Halo!

Suling Emas Naga Siluman Chapter 89

Memuat...

"Jadi kalau tidak salah, Ciangkun adalah putera pendekar Naga Sakti Gurun Pasir?"

Kembali Cin Liong mengangguk tanpa menjawab karena dia memang tidak ingin memamerkan keadaan keluarganya.

"Setelah kami kalah, apa yang hendak kau lakukan dengan kami?"

Kini Puteri Nandini bertanya, dalam suaranya mengandung tantangan.

"Li-ciangkun, dan.... Nona Siok Lan, tepat seperti yang dikatakan oleh Ci Sian tadi, kami bukanlah orang-orang yang tidak mengenal budi. Oleh karena itu, sebagai pembalasan budi, silakan kalian pergi dengan aman.

"Apa? Engkau berani membebaskan kami?"

Puteri Nandini berteriak kaget dan juga heran. Dia adalah seorang panglima musuh yang telah kalah, dan kini dibebaskan begitu saja oleh panglima ini!

"Li-ciangkun hanya seorang petugas, bukan biang keladi peperangan ini. Silakan!"

"Mari, Anakku!"

Kata Nandini sambil menarik tangan Siok Lan. Dara ini masih menoleh dan memandang kepada Cin Liong, mukanya pucat dan sepasang matanya basah.

"Selamat jalan, Nona, mudah-mudahan kita dapat saling bertemu kembali dan maafkan semua kesalahanku,"

Kata Cin Liong sambil menjura ke arah Siok Lan yang terisak dan menutupi mukanya.

"Ci Sian, engkau sahabat baik kami, apakah engkau tidak mau pergi bersama kami?"

Puteri Nandini mengajak Ci Sian akan tetapi dara ini menggeleng kepala dengan sikap yang keras. Kembali ada rasa tidak enak di hatinya menyaksikan sikap Cin Liong dan Siok Lan.

"Tidak, Bibi, aku mau pergi sendiri, aku mempunyai urusan pribadi!"

Katanya dan tanpa banyak cakap lagi, bahkan tanpa menoleh kepada Cin Liong, dia lalu meloncat dan pergi dari tempat itu.

"Adik Sian....!"

Terdengar panggilan Siok Lan dengan suara mengandung isak. Ci Sian berhenti, menoleh dan berkata kepada sahabatnya itu,

"Sampai jumpa, Enci Lan!"

Dan dia pun melanjutkan larinya tanpa mempedulikan lagi.

"Mari, Siok Lan!"

Puteri Nandini menarik tangan puterinya, akan tetapi Siok Lan masih menoleh dan memandang kepada Cin Liong. Akhirnya, dengan menahan isak, dia pun mengikuti ibunya lari pergi dari tempat itu, diikuti dan di-kawal oleh pasukan pengawal atas perintah Cin Liong agar ibu dan anak itu tidak diganggu dan dibiarkan lolos dari kota Lhagat di mana masih terjadi pertempuran-pertempuran dengan sisa pasukan Nepal yang masih melakukan perlawanan.

Sebagian besar pasukan Nepal sudah roboh atau melarikan diri. Setelah Panglima Nandini dan puterinya pergi lolos dari Lhagat, pertempuran pun tak lama kemudian berhenti karena pasukan Nepal sudah kehilangan semangat dan keberanian. Sebagian dari mereka melarikan diri atau membuang senjata dan menaluk. Para taklukan ini oleh Cin Liong diserahkan kepada para pimpinan pasukan Tibet untuk dijadikan tawanan, kemudian Cin Liong yang menduduki gedung bekas tempat tinggal Puteri Nandini mengumpulkan para pembantunya. Diantara mereka itu terdapat pula Wan Tek Hoat yang berjasa besar ketika membantu pasukan membobolkan kepungan karena pendekar sinting ini yang mengamuk sehingga membuat pasukan kocar-kacir.

"Paman, saya telah menerima perintah untuk melan-jutkan gerakan ini ke Nepal, untuk menghajar pemerintah Nepal yang telah berani menyerang dan memasuki wilayah Tibet. Saya sedang minta bantuan pasukan dari kerajaan untuk memperkuat barisan. Harap Paman sudi membantu kami."

Akan tetapi Tek Hoat menggeleng kepala.

"Aku tidak mau lewat Bhutan, aku tidak mau perang, aku tidak bisa ikut."

Cin Liong hanya menarik napas panjang. Dia merasa kasihan sekali kepada pamannya yang gagah perkasa ini dan melihat keadaannya seperti jembel sinting ini dia merasa kasihan sekali.

"Kalau begitu sebaiknya Paman mengunjungi orang tua saya, Ibu tentu akan senang sekali bertemu dengan Paman."

Cin Liong lalu memberi bekal, kuda, pakaian dan uang secukupnya. Akan tetapi Tek Hoat tertawa bergelak melihat pemberian ini.

"Jenderal muda, kau kira aku masih membutuhkan semua itu? Bukan itu yang kubutuhkan, sama sekali bukan...."

Post a Comment