sakti itu dengan penuh perhatian. Dan mereka menganggap siasat itu baik sekali, untuk mempertemukan golongan sesat itu dengan para pen-dekar dan mengadakan pertandingan perkelahian tanpa campur tangan pemerintah.
Para penjaga gedung yang menjadi sarang Kim Hwa Nio-nio menjadi gempar ketika pada suatu pagi, mereka melihat sebatang pisau menancap di daun pintu gerbang dan pisau itu membawa sebuah sampul putih dengan tulisan berwarna merah, ditujukan ke pada Sai-cu Lama dan Kim Hwa Nio-nio! Bergegas komandan jaga mengambil pisau dan sampul itu dan berlari-lari masuk menghadap Kim Hwa Nio-nio. Nenek itu sudah duduk menghadapi hidangan makan pagi, lengkap dengan para temannya. Di sini hadir Sai-cu Lama, ketiga Sam Kwi, Bhok Gun, Bi-kwi dan mereka kelihatan gembira. Malam tadi, berkat kelihaian Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama, mereka telah berhasil menyingkirkan dua orang selir yang juga menjadi dua orang pengawal pribadi Hou Seng.
Dua orang selir ini dianggap sebagai saingan oleh Kim Hwa Nio-nio, karena dua orang ini seringkali mempengaruhi Hou Taijin dengan bisikan-bisikan mereka. Ketika Suma Lian diserahkan sebagai hadiah oleh Sai-cu Lama kepada Hou Seng, dua orang selir ini yang membisikkan agar pembesar itu menerima saja, akan tetapi memperlakukan anak itu dengan baik-baik dan jangan diganggu, memperingatkan Hou Taijin bahwa Pendekar Pulau Es masih ada hubungan keluarga dengan kaisar. Dan masih banyak nasihat-nasihat yang diberikan oleh dua orang selir itu, yang selalu diturut oleh Hou Seng. Oleh karena itu, Kim Hwa Nio-nio dan Sai-cu Lama merasa bahwa mereka berdua itu merupakan saingan yang mengkhawatirkan. Bagaimana kalau sekali waktu dua orang selir itu membisikkan agar Hou Taijin tidak mempercaya Kim Hwa Nio-nio dan teman-temannya lagi?
Dan kesempatan baik mereka peroleh ketika mereka memperkenalkan Sam Kwi kepada pembesar itu. Malam itu, Hou Taijin berkenan menerima mereka bersama Sam Kwi untuk datang menghadap dan seperti biasa, Hou Taijin menyambut pembantu-pembantu baru yang berilmu tinggi itu dengan perjamuan makan. Dan seperti biasa pula, dua orang selir yang pandai ilmu siiat itu tak pernah meninggalkan Hou Taijin, seolah-olah menjadi bayangannya. Setelah Sam Kwi diperkenalkan, Hou-Taijin merasa gembira sekali. Tiga orang dengan bentuk tubuh dan muka seperti itu, demikian menyeramkan, bahkan mengerikan, tanpa diuji lagi dia sudah percaya bahwa mereka tentu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Maka, Hou Taijin lalu berkata sambil tersenyum lebar,
"Kedatangan sam-wi amat menggembirakan hatiku dan kami ingin menyambut kedatangan sam-wi dengan secawan arak!"
Mendengar ucapan ini, seorang di antara dua selir merangkap pengawal pribadi itu lalu melayani majikan mereka dengan menuangkan secawan arak dari guci yang tersedia, ke dalam cawan pembesar itu yang sudah tersedia pula di atas meja. Juga Sam Kwi sambil tertawa mengisi cawan mereka dengan arak sampai penuh, kemudian mereka semua mengangkat cawan arak masing-masing. Akan tetapi, sebelum cawan itu menempel di bibir Hou Taijin, Kim Hwa Nio-nio berseru,
"Taijin, tahan!"
Secepat kilat, iapun menyambar cawan itu dari tangan Hou Seng, kemudian terdengar suara gaduh dan dua orang selir itu telah roboh dan tewas seketika karena mereka telah terkena pukulan maut dari Sai-cu Lama. Pukulan kedua tangan kakek itu tadi menyambar ganas dan tepat mengenai dada mereka, membuat mereka roboh tanpa dapat menjerit lagi, muka mereka menjadi agak kehitaman karena pukulan tadi adalah pukulan beracun! Dapat dibayangkan betapa kagetnya Hou Taijin, Dia terbelalak.
"Apa.... apa artinya ini....!"
Dia membentak, khawatir bahwa jangan-jangan para pembantunya ini mengadakan pengkhianatan dan pemberontakan. Akan tetapi hatinya lega karena sikap mereka tidak demikian. Kim Hwa Nio-nio berkata halus,
"Harap paduka maafkan kelancangan kami, akan tetapi kami telah menyelamatkan nyawa paduka dari pengkhianatan yang dilakukan oleh dua orang pengawal pribadi paduka ini,"
Kata Kim Hwa Nio-nio dan cawan arak tadi masih berada di tangannya.
"Apa? Mereka ini hendak berkhianat? Ah, hal itu tidak mungkin! Kalian tentu keliru. Mereka adalah selir-selirku yang setia!"
"Kim Hwa Nio-nio berkata benar, Taijin. Kami berdua melihat betapa tadi mereka memasukkan bubukan putih ke dalam cawan paduka. Itu tentu racun yang amat jahat!"
Kata Sai-cu Lama.
"Karena itu, selagi Kim Hwa Nio-nio mencegah paduka minum, saya mendahului mereka dan membunuhnya agar tidak sempat menyerang paduka,"
Hou Taijin masih ragu-ragu dan ketika dia memandang kepada tiga orang tamu baru, Sam Kwi yang sudah tahu akan rencana teman-temannya, mengangguk-angguk.
"Kamipun melihatnya,"
Kata mereka.
"Begini saja, Taijin. Tuduhan kami itu perlu dibuktikan agar Taijin dapat percaya."
Melihat pembesar yang masih memandang mayat dua orang selirnya dengan muka pucat, Kim Hwa Nio-nio lalu berteriak menyuruh dua orang pengawal cepat membawa dua ekor kucing ke situ. Sebelum kucing yang diminta itu datang, Kim Hwa Nio-nio berkata,
"Taijin, kalau taijin tidak percaya, boleh taijin periksa di saku atau ikat pinggang mereka, tentu mereka membawa sebotol kecil bubukan putih."
Dengan jari-jari tangan gemetar, pembesar itu memeriksa dan benar saja, di tubuh dua orang selirnya, masing-masing terdapat sebuah botol kecil berisi bubukan putih, yang disembunyikan di dalam ikat pinggang mereka. Dia mengambil botol-botol itu dan meletakkannya di atas meja.
"Apakah ini?"
Tanyanya, suaranya masih agak gemetar karena hatinya masih diliputi ketegangan.
"Racun yang jahat sekali, taijin. Dan sebagian dari racun itu tadi ditaburkan ke dalam cawan taijin ini,"
Kata pula Kim Hwa Nio-nio. Dua ekor kucing yang diminta itu datang. Kim Hwa Nio-nio membuka dengan paksa mulut kucing itu dan menuangkan arak dari cawan Hou Seng ke dalam mulut kucing. Biarpun kucing itu meronta, percuma saja, arak itu telah memasuki perutnya. Dan seketika kucing itu berkelojotan dan tewas, tubuhnya berubah menghitam!
"Nah, apa akan jadinya kalau saya tadi tidak mencegah paduka minum arak dari cawan itu?"