Halo!

Suling Naga Chapter 126

Memuat...

Mendengar disebutnya pedang pusaka, Bi Lan memandang dengan muka sedih.

"Sungguh celaka, pedang pusaka milik subo, Ban-tok-kiam masih belum bisa kudapatkan kembali, kini malah pedang pusaka milik Sim-toako terjatuh ke tangan nenek iblis itu!"

"Hemm, mereka itu sudah bersatu semua. Sai-cu Lama yang merampas pedangmu itu sudah berada di sana pula, nona Bi Lan. Juga kami tadi ada melihat tiga orang kakek yang menyeramkan, agaknya mereka baru saja tiba di gedung itu. Melihat keadaan tubuh dan wajah mereka yang amat menyeramkan, aku dapat menduga bahwa mereka tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi."

"Melihat mereka, kurasa merekalah yang berjuluk Sam Kwi...."

Kata Kun Tek. Tentu saja Bi Lan menjadi terkejut mendengar disebutnya nama itu.

"Benarkah?"

Tanyanya.

"Aku sendiri belum pernah berjumpa dengan Sam Kwi sebelumnya, akan tetapi pernah mendengar gambaran tentang diri mereka. Yang seorang tinggi besar, berpakaian hitam, tingginya satu setengah orang. Yang ke dua amat pendek, gendut, tingginya tiga perempat orang biasa. Sedangkan yang ke tiga adalah seorang yang seperti tengkorak hidup saja, kurus hanya kulit membungkus tulang, mengerikan!"

"Ah, benar, mereka adalah Sam Kwi, tiga orang guruku,"

Kata Bi Lan dan gadis inipun termenung. Bagaimanapun juga jahatnya, tiga orang kakek itu adalah orang-orang pertama di dalam hidupnya yang pernah menyelamatkan dan yang bersikap baik terhadap dirinya.

"Dan mereka memang lihai sekali,"

Sambungnya ketika melihat betapa tiga orang pria itu semua memandang kepadanya.

"Yang tinggi sekali itu adalah suhu Hek-kwi-ong (Raja Iblis Hitam) yang memiliki Ilmu Hek-wan Sip-pat-ciang yang tangguh. Lengannya dapat mulur sampai dua setengah kali lebih panjang. Yang amat pendek itu adalah Iblis Akhirat, biarpun pendek akan tetapi tubuhnya kebal dan tendangan Pat-hong-twi yang dikuasainya amat berbahaya, di samping sin-kangnya yang kuat dan senjata Toat-beng Hui-to (Golok Terbang Pencabut Nyawa) juga tak boleh dipandang ringan. Yang ke tiga, seperti tengkorak itu adalah Iblis Mayat Hidup. Ilmunya Hun-kin Tok-ciang amat berbahaya, juga di antara mereka bertiga, Iblis Mayat Hidup inilah yang memiliki Kiam-ciang paling kuat. Harus diingat bahwa dalam usia mereka yang sudah tujuh puluh tahun lebih itu, mereka bertiga telah mencipta-kan ilmu baru, yaitu Sam Kwi Cap-sha-kun yang amat lihai."

"Dan engkau telah menguasai semua ilmu itu, nona Bi Lan? Sungguh hebat!"

Kata Kun Tek. Bi Lan mengerutkan alisnya. Hong Beng dan Kun Tek kini tiba-tiba saja menyebut "nona"

Kepadanya. Mengapa ada perubahan sikap mereka itu setelah ia menolak cinta mereka? Nampak kaku, berkurang keakraban mereka, bahkan begitu canggung.

"Memang aku telah mempelajari itu semua, akan tetapi ilmu yang kupelajari masih mentah, saudara Kun Tek, sama sekali tidak boleh dibandingkan dengan mereka."

Iapun menambahkan sebutan "saudara", mengubah kebiasaannya yang dulu menyebut dua orang pemuda itu begitu saja memanggil nama mereka. Diam-diam gadis ini merasa heran mengapa penolakan cinta itu seolah-olah menciptakan suatu jurang pemisah di antara ia dan dua orang pemuda itu!

"Aihh, untung kedua orang muda gagah ini datang menolong kita, Lan-moi,"

Kata Sim Houw.

"Kalau kita berusaha meloloskan diri sendiri dan harus menghadapi mereka semua itu tentu akan repot juga!"

Sim Houw lalu memandang kepada dua orang pemuda itu.

"Terima kasih kuhaturkan kepada paman Cu Kun Tek dan juga saudara Hong Beng yang telah menolong kami tadi."

"Bagaimana kalian berdua dapat mengetahui bahwa kami berdua menjadi tawanan di sana?"

Tanya Bi Lan. Hong Beng lalu bercerita, betapa dia dan Kun Tek berjumpa di sebuah restoran dan mereka berdua sama-sama menghadapi pengeroyokan Bhok Gun dan Bi-kwi bersama anak buah mereka. Mereka melarikan diri dan mulailah mereka melakukan penyelidikan tentang Hou Taijin, dan dengan jalan melakukan pengintaian, mereka melihat betapa Sim Houw dan Bi Lan digiring sebagai tawanan.

"Karena kami dapat menduga betapa bahayanya menjadi tawanan para iblis itu, maka kami segera mengambil keputusan untuk pada malam ini menyelundup ke gedung itu dan berusaha membebaskan kalian."

"Untung kalian datang tepat pada saatnya,"

Kata Sim Houw. Mendengar betapa Pendekar Suling Naga itu memuji-muji dua orang pemuda itu, Bi Lan merasa tidak senang.

"Hendaknya kalian ketahui bahwa sebelum kalian datang, Sim-toako sudah berhasil membebaskan kami berdua dari pengaruh totokan dan belenggu kaki tangan. Kami memang sudah siap untuk melarikan diri dan tepat ketika terjadi keributan, kalian muncul."

"Dan memudahkan kami meloloskan diri, kata Sim Houw pula yang ingin menyembunyikan jasa sendiri akan tetapi hendak mengangkat jasa dua orang muda itu.

"Akan tetapi, kami masih belum selesai dengan mereka. Aku harus merampas kembali Liong-siauw-kiam, sedangkan Lan-moi harus merampas kembali Ban-tok-kiam."

"Akan tetapi itu berbahaya sekali,"

Kata Hong Beng sambil memandang wajah gadis yang pernah menolak cintanya itu.

"Ban-tok-kiam dikuasai oleh Sai-cu Lama yang lihai sedangkan Liong-siauw-kiam telah dirampas Kim Hwa Nio-nio, apa lagi di sana kini terdapat Sam Kwi, kedudukan mereka menjadi semakin kuat."

"Betapapun besar bahayanya, aku harus mendapatkan kembali Ban-tok-kiam dan aku akan pergi bersama Sim-toako."

Kata Bi Lan.

"Biar aku membantu kalian!"

Kata Hong Beng.

"Aku juga!"

Kata Kun Tek.

"Paman Kun Tek dan saudara Hong Beng terimakasih atas kebaikan kalian. Akan tetapi, menyusup ke tempat seperti ini lebih baik berpencar, kata Sim Houw. Tiba-tiba dia berhenti bicara dan memberi isyarat kepada tiga orang temannya untuk diam. Mereka semua tak bergerak mencurahkan ketajaman pendengaran mereka. Lapat-lapat terdengar suara lirih di luar kuil itu.

"Omitohud...., harap sam-wi tidak mencurigai pinceng. Katakan saja pada nona yang kehilangan Ban-tok-kiam bahwa pinceng datang untuk membicarakan tentang pedang itu."

Mendengar suara itu, Bi Lan bangkit berdiri.

"Ssttt, kalau tak salah....itu suara hwesio yang dulu mengejar Sai-cu Lama...."

"Benar.... dia seperti suara Tiong Khi Hwesio...."

Kata Hong Beng, teringat akan pengalamannya ketika melakukan perjalanan bersama Bi Lan dan pedang itu terampas oleh Sai-cu Lama kemudian muncul hwesio tua renta itu.

"Kalian masih mengenal suara pinceng? Bagus!"

Terdengar suara dari luar itu dan Sim Houw sendiri terkejut. Hwesio diluar itu sungguh memiliki pendengaran yang luar biasa tajamnya! Maka mereka berempat lalu menyambut keluar. Dan memang benar dugaan Bi Lan dan Hong Beng, diluar berdiri seorang hwesio tua yang berjubah kuning. Itulah Tiong Khi Hwesio, nama baru dari Wan Tek Hoat.

"Locianpwe hendak bicara dengan saya?"

Tanya Bi Lan sambil memandang tajam penuh perhatian. Bagaimanapun juga, ia belum mengenal orang ini dan tidak tahu hwesio ini seorang kawan ataukah seorang lawan.

"Locianpwe, silahkan masuk dan kita bicara didalam,"

Kata Sim Houw yang tidak ragu-ragu lagi bahwa dia berhadapan dengan seorang kakek yang sakti. Mereka lalu masuk ke ruangan belakang itu setelah tiga orang hwesio penjaga kuil dapat diyakinkan bahwa hwesio tua yang baru tiba ini memang mengenal para pendekar muda itu. Setelah mengambil tempat duduk, hwesio tua itu berkata mendahului mereka.

"Pinceng sudah mendengar semua akan peristiwa yang terjadi di gedung markas Kim Hwa Nio-nio itu. Kalian adalah orang-orang muda yang berani dan pinceng merasa kagum sekali. Pinceng sudah mengenal dua orang di antara kalian."

Dia menunjuk kepada Bi Lan.

"Engkau adalah murid Kao Kok Cu dan Wan Ceng, para majikan Istana Gurun Pasir, dan engkau telah kehilangan Ban-tok-kiam yang dirampas Sai-cu Lama. Dan engkau,"

Dia menunjuk kepada Hong Beng,

"Engkau murid keluarga Pulau Es. Akan tetapi pinceng belum mengenal kalian dua orang muda yang lain. Murid-murid siapakah kalian?"

"Locianpwe, saya bernama Sim Houw dan guru-guru saya adalah mendiang ayah saya sendiri yang bernama Sim Hong Bu dan suhu yang bernama Kam Hong,"

Kata Sim Houw dengan sikap merendah.

"Wah, apakah Kam Hong yang berjuluk Pendekar Suling Emas itu? Kalau begitu bukan orang lain, masih segolongan sendiri."

"Dan saya bernama Cu Kun Tek, guru saya adalah ayah saya sendiri yang bernama Cu Kang Bu. Sim Houw ini masih terhitung keponakan saya, dan kami tinggal di Lembah Naga Siluman."

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Keluarga Cu memiliki nama besar. Sungguh pinceng girang sekali bahwa pinceng berkesempatan bertemu dengan orang-orang muda perkasa, yang mengingatkan pinceng akan masa muda pinceng dahulu. Orang-orang muda, pinceng sudah mendengar bahwa selain Ban-tok-kiam yang dirampas Sai-cu Lama, juga pedang pusaka milik seorang diantara kalian telah dirampas Kim Hwa Nio-nio."

"Pedang Sim-toako ini yang dirampas, pedang itu adalah Liong-siauw-kiam dan oleh Sim-toako diserahkan begitu saja karena mereka mengancam akan membunuh saya yang sudah ditangkap lebih dahulu,"

Kata Bi Lan Hwesio itu mengangguk-angguk.

"Tadi pinceng mendengar bahwa kalian hendak memasuki sarang itu untuk merampas pedang. Hal itu sama sekali tidak boleh dilakukan. Untuk menangkap harimau, orang harus memancing harimau-harimau itu keluar dari sarangnya, bukan memasuki sarang. Itu berbahaya sekali.

"Saya mengerti maksud locianpwe. Lalu bagaimana baiknya? Saya harus merampas kembali Ban-tok-kiam,"

Kata Bi Lan.

"Ha-ha, andaikata engkau tidak ingin merampas kembali, aku tentu akan berusaha untuk mengambil kembali dari tangan pendeta palsu itu untuk dikembalikan kepada Wan Ceng,"

Post a Comment